
"Saya mengenal tuan dari cerita para senior lainnya, mereka sangat mengangumi anda termasuk saya. Sebuah kehormatan bagi saya dapat bertemu anda di sini, tuan Wei." Ungkap Fang Fang yang memang kagum pada sosok Haris sebagai pengawal andal klan Li, walaupun dicap sebagai pengkhianat tetapi tidak ada yang menyangkal kehebatannya.
Haris tersenyum ramah, pujian tidak membesarkan kepalanya. Ia tetap rendah hati dan bersikap biasa di hadapan orang yang memujinya. "Terimakasih nona Fang, baiklah silahkan teruskan obrolan kalian. Saya permisi dulu...." Pamit Haris lantaran ia hanya perlu mengambil gelas kosong di dapur.
Fang Fang mempersilahkan Haris berlalu dengan tetap berdiri membungkuk mengiringi pria itu berlalu. Dina yang menyaksikan semua itu hanya berdecak kagum dengan sikap disiplin Fang Fang yang membuatnya terlihat keren.
"Berapa tahun kamu berlatih sampai bisa luwes seperti itu?" Tanya Dina mulai kepo. Ia menyodorkan toples cemilan ke hadapan Fang Fang, berharap gadis itu mau ngemil bersamanya sambil bersantai.
Fang Fang menatap sejenak toples itu, ia sebenarnya belum mood menyantap makanan ringan namun kedipan mata Dina yang penuh harap membuatnya sulit menolak. "Aku dibesarkan dalam keluarga pengawal, sejak usia 6 tahun aku sudah dididik menjadi penerus ayahku." Jawab Fang Fang mulai sedikit terbuka.
Suara kunyahan cemilan ulat sutra yang digigit Dina terdengar kriuk seperti musik pengiring, Dina langsung menghentikan makan lantaran melongo mendengar pernyataan Fang Fang. "Jadi pengawal juga bisa mencetak penerus? Wah... Imajinasiku melayang." Ucap Dina sembari membayangkan rumitnya strata dalam aturan keluarga Fang Fang.
Fang Fang mendelik Dina lalu menjawab, "Apa boleh buat, sebagai anak tunggal dari keluarga pengawal, aku hanya punya dua pilihan. Ikut jejak ayahku sebagai pengawal, atau ibuku sebagai pelayan. Aku lebih suka beladiri, jadi aku memilih sebagai penerus ayahku."
Dina mengangguk paham, sekarang ia lebih bersyukur dengan kehidupannya, walau bukan dari kalangan terhormat atau berada tetapi ia punya kebebasan memilih profesi dan tidak terikat. "Jadi kamu turun temurun mengabdi pada keluarga Grace?" Celetuk Dina lagi, semakin diladeni maka ia tidak akan berhenti bertanya.
Fang Fang menggeleng pelan, "Aku bekerja untuk klan Li, ayah nona Weini adalah tuanku." Jawab Fang Fang lebih singkat daripada sebelumnya.
Dina mulai mengunyah ulat sutra lagi, kali ini toplesnya ia tarik mendekat. "Trus yang tadi itu siapa? Kenapa kamu sangat menghormatinya?"
Fang Fang sedikit berbinar sebelum menjawab, kekagumannya pada Harislah yang membuat wajahnya merona senang. "Dia adalah seniorku, dia pengawal terbaik dan tersakti di klan Li. Semua menaruh hormat padanya, termasuk tuan Lau."
Dina mengangguk secara reflek, beberapa detik kemudian ia baru mencerna pernyataan Fang Fang. Bergegas Dina menatap tak percaya pada cerita Fang Fang. "Eh tunggu... Kamu bilang dia pengawal senior? Berarti tuan Xiao Jun itu anak pengawal? Kenapa dia nggak nerusin jejak ayahnya jadi pengawal? Kok bisa jadi bos kaya raya? Bukannya kamu bilang itu profesi turun temurun?"
Sederet pertanyaan Dina barusan membuat Fang Fang memucat seketika. Ia tersadar ketika sudah terlanjur bicara terlalu banyak, sekarang Dina menatapnya antusias seolah hendak melahapnya jika tidak menjawab. "Itu...."
"Fang, yuk cabut. Gue masih ada urusan ntar siang. Sekarang gue butuh tidur bentar dulu, pusing kepala gue melek semalaman." Stevan dam Xiao Jun muncul tepat waktu, menyelamatkan Fang Fang dari todongan Dina.
Fang Fang diam-diam menghela napas lega, ia sungguh beruntung sekarang dan harus lebih waspada bicara agar tidak mengulangi kesalahan ini lagi. "Ayo... Aku pamit dulu ya Dina, lain kali kita lanjutkan lagi." Seru Fang Fang yang dalam hati melonjak girang.
Dina mematung menatap kepergian Fang Fang, rasa hati ingin mencegatnya tapi apa daya tangan tak sampai. Ia hanya pasrah melihat Stevan melambaikan tangan padanya dan berlalu bersama Fang Fang yang bahkan tak menoleh lagi untuk melihatnya.
Xiao Jun melipat tangannya dan berdiri di hadapan Dina, ia mengerti perasaan Dina yang haus informasi, tapi ini belum saatnya dia tahu segalanya. "Dina kemarilah, ikut aku... Ada yang harus ku sampaikan." Ujar Xiao Jun lalu beranjak duluan menuju ruang tengah.
Dina menurut saja, bagaimanapun tuan rumahnya adalah Xiao Jun dan ia memang tengah menjalankan misi bos muda itu. Di ruang tengah yang dimaksud, ternyata sudah ada Wen Ting yang duduk santai di sofa. Harus Dina akui bahwa ia merasa cukup beruntung sekarang karena dikelilingi pria-pria tampan.
Tapi semuanya milik orang.... Gerutu Dina mangkel dalam hati, meratapi kejombloannya.
Xiao Jun bergabung duduk di dekat Wen Ting, tinggallah Dina yang berdiri sendiri lantaran bingung harus duduk di mana. Ia harus menjaga jarak dengan pria-pria yang sudah tidak available.
"Duduk saja Dina, jangan terlalu kaku." Perintah Xiao Jun yang menyuruh Dina duduk di sofa seberangnya.
Dina mengangguk patuh dan kikuk, tetapi setelah ia pikir gayanya sekarang tampak terinspirasi dari Fang Fang seperti yang ia lihat beberapa saat lalu ketika membungkuk hormat pada ayah Xiao Jun.
Bunyi bel menghamburkan kegugupan Dina, tetapi saat suara Xiao Jun kembali terdengar, jantung Dina serasa bergerumuh.
"Dina, tolong bukakan pintu."
Lagi-lagi Dina mengangguk patuh tanpa sepatah katapun, kebawelannya menciut saat berhadapan dengan pria tampan penuh kuasa dan milik orang tentunya.
"Orangmu sampai tepat waktu, kak." Seru Xiao Jun pada Wen Ting di sebelahnya.
Wen Ting mengangguk setuju dengan senyum yang mengembang, pria itu memang selalu umbar senyuman. Dan itulah daya tariknya yang membuat banyak orang menyukainya. "Aku sudah menyuruh mereka datang sejak semalam, sebelum kau pulang dengan ayah."
Dina membukakan pintu dengan canggung, ia tak tahu mengapa Xiao Jun memercayakannya menyambut tamu yang entah siapa, padahal beberapa saat lalu Xiao Jun bilang bahwa ia tak boleh dilihat orang luar. Apa tidak masalah jika yang datang justru wartawan atau mungkin musuh yang mengincarnya?
"Eh?" Dina sukses membuat dirinya terlihat konyol dengan wajah terkejut dan mulut menganga. Beberapa pria yang secara cepat dihitungnya berjumlah tujuh orang, mengenakan pakaian serba hitam, berparas muda dan tampan, berdiri tepat di depannya. Ia sama sekali melupakan rasa takutnya terhadap orang asing, tak ada pikiran buruk bahwa mereka akan menjahatinya, yang terlintas adalah kekagumannya kepada pria-pria tampan yang membuatnya menjadi wamita paling cantik di dunia. Paling cantik karena hanya dia sendiri wanitanya.
Buru-buru Dina menggeser tubuhnya agar tidak menghalangi pintu, apalagi ada pria-pria tampan yang hendak masuk. Jantung Dina berdetak sangat cepat, ada seseorang yang mencuri perhatiannya dalam pandangan pertama.
Pria-pria itu menemui Xiao Jun dan Wen Ting, disusul Dina yang berjalan pelan dari belakang. Para makhluk Tuhan yang ganteng-ganteng itu membungkuk hormat pada dua tuan muda yang duduk itu.
Dina terus memperhatikan tanpa berkedip, meskipun ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan, namun ia merasa takjub dengan suasana ini. Serius, tegang dan mendebarkan, ia serasa putri kehormatan yang dikelilingi banyak pengawal. Imajinasinya melayang, membayangkan seperti itukah kehidupan Weini di negara asalnya? Rasanya sangat menyenangkan punya banyak dayang dan pengawal.
"Dina, kemarilah...." Pekik Xiao Jun setelah selesai bicara serius dengan para pengawal yang baru datang.
Dina maju beberapa langkah mendekati Xiao Jun, dalam kondisi yang diperlukan ternyata ia bisa berubah menjadi gadis penurut dan feminim. "Iya bos."
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, untuk sementara kamu harus menjauh dari sini, jadi aku sudah memilihkanmu seorang pengawak untuk menjamin keamananmu. Dia bisa bahasa Indonesia, kamu tidak akan kesulitan komunikasi. Apa yang kamu perlukan, sampaikan saja padanya." Ujar Xiao Jun dengan raut tegas menunjuk seorang pengawal tampan yang dimaksud sebagai pengawal pribadi Dina.
Dina menatap kagum pada sosok pria yang ditugaskan mendampinginya, bak mimpi jadi nyata, ia tak menyangka khayalannya barusan langsung terwujud. Ia serasa menjadi nona, dan beruntungnya Dina karena pria itu sangat sangat tampan, seperti tipe pria kesukaannya.
"Dan katakan saja saat ini kamu ingin berlibur ke mana? Yang jelas jauhi Indonesia dan Hongkong." Seru Xiao Jun memberi pengecualian.
Dina merasa mendapatkan keberuntungan nomplok, ia kira Xiao Jun akan mengurungnya di apartemen ini dalam waktu yang tidak jelas, ia pikir ia akan merana, kesepian dan dihantui ketakutan karena cemas didatangi orang-orang yang hendak menghabisi nyawanya. Tapi ternyata, Xiao Jun berbaik hati sekali memberikan kenyamanan hidup padanya di balik masalah besar yang belum kelar ini.
"Eh tapi... Apa nggak dosa gitu? Aku bahagia di saat kalian sedang pusing memikirkan nona Weini?" Tanya Dina yang seketika tak enak hati, bagaimana dia bisa liburan plong kalau hatinya saja tertuju pada Weini.
Xiao Jun tersenyum tipis, ia paham bahwa Dina memang tulus menyayangi Weini. Tak hanya menganggapnya sebagai rekan kerja, namun lebih pada perasaan persaudaraan.
"Jangan banyak pikiran, liburan inipun dalam rangka membantu kami menemukan Weini dengan aman kok. Akan repot jika kami bergerak, sementara kamu malah diincar mereka. Lebih baik kamu menjauh dan hindari stress dengan liburan."
Dina mengangguk paham, hatinya plong mendengar itu. "Terimakasih banyak bos."
Xiao Jun hanya mengangguk pelan, "Jaga dirimu Dina, meskipun ada pengawal tapi kamu tetap harus waspada."
"Aku mengerti bos." Jawab Dina antusias, lebih bersemangat lagi saat menatap wajah pengawal di sampingnya. Dina tak menyangka masih ada hikmah manis di balik musibah kemarin. Dan ia sepertinya merasakan debaran yang menyenangkan.
Apa itu cinta? Batin Dina berbunga-bunga.
πππ
Ke mana ya kira-kira Dina pergi liburan? Hmmm....
Nah teman-teman, author akan kabulkan permintaan kalian untuk menampilkan visual tokoh-tokoh dalam cerita ini. Tapi satu persatu ya, kita cicil kayak kredit gitu ha ha ha....
***
Setelah kemunculan visual Weini, sekarang kita tampilkan sosok managernya yang ceria, baik, rada kocak sifatnya, dan Dina ini memang lebih dewasa ketimbang Weini ya meskipun sikapnya belum sedewasa Weini sih. Dina itu cantik, pokoknya di cerita ini nggak ada yang jelek deh hahaha... Dan seperti inilah Dina, author kenalin dulu ya!
Lalu siapa pengawal yang mencuri hati Dina? Author jamin kalian juga meleleh kalau lihat parasnya hehe π
Langsung saja deh author kenalin sekalian, calon pendamping Dina yang akhirnya nggak bakal jadi jomblo lapuk di cerita ini.
Kalian setuju kan Dina sama cowok ini?
Yuk sumbang komentar dan Likenya ya. Makasih... Xie Xie... Arigato... Matur nuwun...
Sampai jumpa di update berikutnya ya. π