OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 525 TERTUNDA



“Kita mau ke mana lagi Jun?” Weini heran dengan ajakan Xiao Jun yang sepertinya belum juga kehabisan ide. Setelah menghabiskan dua jam lebih di atas jet, berkeliling tanpa kejelasan di udara, seperti yang pernah mereka lakukan di masa lalu. Weini kira Xiao Jun akan mengajaknya pulang, atau minimal kumpul lagi bersama teman temannya di apartemen. Ternyata keliru, Xiao Jun masih saja mengajaknya pergi ke suatu tempat yang masih dirahasiakan olehnya.


Xiao Jun tersenyum tipis, wajahnya menyimpan raut penuh teka teki. “Hmm... kamu ikut saja, nanti pasti tahu.” Jawab Xiao Jun singkat.


Weini masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Xiao Jun. Setelah mendarat, mereka turun menuju parkiran apartemen dan Xiao Jun yang mengemudikan mobilnya. Weini melirik sekilas pada pria di sebelahnya, tampak begitu ceria dan senang, sama halnya dengan dirinya. Namun Weini tetap merasa ada yang kurang, hati kecilnya berseru bahwa ia ingin sesuatu terucap dari bibir Xiao Jun. Sebuah permintaan yang ingin segera ia dengar dan ingin segera dijawabnya dengan mantap.


“Asal jangan lanjut makan lagi di lain tempat ya, perutku sudah nggak muat.” Gumam Weini hingga suasana hening pun buyar.


Xiao Jun tertawa kecil mendengarnya, “Belum apa apa sudah diancam duluan, tenang saja ini bukan ke tempat makan kok.” Jawab Xiao Jun, satu tangannya ia lepaskan dari setir demi mengelus lembut rambut Weini. Perhatian kecil itu sukses membuat Weini terpukau, merasa senang hanya dengan cara sederhana itu.


Weini masih menatapnya, ada sebuah permintaan yang ingin ia ucapkan kepada prianya. “Jun, mau kah kamu mengantar aku ke sebuah tempat dulu?” pinta Weini lirih.


Xiao Jun memelankan kemudinya lalu melirik ke Weini, “Katakanlah.” Pinta Xiao Jun lembut,


“Aku ingin mampir sebentar ke rumah lamaku. Bisakah sebentar saja kita mampir ke sana?” ujar Weini bersungguh-sungguh.


Xiao Jun terdiam sejenak, berpikir keras terhadap perubahan rencana yang mendadak. Ia tak tega menolak ajakan Weini, meskipun dadakan namun sebenarnya lokasinya tidak jauh dari sini. Tapi jika ia berangkat sekarang, otomatis apa yang sudah diaturnya sedikit berantakan. “Hmm baiklah, apa sih yang tidak buat kamu.” Jawab Xiao Jun yang akhirnya memutuskan untuk mengabulkan permintaan Weini.


Weini tersenyum senang, akhirnya bisa melihat lagi rumah yang ia tinggalkan buru-buru waktu itu. Ditinggalkan dalam kondisi porak poranda karena tak lagi punya hati untuk membereskan sisa kekacauan di sana. “Makasih ya Jun.”


❤️❤️❤️


Sesampainya di depan rumah lama Weini, ternyata suasana sangat mendukung kedatangan mereka. Sepi di sepanjang jalan kecil itu, dan kegelapan di sekitar akan menyembunyikan jejak mereka yang sesaat lagi akan menginjakkan kaki di tanah sana. Xiao Jun mematikan mesin mobilnya, melepas sabuk pengaman dan bersiap turun. Begitu juga dengan Weini yang mengikuti Xiao Jun. Pria itu menatap awas ke sekeliling sebelum yakin untuk membuka pintu mobilnya. “Ayo Hwa.” Ajaknya pelan.


Keduanya berjalan, bergandengan tangan dan mendekati area yang masih disegel dengan police line. Weini sedikit terkejut karena tidak menyangka bahwa rumahnya pun menjadi sasaran pemeriksaan. Xiao Jun tampak bisa menebak pikiran Weini, ia pun memberikan keterangan meskipun tidak diminta.


“Sebenarnya ini ideku, waktu itu fokusku terpecah. Aku lebih prioritaskan untuk menemukanmu, sedangkan media serta publik sudah heboh duluan. Rumah ini nyaris tidak pernah sepi didatangi warga, pencari berita yang berharap bisa menemukan apapun tentang infomu. Jadi aku meminta paman Lau untuk meminta bantuan aparat, agar rumah ini disterilkan dengan cara ya... seperti inilah.” Ujar Xiao Jun sedikit mengenang masa lalu yang belum sempat Weini ketahui itu.


Weini terdiam namun tak lama kemudian tersenyum simpul, menatap lembut pada kekasihnya kemudian mempererat genggaman tangan mereka. “Makasih ya, aku yakin saat itu kamu pasti kesulitan karena aku.”


Xiao Jun menggelengkan kepalanya, “Tidak kesulitan, tapi sangat ketakutan. Takut kamu kenapa napa dan aku terlambat menolongmu. Tapi sudahlah, jangan dikenang lagi ya. Masuk yuk!” Ujar Xiao Jun, menuntun langkah mereka semakin mendekati pintu masuk.


“Kamu punya kuncinya Jun?” Tanya Weini heran saat melihat Xiao Jun mengeluarkan kunci mobilnya yang juga bercampur dengan beberapa kunci lain yang ia taruh di gantungan kunci.


Tawa Xiao Jun yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah, tertawa geli kemudian menjawab rasa penasaran Weini. “Sebenarnya aku tidak punya kunci rumah ini, tapi dulu waktu aku datang dalam keadaan hancur, maka aku hancurkan pula kunci pintu ini. Terpaksa aku lakukan agar aku bisa masuk ke dalam. Tapi ternyata ayahku masih hidup, kami bertemu di rumah ini. Jadi aku memperbaikinya dan mengganti kuncinya. Selalu aku bawa bersama kunci mobil, buat jaga jaga saja kalau mendadak ingin ke sini. Ternyata terpakai juga kan?”


Weini semakin terkesima setelah mendengar cerita dari kekasihnya. Tanpa diminta, perhatiannya kepada Weini melebihi ekspektasinya. “Iya, kamu memang hebat.” Puji Weini tanpa berlebihan tentunya.


Pintu berhasil terbuka, Xiao Jun mempersilahkan Weini untuk masuk lebih dulu. Langkah pertama saat melewati pintu itu, langsung membuat Weini kembali takjup. Di luar dugaannya yang mengira bahwa rumah itu masih seperti kapal pecah, ternyata terlihat sangat rapi, terawat dan ruangannya tidak seperti pasca ia meninggalkan tempat ini. “Jun, siapa yang membersihkannya? Kamu menyuruh orang untuk mengurusnya?” Tanya Weini tanpa melirik ke arah pria yang berdiri di belakangnya.


Xiao Jun tersenyum mantap lalu menganggukkan kepalanya, “Rumah ini penuh dengan kenangan, dan juga rumah dari orang-orang kesayanganku. Sudah semestinya aku merawatnya, jangan biarkan lapuk karena kosong.”


“Ya, rumah ini adalah tempat aku dibesarkan, sudah selayaknya jadi museum.” Weini tertawa kecil, yang kemudian menulari Xiao Jun.


Perhatian Weini beralih kepada alat musik kesayangannya yang tampak terbungkus plastik bening. Ia berjalan pelan menghampirinya, Xiao Jun hanya mengamatinya saja namun tak berniat menyusul langkahnya. Jemari Weini meraba benda itu kemudian menyibak bungkusnya. Ia menarik kursi pendek di dekat Gu Zheng, kemudian dengan antusias hendak memainkannya.


Kesempatan itulah yang digunakan Xiao Jun untuk mengalihkan fokus sejenak kepada rencanya yang tertunda itu. ia meronggoh ponsel dalam saku jasnya, kemudian menuliskan pesan kepada beberapa orang.


Rencana sedikit melenceng, tolong atur ulang waktunya. Tunggu aba aba berikutnya!


Pesan sukses terkirim dan Xiao Jun segera menyimpan lagi ponselnya, bersamaan dengan panggilan Weini kepadanya.


“Jun, kamu ingin mengulang kenangan kan? Bagaimana kalau kita ulang juga yang satu ini. Tapi aku yang memainkan musiknya, kamu yang bernyanyi.” Pinta Weini dengan antusias.


Deg! Xiao Jun terhentak sejenak, diminta melakukan sesuatu yang belum pernah ia coba. Dengan suara terbata-bata, ia menjawab Weini. “Nya nyi? Ng....”


Weini mengangguk dengan cepat, “Iya, aku yang main, kamu yang nyanyi. Ayo, mau nyanyi lagu apa?” Weini memetik senar kecapinya, iseng. Seakan mendesak Xiao Jun untuk segera mengambil keputusan.


Xiao Jun yang tahu kalau sedang didesak itu justru makin bingung, ia tidak percaya diri dengan suaranya walaupun sebenarnya bisa saja bernyanyi.


Hmm... bisakah kita kabur saja? Aku lebih antusias untuk melamarmu ketimbang disuruh nyanyi, Hwa. Gumam Xiao Jun yang mengadu nasibnya dalam hati.


❤️❤️❤️