
“Su Rong memberi hormat kepada tuan muda.”
Xiao Jun tersenyum tipis sebagai responnya pada pengawal barunya itu. Mantan pengawal Chen Kho yang kini setia kepadanya. “Su Rong, apa kamu sudah betah di sini?” Tanya Xiao Jun perhatian.
Su Rong berpikir sejenak kemudian memberikan jawabannya, “Saya sudah lumayan bisa beradaptasi tapi masih kendala dengan bahasanya, tuan.” Su Rong mengakui kelemahannya dengan jujur, ia ditugaskan mengawal Xiao Jun di Jakarta dan saat Xiao Jun pulang ke Hongkong, pria muda ini dibiarkan menunggu di apartemen dan ditemani oleh seorang penerjemah yang direkrut Lau.
“Baguslah, lambat laun kamu pasti terbiasa. Oya, hari ini aku ingin kamu menemani Lau mencari seseorang. Nanti langsung menghadap Lau saja, kabarnya orang ini pernah bekerja dengan Chen Kho. Barangkali kamu mengenalinya atau sebaliknya.” Ujar Xiao Jun yang masih duduk di kursi kebesarannya.
Su Rong berpikir sejenak, “Apa dia pengawal yang juga berhasil kabur dari tuan Chen Kho?” Tanyanya heran.
Xiao Jun menggelengkan kepalanya, “Bukan, dia seorang gadis pelayan yang kabur karena perintah nona Yue Hwa.”
Su Rong tampak bingung, “Maaf tuan, sepertinya saya tidak mengenal gadis ini. Mungkin dia baru dipekerjakan ketika saya keluar dari sana.”
“Tidak masalah, ikutlah dengan Lau. Anggap saja sambil mengenali tempat di sini.” Ujar Xiao Jun tetap konsisten dengan perintahnya.
“Baik tuan.”
❤️❤️❤️
Dina melajukan mobilnya segera menuju satu tempat yang ia yakini benar bahwa orang yang dicarinya ada di sana. Semingguan di Hongkong membuatnya kehilangan kontak dengan pak sutradara. Ponsel pria itu pun tidak aktif, dan ketika ia hendak menjenguk ke rumah sakit pun Bams sudah keluar dari sana dua hari yang lalu. Tak sia-sia ngebutnya Dina hingga ia sampai di depan rumah bernuansa modern dengan cat abu-abu. Manager Weini itu bergegas keluar dari mobil dan menghampiri rumah itu.
Bel rumah pun dibunyikan beberapa kali, Dina tak sabaran segera melihat Bams.
“Ayolah kak, buruan buka... semoga beneran ada di rumah deh.” Gumam Dina berdoa sendiri.
Doa Dina terkabulkan, pintu terbuka dan terlihat Bams di sana dengan setelan yang santai. Wajahnya tampak kusut seperti orang yang baru bangun tidur. “Apaan sih lu? Masih inget gue tenyata... hoaaammm....” Ujar Bams malas-malasan sambil menguap lebar.
Dina spontan tertular begitu melihat Bams menguap di depannya. Memang masih menjadi misteri mengapa menguap itu bisa menular, (bahkan author yang lagi nulis menguap aja spontan nguap loh. Kamu yang baca gimana? He he....)
“Ya elah kak Bams, tuh kan aku ikutan nguap padahal udah tidur nyenyak.” Celetuk Dina.
Bams hanya nyengir, aslinya dia agak sebal karena merasa ditinggalkan padahal ia juga ingin jalan-jalan ala orang kaya ke luar negri gratis. “Masih ingat aja lu ama gue, huft.”
Dina langsung terkekeh padahal Bams tengah pasang wajah jutek, “Ya ela... pak sutradara lagi marah nih ceritanya? Sampai sampai tamunya nggak disuruh masuk. Nih beneran aku disuruh berdiri di depan pintu buat ngobrolin hal serius? Ah terlalu kau kak!”
Bams berdehem, rasa sebalnya beransur menghilang karena tingkah Dina yang tak mempan disindir itu. Dan lagi Bams penasaran dengan hal serius yang dimaksud Dina. “Masuklah.” Pinta Bams singkat sembari menyingkir dari hadapan pintu. Ia baru sadar diri bahwa ia menghalangi jalan masuk.
“Makasih, dari tadi dong kak. He he....” Gumam Dina lalu nyosor masuk ke ruang tamu.
Bams tinggal sendirian dan masih betah melajang, entah apa yang ia tunggu lagi lantaran belum juga tercerahkan untuk segera menikah padahal sudah mapan. “Trus apanya yang serius mau dibahas nih?” Ujar Bams mengingatkan tujuan utama kedatangan Dina.
Dina malah tanpa dipersilahkan sudah meneguk air mineral dalam kemasan gelas, tak tanggung-tanggung langsung ia habiskan tiga gelas. “Bentar kak, haus. Perlu air biar nggak seret mau cerita.”
Lagi lagi Bams hanya bisa nyengir, Dina memang paling bisa bertingkah cuek seolah tidak terjadi apa-apa, tapi Bams malah tergugah untuk melontarkan uneg unegnya. “Kalian tuh ya, pergi nggak ngajak-ngajak. Gue ditinggalin sendirian gitu? Padahal aku juga pengen ketemu Weini.” Protes Bams dengan suara baritonnya yang keras, kebiasaan dari lokasi syuting yang terbawa ke kehidupan nyata. Namun di kata-kata terakhirnya, Bams pun memelankan suaranya, terasa betul kerinduan dan keinginan yang besar dari Bams untuk bertemu Weini.
Dina tertegun mendengar pengakuan Bams, ia tidak menyangka juteknya pak sutradara itu dikarenakan merasa dilupakan saat mereka sedang berkabung di kediaman Li. Dina menatap iba pada Bams, tidak berani meledeknya dalam kondisi hati yang sensi. “Maaf banget pak Sutradara, waktu itu beneran mendadak. Aku aja tahu kabar duka itu saat lagi preskon, trus kroscek sama paman Lau dan aku bilang mau ikut ke sana. Itupun dadakan banget aku kemas-kemasnya, trus si Stevan juga gara garanya nggak mau ditinggal ama Grace, jadi ngikut deh. Hmm... di sana juga keadaan nggak menyenangkan kok, tegang malah kak. Udah kayak di film film kolosan China, ketat banget aturannya. Trus... nona Weini, eh... nona Yue Hwa juga sibuk berkabung jadi agak susah buat bagi waktu ke kita.”
Dina bergegas mengangguk membenarkan, selagi Bams sudah mulai tercerahkan. “Bener banget kak, mendingan kapan kapan ajak bos Xiao Jun ke sana aja dalam kondisi yang lebih seru. Ya... barangkali pas mereka merid gitu.” Celetuk Dina ngasal.
Bams menaikkan satu alisnya, berita keceplosan Dina barusan terdengar sangat menyenangkan. “Mereka mau merid? Wow... ciyus? Kapan?” Celetuk Bams dengan suara kerasnya.
“Sssttt! Jangan seru-seru ya, ini baru kabar burung, awas kalau bos Jun dengar dan aku diomelin. Pokoknya kita tunggu tanggal mainnya saja.” Seru Dina segera membungkam kekepoan Bams.
Bams tampak berpikir sesaat, imajinasinya pun meliar berkat cerita dari Dina tentang suasana di kediaman Li. “Emang kayak apa sih tempat tinggalnya Weini? Kok lu bilang kayak nonton drama kolosal gitu?”
Dina menaikkan kakinya ke sofa lalu bersila, posisi yang nyaman untuk bergosip ria. “Hmm... sayangnya nggak ada cemilan sih, soalnya cocok aja kalau cerita sambil ditemani makanan ha ha ha....” Kode keras Dina barusan hanya mendapat delikan dari tuan rumah, pasalnya Bams tidak punya stok cemilan yang bisa disuguhkan untuk tamu.
Dina menelan kecewanya karena ekspektasi yang ketinggian,”Maaf deh.” Jawab Dina sambil memanyunkan bibir. Tapi protesnya justru ditanggapi oleh Bams yang tiba-tiba berjalan masuk ke dalam rumahnya kemudian keluar dengan dua kaleng soft drink dingin.
“Buat lu semua biar nggak kering tenggorokan. So, buruan ceritanya....” Seru Bams antusias dan tak sabaran.
Dina kegirangan, ia pun mulai cerita panjang lebar tentang apa yang ia lihat dan ia alami di sana. Pengalaman serunya berada di tempat yang belum pernah terbayang dalam benaknya dan ia mendapatkan perlakuan istimewa bak seorang putri. Bams manggut manggut dengan binar wajah yang penuh misteri, dalam otak kreatifnya sudah terbayang bagaimana caranya mengolah cerita Dina untuk meraup keuntungan.
“Gue nggak nyangak bisa kenal sama orang sehebat Weini. Ha ha... nggak salah memang pilihan gue waktu pertama kali lihat dia. Dari auranya saja sudah nampak beda. Hmm... sayangnya dia pasti nggak bakal mau jadi artis lagi ya.” Lirih Bams yang tentu saja merasa berat harus melepaskan talent seperti Weini.
“Ya jelaslah, masa iya seorang tuan putri penguasa mau sibuk main film. Dia aja sudah sibuk sama urusan internalnya. Aku bangga banget pernah jadi managernya.” Gumam Dina.
“Gue juga sama, bangga banget pernah bawa dia jadi artis.” Dina dan Bams sama sama bersandar di sofa, merenungi sebentar kenangan indah bersama Weini sambil tersenyum senang. Barulah ketika Dina mengingat tujuan utamanya yang terabaikan, ia bergegas duduk tegang dan serius menatap Bams.
“Pak sutradara, aku ke sini tuh bukan buat gosipin non Weini. Tapi mau minta kerjasama lagi kayak waktu itu. Dalam waktu dekat nona Weini akan menggelar konferensi pers di sana. Dia akan menunjukkan diri di depan dunia.” Seru Dina bersemangat.
Bams ikut memperbaiki posisi duduknya, matanya terbelalak saking kagetnya. “Oya? Dia mau lihatin wajah aslinya, wow... aku tak sabar melihat kecantikannya. Oke... apapun aku lakukan demi dia!” Ujar Bams penuh ambisi.
Dina mengangguk mantap, “Hmmm... bagus kalau gitu, tidak sia sia aku mempercayaimu. Setelah ini akhirnya nona Weini akan pamitan dari dunia entertainmen. Hiks... dan aku tidak berguna lagi untuk dia.” Lirih Dina sedih.
Bams ikut merasakan kepedihan itu, ia pun ikut berujar. “Sama... gue nggak bisa lihatin acting dia lagi. Padahal seru aja sih kalau kisah nyatanya nona penguasa itu dibikin drama, gue udah kebayang aja adegannya kudu gimana. Tapi pemerannya? Rasanya yang cocok hanya dia, karena dia yang paling tahu kultur di sana seperti apa.”
Dina terdiam sejenak, mencerna perkataan dan ambisi Bams yang terdengar menarik. Kisah nyata Weini yang unik ini memang patut diapresiasi dalam bentuk drama. Ayo kak, hajar! Tunjukkan kemampuanmu!” seru Dina mengompori semangat Bams.
Bams mengerutkan dahi, tak menyangka Dina begitu mudah mendukungnya. “Malas castingnya nih, gue mau nyari pemeran yang benar-benar pantas buat menggambarkan sosok Weini.”
“Hmm....” Dina serius ikut memikirkan obsesi Bams, ia optimis bahwa impian Bams sangat bisa menjadi kenyataan. Hingga sebuah ide terbersit dalam pikirannya dan Dina tersenyum lebar saat inspirasi itu datang.
“Ahaaa... aku tahu siapa yang paling cocok jadi peran sebagai non Weini.” Teriak Dina girang.
Bams meragukan pilihan Dina tapi ia tetap ingin mendengar pendapatnya. “Siapa?” Tanya Bams singkat.
Dina tersenyum penuh percaya diri, ia yakin artis pilihannya pasti disetujui Bams tanpa alasan apapun. “Grace!” Jawab Dina singkat dan tegas.
❤️❤️❤️