OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 234 PERASAAN KITA DI WAKTU BERSAMAAN



Stevan masih betah duduk di belakang, menuruti perintah Haris yang menyuruhnya menunggu. Harus ia akui bahwa Haris adalah sosok ayah yang punya sifat mengayomi, bukan hanya kepada anaknya namun pada yang lain, termasuk pada ia dan Dina. Stevan merasa sedikit iri dengan Weini yang memiliki ayah sehebat itu.


“Lagi mikirin aku?” Tiba-tiba Haris muncul dengan kenarsisan yang membuat Stevan terkejut.


Stevan gelagapan, seolah barusan pikirannya tembus pandang dibaca Haris. “Kok tahu, om?” Tanya Stevan kikuk.


“Oh, benar ya? Aku hanya asal bercanda.” Ujar Haris tertawa kecil, membuyarkan kecanggungan anak muda itu. Ia kembali duduk di kursinya yang sudah dingin, saking lamanya ia beranjak dari sana.


Stevan ikut tertawa, menertawakan dirinya. “Aku kira om bisa baca pikiran, kaget aja kok bisa tahu. Habis darimana om, lama banget. Sepertinya tadi aku dengar suara om lagi ngomong sama Weini.”


Haris menyeruput tehnya, sudah dingin hingga terasa cukup pekat. “Biasa, ada sedikit urusan. Sudah larut malam, hujan juga belum reda, kamu bisa tidur di kamarku kalau mau. Lebih baik jangan pulang saat cuaca begini.” Ujar Haris lalu kembali fokus pada cemilan.


Mendengar tawaran langka dari Haris membuat Stevan tersenyum girang, disuruh tidur di ruang tamu pun ia bersedia, apalagi ditawari sekamar dengan ayah Weini. Entah sejak kapan Stevan ngefans pada Haris, kharisma dan kebaikannya menyentuh hati Stevan.


“Sungguh? Aku boleh nginap, om? Terima kasih, asal tidak merepotkan.” Jawab Stevan antusias.


Haris hanya tersenyum tipis, ia akan masuk pada inti pembicaraan. “Anak muda, aku salut padamu. Kebesaran hatimu untuk melepaskan dan mengesampingkan perasaan pribadi, itu sangat sulit tapi kamu bisa.”


Kegirangannya luntur sekejab, Haris tengah membicarakan perasaannya. Mengajaknya mengorek luka yang sudah ia obati dengan keikhlasan. “Hanya itu pilihannya om, semakin dipaksakan malah semakin kehilangan. Aku sadar bukan


aku yang bisa membahagiakan Weini, tapi aku juga tidak rela melihat dia terus-terusan disakiti. Bos muda itu kurang gentle, kalau aku jadi dia, aku perjuangkan sampai titik darah penghabisan.”


Stevan awalnya enggan membahas masalah hati, tetapi justru terpancing mengeluarkan pendapatnya tanpa sensor. Haris yang memulai, ia hanya sebagai responden.


“Ya, kau melakukan hal yang tepat. Kau tahu, apa yang paling susah dijelaskan?” Tanya Haris.


Stevan mengernyitkan dahi, “Cinta?” Ujarnya spontan menebak.


Haris tersenyum tipis, “Perasaan. Tidak bisa membenci seseorang tanpa alasan, juga tidak bisa dipaksa mencintai seseorang tanpa ketertarikan. Sulit dijelaskan, dan jika kau bisa mengerti, mungkin bisa jadi dewa cinta.”


Stevan meresapi kata-kata Haris, sederhana namun punya makna yang dalam. “Om benar, aku belum terlalu mengerti, pengalamanku hanya soal patah hati. Kehilangan padahal belum sempat memiliki.” Stevan terbahak setelah pengakuan yang teramat jujur itu, bisa dikatakan bahwa Weini adalah cinta pertamanya dan gagal. Kehidupan punya misterinya, ia tak pernah menyangka malah akan bersahabat dengan cinta pertamanya, dan ikhlas saja menjalaninya.


Haris ikut tertawa, namun gelak tawa mereka tetap tidak mengungguli derasnya suara hujan yang menghantam atap rumah. “Kebetulan aku berbakat meramal, tapi keakuratannya masih dipertanyakan. Apa kau punya pertanyaan? Syaratnya hanya boleh satu pertanyaan.”


Stevan menatap Haris penuh takjub. “Wow… Sungguh, om? Gimana ramalnya? Lihat garis tangan?” Stevan menyodorkan tangannya, memperlihatkan goresan di telapak tangannya pada Haris.


“Tidak perlu, cukup tanyakan saja satu pertanyaan.” Jawab Haris dengan tenang dan serius.


“Satu ya? Hmm… Kalau Weini jodohnya sama Xiao Jun, trus aku jodohnya sama siapa om?” Celetuk Stevan, pertanyaan itu yang terlontar seketika.


Haris manggut-manggut, seakan tengah serius berpikir. “Jodohmu ya? Hmm… Bagaimana kalau Dina?” Celetuk Haris, yang pasti ia sedang bercanda.


“Tidak!” Spontan Stevan berteriak, membayangkan wajah Dina yang kerap bertengkar dengannya saja bisa terbawa ke mimpi buruk, apalagi sampai menikahinya.


Haris tertawa, wajah Stevan yang merengut sangat menggemaskan. Pantas saja ia sangat digandrungi gadis remaja, aktor itu punya ketampanan yang meluluhkan setiap mata yang memandang, kecuali Weini. “Itu hanya pemanasan, baiklah om kasih tahu yang sebenarnya.”


Stevan menahan napas saking tegangnya mendengar kelanjutan Haris, tak peduli itu sekedar guyonan atau serius, ia tetap tegang menunggu kata-kata dari Haris.


“Siapa yang belum diajak kenalan, om?”


***


Di malam yang bertemankan hujan, di waktu yang bersamaan, dari mereka yang masih terjaga dan hati yang berbeda rasa.


Xiao Jun mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, menelusuri jalan tol tanpa tujuan pasti. Semakin kencang, semakin menyenangkan hingga membuatnya melupakan sesaat kegagalan sebelumnya.


“Masih ada hari esok, masih ada esok!” Kata-kata itu terus ia rapalkan, memotivasi dirinya agar memperbaiki keadaan dengan Weini di keesokan hari. Ia tak peduli dengan pakaian basahnya yang membuat dingin sekujur tubuh, ia belum berniat pulang sebelum tenang.


***


Weini memejamkan matanya dengan paksa, ia lelah dan mengantuk namun pikirannya masih terombang-ambing pada suara hatinya. Ia sebenarnya cukup mengerti dan menerima apa yang Haris katakan, tetapi suara hatinya menyerukan agar ia menyiapkan hati menghadapi kenyataan. Entah apa, yang pasti ini firasat yang jauh lebih menyakitkan. Esok mungkin tak ada kebahagiaan, esok masih mendung, masih hujan di hatinya.


Aku tahu ini aneh, tapi bisikan yang kudengar bahwa kau merahasiakan sesuatu dariku. Itulah sebabnya kau ragu menemuiku. Xiao Jun, sampai kapan kita berdiam? Kenapa tidak bicarakan? Aku mulai lelah, Jun…


***


Adapula Dina yang berbaring di samping Weini dengan perasaan bersalah, mengingat kembali percakapan ayah dan anak yang semakin meyakinkannya bahwa mereka bukan keluarga biasa. Ada rahasia besar di balik kebiasaan


mereka yang terlihat seperti manusia normal, Dina membuka mata sedikit, mengintip punggung Weini yang tergerai rambut curlynya. Gadis berwajah seperti malaikat, dengan segala keanggunan dan aura yang terpancar dari dalam. Betapa Dina sangat mengagumi majikannya, ia tetap yakin dari makhluk apapun mereka, di matanya Weini dan Haris adalah orang baik yang menyayanginya.


Stevan diapain ya sama om Haris? Nggak biasanya dia disuruh nginap, apa dia mau dijadiin tumbal? Dina menggelengkan kepala, menepis pikiran buruknya.


Tidak! Tidak! Mereka orang baik, mereka orang baik. Pekik Dina dalam batin, sebelum pikirannya menggila, ia menutupi kepalanya dengan bantal, berharap segera tertidur dan melupakan pikiran buruknya setelah bangun.


***


Di kamar yang berselisih dua kamar dari Weini, Haris mendengar semua isi hati Dina. Ia memang sengaja berkonsentrasi membaca apa yang gadis itu pikirkan, setelah ketahuan menguping. Pria itu tersenyum sinis,


mendengar pikiran aneh Dina yang ngelantur.


Sepertinya aku perlu mengajak Dina minum teh pelupa, agar keinginannya terkabul besok. Gumam Haris yang sudah mantap mengambil keputusan, rupanya bukan Stevan yang harus dibereskan ingatannya, tenyata Dina yang lebih berbahaya.


***


Grace belum mencoba tidur, meskipun puluhan kali sudah ia menguap. Semua itu karena Xiao Jun, ia tahu pria itu keluar dan belum pulang sampai sekarang. Di tengah derasnya hujan serta larutnya malam, kemana pria itu pergi? Sepenting itukah urusannya hingga tak bisa diundur lain hari? Grace mengintip keluar lewat jendela apartemennya, berharap bisa mengintip Xiao Jun kembali. Sayangnya, yang ada hanya tetesan hujan yang mengaburkan penglihatan.


Kamu di mana? Bersama siapa? Sedang apa? Apa mungkin kamu pergi menemui Weini?


Memikirkannya saja sudah membuat Grace panas hati, andai benar dugaannya, lalu ia harus bagaimana mengambil sikap?


Weini, sepertinya kita perlu kenalan.


***