
Dina memencet kontak panggilan terakhir dari ponselnya, tak sabar rasanya menunggu telepon tersambung untuk merayakan kesuksesan. Tut… tut…
“Halo Nona Dina.” Sapa Lau dari seberang telepon.
“Sukses besar om, congratulation!” Seru Dina girang. Ia menggerakkan pundak seraya menari di balik setir.
“Anda memang pintar mencari kesempatan. Apa sekarang mereka berduaan?” tanya Lau penasaran. Ia yang dijadikan alasan sakit justru tengah bersantai di apartemen sambil menikmati sebotol whisky.
“Coba om tebak! Hahahaha” Goda Dina.
“Hemmm…”
“Tuan Xiao Jun sedang mengantar Weini pulang hahaha.” Dina tak sanggup lagi menyembunyikan kebahagiaannya. Berhasil mengelabui seorang artis dan seorang pengusaha muda segampang itu. Ia tak peduli dengan konsekuensinya besok, yang penting ia bangga menjalankan misi dengan sukses dan segera mendapat imbalan besar.
“Good job nona.” Puji Lau turut senang.
“Om, panggil Dina saja ya. Aku bukan orang penting yang pantas dipanggil nona.” Dina tak nyaman dengan panggilan formal itu.
“Baiklah. Akan saya transferkan tips buat kamu. Kita tunggu perkembangan selanjutnya, kamu jaga nona Weini baik-baik.” Ujar Lau sembari melakukan transfer dana online ke rekening Dina.
“Siap Om!” ujar Dina semangat.
Mata Dina semakin terbelalak lebar ketika mendapat notifikasi transferan masuk dari sebuah rekening. Nominalnya nyaris membuatnya pingsan.
“20 jutaaaaaaaa… Non Weini, kau asset yang bikin aku kaya hahaha.” Dina mengencangkan suara radio yang tengah memutar house music. Ia berjoget riang merayakan bertambahnya pundi rupiah yang menggemukkan
rekeningnya.
***
“Besok aku akan menegur kak Dina.” Weini membuka percakapan saat mobil Xiao Jun meninggalkan parkiran kantor.
“Tidak perlu. Kurasa dalangnya adalah paman Lau.” Xiao Jun yakin Lau yang mengatur rencana dan meminta Dina menjalankannya.
“Eh paman? Kenapa?” weini heran tersangka utama yang dituduhkan Xiao Jun malah orang terdekatnya.
“Dia orang yang paling tersiksa melihat kita diam.” Xiao Jun teringat lagi kejadian beberapa hari lalu saat ia mendapati Lau menelpon seseorang dan merahasiakan sesuatu darinya. Sekarang benang kusut itu tergerai
sudah, orang di balik telepon itu pasti Dina. Mereka berdua sudah merencanakan ini sejak itu.
Weini tertunduk penuh ragu. Haruskah ia minta maaf soal kejadian di jet pribadi itu? “Aku…”
Xiao Jun sepertinya tahu kebimbangan Weini, tapi ia menunggu kelanjutan kata-kata dari bibir Weini sebelum mengutarakan pendapatnya.
“Maafkan soal itu, aku nggak tahu harus jawab apa. Semuanya mendadak banget.” Ujar Weini. herannya
ia merasa sangat plong usai pengakuan itu.
“Nggak usah diungkit lagi. Aku juga salah, sorry.” Ujar Xiao Jun pelan. Ia berkonsentrasi dengan setir untuk menetralisir rasa gugup.
“Kau tak mau mendengar jawabanku?” pancing Weini.
Weini merasa sangat kecewa, andai Xiao Jun berkata ‘Ya’ maka ia pasti memberikan jawaban atas pertanyaannya di jet waktu itu. sekarang kesannya justru Weini yang terlihat agresif pada Xiao Jun. Ia ingin menjawab perasaaan pada pria yang belum mau mendengarkan. Seketika Weini berharap Xiao Jun menyatakan cinta padanya lagi.
“Dua hari lagi aku kembali ke Hongkong.” Timpal Xiao Jun.
“Secepat itu? bukannya belum dua tahun?” Weini keceplosan dan lalai mengontrol volume suaranya. Ia bahkan lupa bagaimana harus jaim di depan orang yang ia suka agar tidak dicap gadis agresif. Namun tampaknya semua sia-sia, ia pasti dinilai seperti itu sekarang.
“Ada urusan mendadak.” Jawab Xiao Jun singkat dan tidak berusaha memberi penjelasan detail padahal gadis di sampingnya sudah seperti gadis patah hati.
Weini gemetaran, ia baru saja berbaikan dengan Xiao Jun lalu harus berpisah. Apa karena itu Xiao Jun bersedia menemuinya sebagai salam perpisahan?
“Berapa lama di sana?” tanya Weini lemah.
“Entahlah. Sampai urusanku selesai.”
“Oh…” Weini kehilangan semangat, seakan separuh jiwanya hilang dibawa Xiao Jun.
Mereka kembali terdiam hingga sampai di tujuan. Weini melepaskan sabuk pengaman dan melirik Xiao Jun. pria itu duduk tenang tanpa ada tanda akan menyusulnya turun.
“Nggak mampir? Ayahku di rumah loh.” Bukankah ini yang diharapkan Xiao Jun? waktu pertama kali mengantarkan Weini, ia selalu berusaha masuk ke dalam dan memperkenalkan diri pada ayah Weini. Sekarang justru Weini yang menawarkan hal itu padanya. Dunia serasa terbalik, yang dulu mengejar malah dikejar.
“Next time aja ya. Aku masih ada urusan dengan paman Lau. Sampaikan salamku pada ayahmu.” Xiao Jun menolak halus. Ia menyunggingkan senyum yang terlihat menyakitkan mata Weini.
“Oh… Baiklah. Thanks.” Weini segera turun dari mobil, ia enggan berlama-lama di hadapan pria itu lagi. Hatinya terasa tercabik-cabik, jika tahu pertemuan ini akan menyakitkan lebih baik ia tak dipertemukan.
Xiao Jun mengendarai mobil dengan kencang, di sisi lain hatinya senang melihat Weini tambah cantik dan terlihat sehat. Namun di balik itu, ada satu kepedihan yang sulit ia jelaskan. Gadis itu mulai menunjukkan ketertarikan dan mungkin saja mereka bisa memulai hubungan saat Weini berinisiatif memberikan jawaban. Di saat itu justru muncul kekhawatiran dari Xiao Jun yang takut melukainya. Bagaimana jika ia tidak kembali lagi? Tentu akan lebih menyakitkan Weini menunggunya yang tak bisa memberi kepastian. Ia tak lain masih boneka yang dimainkan Li San sesuka hati. Jangan sampai ia mengorbankan perasaan Weini hanya demi cinta yang belum sanggup ia perjuangkan.
“Maafkan aku Weini. Aku mencintaimu!”
***
Setting lokasi sudah mulai beres sembari menunggu kesiapan para pemeran utamanya. Metta mengamati dari pojokan studio, menunggu sebuah celah untuk beraksi.
“Kalo lu mau dapat peran utama, lu buktiin dulu kemampuan lu. Gue janji akan minta peran utama sama bos jika lu berhasil.” Metta terngiang iming-iming yang diberikan Lisa padanya. Meskipun beresiko, ia rela melakukan demi mewujudkan impian. Ia tak sudi ditindas terus oleh Lisa yang sok berkuasa.
Kru yang menyiapkan peralatan mulai meninggalkan studio untuk makan siang. Metta meringkuk di bawah kolong meja agar tidak ketahuan. Ruangan studio ini sudah diperiksa Metta sebelumnya, tidak ada CCTV yang terpasang. Ini seperti hadiah dari langit untuk memuluskan rencana.
Metta merangkak keluar dari kolong meja lalu merenggangkan otot sejenak. Studio sudah terkunci bersama dirinya seorang diri. “Lima belas menit harus kelar di sini. Gue pasti bisa!”
Ia sebenarnya grogi, tapi lebih baik mencoba daripada terus-terusan hidup di bawah tekanan. Sejak menampakkan diri di hadapan Weini, ia sama sekali tidak berani mencari masalah. Metta sudah gerah di posisi kalah dan kini saatnya merebut kemenangan balik ke genggaman.
Berbekal penyelidikannya selama nyaris seminggu di sini, Metta mulai paham alat-alat yang dipakai untuk keperluan syuting. Ia mendekati sebuah lighting yang tinggi dan berat, kemudian mengutak-atik dengan alat yang
ia bawa.
“Sempurna! Mampus lu Weini.” gumam Metta puas.
***