OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 164 KEMBALI KE RUMAH MASA LALU



Menunggu tanpa kepastian waktu memang membosankan, Xiao Jun merasa tengah dipermainkan lantaran terlalu mudah percaya pada Chen Kho. Pria yang tak ia sukai itu dengan gampang memintanya menunggu sore tiba untuk membawanya menemui Li An.  Xiao Jun terlanjur berganti pakaian rapi dan harap-harap cemas menunggu kedatangannya, namun hingga pukul lima sore batang hidung Chen Kho belum kelihatan.


“Terlalu mudah percaya pada orang yang tak pantas dipercaya.” Gumam Xiao Jun menasehati diri sendiri.


Seorang pengawal masuk ke dalam kamar Xiao Jun demi menyerahkan secarik kertas yang terlipat. “Hormat kepada tuan muda, ada titipan dari tuan Chen Kho.”


Setelah kertas itu berpindah tangan, Xiao Jun memerintahkan pengawal itu untuk meninggalkannya sendiri. Ia perlu privasi untuk membaca surat sederhana itu. Tulisan tangan yang digores dengan tinta puplen di atas kertas merah itu memintanya keluar saat ini juga dan menemui Chen Kho yang menunggunya di depan gerbang. Xiao Jun meremas kertas itu, antara percaya atau tidak.


“Apa ini hanya jebakan? Dia bilang mau menjemputku tapi malah menyuruhku keluar sendiri menuju gerbang?” Xiao Jun masih banyak pertimbangan sebelum mengambil keputusan, statusnya masih dalam pengawasan Li San, salah bertindak sedikit saja maka konsekuensinya bisa fatal. Bukan pada dirinya namun pada orang-orang yang ingin dia lindungi, dan apa mungkin surat dari tulisan tangan entah siapa ini dapat dipercaya?


Beberapa menit berpikir panjang, Xiao Jun memutuskan untuk mencoba. Diraihnya mantel tebal dan hanya menjinjingnya di lengan untuk berjaga-jaga dengan cuaca dingin di luar. Andai ini jebakan, ia akan mencoba bernegosiasi dengan Li San dan tak akan membiarkan Chen Kho lolos begitu saja. Secarik kertas yang sudah ia remas kusut itu tetap dikantonginya, ia perlu membuktikan kesungguhan pria itu sejauh mana.


Selangkah keluar dari kamarnya, para pengawal sudah mendekati Xiao Jun dengan tatapan waspada. Xiao Jun hanya membalas tatapan yang lebih tajam daripada mereka, “Aku keluar atas perintah tuan besar. Isi surat yang kalian sampaikan ini buktinya, kalian berani melarangku?”


Empat pengawal itu menunduk, “Hamba tidak berani.” Ujar mereka bersamaan lalu membiarkan Xiao Jun berlalu dengan leluasa. Xiao Jun tak habis pikir, di dalam rumahnya saja ia tidak mempunyai kebebasan layaknya tahanan yang dijauhkan dari kehidupan luar. Ia harus mengulang alasan yang sama setiap kali berpapasan dengan para pengawal di berbagai sudut penjagaan, hingga tibalah ia di gerbang utama … sebuah pintu besar yang menghubungkan dunia luar menuju kebebasan.


“Hormat kepada tuan muda, ada kepentingan apa sampai kemari?” seorang penjaga gerbang yang mewakili dua rekannya bertanya pada Xiao Jun. Seluruh penghuni rumah ini tahu status Xiao Jun yang sedang menjalani masa tahanan dan tidak diperbolehkan keluar tanpa persetujuan Li San.


“Aku diundang Chen Kho keluar sebentar, dia menungguku di luar. Kalian bisa periksa apa benar dia sudah datang menungguku?” jawab Xiao Jun dengan tenang, langkah terakhir yang harus ditempuh dan ia tak boleh kehilangan kepercayaan dirinya.


Ketiga penjaga itu saling berpandangan dan salah satu mengangguk lalu pergi keluar gerbang, Xiao Jun yakin penjaga itu pasti tengah membuktikan ucapannya. Hanya sekejab saja penjaga itu kembali sembari menggelengkan kepala kepada rekannya, Xiao Jun menangkap firasat buruk melihat reaksi penjaga itu.


“Maaf tuan muda, kami sudah memeriksa namun tuan Chen Kho tidak ada di luar. Mohon untuk kembali ke kamar anda lagi, jangan menyulitkan posisi kamu. Maafkan kamu tuan muda.” Salah seorang penjaga yang buka suara disusul dengan penjaga lainnya yang menunduk homat. Mereka sangat menghormati Xiao Jun tetapi tidak bisa


berbuat banyak karena kekuasaan penuh ada pada tangan Li San.


Kenyataan yang disampaikan penjaga itu membuat darah Xiao Jun mendesir, kekesalannya terasa mencapai ubun-ubun. Ia dibohongi telak oleh si pria licik, saking kesalnya ia masih belum sanggup menggerakkan tubuh dan berdiri mematung dengan hening.


“Ai goo … ada pertunjukan apa ini? Kok pada tegang?” Suara Chen Kho yang seolah mengejek itu terdengar bersumber dari belakang. Bukan sekedar bertanya, ia malah mendramatisir suasana dengan tepuk tangan.


Xiao Jun enggan menoleh ke arah Chen Kho, ia pun tak mau menyambutnya dengan sepatah kata. Ketika para penjaga menunduk hormat pada tuan muda yang baru saja datang itu, Chen Kho malah merangkul akrab pundak Xiao Jun.


“Sudahlah, mereka hanya menjalankan prosedur kerja. Ayo berangkat sekarang!” seru Xiao Jun enggan bertele-tele lagi, buang waktu saja hanya berdiri menggertak orang kecil. Xiao Jun mengambil insiatif langkah hingga rangkulan di pundaknya terlepas. Chen Kho tak ambil pusing, dengan senyum licik ia membuntuti langkah Xiao Jun.


Mobil Chen Kho sudah terparkir di samping gerbang, ia ternyata sudah mempersiapkan rencananya. Ia masuk ke dalam mobil kemudian mengkode Xiao Jun duduk di depan.


“Kau janjikan di mana tempat bertemunya?” tanya Xiao Jun saat ia baru duduk dan memasang seatbelt.


“Menurutmu?” bukannya menjawab, Chen Kho justru balik bertanya. Ia sangat puas melihat Xiao Jun yang kesal karena penasaran. Sayangnya, Xiao Jun enggan menjawab dan memilih bertapa dalam diam sepanjang perjalanan. Membiarkan kemana roda mobil yang dikemudikan Chen Kho membawanya pergi, asalkan tujuannya menemui Li An di manapun ia tak ambil peduli.


***


Perjalanan yang makin ke selatan dari kota mulai menyisiri jalanan yang sepi, Xiao Jun tertarik dengan pemandangan sekeliling yang terlihat akrab dengan masa lalunya. Ia mulai menebak bahwa jalan yang tengah dilintasinya adalah jalan menuju rumahnya. Rumah yang sesungguhnya tempat ia dibesarkan dan hidup bahagia dengan keluarga. Ia menyimpan pertanyaan itu sendiri, hampir satu jam dihabiskan dengan berdiam diri. Sepenasaran apapun, ia tetap enggan bicara dengan Chen Kho.


Pertanyaan Xiao Jun terjawab sudah ketika mobil Chen Kho berhenti di depan sebuah pohon besar yang di seberangnya berdiri sebuah rumah kayu yang tampak lapuk dari luar. Xiao Jun membuka mata lebar menatap rumah yang lebih layak disebut gubuk itu, matanya mulai berkaca-kaca. Rumah kedua orangtuanya hampir rata dengan tanah, dan menyisakan saudaranya yang tinggal di sana.


“Kamu betah juga nggak bertanya sedikitpun. Ya sudahlah, temui saja saudaramu. Nggak perlu kubilang lagi kan pasti kamu sudah tahu tempat apa ini.” Ujar Chen Kho dari balik kemudi, ia tak terlihat bersiap turun.


“Terima kasih.” ujar Xiao Jun menatap Chen Kho. Ia bergegas turun tanpa menawarkan pria yang berjasa mengantarnya kemari untuk masuk bersama.


Chen Kho tersenyum, “Ternyata masih bisa bilang terima kasih. ha ha ha … aku tinggalkan kalian, dua jam lagi kujemput. Ada yang harus kubeli buat Grace di kota.” Ia melambaikan tangan sebentar kemudian tancap gas pergi.


Xiao Jun menatap mobil itu hingga hilang dari jalanan, hanya demi memastikan pria itu tidak memainkan intrik apapun. Kini ia bersiap memasuki rumah penuh kenangan, teringat masa kecilnya saat ia bersusah payah ingin kembali ke sini walau sebentar namun semua niatnya terhalangi. Belasan tahun sudah sejak ia meninggalkan hunian sangat sederhana ini, pada kesempatan yang tak terduga dan berkat bantuan rivalnya, Xiao Jun akhirnya kembali.


Ia mengetuk beberapa kali pintu kayu yang lapuk itu, suara seorang wanita dari dalam mempertanyakan siapa tamu yang menjelang malam.


“Kakak, aku pulang ….” Jawab Xiao Jun dari luar dengan suara berat menahan tangis.


***