
Dina berubah canggung setelah menyadari kekeliruannya, ia tak seharusnya mengatakan itu pada siapapun termasuk Stevan dan Fang Fang yang ia kenal betul. Sekarang ia paham mengapa Xiao Jun bersikukuh mengisolasinya dari jangkauan publik, kemampuannya yang lalai mengontrol ucapan dan sering latah mengutarakan isi pikirannya itulah yang membahayakan.
"Ng... Aku nggak tahu...." Jawab Dina menggeleng cepat dan gestur tubuhnya sangat canggung. Ia pun segera menunduk agar menghindari tatapan Stevan dan Fang Fang.
Stevan dan Fang Fang cukup peka membaca ketidak nyamanan dari raut wajah Dina, namun mereka bungkan. Sepertinya memang ada sesuatu yang Dina sembunyikan dari mereka, namun untuk saat ini mungkin lebih baik tidak perlu mengulik hal yang belum dipercayakan untuk ia ketahui. Yang terpenting adalah Weini, keselamatan Weini jauh lebih penting ketimbang rahasianya.
Xiao Jun melipat tangan di atas meja, bergeming membaca satu persatu isi pikiran tiga orang di dekatnya. Ia hanya menarik seulas senyum tipis saat tahu maksud hati Stevan yang cukup baik dan pengertian.
Stevan beralih tatapan dari Dina yang masih menunduk diam itu, sekarang fokusnya penuh pada Xiao Jun yang sejak tadi konsisten diam. "Bos Jun, bagaimana dengan Weini? Apa kamu sudah tahu di mana keberadaannya?"
Xiao Jun menatap balik Stevan dengan tatapan teduh, ia pun menggeleng pelan. "Belum, tapi aku yakin mereka tidak akan berani melukainya. Saat ini sembari melacak keberadaannya, fokuskan untuk memperbaiki citra Weini di mata publik. Pemberitaan tidak jelas di luar harus diredam." Tegas Xiao Jun.
Stevan menatap antusias pada Xiao Jun, ada rasa tak terima dengan sikap Xiao Jun yang terlali yakin musuh tidak akan menyakiti Weini. "Gimana caranya meredam rumor itu? Seluruh dunia membicarakannya dengan versi masing-masing, banyak yang sudah menggiring opini, tanpa klarifikasi dari pihak Weini, publik tidak akan diam dengan sendirinya. Harusnya Dina sebagai manajer yang muncul mewakili Weini untuk jelaskan semua ini." Stevan kembali melirik Dina saat namanya disentil.
Xiao Jun tersenyum simpul, "Stev, kita perlu bicara empat mata." Pinta Xiao Jun kemudian berdiri dan memimpin langkah, ia yakin tanpa menunggu jawaban, Stevan pasti mengikutinya.
Benar saja, kedua pria itu masuk dan mengunci diri dalam ruang kerja Xiao Jun. Mereka berdiri berhadapan sejenak, kemudian Xiao Jun membalikkan badan dan menatap ke luar jendela.
"Apa yang mau kau bahas? Aku nggak suka bicara sama punggung orang." Seru Stevan yang merasa tak senang menatap punggung sambil bicara serius, padahal Xiao Jun belum juga mulai buka suara.
Xiao Jun membalikkan badannya lagi, menghadap pria yang baru saja protes padanya. "Aku sedang berpikir tentang porsi bantuanmu, kita harus kerjasama jika ingin menyelamatkan Weini. Kamu sudah tahu garis besar masalah ini, dan kuharap kamu bersedia bantu sesuai porsinya."
Stevan mengangguk mantap, "To the point saja, nggak usah bertele-tele lagi bos."
Xiao Jun tersenyum menanggapi ketidak sabaran Stevan, "Aku akan pergi ke suatu tempat untuk menemukan Weini, selagi aku tidak di sini, tolong bersatu dengan Bams untuk tangani masalah publik. Apa kamu keberatan?"
Stevan mengernyitkan dahi, "Lalu Dina? Bukankah yang lebih pantas bicara itu Dina? Aku tahu kalau dia sudah melihat wajah asli Weini, meskipun dia berkelit dan tidak mau mengakui. Publik pasti merubah pandangan mereka terhadap Weini jika mendengar pengakuan Dina."
Xiao Jun menatap lekat Stevan sejenak, dua pria itu diam saling bertatapan dengan suasana hati yang berbeda. "Kamu baru saja menyebutkan kelemahan Dina, di satu sisi mungkin benar bisa meredam rumor, tapi di sisi lain jelas akan membahayakan Dina. Media pun tidak akan puas sebelum menggali sampai akarnya, aku yakin setelah Dina mengakui pun mereka tetap akan menciptakan opini lain."
Stevan mengusap hidungnya, ia tampak serius mencerna ucapan Xiao Jun. "Jadi maksudmu Dina tidak boleh muncul sekalipun?"
Xiao Jun hanya mengangguk, "Aku minta maaf secara tidak langsung sudah melibatkan kalian dalam masalah ini. Baik Grace maupun aku tak ingin ada yang terluka, itulah kenapa Grace bersikeras melindungimu. Masalah yang kami bertiga hadapi agak rumit, dan orang-orang yang dekat dengan kami pun kena imbas."
"Tentu, aku berani pastikan dia aman di sana." Ucap Xiao Jun mantap.
***
Dina ditinggal berduaan dengan Fang Fang di ruang makan, sejak tadi mereka diam dan canggung. Hingga Dina yang lebih dulu tak sabar berada dalam keheningan dan akhirnya bicara. "Berita di sana seheboh apa?" Tanya Dina hati-hati.
Fang Fang menatap Dina, meskipun pernah ada kenangan buruk di antara mereka namun setelah nona mereka berbaikan, tidak ada alasan lagi untuk menyimpan dendam pribadi. "Lebih heboh daripada di sini yang pasti. Nona Weini dan keluarganya di sana sedang hangat dibicarakan. Dan kayaknya kamu harus tahu, nona Grace dan nona Weini itu saudara sepupu." Jelas Fang Fang, karena ia merasa kasihan saja pada Dina yang belum tahu kebenaran itu.
Dina melongo lebar, sungguh berita yang menggemparkan barusan terdengar. Pantas saja Weini tak pernah bisa membenci Grace, meskipun gadis itu berpotensi besar sebagai saingan cintanya. Walau tidak saling tahu, tapi ikatan persaudaraan mungkin lebih kental pengaruhnya. "Non Weini sudah tahu apa belum?"
Fang Fang mengangguk, "Kemarin siang dia datang ke apartemen mencariku, dia sudah tahu semua sejak kemarin. Aku menyesal membiarkannya pergi begitu saja. Andai aku tahu akan terjadi masalah sebesar ini, aku pasti mengejarnya." Sesal Fang Fang.
Dina menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala, "Sudahlah, buat apa disesali? Lagipula memang harus terjadi, kalau kamu kejar saat itu, belum tentu juga kamu mampu melindunginya. Dia saja tidak mampu melindungi dirinya sendiri, padahal dia kuat." Ujar Dina sedih, ingatannya terpikir kesedihan tadi malam lagi.
Mereka berdua hening tanpa ada yang bersedia bicara lagi, hingga seorang pria tua masuk ke ruang makan dan sontak membuat Fang Fang terkejut. Gadis itu segera berdiri lalu membungkuk hormat ala pengawal kediaman Li.
"Senior, anda di sini? Senang bertemu dengan anda, saya Fang Fang, pengawal wanita besutan pengawal Lau." Ujar Fang Fang memperkenalkan diri secara formal.
Dina menopang dagu, ia asyik menyimak tontonan langsung di hadapannya yang sensasinya seperti menonton drama kolosal China. Ia tak mengerti yang dibicarakan Fang Fang, mereka bicara dalam bahasa Mandarin.
Haris tersenyum kemudian membalas penghormatan dari gadis di hadapannya dengan anggukan. "Kamu mengenaliku? Aku bahkan berbeda jaman denganmu, sepertinya aku cukup terkenal di kalangan pengawal klan Li." Senyum Haris sedikit bercanda. Tatapan Haris yang teduh berpaling menatap Dina yang diam dan asyik melihat ke arahnya.
Dina merasa trenyuh, sorot mata itu, senyum ramah serta ekspresi wajah yang begitu tenang, sangat familiar menginginkan Dina pada seseorang. "Anda terlihat mirip om Haris." Lirih Dina pelan ketika Haris menoleh lagi pada Fang Fang. Ia cukup percaya diri bicara dalam bahasa Indonesia, menyuarakan pendapatnya pada pria yang diakui sebagai ayah Xiao Jun itu.
Biarin aja, toh dia juga nggak ngerti bahasa Indonesia. Gumam Dina dengan cuak dalam hatinya, tanpa ia sadari Haris mendengar itu dan tersenyum geli.
Aku adalah Haris, Haris adalah aku, Dina.
***