
Li San terkesiap mengetahui kedatangan Kao Jing yang mendadak. Ia bergegas menutupi kertas yang telah dicoret tulisan tangannya lalu berdiri tegang menatap ke arah Kao Jing yang semakin mendekat. Pengawal setia Li San langsung angkat pedang dan berdiri menjadi tameng bagi tuannya, dalam kondisi lemah pun masih berusaha melindungi sang tuan.
Kao Jing tersenyum sinis menatap pengawal nekad itu kemudian mendorong tubuh lemah pengawal itu hingga ambruk ke lantai. “Jangan sok melindungi! Tubuhmu saja sudah selembek tahu.” Sindir Kao Jing yang menyeringai
kepada pengawal itu, kemudian berbalik menoleh pada Li San yang terdiam tegang melihat apa yang terjadi.
“Mau apa lagi kamu?” Tanya Li San dengan suara bergetar, ia bahkan tak sudi memanggil kakak pada Kao Jing.
Kao Jing tertawa melihat sikap angkuh adiknya. “Adik, harus kuakui nyalimu besar juga. Kau masih berusaha menutupi rasa takutmu, padahal jika kau mau sedikit memelas padaku, aku bersedia melepaskanmu.” Cibir Kao Jing.
Li San membuang pandangan, enggan menatap langsung pada saudaranya. “Jangan bermimpi!” Tegas Li San dengan segala sisa kekuatannya.
Kao Jing sinis menatap Li San, hawa sengit begitu kentara dalam ruang rahasia itu. “Terserah kau saja! Aku kemari untuk memberitahumu, hari ini pernikahan putrimu sesuai rencanamu kan. Tenang saja aku dan adik ipar sudah memberi mereka restu.” Ujar Kao Jing santai.
Li San menatap tajam pada saudaranya, tangannya mengepal saking geram namun ia masih sadar untuk menahan emosi karena ia tahu tak mungkin menang melawan Kao Jing saat ini. Li San memutar badan, tak kuasa menatap langsung Kao Jing yang memancing amarahnya.
“Ha ha ha …. Apa kau kesal karena aku merebut apa yang seharus jadi hakmu? Bagaimana perasaan itu? Sakit? Kecewa? Marah? Oh, kau ingin membalasku kan tapi tidak berani karena sadar diri tak akan mampu melawanku?” Sederet pertanyaan itu dilontarkan Kao Jing dengan nada kebencian yang jelas terasa. Ia menjeda perkataannya hanya untuk melihat reaksi adiknya yang sesuai dugaan telah berbalik menatapnya dengan sinis.
“Kau heran kenapa aku bisa tahu perasaanmu? Karena itulah yang aku rasakan sejak dulu, ketika kamu dengan tidak tahu malunya menghalalkan segala cara untuk menggagalkanku naik tahta. Seharusnya ini semua milikku, apa
kau pernah memikirkan perasaanku? Aku anak pertama yang secara adat akan menjadi penerus keluarga. Tapi kamu dengan teganya menghasut ayah dan ibu, meyakinkan mereka bahwa aku tidak pantas hanya karena aku menikahi gadis keturunan barat.” Pekik Kao Jing yang akhirnya menumpahkan segala kekesalan yang selama ini ia pendam. Ia bungkam puluhan tahun, menahan diri seakan lapang dada menerima kenyataan padahal ia bersabar demi menanti hari ini tiba. Hari di mana ia menakhlukkan Li San dan merebut kembali apa yang semestinya menjadi
miliknya.
Hardikan Kao Jing mengingatkan Li San tentang kejadian puluhan tahun lalu, ketika mereka masih muda bahkan belum menikah. Li San memang tidak direncanakan menduduki tahta keluarga, ia menyibukkan diri di bidang pendidikan terutama mempelajari bisnis. Berbekal kekayaan orangtuanya, Li San sukses dalam bisnis di usia muda. Ia berpikir harus segera mandiri karena tak bisa selamanya hidup mengandalkan kekuasaan ayahnya. Kao Jing pun memilih mencari pengalaman dan sekolah hingga luar negri, di situlah ia mengenal istrinya yang berasal dari negara barat. Hubungan itu rupanya dianggap serius oleh Kao Jing hingga mati-matian meyakinkan orangtuanya agar merestui. Awalnya hati orangtua pun luluh hingga pernikahan Kao Jing digelar di kediaman Li, namun ternyata keluarga istri Kao Jing berniat ikut campur bahkan berencana menyetir Kao Jing dalam kepemimpinannya setelah tahta diserahkan padanya.
kotor ayahnya karena ingin merubah keputusan dan menyerahkan tahta kepada adiknya. Dugaan Kao Jing diperkuat dengan fakta bahwa Li San mendapat dukungan dari klan Liang yang menikahkan putri mereka untuk memperkuat posisi Li San mendapatkan tahta. Kao Jing yang tersisihkan itu mencoba berbesar hati menerima
kenyataan, karena cintanya yang begitu besar kepada istrinya, ia memilih mempertahankan rumah tangga dan memilih pindah ke Amerika bersama istrinya.
“Kau tidak mendapatkan tahta itu bukan salahku! Hatimu terlalu sempit dan selalu merasa dirimu paling benar! Aku menjaga semua peninggalan leluhur dengan baik, tak terpengaruh pihak luar hingga saat ini. Bahkan segala tradisi yang sudah kuno di jaman modern pun masih aku pertahankan. Apa kau sanggup melakukannya jika kau yang jadi penguasa? Apa kau yakin nasib klan Li masih punya masa depan jika di tanganmu?” Bentak Li San, ia tak peduli lagi tentang tata karma. Saudaranya yang menghilangkan rasa hormat dan simpati dari hati Li San. Hatinya telah membeku, saudara sedarah tak lagi punya makna, harta dan tahta telah membutakan nurani mereka.
“Kau jangan mencari pembenaran! Kau yng menghasut ayah serta memfitnah keluarga istriku! Kau licik Li San, itulah sebabnya kau pantas kehilangan segalanya, termasuk putri bungsumu yang malang itu!” Bentak Kao Jing yang naik pitam.
“Jangan sebut putriku dengan mulut kotormu! Kau tak punya hati nurani! Kau tidak tahu penderitaan ibu yang setiap malam menangisimu. Kau yang tidak sadar diri betapa kedua orangtua kita memperhatikanmu bahkan ketika kau pergi jauh dari mereka, hidupmu dan segala kesuksesan usahamu tak luput dari campur tangan mereka. Kau tidak tahu kan? Kau kira bisnismu yang amatiran itu bisa sekejab sukses kalau bukan karena mereka? Kau naif!” Pekik Li San enggan kalah, hingga sebuah bogem mental mendarat di wajahnya sebagai balasan.
Li San menggertakkan gigi, pria yang dipanggil kakak itu telah melukai fisiknya. Dengan sekuat tenaga ia mengepalkan tangan kemudian melayangkan tinju ke wajah Kao Jing. Pria tua itu terhuyung karena pukulan Li San, hingga kesulitan untuk bangun.
“Cukup!” Teriak Chen Kho yang baru datang dan melihat perkelahian dua pria tua itu. Ia langsung inisiatif hendak memukul Li San.
“Kau jangan ikut campur, ini urusan ayah dengan dia! Dia harus mati di tanganku!” Pekik Kao Jing yang menolak putranya memberi bantuan. Napasnya tersengal oleh pukulan Li San yang mendarat lagi di perutnya.
Chen Kho menghela napas kesal, hanya disuruh berdiam diri menjadi penonton sebuah perkelahian yang imbang antar sesama pria bertubuh lapuk. Namun perasaan Chen Kho mulai membaik ketika teringat hal menyenangkan
yang akan terwujud sesaat lagi. Pernikahan Grace dan Xiao Jun yang akan terealisasi, tak pernah ia sangka akan semudah itu terjadi.
Aku tak sabar menunggu kalian kembali …. Gumam Chen Kho dengan tawa khasnya. Tawa yang disalah-artikan karena terkesan menertawakan dua pria itu yang masih baku hantam di hadapannya.
***