OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 352 TUMBUHNYA KEPERCAYAAN PADA HARIS



Flashback sebelum Grace menelpon Xiao Jun.


Pekikan keras Grace mengundang perhatian Fang Fang yang tengah membereskan ruangan tengah. Pelayan itu menjatuhkan sapu di tangannya kemudian bergegas menghampiri kamar Grace. Betapa terkejutnya ia mendapati Grace terduduk di atas ranjang dengan rambut acak-acakan dan menangis ketakutan.


“Nona? Anda kenapa?” Pekik Fang Fang yang bingung dengan keadaan saat itu. Ia duduk di samping Grace lalu mencoba memegang tangan nonanya.


Grace menunjuk kotak yang ia lempar ke lantai dekat jendela, tanpa sanggup menjelaskan dengan kata-kata lagi. Fang Fang mengalihkan pandangan sesuai arah telunjuk Grace, ia mengernyit melihat kotak itu terbuang hingga posisi terbalik. Fang Fang berjalan mendekati kotak itu lalu berjongkong dan meraih kotak tersebut. Ia menahan jeritannya meskipun sangat terkejut, sekarang ia tahu alasan Grace bersikap demikian.


Tangan Fang Fang gemetaran memunguti satu demi satu helai foto yang berserakan di bawah tumpukan kotak. Terlihat jelas ancaman menakutkan yang ditandai dalam foto itu. Sasarannya hanya satu orang, yakni Stevan yang di setiap foto dilumuri darah. Fang Fang melihat foto-foto kebersamaan Grace dan Stevan baru-baru ini, tepatnya malam di saat Grace meracuni diri sendiri. Gadis pelayan itu menutup mulutnya, shock berat saat melihat momen ciuman nonanya pun tak luput dari potret si peneror. Celakanya setiap angle foto lebih menonjolkan wajah Stevan, dan tak luput dari bercak darah yang sengaja dibaluri ke potret Stevan.


“Ada yang memata-mataimu nona, tapi sasarannya adalah Stevan? Apa dia mengancammu menggunakan Stevan?” Tanya Fang Fang yang langsung menyatakan pendapatnya.


Grace masih tampak sangat terguncang, ia jelas tahu ini ulah siapa namun tak menyangka ganjaran atas kegagalannya melaksanakan misi kakaknya justru berimbas pada Stevan. Ia tanpa sengaja telah mencelakakan orang yang mencintainya. Chen Kho pasti dengan mudah menghabisi nyawa Stevan, terlebih ada mata-mata di sekitar Grace yang siap bertindak kapanpun begitu Chen Kho memberi perintah.


Dalam ketegangan itu, Grace yang masih belum sanggup bersuara kembali dikejutkan dengan bunyi telpon. Tubuhnya terasa dingin seketika, tangannya bahkan gemetaran begitu melihat siapa yang menghubunginya. Ia


tidak bisa lari ke manapun, meskipun sangat ingin berlari ke ujung dunia untuk sembunyi, ia yakin Chen Kho dengan mudah pasti menemukannya. Tak ada pilihan lagi, ia harus menerima panggilan itu.


“Adikku yang cantik, kamu tidak jadi mati kan? Harusnya setelah hidup kembali, kamu jadi tahu betapa berharganya nyawa ini. Terutama nyawa pria itu kan? Apa kau suka hadiah yang kukirim itu? Aku bisa memberimu yang lebih bagus lagi, jika kamu masih bersikap berontak padaku!” Kecam Chen Kho, suaranya yang semula sengaja melembut seketika berubah gertakan pas di bagian akhir.


Grace menahan isaknya, ia harus menarik napas sejenak sebelum bersuara. “Apa maumu?” Ujar Grace singkat, suarany terdengar bergetar saking takutnya.


Chen Kho justru tertawa keras, ketakutan adiknya dijadikan lelucon yang menggelitik hatinya. “Kamu pasti tahu aku selalu mendukung hubunganmu dengan anak pungut itu, bukankah kau mencintainya? Hari pernikahanmu sudah ditentukan, segera kembali dan keinginanmu akan terwujud.”


Grace tersentak, sekarang ia mengerti apa yang diinginkan kakaknya dari terror ini. “Aku hanya mau menikahi orang yang mencintai dan aku cintai. Xiao Jun bukan orang yang masuk kriteriaku lagi, aku bisa saja mendapatkan status pernikahan dengannya tapi tidak dengan hatinya. Aku tidak bisa menikahinya kak.” Jawab Grace lirih meskipun ia takut namun ia mencoba berterus terang.


“Oh, jadi kau lebih rela melihat kekasih barumu jadi penghuni neraka? Baiklah kalau itu maumu, aku dengang mudah akan merubah statusnya sebagai almarhum.” Ujar Che Kho tegas.


“Jangan! Kumohon jangan brother! Dia tidak ada kaitannya dengan masalah ini. Lebih baik aku saja yang mati, suruh orangmu bunuh aku sekarang!” Pekik Grace, ia kelabakan mendengar ancaman Chen Kho.


Tawa Chen Kho kembali mengguncang, “Nyawamu tidak berharga saat mati. Aku tidak akan membiarkanmu bertindah gegabah lagi, jangan harap untuk mati cepat selama hidupmu masih berguna untuk ayah.”


“Kejam! Kalian kejaaam!” Pekik Grace yang tersinggung dengan perkataan kakaknya. Segitu rendahnya ia di mata keluarga intinya, hidup hanya demi memuluskan kepentingan mereka.


Flashback off.


“Nona harus menghubungi tuan Xiao Jun, saya rasa tuan juga menerima terror dalam bentuk lain.” Ujar Fang Fang yang tahu masalah majikannya tanpa perlu bertanya lagi, jawaban dari Grace di telpon sudah jelas menggambarkan situasi yang sekarang nona itu hadapi.


pelayannya, Grace langsung menghubungi Xiao Jun.


“Jun, aku perlu bicara empat mata denganmu sekarang!”


Isak tangis Grace pecah lagi begitu mendengar suara Xiao Jun, walau bersikeras mengontrol perasaannya namun tetap pecah juga. Grace merasa tak punya jalan keluar lain, pikirannya buntu dan sangat perlu berbagi beban ini pada orang yang tepat.


“Grace? Apa kau juga diancam?” Lirih Xiao Jun, suaranya bahkan terdengar kecil seperti berbisik.


Grace mengangguk walau tahu Xiao Jun tak mungkin melihatnya. “Ya … Kita harus ketemu sekarang juga.”


“Baiklah, paling lama setengah jam lagi aku sampai.” Jawab Xiao Jun mengakhiri pembicaraan.


***


Xiao Jun kembali ke ruang makan, di sana terdengar tawa dari Lau serta Weini. Saat Xiao Jun muncul lagi di hadapan mereka, tawa itu pun otomatis berhenti. Weini menatap hangat pada kekasihnya, dan malah dibalas dengan senyuman manis pria itu.


“Weini, aku harus kembali ke kantor. Ada urusan penting dan mendadak harus diselesaikan malam ini.” Pamit Xiao Jun yang sekaligus memberi tatapan penuh arti pada ayahnya.


“Ah, begitu … Ya sudah, hati-hati ya. Selamat lembur, aku tidak akan mengganggumu.” Ujar Weini lembut.


Lau dan Haris sama-sama tahu bahw itu hanya alibi Xiao Jun, mereka hanya bisa diam. Hingga Weini dan Haris mengantar tamunya sampai di depan rumah, Harispun menajamkan pendengaran agar tahu isi hati Xiao Jun.


Ayah benar, Grace juga mendapatkan ancaman. Sepertinya saran ayah memang jalan yang terbaik untuk saat ini. Aku percaya padamu, ayah. Aku akan segera pulang dengan Grace, sisanya kupercayakan padamu.


Xiao Jun menyuarakan dalam hati, ia tahu betul ayahnya pasti mendengarkan itu. Ada sedikit rasa bersalah yang Xiao Jun rasakan, ia sempat meragukan pemikiran ayahnya. Tetapi semakin ke sini, apa yang dikatakan Haris kian terlihat faktanya.


Haris mengulum senyuman begitu mendengar pesan dari putranya. Akhirnya secara perlahan Xiao Jun paham apa yang ia lakukan, meskipun Haris tetap menyisakan satu rahasia yang hanya boleh ia ketahui. Rahasia yang


disisakan sebagai urusannya di akhir nanti.


Terima kasih sudah mempercayaiku, putraku.


***