
Xiao Jun menatap nampan berisi empat macam masakan sebagai menu sarapannya. Hari kesekian ia diperlakukan seperti pesakitan dalam kamar. Meskipun sedikit lapar, namun ia masih belum mood menyentuh jatah makan itu. Ia masih terkenang pertemuan dengan Xin Er dan Lau yang masih membekas dalam ingatan.
Flash back hari sebelumnya ….
Menginjakkan kaki di gerbang tahanan bawah tanah terasa menyedihkan bagi Xiao Jun, suasana yang gelap dan sepi dengan penerangan lampu kuning yang menambah kesan suram. Beberapa langkahnya bahkan disusup kawanan tikus yang berkejaran. Ia berpandangan dengan pengawal He yang mengikuti dari belakang. Ibunya tinggal di tempat sekumuh dan suram ini layaknya menanti ajal menemput pelan-pelan. Mereka tiba di blok sel
kedua tahanan, menurut informasi penasehat He bahwa Li San sengaja mengurung Lau dan Xin Er berdekatan.
Penjaga penjara menyambut kedatangan Xiao Jun, meskipun tahu kedudukan Xiao Jun sebagai tuan muda tetapi mereka tidak sembarangan memberikan ijin masuk tanpa persetujuan Li San. Dan inilah gunanya penasehat He, ia menunjukkan plakat perintah yang sejak tadi ia sembunyikan dari Xiao Jun. Melihat plakat itu, dua penjaga segera membuka gembok pintu menuju lorong sel.
“Penasehat He, aku tidak tahu kalau kau memegang plakat ayah.” Seru Xiao Jun ketika mereka bersamaan langkah menyusuri lorong remang-remang.
“Ya, tuan besar yang menugaskan saya seperti itu. Maaf membuat anda terkejut, meskipun diberi ijin tetapi anda tetap harus dalam pengawasan saya.” Ujar sang penasehat tua itu.
Xiao Jun mengangguk , “Terima kasih. Aku punya satu permohonan lagi paman penasehat, bolehkah kau berikan kebebasan saat menjenguk ibuku? Aku ingin bicara empat mata dengannya.”
Penasehat He terlihat ragu, ia dipercayakan untuk mendampingi tanpa boleh membebaskan Xiao Jun ketika membesuk Xin Er. “Hamba tidak berani melanggar perintah tuan besar, maafkan hamba tuan muda.” Permohonan maafnya begitu sungguh-sungguh dengan badan yang membungkuk penuh.
“Ku mohon, paman penasehat. Aku bersedia diborgol dan kurung satu sel dengan ibuku dan berjanji tidak akan menyusahkanmu. Hanya kita berdua yang tahu, di sini sudah lepas dari pengawasan pengawal. Jika tuan besar sampai tahu, itu artinya salah satu dari kita yang membocorkannya. Aku janji akan kooperatif, tidak akan membuatmu dalam masalah.” Xiao Jun tak segan bersujud di hadapan penasehat He hingga pria tua itu serba salah dan segera menarik Xiao Jun berdiri. Walaupun usia lebih tua dari Xiao Jun namun ia tetap tidak pantas menerima hormat seperti itu dari seorang tuan muda.
“Baiklah. Ini rahasia kita berdua. Tahanan ibumu tinggal satu belokan lagi, silahkan tuan muda duluan.” Penasehat He memberikan jalan. Sebagai seorang pria bijak, ia sangat mengerti keinginan Xiao Jun dan tak ingin menghalangi kerinduan ibu dan anak.
Langkah Xiao Jun dipercepat, ia berlari menyusuri belokan yang dimaksud. Hal pertama yang menyambutnya adalah suara batuk terus-menerus yang terdengar memprihatinkan, dan ia sangat hapal suara siapa gerangan itu.
“Ibu ….” Xiao Jun berdiri dan menggenggam jeruji besi yang mengurungi Xin Er. Wanita yang melahirkannya itu terlihat kurus, tubuh yang sedikit membungkuk dan rambut satu kepala yang rata memutih. Ketika Xiao Jun memanggilnya, Xin Er tengah menghadap ke tembok belakang terbatuk sembari menyandarkan pegangan di sana.
Xin Er masih tak percaya dengan pendengarannya, ia belum juga menyahut panggilan itu hingga saat ia menoleh ke sumber suara. Tangisnya pecah seketika, dengan tertatih ia menghampiri putranya. “Anakku ….”
Lau di sebelah sel juga mendengar suara tuannya, ia bergegas bangun dan menyapa tuan yang sudah ia rindukan. “Tuan muda … terima hormat hamba.” Lau masih bersujud untuk Xiao Jun di dalam sel.
Xiao Jun yang sudah menggenggam jemari Xin Er, mengangguk sejenak pada ibunya untuk meminta ijin bertemu Lau sebentar. Ia harus memerintahkan Lau untuk berhenti dari sikap hormat. Xin Er mengangguk setuju, dilepaskan genggaman tangan putranya dan membiarkannya ke sebelah.
“Paman Lau, bangunlah. Jangan berlutut lagi, kemarilah.” Xiao Jun mengulurkan tangan dari balik jeruji besi.
“Paman jangan berkata begitu, tidak ada yang dieksekusi, tidak akan ada yang mati.” Xiao Jun menguatkan Lau. Padahal belum ada kepastian tentang tawaran barter kepentingan dengan Li San, namun Xiao Jun tetap berusaha optimis setidaknya untuk menyalurkan energi positif pada orang-orang tercintanya.
Lau menggeleng, ia trenyuh dengan tekad Xiao Jun. “Tuan, jangan menyusahkan diri untuk menolongku. Aku hanya pengawalmu, berkorban itu sudah kewajibanku untuk menunjukkan kesetiaanku.”
Xiao Jun tidak mampu berkata lagi, melihat ratapan pesimis Lau membuat matanya ikut berkaca-kaca. Ia menahan apa yang ingin disampaikan dan dipertanyakan sampai penasehat He memberinya sedikit kebebasan.
“Tuan muda, silahkan menjenguk pelayan Xin Er dulu. Waktu anda setengah jam, nanti saya akan datang memberitahumu. Setelah itu anda boleh menjenguk Lau dengan durasi yang sama.” Penasehat He telah membuka pintu sel Xin Er dan menyuruh Xiao Jun bergegas masuk.
Xiao Jun menatap Lau sesaat kemudian Lau mengisyaratkan agar tuannya mendengarkan arahan penasehat He. “Nanti kita bicarakan, paman.”
Penasehat He mengunci sel dari luar, membiarkan Xiao Jun bersama Xin Er di dalamnya. Sementara ia berjalan meninggalkan mereka, biarlah ia melanggar perintah tuan besar selagi ia menuruti kata hati yang benar, maka langit mungkin akan mengampuninya.
Xin Er langsung mendekap Xiao Jun dalam pelukannya, betapa ia merindukan putranya yang setahun lebih tidak bertemu. Isak tangisnya tak terbendung hingga batuknya kumat lagi karena napas yang tak terkontrol ketika menangis. Xiao Jun segera menyandarkan ibunya duduk dengan punggung menempel tembok.
“Ibu, kondisimu semakin buruk. Aku yang tidak becus menjagamu.” Keterbatasan sikap Xiao Jun sangat menekan hatinya. Rasa bersalah dan tidak berguna seketika ia rasakan.
Xin Er meraih tangan Xiao Jun untuk digenggam, tangan keriput dan gemetaran itu hanya menggenggam dengan lemah lantaran tidak banyak tenaga yang tersisa dari menahan lapar dan haus. “Tiap manusia ada takdirnya, kau sudah berusaha jadi jangan terus salahkan diri. Semua atas seijinNya, ibu sampai tersiksa begini bukan karena kamu.”
“Tetap saja aku merasa kurang mampu sebagai anakmu. Kurang mampu melindungi, menjagamu di usia tua. Ketika aku semakin dewasa, ibu juga bertambah tua tapi aku malah masih menjadi robotnya orang.”
Xin Er tersenyum, dielusnya pundak Xiao Jun. “Nak, dulu waktu kecil kamu suka tidur di pangkuan ibu. Sekarang maukah kau tidur seperti itu?”
Xiao Jun menatap Xin Er yang renta, semasa kecil ia hanyalah bocah yang berat badannya tak sampai 20 kilogram dan ibunya masih bertenaga. Sekarang ia sudah jadi pria dewasa dan ibunya telah renta, dengan paha yang kurus dan gemetaran bukankah hanya akan menyakiti Xin Er?
“Baiklah, ibu.” Xiao Jun menyanggupi permintaan Xin Er dengan cara lain, ia berbaring di dekat Xin Er dengan kepala yang menempel di pinggang saja.
Xin Er tersenyum mengetahui maksud Xiao Jun, “Ibu sudah tua rupanya, hahaha ….” Tawa Xin Er terdengar lepas. Ia membelai rambut Xiao Jun sembari mengenang kebersamaan di masa lalu yang begitu singkat. Xiao Jun tumbuh dewasa tanpa perhatian dan kasih sayangnya.
“Oya, apa kau sudah memberikan cincin itu pada kekasihmu?” tanya Xin Er penuh perasaan, pertanyaan yang dengan mudah dilontarkan namun terdengar sulit bagi Xiao Jun untuk mengeluarkan jawaban.
***