OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 183 METAMORFOSA UPIK ABU MENJADI CINDERELA



Li An berdiri diam menerima setiap sentuhan dari tangan-tangan professional yang tengah menyulapnya. Dua orang pramuniaga mendorong stand produk mereka yang berisikan puluhan setel busana yang siap dipilih pemilik butik untuk mendapatkan yang terbaik untuk Li An.


“Nona, kita coba yang ini ya. Warna dan modelnya yang simpel dan semi formal pasti cocok untuk anda.” Ujar wanita itu menawarkan kepada Li An dengan ramah.


Senyum manis dan wajah yang cantik dari wanita itu memesona Li An, terlebih ia yakin pancaran kebaikan hatinya sangat menenangkan. Li An dengan senang hati percaya dan menuruti wanita itu. Ia melepas kaos yang sudah pudar saking usangnya lalu menggantinya dengan dress yang di tangannya. Li An mematut diri pada cermin


besar yang memantulkan bayangan seluruh dirinya. Pakaian yang ia kenakan terlihat mahal dan bagus, namun ia kurang percaya diri bahwa ia pantas mengenakannya.


“Nona, itu sangat cocok untukmu. Ah, pilihanku memang tepat.” Puji si wanita sembari mengatupkan kedua tangan di depan dada pertanda puas. Senyum puas itu pudar ketika melihat Li An yang justru memasang wajah murung.


“Apa anda tidak suka? Kita bisa pilihkan yang lain yang anda suka.” Si pemilik butik menawarkan opsi lain pada Li An.


Li An menggeleng kemudian tersenyum, tampaknya ia sadar bahwa mimik wajahnya membuat orang lain berpersepsi lain. “Tidak, tidak perlu nona. Ini sangat bagus, pilihanmu tepat. Aku cuman merasa kurang cantik untuk memakainya.”


Pengakuan Li An yang polos mengundang senyum dari wanita itu. Ia mendekati Li An kemudian menarik tangannya. “Nona jangan pesimis, anda memiliki kecantikan natural, wajah alami anda sangat cantik. Hanya perlu sedikit polesan saja maka anda akan cantik sempurna. Jadi nona suka dengan dress ini?”


Pujian dari si wanita sedikit menghibur Li An, ia memang tidak pernah memoles wajahnya. Jangankan untuk membeli kosmetik, uang yang ia dapatkan sepenuhnya dialokasikan untuk bertahan hidup demi sesuap nasi. “Ya, aku suka yang ini.” Jawab Li An mengangguk.


“Baiklah, silahkan ikut aku. Masih ada satu tahap perubahan menunggu nona.” Wanita itu menarik tangan Li An mengikutinya masuk dalam ruangan lain.


Sebuah ruangan yang terang dan luas namun berisikan dua orang yang sedang menunggunya. Li An dipersilahkan duduk di kursi yang menghadap sebuah cermin besar dan terang.


“Silahkan duduk nona, tim kami akan make over anda. Bersiaplah untuk terlahir kembali dengan kecantikan anda yang tersembunyi.” Wanita itu dengan ramah meminta Li An tenang dan percayakan segalanya pada tim mereka.


Xiao Jun sabar menanti di ruang tunggu VIP, TV yang disetel dalam ruang tunggu itu terkesan mubajir. Xiao Jun memilih berselancar di dunia maya dengan ponselnya, mencari tahu sesuatu yang ingin ia ketahui. Ponsel dalam genggamannya berdering, Lau memanggil pada saat yang ia harapkan. Sejak tadi ia memang menunggu konfirmasi dari Lau yang diutus mencari kesempatan tepat menjalankan rencana mereka.


“Ya paman?”


“Tuan, semua sudah beres. Anda bisa datang sekarang.” Jawab Lau via telpon.


“Baik, terima kasih.” Xiao Jun mengakhiri telpon dan menggenggam erat ponsel saking gemasnya. Ia sudah terlanjur memulai permainan ini, ada awal tentu harus ada akhir. Menang atau kalah nantinya semua sudah ia perhitungkan.


Pemilik butik mengetuk pintu sebelum masuk lalu membungkuk pada Xiao Jun yang duduk dengan tenang.


“Bagaimana kakakku?” tanya Xiao Jun sopan.


“Hampir selesai tuan, nanti nona pasti menyusul.” Jawab si wanita.


Xiao Jun manggut-manggut, “Oya, tolong pilihkan dua pulu setel baju sehari dan beberapa dress untuk dia. Oh ya berikan juga seperangkat alat make up. Ku percayakan padamu.” Pinta Xiao Jun.


“Baik tuan, terima kasih atas kepercayaan anda. Kakak anda pasti sangat senang, beruntung memiliki adik seperti anda.” Puji si wanita menyatakan pendapat pribadinya yang jujur.


Xiao Jun tersenyum, kepalanya tidak perlu besar mendengar pujian seperti itu. “Sudah keharusan sesama saudara. Anda yang terlalu memujiku.” Ujar Xiao Jun menolak sanjungan itu dengan halus.


“Ng … apa aku terlihat aneh?” tanya Li An malu-malu, ditatapi seperti itu oleh empat pasang mata di depannya kian membuatnya canggung.


Xiao Jun menggeleng cepat, kakaknya tidak aneh hanya saja ia terpesona dan terhanyut dalam kekaguman sejenak. “Bukan aneh tapi sangat cantik. Kakakku sangat cantik.” Puji Xiao Jun.


“Dasar Ajun, kamu pintar menggombal.” Li An mengelak dari kata-kata manis adiknya, ia senang … sangat senang malahan. Tak pernah ia bayangkan akan mendapatkan kesempatan mempercantik diri dengan barang-barang mahal ini, Xiao Jun sungguh royal padanya.


Xiao Jun berdiri lalu menyodorkan lengan untuk digandeng. Kapan lagi ia bisa bermanja pada kakaknya, “Ayo kak.”


Li An menerima ajakan itu, dengan senyuman manis digandengnya lengan kekar sang adik. “Terima kasih Jun. Aku sangat senang, xie xie ni …”


“Bu ge qi (tidak perlu sungkan) kak. Apapun yang kumiliki, sudah seharusnya berbagi dengan ibu dan kakak-kakakku. Lain kali kita cari kak Li Mei, aku ingin bertemu dia.” Seru Xiao Jun sembari membawa Li An kembali ke parkiran. Di belakang mereka diikuti tiga gadis yang membawakan barang belanjaan.


Li An menoleh ketika menyadari langkah mereka dibuntuti, “Loh, kamu belanja sebanyak itu?”


“Iya semua buat kakak.” Jawab Xiao Jun dengan entengnya, meskipun ekspresi Li An melongo kaget pun ia tak mau tahu.


Mereka bersiap melanjutkan misi selanjutnya, lebih tepatnya adalah misi Xiao Jun karena hingga sekarang Li An tidak tahu apa isi pikiran adiknya. Seatbelt sudah terpasang dan mobil perlahan melaju meninggalkan parkiran.


“Kita kemana lagi Jun?” tanya Li An senang. Sudah diajak bermetamorfosis layaknya kekompong menjadi kupu-kupu yang cantik, tak mungkin ia langsung diajak pulang.


“Keliling kota kak, nanti kuajak makan siang di restoran terenak. Tapi sebelumnya temani aku mampir ke kantor dulu, ada sedikit urusan yang harus kutangani.” Ujar Xiao Jun tanpa menoleh ke Li An.


Deg! Darah Li An mendesir, diajak ke kantor yang beberapa kali ia datangi seperti seorang pengemis cinta. Apa yang harus ia lakukan kalau Chen Kho melihatnya datang dengan Xiao Jun?


“Kakak tenang aja, kakak sangat cantik dan pasti membuat semua yang melihatmu berdecak kagum.” Seru Xiao Jun yang membuat Li An bingung karena isi pikirannya tertebak.


Li An hanya mengangguk meskipun kecanggungannya tidak bisa tertutup. Sejak Chen Kho mengantar Xiao Jun ke rumah dan tidak menongolkan diri di depannya. Mereka  pun belum saling bertemu sekian lama, Chen Kho secara perlahan menarik diri lalu sekarang tiba-tiba Li An muncul di kantornya, ia cemas pria itu akan mengira dicari seperti sebelumnya.


“Ya sudahlah, aku ngikut aja Jun.”


***


Hi, pembaca yang sangat aku sayangi ...


Apa ada yang bisa menebak pikiran author tentang alur cerita episode berikutnya


Apa sebenarnya yang Xiao Jun rencanakan sampai membawa Li An ke kantor dengan penampilan cantik?


Tinggalkan uneg-uneg kalian di komen ya, guys. Barangkali bisa jadi inspirasi buat author.


Thank you ^^