
“Entahlah, yang pasti aku akan mencobanya!” Weini menyunggingkan senyuman yang tak bisa diartikan oleh Xiao Jun. Tangan gadis itu terangkat, ia menghirup kekuatan yang besar hingga menimbulkan angin yang berhembus kencang.
Xiao Jun tak berpangku tangan, ia memikirkan langkah selanjutnya. Hingga senyum tipis terbersit, "Weini, aku tahu bagaimana mengendalikan air. Maukah kau membantuku?" Pinta Xiao Jun bersungguh-sungguh.
Weini mengangguk mantap, "Tentu!"
Sepasang kekasih itu saling bertatapan, merapatkan diri agar tidak berjauhan. Xiao Jun merasakan hangat menjalari tubuhnya, energi yang ada dalam tubuhnya itu seolah mendesak untuk disalurkan.
"Kendalikan angin dalam kekuatan semampumu, aku akan menggerakkan air agar terbelah. Kamu mengerti?" Seru Xiao Jun.
Weini mengangguk sembari tersenyum, ia merasa bangga pada Xiao Jun yang bisa diandalkan.
"Ingat, jangan paksakan diri. Jika kau tidak kuat, berhentilah! Biar aku yang lanjutkan sisanya." Gumam Xiao Jun perhatian.
"Kamu tenanglah, aku akan mendukungmu." Jawab Weini.
Tak membuang waktu lagi, mereka berdua mengerahkan tenaganya. Weini mengendalikan angin yang ia kumpulkan membentuk bola angin yang sangat besar, dan Xiao Jun mengeluarkan pusaka leluhurnya yang tersimpan dalam dimensi gaib, sebuah pedang emas yang besar dan panjang. Xiao Jun melompat tinggi kemudian menghunuskan pedangnya menyentuh air laut.
"Sekaraang!" Pekik Xiao Jun lantang memerintahkan Weini untuk melemparkan bola anginnya ke arah laut yang dibelahnya.
Kolaborasi pusaran angin dan kekuatan pedang Xiao Jun beraksi, menimbulkan riak air laut yang begitu besar. Weini masih mengerahkan tenaganya untuk mengendalikan bola anginnya, begitupun Xiao Jun yang masih dalam posisi terbang menancapkan ujung pedang pada riakan air.
Perlahan riak air itu bergerumuh, seperti air mendidih kemudian memisah menjadi dua sisi kiri kanan. Weini mulai tersenyum, keberhasilan mereka kian tampak nyata saat air laut itu makin cepat memisah hingga membentuk sebuah jalan yang menyentuh sampai dasar laut.
"Wahai penguasa lautan, ijinkan aku menemukan ayahku. Tunjukkan di mana keberadaannya padaku!" Seru Xiao Jun yang meminta ijin sebelum menggunakan sihirnya lagi.
Lautan itu makin membelah lalu berkelok seperti mengarah pada satu titik yang dicari Xiao Jun. Melihat itu, Xiao Jun segera menatap ke arah Weini yang masih fokus mengendalikan kekuatannya.
"Aku akan mencari ayah, kau tidak masalah kan menahan airnya sebentar lagi?"
Weini mengangguk, "Pergilah, aku masih kuat menahan ini."
Xiao Jun ikut mengangguk, lalu tanpa mengulur waktu lagi ia pun berlari di atas dasar lautan yang kering itu.
🌹🌹🌹
Haris nyaris kehabisan energi saat gelembung sihirnya pecah dan ia kembali berenang dalam lautan. Su Rong yang sudah tak kuat itu terus ditarik oleh Haris agar tubuhnya tak hanyut. Dinginnya air laut membuat mereka semakin tersiksa. Dalam kondisi kritis itu, Haris menaruh harapan besar agar Xiao Jun bisa menolongnya.
Jun, kamu di mana?
Gumam Haris penuh harap. Ia mulai kelelahan berjuang dalam air tanpa oksigen, dan di saat Haris mulai tak bertenaga, tiba-tiba ia merasakan gejolak air yang seperti terhisap.
Bukan main kagetnya Haris saat ia mendapati air lautan itu terbelah dengan cepat dan batas di kedua sisi air itu seolah terpasang sekat transparan yang menahannya. Tubuh Haris dan Su Rong terjatuh hingga dasar laut, sesaat mereka kembali bisa menghirup oksigen.
Haris mengguncang tubuh Su Rong lagi, berusaha menekan perutnya hingga memuntahkan air. Pria itu kembali sadar dan terbatuk-batuk, dalam keadaan setengah sadar, Su Rong pun terbelalak menyaksikan ia dikelilingi lautan yang terbelah.
"Kau sudah merasa enakan?" Tanya Haris.
"Ya, jangan takut, mereka menolong kita tepat waktu." Ucap Haris bangga pada Xiao Jun dan Weini. Tanpa perlu diceritakan dan melihat langsung, ia tahu siapa yang berusaha sekeras ini untuk menolongnya.
Suara Xiao Jun yang berteriak memanggilnya pun terdengar, Haris mengirim sinyal sihir yang kemudian terdeteksi oleh Xiao Jun. Pria muda itu terbang ke arahnya lalu mendarat tepat di hadapan Haris.
"Ayah, kalian tidak apa-apa?" Tanya Xiao Jun khawatir.
Haris mengangguk, "Ayo cepat tinggalkan tempat ini."
Xiao Jun memapah Su Rong yang masih lemas, dan membiarkan Haris bergerak sendiri. Ketika mereka hendak terbang kembali ke tempat Weini berada, penampakan jet milik Wen Ting justru terlihat mendekati mereka. Walau sulit dipercaya, namun nyatanya Weini sanggup mengendalikan sihirnya tanpa perlu berada di tempat semula.
"Ayo cepat naik!" Pekik Weini setelah pintu jet terbuka.
Mereka sempat tertegun melihat Weini, namun saat melihat air laut dari dua sisi mulai berguncang lagi, pertanda efek sihir mereka sebentar lagi akan hilang, barulah Xiao Jun dan Haris terbang masuk ke dalam jet.
Air laut itu menyembur deras seiring sihir yang sudah tak berlaku, percikannya pun menghantam badan jet namun beruntung saja jet itu tepat waktu menaikkan ketinggian hingga tak terhantam air laut.
Su Rong bernapas tersengal-sengal, ia lega namun belum bisa menenangkan dirinya yang baru saja mengalami insiden mengerikan. Sungguh pengalaman yang sulit dilupakan, ia yang awam dengan sihir tapi justru menyaksikan berulang kali keajaiban-keajaiban itu.
"Syukurlah tepat waktu, kalian semua selamat. Kecuali...." Weini melihat siapa saja yang ada di sana namun tak mendapati Chen Kho di antara mereka. Air mukanya langsung berubah sedih, mengapa Chen Kho tak berhasil lolos dari insiden itu?
Haris tampak memahami kesedihan Weini, ia berjalan menghampiri Weini dan menenangkannya.
"Nona Yue Hwa, maafkan aku tidak sanggup menolong dia." Lirih Haris.
Weini menitikkan air mata, Xiao Jun yang melihat itupun langsung menundukkan kepalanya. Ia tak sanggup melihat kesedihan Weini, kekecewaan begitu jelas terlihat dari wajah cantiknya.
"Ini bukan salah ayah, sudahlah. Mungkin sudah takdirnya harus berakhir seperti ini. Aku hanya... Hanya merasa kasihan padanya. Dia sangat kesepian, dia sangat menderita seperti yang aku rasakan. Aku tak mengerti saja ayah... Kenapa orang-orang dari keturunanku harus mengalami penderitaan?" Lirih Weini yang langsung menyeka air matanya.
Sekalipun ia berhasil selamat, namun ia tetap merasa ada yang kurang. Chen Kho lah yang membuatnya merasakan ada sesuatu yang masih tertinggal di dalam sana. Sekalipun ia tahu pria itu telah tiada, namun membayangkan tidak bisa memberikan pemakaman yang layak, semakin menekan rasa bersalah Weini. Hingga kematian menjelang pun, Chen Kho tetap terkubur dalam kesunyian.
Weini berjalan menjauh dari kerumunan Xiao Jun dan yang lainnya, ia ingin menyendiri dulu. Sepanjang perjalanan kembali, ia terus menatap lautan berair hijau itu sambil berkabung mengenang Chen Kho.
Jika memang masih ada kehidupan lagi setelah kematian, aku harap kamu bisa mendapatkan kebahagiaan di kehidupan selanjutnya. Aku harap kau terlahir di keluarga yang bahagia, dikelilingi orang-orang yang mencintaimu, merasakan kehangatan cinta yang tidak kau dapatkan di kehidupan ini. Beristirahatlah dengan tenang sepupuku, Li Chen Kho.
🌹🌹🌹
Xiu Fung berjalan tanpa arah tujuan, tatapannya tersirat kebingungan yang jelas. Ia tersesat di tempat asing yang tak mengenalnya, tanpa mengerti bahasa yang didengarnya, tanpa bisa bertanya pada siapapun, bahkan banyak yang menatap aneh dan takut padanya. Baju yang ia kenakan ternodai darah dari orang yang ia bunuh, dan sekarang ia dihantui rasa bersalah.
Gadis pelayan itu terus berjalan tanpa tujuan dan mulai kelelahan serta kelaparan. Ia menyesal telah membuang kertas berharga itu, pun menyesal tidak setia pada nona yang baru ia kenali itu. Kini nasibnya tak jelas, ia tersesat tanpa tahu jalan pulang dan tumbang di tengah keramaian.
Teriakan histeris dari pejalan kaki saat melihat tubuh Xiu Fung terkulai tak sadarkan diri di tepi jalanan. Tak ada yang berani menolongnya, semua ketakutan dan hanya berani merekamnya dengan gadget pribadi mereka. Miris, nasib gadis pelayan yang berusaha keras bertahan hidup pasca kabur dari jangkauan Chen Kho.
🌹🌹🌹
Bersambung, lanjut besok lagi ya. Jangan lupa dukung autor dengan like dan komentar ya.