OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 110 HARI YANG DITUNGGU TIBA



Isi lemari Weini diobrak-abrik hingga menumpuk di atas kasur. Dari sekian banyak koleksi pakaian, gaun yang ia miliki belum ada satupun yang menurutnya cocok dipakai besok malam. Ia menggigit jari menggalaukan apa yang harus ia lakukan. Haris sudah pergi ditemani Felix ke salon dan Weini mendengar rencana Felix yang sekaligus mengajak Haris berburu beberapa setel kemeja dan jas formal.


“Bapak-bapak saja punya teman shoping. Huft!” Weini menjatuhkan diri di atas kasur yang berisi tumpukan baju. Pandangannya menerawang ke langit-langit kamar, “Kak Dina.” Ia menjentikkan jari setelah memikirkan


siapa yang bisa dimintai bantuan pada saat ini. Diraihnya ponsel yang tergeletak di atas meja belajar.


“Kak Dinaa… boleh ke rumahku sekarang?” Weini tanpa mengucap salam langsung bicara to the poin.


“Non pindah kemana sekarang?” Bukannya menjawab, Dina malah bertanya balik.


Weini bingung dengan pertanyaan aneh itu, bagaimana mungkin managernya lupa rumahnya padahal beberapa hari lalu ia masih datang menjemput Weini. “Kak, masa lupa rumahku di mana?”


Suara di seberang terdiam sejenak, “Laaah… aku barusan ditelpon wartawan yang tanya alamat barumu. Mereka bilang pas hunting berita ke sana katanya rumahmu kosong dan udah pindah.”


Weini mengernyit tapi akhirnya ia mengerti, itu pasti perbuatan Haris waktu rombongan media mengepung rumah. “Nggak kok, mungkin ayahku yang membohongi mereka. Ke sinilah kak buruan bantuin aku, plisss.”


Tanpa perlu menunggu lama, Dina menutup telpon dan tancap gas menemui Weini. Artis itu jarang meminta bantuan, tapi jika ia sudah memohon itu artinya ia memang sedang kesulitan dan tugas seorang manager tentu


membantu artisnya.


“Jadi gitu… Non galau mau pake gaun yang mana? Hemm… hemmm….” Dina sok mikir sembari manggut-manggut. Gaun-gaun yang berceceran di kasur pun diperiksa satu persatu namun belum ada yang lolos seleksi. Ia menggeleng pada tiap gaun yang pindah ke tangannya. Weini kian berwajah lemah melihat Dina membuang koleksinya tanpa perasaan.


“Non, ini udah pada jadul. Saatnya hunting gaun baru.” Dina jingkrak-jingkrak kegirangan padahal Weini belum mengiyakan. Ia tidak perlu jawaban, yang ia perlukan hanya menarik tangan Weini mengikuti kemana


langkahnya pergi.


***


Hari yang ditunggu tiba…


Haris mematut diri di depan cermin, rambutnya yang klimis dan hitam itu mungkin lebih rela berguguran daripada harus diperlakukan sespesial iu. Sudah tidak terhitung berapa kali ia menyisir rambutnya yang rapi.


“Ayah yakin nggak mau bawa baju ganti?” Weini memastikan kembali keputusan ayahnya, berpergian beberapa hari hanya dengan satu setel baju yang dikenakan. Apa itu bukan hal ekstrim?


Haris hanya mengangguk sambil merapikan dasi. “Kamu sudah selesai berkemas? Pastikan malam ini kamu tampil cantik seperti bidadari. Hahaha…”


“Ayah, apa bisa serius dikit? Ayah nggak bawa baju ganti satupun lalu buat apa beli kemeja sampe lima setel?” protes Weini, ia tak percaya ayahnya yang sudah persiapan maksimal bisa enteng bepergian tanpa bekal. Ia tidak peduli dengan kepercaya-dirian Haris, diam-diam ia memasukkan dua setel pakaian bersih Haris dalam kopernya.


“Aku selalu serius. Kamu yang terlalu khawatir.” Senyum tanpa dosa Haris tersungging seakan mengejek Weini yang memang overthinking .


Suara klakson mobil terdengar dari depan, Weini relfek melirik jam dinding sedangkan Haris penuh semangat menyambut orang yang ia tunggu. Hanya satu koper ukuran kabin yang jadi alat tempur Weini, di dalamnya berisi alat kosmetik, gaun malam yang dipilihkan Dina, baju ganti serta pakaian Haris.


Sang pangeran masuk menjemputnya, aura ketampanan yang seakan bersinar menyilaukan saat Xiao Jun menghampiri Weini. Tanpa dikomando, Xiao Jun mengambil alih koper yang diseret kekasihnya dan berjalan


bergandengan.


“Kamu nervous?” tanya Xiao Jun padahal sudah tahu kondisi itulah yang dirasakan Weini.


Gadis itu enggan menjawab, ia malu mengakuinya. Mereka berjalan menyusul Haris yang lebih dulu masuk ke dalam mobil.


“Selamat siang nona, anda terlihat segar dan cantik.” Puji Lau dari balik kemudi. Keberangkatan kali ini tidak melibatkan Lau, ia hanya mengantarkan sampai ke ladasan jet pribadi mereka.


Haris menatap pasangan sejoli itu lewat kaca spion depan kemudi. Pasangan yang menurutnya sangat serasi dan telah ia restui walau tidak secara terang-terangan ia tunjukkan pada Xiao Jun. Setelah malam ini, restu dari pihak sebelah pasti akan mereka kantongi.


***


“Aku iri padamu, sebentar lagi punya calon menantu perempuan.” Liang Jia menata rambut Xin Er hingga membuat wanita tua itu


canggung. Seorang nyonya besar yang semestinya ia layani tapi justru tengah melayaninya.


“Nyonya jangan berkata begitu. Li Jun juga menganggapmu ibu, menantuku juga menantumu kelak. Dan nyonya, saya bisa melakukannya sendiri, mohon nyonya tidak menyisir lagi.”


Pinta Xin Er tidak dikabulkan, Liang Jia malah mulai menyanggul rambutnya. “Kamu harus tampil cantik untuk memberi kesan baik pada calon menantumu. Hanya ada kita berdua di sini, jangan sungkan. Ingatlah untuk


berhati-hati walaupun kita aman di sini, setidaknya dengan dandanan seperti seorang nyonya tidak akan membuatmu terlihat mencurigakan.”


Xin Er menyetujui apapun yang Liang Jia katakan, bagaimanapun ia bisa sampai di Guangzhou menemui Xiao Jun semua berkat strategi nyonya besar. “Xin Er sangat berterima kasih atas bantuan nyonya.”


“Hanya bantuan kecil, tidak perlu formal. Nanti aku tidak bisa mendampingi, kau harus mengandalkan diri sendiri dan nikmati waktumu bersama mereka.”


Liang Jia sangat ingin menemani, sayangnya ia sangat dikenal di sini. Gerak-geriknya tidak akan bebas di muka umum, jika ia muncul bersama Xin Er menemui Xiao jun, ia takut akan ada orang yang mengenalinya dan


mencuri foto. Li San akan murka jika tahu ada kebohongan di belakangnya, apalagi menyangkut Xiao Jun.


“Saya mengerti nyonya, Xin Er tidak akan mengecewakanmu.”


Sanggulan minimalis yang sesuai dengan tampilan Xin Er yang feminim sungguh menambah kesan keibuan yang hangat. Polesan wajah juga sudah dibereskan Liang Jia, mereka terpukau dengan hasilnya. Xin Er yang


sehari-hari tidak bermake up nyatanya berubah sangat cantik hanya dengan sapuan make up ala Liang Jia.


“Yang terakhir, ganti kostum. Aku memilih cheongsam dress maron untukmu. Pakailah!” Liang Jia menyodorkan dress yang terlipat rapi, aroma parfum laundry tercium saat Xin Er menggelarnya.


Lima menit kemudian, Xin Er seperti terlahir kembali menjadi seorang nyonya kaya. Penampilannya yang anggun penuh kharismatik ini pasti akan mengelabui semua mata yang memandang. Tidak akan ada yang percaya


bahwa wanita paruh baya itu adalah seorang pelayan.


“Sempurna!” Liang Jia tersenyum girang, andai ia bisa memperlakukan Xin Er seperti itu setiap hari. Andai mereka tidak tersandung derajat yang dibuat Li San, pasti mereka menjadi kakak adik yang akrab.


“Nyonya, apa ini tidak terlalu berlebihan? Aku tidak perlu memakai perhiasanmu. Hanya gaun dan riasan saja sudah cukup.” Xin Er menolak perhiasan yang dipinjamkan Liang Jia, ia tidak akan mampu membayarnya


jika perhiasan mahal itu hilang atau rusak karenanya.


“Baiklah, aku tidak akan memaksa kalau ini terlalu membebanimu. Sudah waktunya berangkat, calon menantumu pasti sudah menunggu. Aku akan memanggilkan taksi untuk mengantarmu.” Liang Jia menyemangati Xin Er dan


menepuk pundaknya dengan lembut.


Xin Er dengan mata berkaca-kaca tak hentinya berterima kasih atas kebaikan hati Liang Jia yang tulus padanya. Kini saatnya ia menikmati sejenak kebahagiaan bersama putranya. Masalah esok akan seperti apa, biarlah semesta yang mengaturnya. Yang pasti, jika ia bisa melihat kebahagiaan dari Xiao Jun dan calon istri yang dipilihnya, Xin Er pasti tenang walau harus kehilangan nyawa sebagai resiko andai ia ketahuan membohongi tuan


besar.


***