OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 137 DI ANTARA DUA PILIHAN



Meskipun mencoba kembali tidur pasca mendapat mimpi aneh yang terasa nyata, Xiao Jun gagal terlelap lagi. Matanya lelah terpejam paksa dan ia bergegas menghentikan usahanya. Disibaknya tirai jendela yang menampilkan pemandangan halaman paviliunnya. Suasana tenang dan elok dipandang, Xiao Jun mengamati aktivitas beberapa pelayan yang lalu lalang dengan terburu-buru. Kebiasaan di pagi hari para pekerja yang sibuk dengan tanggung jawab masing-masing. Di tempat semegah dan nyaman itu sangat cocok untuk mencari sebuah ketenangan, andai hidup berjalan normal tanpa tertimpa cobaan, mungkin Xiao Jun bisa menjadi orang paling beruntung yang memiliki tahta, harta namun sayangnya wanita yang ia inginkan masih harus diperjuangkan.


Seorang pengawal mempersilahkan pelayan masuk membawakan jatah sarapan. Xiao Jun layaknya Liang Jia yang menjadi tahanan dalam istana mereka.


“Tuan muda, sarapan anda sudah siap. Apa ada yang anda perlukan?” pelayan muda dan cantik itu menyapa Xiao Jun. Lelaki setampan Xiao Jun jelas menebarkan pesona pada lawan jenis, hampir semua pelayan wanita berlomba untuk bekerja di paviliun Xiao Jun.


Xiao Jun tidak bersedia melirik ke sumber suara, “Keluarlah.”


Ia menutup tirai agar sinar terang terhalang menyilaukan kamar. Terkurung tanpa fasilitas apapun selain televisi membuat waktu berjalan begitu lambat dan membosankan. Li San begitu hebat membuat seorang Xiao Jun yang selalu aktif bekerja, kini menjadi pria yang dikaruniai sepasang tangan dan kaki yang berfungsi baik namun tak berdaya.


Belum lama pelayan itu berlalu, seorang pengawal kembali masuk mengusiknya. Xiao Jun nyaris memarahinya jika bukan karena melihat tamu yang dibawanya datang. Kunjungan dari orang yang memang ia harapkan akhirnya terkabul.


“Hormat pada ibu.” Xiao Jun langung membungkuk hormat menyambut Liang Jia. Belum sempat bersujud, Liang Jia sudah menahan tubuh Xiao Jun agar berhenti bersikap formal padanya.


“Aku senang bertemu lagi denganmu, tapi sedih karena dipertemukan dalam kondisi seperti ini. Xiao Jun, apa kau terluka?” Liang Jia memerhatikan Xiao Jun dengan seksama, menurut cerita Li Sa bahwa putra angkatnya diserang Chen Kho hingga tidak sadarkan diri. Walaupun Xiao Jun terlihat segar sekarang, Liang Jia tetap tak menampik rasa cemasnya.


“Aku baik saja, Ibu. Bagaimana denganmu? Apa tuan besar melukaimu?” sebagai sesama tahanan Li San, wajar bila mereka saling mengkhawatirkan terlebih tabiat Li San yang keras dengan emosi meletup, tindakannya kadang tak tertebak.


Liang Jia menggeleng lemah, Xiao Jun tidak perlu tahu bahwa ia mendapat tamparan keras kemarin. “Dia tidak berani melukaiku, hukuman yang ia berikan hanya sebatas kurungan seperti kamu.”


Xiao Jun mulai tenang setelah kroscek kabar masing-masing, “Ibu sudah sarapan? Kita makan bersama bagaimana?” Xiao Jun menawari Liang Jia makan padahal porsi yang disiapkan hanya untuk satu orang. Liang Jia lebih mencemaskan kesehatan Xiao Jun, meskipun perutnya masih kosong, ia tetap berbohong demi menolak tawaran itu.


“Jun, maaf aku tidak bisa melindungi ibumu.” Liang Jia mengembuskan napas dengan berat, mengungkit Xin Er terasa sangat menyesakkan dada.


“Jangan berpikir begitu, ibu sudah sangat membantu. Aku yang lalai melindungi ibuku.” Keluh Xiao Jun.


Liang Jia mengambil posisi duduk di sofa kamar Xiao Jun lalu mengajak Xiao Jun duduk bersama dengan kondisi lebih tenang. “Aku tidak punya akses untuk memantau Xin Er, bahkan obat yang kami beli di Guangzhou gagal kutitipkan pada pelayan. Tanpa obat itu, batuk kronis Xin Er bisa kumat. Apa yang harus kita lakukan untuk


menolongnya?”


Xiao Jun berpikir keras, membayangkan kondisi tahanan bawah tanah yang gelap dan lembab pasti sangat memungkinkan Xin Er jatuh sakit.


“Aku dengar Li San juga berhasil menangkap pengawalmu, sekarang ia juga dijebloskan dalam tahanan bawah tanah untuk menunggu hari eksekusi. Li San menjatuhinya hukuman mati karena telah membantumu bersekongkol membohonginya.” Liang Jia dengan hati-hati mengucapkan itu, ia tahu kedekatan Xiao Jun dengan Lau sangat


dalam layaknya ayah dan anak.


Xiao Jun terkejut hingga bangkit berdiri, Li San tidak hanya mengusiknya namun sudah berani menghukum orang terdekatnya. Tidak menutup kemungkinan ia juga akan mencelakakan Weini dan Haris bila Xiao Jun tetap menentangnya. Xiao Jun berjalan cepat mendekati pintu, reaksi spontannya membuat Liang Jai terkejut.


“Kamu mau kemana?” teriak Liang Jia cemas. Xiao Jun seperti kehilangan akal sehat setelah mendengar informasi yang ia sampaikan.


“Apa kamu pikir dia akan menghukummu? Percayalah, dia tetap akan membiarkanmu hidup dan melihat satu persatu orang yang kamu cintai mati  akibat sikap membangkangmu. Diamlah, jangan lakukan apapun yang malah merunyamkan masalah, lebih baik ambil jalan keluar lain yang lebih bijak.” seru Liang Jia.


Xiao Jun kembali berpikir, semua ucapan Liang Jia terdengar realistis. Salah bertindak sedikit, korban tak bersalah mungkin akan kehilangan nyawa. Ia mulai mengontrol amarah, “Menurut ibu, apa jalan keluar terbaik?”


Liang Jia berdiri menghampiri Xiao Jun yang tetap berdiri di tempat. Hal yang akan disampaikannya jelas sulit diterima Xiao Jun, dan ia ingin pria itu tetap tenang. “Jun, dia sudah memberitahumu soal perjodohan itu kan? Apa kita bisa menjadikan itu sebagai barter?”


Xiao Jun tidak mengerti maksud pembicaraan Liang Jia, “Barter seperti apa? Aku tidak mengerti, Ibu Liang Jia.”


“Sekarang yang paling penting bagi kita adalah menyelamatkan Xin Er dan Lau. Sedangkan yang paling penting bagi Li San adalah menjodohkanmu dengan Grace. Sebagai dua pihak yang saling punya kepentingan, kita bisa negosiasi dengannya. Tapi itupun jika kamu setuju, Jun aku tahu kau pasti sangat mencintai gadis itu. Aku juga


menyukainya, dia gadis yang baik tapi untuk saat ini bisakah kau abaikan dia sesaat?” Liang Jia menjelaskan apa yang ada dalam benaknya, kini ia tak sabar menantikan respon dari Xiao Jun. Akankah ia setuju atau menolak win win solusi itu?


Xiao Jun menatap Liang Jia dengan tajam, sesaat Liang Jia merasa tidak mengenali pria yang besar bersamanya itu. Apa pernyataannya sedemikian menyinggung Xiao Jun? Jika ia keberatan, mengapa harus meresponnya sedingin itu. Liang Jia menyadari bahwa Xiao Jun sudah banyak berubah, sikap tegas dan beraninya mulai ditunjukkan terang-terangan.


“Maksud ibu, aku harus menerima perjodohan itu supaya mereka selamat?” tanya Xiao Jun tegas.


Liang Jia mengangguk pelan, ia belum berani menyatakan secara lisan. Melihat respon Xiao Jun yang dingin dan tak tertarik dengan sarannya, lebih baik ia bungkam sejenak. Liang Jia berniat memberi waktu sejenak untuk Xiao Jun berpikir sembari menenangkan diri, “Ibu pergi dulu, kau pikirkan dengan tenang apa yang kusarankan. Apapun keputusanmu, kita tetap satu kesatuan dan saling mendukung.”


“Tunggu, ibu. Aku tidak bilang menolak saranmu. Hanya saja, darimana ibu tahu dia gadis yang baik? Ah maksudku kekasihku.” Xiao Jun menahan Liang Jia tetap tinggal dengan pertanyaan itu.


Liang Jia tersenyum, membayangkan wajah kekasih Weini saja bisa membuat raut wajahnya terlihat tenang. “Itu … perasaanku mengatakan dia gadis yang baik untukmu. Aku menyukainya sejak melihat fotonya, dan ini lihat aku merajut wajahnya di sapu tanganku.” Liang Jia menunjukkan sapu tangan yang ia bawa saat ini kepada Xiao Jun. Wajah yang menyerupai Weini itu terukir dengan senyuman yang indah. Xiao Jun terpukau sekaligus rindunya kian membuncah melihat paras Weini hasil karya tangan Liang Jia.


“Weini memang gadis yang baik, kuat, hanya dia yang aku cintai.” Gumam Xiao Jun pada dirinya sendiri meskipun dengan suara yang pelan namun Liang Jia bisa mendengarnya.


“Ah, namanya Weini? nama yang seindah wajahnya.” Liang Jia bahagia mengetahui nama gadis itu, ia merapalkannya beberapa kali dan merasa sangat senang. Kebahagiaan yang tidak bisa ia ungkapkan dan menyelipkan harapan agar bisa bertemu suatu saat.


Xiao Jun tersenyum,Weini memang bisa memikat siapapun yang mengenalnya. Liang Jia dan Xin Er saja langsung menyukainya meski belum bertatap muka.


“Ibu, aku sangat mencintainya. Tapi ibuku … aku juga tidak bisa membiarkannya menderita di usia senja.” Xiao Jun mulai gusar, ia terdiam dalam pikiran yang rumit.


“Jadi kau mau memikirkannya? Di antara dua pilihan yang mana yang akan kau utamakan? Ibumu atau kekasihmu? Ini hanya perjodohan, kau berhak menunda pernikahan. Li San hanya akan memastikan dengan mengikat kalian dalam pertunangan. Segala sesuatu masih bisa terjadi di kemudian hari, yang menikah saja bisa bercerai apalagi yang baru merencanakan perjodohan.” Gumam Liang Jia, ia berharap Xiao Jun memilih ibunya.


Xiao Jun berpikir keras, dalam pikirannya ada tiga wajah yang silih berganti bermunculan. Senyum Weini yang sangat ia rindukan, wajah sedih Xin Er yang tersembunyi di balik senyuman, serta raut tenang Lau yang siaga melindunginya. “Baiklah ibu, aku akan pilih ….”


***