OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 45 ANCAMAN BARU



Paviliun utama keluarga Li tampak sepi, Yue Xin dan Yue Xiao baru saja menginjakkan kaki kemari demi bertemu ayahnya. Kakak beradik itu tertegun melihat kesunyian serta hawa dingin yang mencekam dalam ruangan luas itu. Rintik hujan masih deras mengucur dari langit membuat mereka merapatkan mantel bulu yang membalut tubuh.


“Penjaga, di mana ayahku?” Yue Xiao mencegat seorang pengawal yang melintas di depan.


“Hormat untuk nona kedua dan nona keempat, Tuan besar sudah keluar kota tadi subuh.” Pengawal itu menjawab sembari membungkukkan badan. Peraturan di kediaman Li memang sangat kuno dan ketat, di mana pengawal maupun pelayan dilarang menatap majikan mereka saat berbicara atau berpapasan atau mereka akan disebut lancang dan dijatuhi hukuman.


Yue Xin dan Yue Xiao saling bertatapan, keduanya heran mengapa ayahnya tiba-tiba keluar kota. Siapapun yang meninggalkan rumah, baik tuan besar, nyonya, hingga pelayan harus memberitahu kepada pengurus rumah tangga hingga semua penghuni rumah mengetahuinya.


“Mengapa tidak ada pemberitahuan sebelumnya? Tuan besar pergi dengan siapa?” Yue Xin bertanya kepada pengawal yang masih menunduk.


“Hamba kurang tahu, tuan besar pergi terburu-buru dengan seorang pengawal pribadinya.”


Jawaban pengawal itu semakin memancing penasaran, Yue Xin menyudahi percakapan dengan pengawal kemudian menyuruhnya pergi.


“Adik, kali ini bukan waktu yang tepat untuk mengadu pada ayah. Tidak ada gunanya menghabiskan waktu di sini.” Yue Xin menarik tangan Yue Xiao agar keluar dari paviliun dan sepayung bersama.


“Ayah mulai merahasiakan sesuatu dari kita. Berarti kita juga boleh seperti itu padanya.” Ujar Yue Xiao. Ia berniat menyontoh kebiasaan buruk dari ayahnya.


“Bukankah kita sudah lebih dulu bermain rahasiaan dengan ayah? Kalau bukan karena acting kita, mana mungkin Li An diusir dari rumah kita” Timpal Yue Xin polos. Ia tak menyadari resiko tembok yang bisa menguping pembicaraan mereka.


“Gadis sialan itu, sudah pergi dari rumah saja masih bawa sial. Dengar namanya saja bikin aku darah tinggi.” Geram Yue Xiao.


Sebuah kebetulan yang tak diduga ketika mereka berjalan melintasi halaman paviliun, Chen Kho terlihat sedang terburu-buru memasuki halaman. Yue Xin menghentikan langkah, senyumnya merekah. “Ini yang namanya tak lari gunung dikejar.”


Chen Kho tersenyum simpul, nona nona yang polos itu sangat mudah terbaca pikirannya. Pertemuan yang sengaja ia rancang namun dikira sebuah kebetulan yang menyenangkan bagi kedua gadis muda itu.


“Kakak, angin apa yang membawamu kemari? Sudah lama tidak bertemu walaupun tinggal seatap. Kakak terlihat makin segar.” Yue Xin memuji tanpa sungkan. Ia meremas jemari Yue Xiao dalam genggamannya agar bungkam.


“Adik terlalu memuji. Xin dan Xiao, apa kalian sedang mencari udara segar sepertiku? Aku hanya jenuh di kamar dan keluar membuang penat.” Basa basi harus dibalas basa basi pula, meski muak Chen Kho tetap mengikuti permainan mereka.


“Kakak, kenapa seleramu begitu rendah? Kau jatuh cinta pada gadis hina itu, kami tidak bisa terima! Kita keturunan terhormat dan hanya orang sepadan yang berjodoh dengan kita. Mohon kakak berubah pikiran dan lupakan dia!” Yue Xiao secara blak-blakan mengutarakan uneg-unegnya.


“Yue Xiao!” Nyaris saja tamparan dari tangan Yue Xin mendarat di pipi kiri Yue Xiao jika saja Chen Kho tidak menepisnya.


“Adik rupanya sangat memperhatikanku. Namun kalian terlalu cemas, apakah aku terlihat tidak mampu memilih mana yang terbaik untuk hidupku? Siapapun pilihanku tidak seorangpun bisa mengekangnya.” Chen Kho


menyatakan ultimatum itu dengan raut santai, ia bahkan masih sanggup menyunggingkan senyum.


“Tapi… Kita tumbuh besar bersama dengan sangat baik, kakak adalah saudara yang kami cintai. Kami hanya tidak rela jika kakak ipar kami nantinya berasal dari keluarga pengkhianat dan akan mencoreng nama baikmu.”


Ujar Yue Xin meyakinkan.


“Kalau begitu kalian harus mendukung siapapun pilihanku. Itu baru namanya mencintai saudara. Lagipula konflik paman bukan urusan keluargaku. Jadi status Li An bukan pengkhianat di mata keluargaku.”


Mereka terdiam sejenak. Chen Kho menggunakan kesempatan ini untuk menyerang balik.


“Aku tak habis pikir, kenapa kalian sangat membenci nona keluarga Wei? Secara keseluruhan kalian lebih terhormat dan tak kalah cantik. Apa jadinya kalau paman tahu kesalahan Li An yang membuatnya terusir itu rekayasa kalian?” Chen Kho menggertak dengan elegan, nada bicaranya bahkan terdengar santai seakan mengejek lawan.


Yue Xin dan Yue Xiao gemetaran, jika ada kaca di depan mata mungkin mereka akan sadar betapa pucat wajah mereka kini. “Gadis sialan itu mengadu padamu? Dia mengarang cerita seakan kami pemain antagonis yang menyiksanya?” Gerutu Yue Xiao, ia berusaha menutupi kesalahan.


memberimu saran, lawan kalian yang sesungguhnya bukan Li An tapi adiknya. Lebih baik kalian mencari akal supaya tidak kehilangan hak waris daripada hanya mengurusi seorang mainan.”


Chen Kho berbalik badan meninggalkan kedua sepupunya yang masih tegugu kaku karena ucapannya. Hujan dan angin semakin menjadi-jadi, bahkan payung tak sanggup menahan tetesan bening itu hingga mulai membasahi


pakaian Yue Xin dan Yue Xiao.


“Xiao Jun. Ah bukan, Wei Li Jun! Akan kuhabisi kau!” Yue Xin meremas jemarinya dengan sangat kuat, sekuat kebencian yang telah mendarah daging kepada Xiao Jun.


***


Dentuman house music nyaris memekakkan telinga. Sekelompok pria yang kehilangan separuh kesadaran karena efek alcohol kini mendominasi panggung. Mereka mengerumuni seorang kru yang memegang mic. Sedetik kemudian, mic malang itu terus berpindah tangan karena diperebutkan tangan-tangan berotot.


“Mari bersulang nikmati pestanya! Sinetron kita mencapai episode 170 dengan rating tertinggi. Cheers!” Teriak Bams mengangkat botol wine. Semula segelas demi segelas diteguknya, namun saat terbawa suasana, ia meneguk langsung dari botol minuman beralkohol itu.


“Cheers!” hampir semua kru berteriak termasuk Weini. Sayangnya ia lebih memilih jus alpukat sebagai minuman andalannya.


“Pantang pulang sebelum tumbang!” celetuk Bams lagi.


Weini hanya nyengir, membayangkan pulang dalam kondisi tumbang jelas mustahil. Palingan mereka akan menginap di kantor dan tidur seperti ikan asin berjejer dalam jemuran. Tak jauh dari tempat duduk Weini, sebuah sorot mata begitu terkesima menatap ekspresi Weini.


“Hai. Congrats ya untuk acting lu yang memukau.” Stevan mengangkat gelas slokinya untuk cheers dengan Weini.


“Yup. Semua juga berkat kerjasama kita.” Weini toas gelas jusnya dengan wine milik Stevan.


Ini kesempatan buat pedekate ama dia lagi. Stevan kegirangan, sejak Xiao Jun memberinya lampu hijau untuk bersaing maka ia tak perlu mundur dari persaingan cinta ini.


“O ya ntar…” belum kelar kata-kata, perhatian Weini sudah direbut oleh suara baritone Bams.


“Pengumuman guys! Episode selanjutnya kita bakal kedatangan bintang tamu. Gue sebenarnya sebel ama dia, tapi apa boleh buat si Lisa punya backing kuat. Investor kita pengen dia muncul di beberapa episode, so gue minta ama lu lu pada hati-hati sama si rubah betina itu. Terutama Weini, dia jelas sangat sirik ama lu.”


“Ng baiklah kak Bams.” Weini tidak begitu takut dengan kehadiran Lisa. Bukankah sudah ada kesepakatan secara hukum bahwa artis arogan itu tidak boleh mencari masalah lagi dengan Weini atau jalur hukum akan ditempuh.


“Apa yang terjadi antara lu dan Lisa?” Stevan sama sekali tidak tahu persis duduk perkara antara dua artis itu. Ia hanya mendengar desas desus namun tak satupun berita terekspos media bahkan terkesan sangat privat.


“Hanya sebuah kesalahpahaman. Jangan kuatir kak, dia pasti masih menyayangi kariernya.” Weini tersenyum sembari menyeruput jus.


“Jangan meremehkan musuh, mending waspada aja. Gue kenal dia, betapa licik dan mengerikan kalau udah sirik ama orang.” Stevan mulai cemas, Lisa punya kuasa, nama dan harta. Weini bukan tandingannya jika Lisa serius mengincar mangsa.


“Gue bakal lindungin lu. Selama dia di sini, gak bakal gue biarkan dia mengganggu lu!”


“Trims kak. Tenang saja, aku bisa mengatasinya.” Weini mengumbar senyum lagi, kali ini senyum risih karena Stevan terus mengusiknya.


Sementara itu Dina mengungsikan diri ke toilet demi mengirim pesan. Ia merutuki dirinya yang lupa menghubungi nomor si pemilik kartu nama.


Hi, Tuan Li Xiao Jun. Maaf baru menghubungi anda, saya akan ke kantor anda besok siang jam 1. Terima kasih.


***