
“Hwa … Yue Hwa ….” Suara pria yang terdengar samar-samar memanggil lirih nama Weini. Saking lirihnya hingga membuat Weini gelisah, di alam mimpi itu namanya terus mengaung dalam pendengaran.
“Siapa?” Tanya Weini dalam mimpi yang tak biasa itu. Ia terperangkap dalam sebuah ruangan gelap dan hanya seorang diri di sana.
“Hwa … Maafkan ayah.” Suara itu kembali bergema dan mengejutkan Weini yang mendengarnya. Gadi itu bergeming, ingatan masa kecilnya dipaksa untuk mengingat suara pria yang dipanggilnya ayah.
“Ayah?” Desis Weini belum sanggup mempercayai bahwa itu adalah suara Li San, ayahnya. Ruangan gelap pekat itu hening, tidak ada lagi suara pria yang memanggil namanya.
“Ayah!” Dalam kondisi bingung, Weini berteriak ke segala penjuru memanggil ayahnya. Mengapa tidak ada kelanjutannya lagi? Mengapa hanya sebuah kata maaf singkat yang diucapkan?
“Apa itu kamu, ayah? Di mana ayah?” Weini mencoba berlari menyusuri ruangan gelap itu, namun sekencang apapun ia berlari rasanya tempat itu tidak berujung.
“Ayah keluarlah! Bagaimana aku bisa memaafkanmu kalau ayah tidak menampakkan diri?” Teriak Weini, tanpa ia sadari air matanya mulai menetes. Keputus-asaan menyelimuti hatinya, melemahkan dirinya untuk berpura-pura kuat.
“Maafkan ayah ….” Suara Li San terdengar lagi. Weini langsung mendongak mencari sumber suara, namun yang terjadi selanjutnya terasa getaran kencang dari tempatnya berdiri. Tubuh Weini ikut terguncang dan ia berusaha tetap bertahan. Getaran kian kuat disertai suara ketukan yang memekakkan telinga. Seketika Weini terjatuh dari tempatnya berpijak.
“Aaaarrrgghhh ….” Teriakan yang keras itu sekaligus membangunkan Weini dari mimpi buruknya. Perlu beberapa detik baginya untuk mengatur napas, Weini tahu itu hanya mimpi tetapi baginya itu bukan sekedar mimpi namun penglihatan masa depan, seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
Gadis itu menyeka air matanya, bahkan hingga tersadarpun ia masih merasakan kepahitan itu. Suara ayah yang sangat ia rindukan itu menyampaikan permohonan maaf padanya. Weini memegang tepat di dekat jantungnya, detak yang perlahan normal lagi dari rasa terguncang yang dasyat dalam mimpi. Sesaat kemudian, tangisan Weini pecah. Dalam kesedihan yang dalam ia membenamkan wajahnya pada celah kedua lututnya yang menekuk.
“Apa terjadi sesuatu pada kalian?” Isak Weini, mendekap dadanya. Dalam kondisi rapuh itu, samar-samar ia mendengar suara ketukan yang persis dalam mimpinya. Weini terperangah, ia mengangkat kepala lalu mendengar lebih teliti.
“Ternyata suara ketukan pintu di luar.” Gumam Weini sembari nyengir karena pikirannya terlalu berlebihan. Ia melirik jam dinding di kamar dan menyadari bahwa tidurnya terlalu pulas hingga tak sadar ini sudah hampir tengah hari.
Weini bergegas bangun kemudian dengan kilat mencuci wajah sembabnya, bukan karena efek baru bangun tidur namun karena terlalu banyak menangis dari semalam hingga barusan. Tanpa mengganti piyama tidurnya, ia menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Saat melihat isi rumah yang sepi, hatinya pun sedikit sedih lantaran Haris belum juga pulang. Dan yang mengetuk pintu di luar itu pasti bukan ayahnya, karena Haris tak perlu merepotkan
siapapun untuk dibukakan pintu, ia punya kunci rumahnya sendiri.
“Non, non Weini …” pekik Dina yang nyaris kehabisan suara karena berteriak dan menggedor pintu.
Weini mempercepat langkahnya setelah mendengar pekikan Dina. Dan ketika wajah managernya tampak menyembul dari pintu, Weini bergidik melihat ekspresi wajah Dina. Manager itu tampak kesal dan berkacak pinggang, namun saat ingin melontarkan kedongkolannya, Dina berubah pikiran setelah melihat mata Weini yang sedikit membengkak.
“Non kenapa? Habis nangis? Non masih sakit? Apa perlu ke rumah sakit sekarang?” Dina menyerobot Weini dengan seabrek pertanyaan.
Weini menghela napas, “Masuk dulu kak, jangan teriak di depan rumah.” Lirih Weini kemudian berjalan masuk diikuti Dina.
Sedikit rasa kecewa dalam benak Weini, ketukan pintu dari Dina itu sampai terbawa ke dalam mimpi. Andai Dina tidak datang, mungkin mimpinya bisa berkepanjangan. Yang pasti ia harus mencari tahu tentang keluarganya, mimpi itu bukan hanya bunga tidur semata tapi pertanda bahwa mungkin mereka tidak baik-baik saja.
Sementara Weini tetap sibuk dalam pikirannya hingga apapun yang dikatakan Dina tak terdengar olehnya.
Ayah Haris harus tahu, dia mungkin bisa membantuku. Gumam Weini dalam hati.
***
Liang Jia serta kedua putrinya gemetaran hingga saling berpelukan saat mendapati pintu kamar yang dirancang dengan keamanan tingkat tinggi itu roboh bak barang tak berguna. Kini sepasang kaki jenjang masuk membawa senyum menyeringai, senyum yang berkesan membawa kematian bagi siapapun yang menatapnya. Liang Jia maju selangkah menutupi kedua putrinya, secara reflek ia hendak melindungi anak-anaknya. Tatapan nanar ditujukan pada pria pemilik seringai itu, Liang Jia takut namun tetap menguatkan hati untuk menghadapi ancaman itu.
Suara tepuk tangan serta tawa yang berkesan mengejek tercuat dari bibir Chen Kho, di matanya ketiga wanita yang berekspresi ketakutan itu seperti tikus yang masuk dalam perangkap. “Oh, aku sungguh terharu dengan adegan ibu dan anak tadi. Sayangnya aku sudah tak kuat mendengar jadi terpaksa ku sudahi saja.” Ujar Chen Kho seraya berpura-pura menyeka air mata harunya. Pria itu sudah berdiri di belakang pintu sejak Liang Jia menyuruh kedua putrinya pergi, ia hanya sengaja mengulur waktu demi mendengar pembicaraan menyedihkan itu.
“Kau! Bagaimana kau bisa masuk ke sini?” Tanya Liang Jia, namun nadanya lebih terdengar membentak ketimbang bertanya.
Chen Kho spontan tertawa keras, “Ada yang mencoba kabur? Jangan bermimpi bibi, tidak akan ada yang bisa keluar dari sini tanpa seijinku. Oh … Barusan bibi bertanya bagaimana aku bisa masuk? Sayang sekali pengawalmu terlalu lemah, jangankan bisa ditugaskan mengawal dua nona muda, puluhan pria bodoh itu saja tidak bisa menghadapi aku seorang.” Ujar Chen Kho sombong. Melihat ketakutan dan ketidak-berdayaan lawannya menjadi satu kepuasan batin baginya.
Liang Jia sedikit gentar, ia tak menyangka dalam waktu singkat Chen Kho bisa menghabisi pengawalnya. Membayangkannya saja membuat Liang Jia mual dan tak sanggup keluar melihat mayat bergelimpangan. “Apa maumu? Bukankah kekuasaan sudah di tanganmu? Jadi biarkan yang tidak berkepentingan di sini segera pergi dari istanamu.” Ujar Liang Jia.
Chen Kho tersenyum sinis, “Bibi, kenapa kau terlalu serius? Tahta memang sudah di tanganku, tapi hidup mati kalian juga ada dalam genggamanku. Dengarkan baik-baik, aku tidak suka mengulang titahku. Tidak ada yang boleh keluar dari kediamanku! Dan kamu, sepupuku yang malang ….” Chen Kho berjalan mendekati Yue Xin yang dengan sigap dihadang oleh Liang Jia. Tetapi kekuatan Liang Jia yang tak seberapa itu dengan mudah ditumbangkan Chen Kho dalam sekali dorongan.
“Ibu ….” Yue Xin dan Yue Xiao mendekap Liang Jia yang tersungkur di lantai. keduanya terisak ketakutan menatap Chen Kho yang berdiri dengan wajah menakutkan di hadapan mereka.
Chen Kho meraih dagu Yue Xin dengan kencang, tak membiarkan gadis itu memberontak sedikitpun. “Pernikahanmu sudah di depan mata, berani kemana kamu?” Bentak Chen Kho kemudian merebut paksa ponsel Liang Jia yang ada di tangan Yue Xin.
“Kau gila? Suamiku sudah tidak ada, dan pernikahan paksa itu tidak perlu terjadi lagi!” pekik Liang Jia tidak terima nasib anaknya kembali diatur sepihak.
Chen Kho tertawa, ia tak mengindahkan pekikan Liang Jia. Matanya fokus menatap tajam pada Yue Xin, seolah hendak menerkamnya. “Aku tahu kamu tidak mau disebut anak durhaka. Dan apa kau tahu, perjodohan itu adalah kehendak ayahmu yang sudah ia atur. Kalau kamu menolaknya, sama saja kamu tidak berbakti pada orang mati itu. Ha ha ha ….” Tawa Chen Kho lepas, ia berhasil menciutkan hati lawannya hanya dengan gertakan.
Yue Xin dan Yue Xiao kian terisak mendengar bahwa ayahnya telah tiada. Mereka berdua memeluk Liang Jia dan hanya bisa menangis. Liang Jia tak bisa berkata apa-apa, memang kenyataannya bahwa mereka tidak berdaya. Dan entah siapa yang berani menolong mereka atau mungkin pertolongan itu tidak pernah terjadi, mereka harus ikhlas menerima takdir dan kematian di tangan pria jahat itu.
“Lima hari lagi pernikahan dilaksanakan, jika kau berani menolak atau bunuh diri atau kabur dari sini. Aku pastikan kamu akan melihat kepala ibumu sebagai hadiah, di manapun kalian sembunyi, aku pasti menemukan kalian.” Gertak Chen Kho dengan puas.
Yue Xin lemas seketika, ia membenci pernikahan di saat ini namun tidak ada pilihan lain yang lebih baik ketimbang kehilangan ibunya. Ia sudah kehilangan ayah, dan tak akan membiarkan ibunya menyusul sang ayah dalam waktu singkat.
“Dan mulai saat ini, kalian akan hidup terpisah. Bibi tidak boleh keluar dari kamarnya, begitupun dengan kalian.” Lanjut Chen Kho kemudian pergi dari hadapan ketiga wanita yang sudah lemas menangis itu. Hatinya sangat puas, pernikahan Yue Xin adalah harapan untuk membesarkan bisnis yang sekarang menjadi miliknya. Ia hanya tinggal menikmati apa yang sudah Li San aturkan. Dunia sepenuhnya berpihak pada Chen Kho sekarang.
***