OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 542 KEINGINAN YUE FANG



Kediaman Li semakin terasa sepi semenjak Yue Xiao diboyong suaminya ke negara asalnya. Tersisa dua nona yang berada di sisi Liang Jia, namun Weini pun sudah bersiap untuk mengakhiri masa lajangnya dalam waktu singkat. Hari lamaran secara ritual sudah ditentukan, persiapan dari dua belah pihak pun tampak menyibukkan Haris, Xin Er dan Liang Jia. Para orangtua lah yang berperan nyata dalam hal ini.


“Hwa, apa kamu sibuk? Kakak mau bicara sebentar kalau bisa.” Yue Fang hadir di hadapan Weini, tersenyum lembut padanya seraya meminta waktu untuk bicara empat mata.


Weini mengalihkan pandangan dari buku yang ia baca, kemudian melihat wajah sumingrah kakaknya yang penuh harap. Tidak mungkin pula ia mengecewakan kakaknya dengan penolakan, sekalipun ia agak repot saat ini. Weini melirik Dina yang duduk di kursi bawah, hanya dengan bahasa isyarat mata saja Dina bisa menangkap maksud nonanya.


“Saya permisi dulu, Gong Zhu... nona kedua.” Pamit Dina lalu beranjak dari hadapan dua nona Li itu.


Yue Fang mengangguk sebagai respon pada Dina, ia pun menatap punggung Dina yang berlalu, sebelum ia kembali melirik Weini.


“Tinggal kita berdua kak, duduk di sini saja ya biar lebih santai ngobrolnya.” Gumam Weini yang sudah menyusul turun dari singgasananya dan menghampiri Yue Fang di bawah. Ia menggiring Yue Fang untuk duduk di kursi yang tadi ditempati Dina.


Yue Fang memperhatikan sejenak raut wajah Weini yang manis, mengagumi kecantikan alami adik bungsunya yang selalu membuat ia merasa takjub setiap kali menatapnya. Ia pun memperhatikan kelembutan Weini yang penuh sikap perhatian juga, Weini sedang menuangkan teh ke dalam cangkir kecil yang ada di meja itu kemudian memberikan pada Yue Fang dan dirinya sendiri.


“Terima kasih.” Gumam Yue Fang sembari menganggukkan kepalanya.


Weini pun membalas dengan senyuman manisnya, tak sabar ingin mendengar apa yang ingin kakaknya sampaikan.


“Hwa, tidak terasa sebentar lagi kamu akan menyusul status Yue Xiao. Kadang aku merasa kepikiran setiap teringat satu persatu di antara saudaraku sudah memiliki jalan hidupnya.” Gumam Yue Fang lembut, dari sorot matanya terlihat sedikit kesedihan yang membuat Weini merasa tersentuh dan iba.


“Kakak....” Lirih Weini, hanya bisa memanggil kakaknya dan meraih tangannya untuk digenggam.


Yue Fang membalas genggaman itu dengan erat dan tersenyum, ia perlu melanjutkan lagi uneg uneg dalam pikirannya hingga didengarkan oleh adiknya. “Kakak bukan iri pada kalian, sungguh... kakak sangat senang melihat semua saudariku hidup bahagia. Juga tidak minta kamu mengasihani kakak yang tampak seperti orang kesepian, karena ini memang pilihan hidupku. Aku tahu konsekuensinya dan aku tahu pencapaian apa yang ingin aku dapatkan dalam hidupku sebelum menikah. Itulah sebabnya kakak datang mencarimu, untuk membahas masalah yang mengganjal dalam pikiranku.” Gumam Yue Fang yang mulai terbuka.


Weini mengangguk paham juga merasa lega karena kakaknya tidak merasa terbebani dengan kesendirian yang ia rasakan ketika empat saudarinya sudah menikah nantinya. “Syukurlah, pokoknya apapun keputusan kakak, aku akan mendukung sepenuhnya. Kakak jangan ragu cerita padaku, akan Hwa dukung dan memberikan bantuan jika memang kakak memerlukannya.”


Yue Fang tersenyum lembut, sorot mata teduhnya menampakkan kasih sayang yang besar pada orang yang ditatapnya. “Terima kasih Hwa, kamu memang sangat baik. Jujur saja kakak sangat tenang karena kamu yang memimpin menggantikan ayah. Aku sebisa mungkin tidak akan merepotkanmu. Aku hanya ingin memberitahu kamu tentang keinginanku berkelana, entahlah Hwa... rasanya aku sangat tertarik dengan dunia luar. Aku ingin bekerja, hidup seperti orang-orang biasa, diakui tanpa melihat statusku tapi karena kemampuanku. Aku iri padamu yang sudah pernah merasakan mencari uang sendiri, mendapatkan kesuksesan dan popularitas dari hasil kerja kerasmu. Aku... aku ingin seperti kamu Hwa.”


Weini bisa melihat letupan semangat yang begitu kentara dari wajah Yue Fang saat gadis itu mengungkapkan keinginannya. Weini yakin betul bahwa kakaknya sudah memendam keinginan itu hingga tak mampu dipendam sendiri. Dan ia tahu apa yang diinginkan Yue Fang setelah bercerita panjang lebar kepadanya. “Kakak mau kerja di mana? Katakan saja pada Hwa.”


Yue Fang mengerutkan dahinya, menatap penuh arti pada Weini agar memberinya saran terbaik yang bisa ia pertimbangkan. Namun Weini masih terlihati diam dan berpikir sangat serius. Ia pun menatap serius kepada Yue Fang yang harap harap cemas mendengar Weini angkat bicara.


“Kak, sebenarnya semua keputusan ada di tangan kakak. Ini hidupmu dan kamu yang lebih tahu pencapaian apa yang kamu inginkan. Meskipun aku diberikan wewenang untuk menjaga kakak sampai nanti sudah menemukan pasangan hidup, tapi bukan berarti aku bisa mengontrol hidupmu. Aku yakin ibu juga berpendapat demikian, kakak tahu sendiri ibu kita seperti apa. Beliau tidak akan memberatkan kita, yang penting kakak pandai-pandai jaga diri. Dunia luar cukup kejam pada kita yang bukan siapa-siapa, apalagi kakak tidak mau membawa nama besar keluarga. Jujur, untuk yang satu ini aku agak was was kak. Kalau boleh tahu, apa rencanamu andai ibu memberikan pengertian dan ijinnya?” Ungkap Weini, berharap Yue Fang semakin terbuka kepadanya.


Yue Fang menghela napas, senyumannya pun mulai menampakkan sederet gigi putihnya. Ia memandangi langit langit ruangan yang bercorak ukiran naga, pikirannya ikut menerawang di atas sana. “Apa yang kamu katakan memang benar Hwa, aku juga memikirkannya dan hmm... merasa terbebani. Sebelumnya aku kembali ke Amerika untuk mencoba peruntungan, tapi setelah perselisihan internal keluarga kita, aku tidak punya semangat untuk ke sana lagi. Aku ingin berbisnis Hwa, menerapkan ilmu yang ku pelajari dulu di Amerika. Aku ingin membangun usaha atas jerih payahku sendiri.” Ucap Yue Fang menggebu gebu.


Weini tersenyum mendengar impian Yue Fang yang ternyata masih berhubungan dengan dunia bisnis. Merasakan sedikit kelegaan karena ia bisa sedikit campur tangan pada rencana kakaknya. Kak Yue Fang tertarik bisnis, padahal aku sama sekali tidak mengerti dunia bisnis. Hmm... mungkin ini memang sudah diatur oleh langit, sepertinya aku bisa berbagi dengan kakakku. Gumam Weini dalam hatinya.


“Kak, kamu tahu nggak ternyata bisnis ayah berkembang sangat pesat dan memiliki banyak cabang di negara maju. He he... aku nggak berbakat dalam bisnis kak, lihat aku seharian membaca buku tentang bisnis tapi malah ngantuk, tidak ada yang nyantol di otakku.” Weini jelas berbohong, kenyataannya ia membaca buku demi menyerap semua isi buku itu dalam otaknya.


Yue Fang belum menangkap arah pembicaraan Weini dengan jelas, ia hanya mengangguk pelan sebagai respon. “Kamu masih bisa sambil belajar Hwa, ayah punya tim profesional yang bisa diandalkan. Jangan pesimis ya, kakak yakin kamu bisa.” Ujar Yue Fang polos.


Weini malah tersenyum lebar, tampaknya gadis di sampingnya belum menangkap maksud pembicaraannya. Ia harus menjelaskan sedikit kepadanya, “Hmm... iya kak, aku akan terus berusaha. Tapi aku jauh lebih tenang andai orang-orang yang dipercayakan menghandel perusahaan adalah orang kita sendiri kak. Di Jakarta contohnya, ada Jun dan paman Lau yang akhirnya bisa mengembangkan perusahaan sampai ke Singapura. Setelah ini mereka pasti akan sangat disibukkan dengan pengembangan perusahaan baru di sana. Sedangkan di sini, aku masih mengejar ketinggalanku. Tapi setelah menikah, aku rasa Jun akan memilih tinggal di sini demi bisa berdekatan dan menjaga orangtua. Otomatis perusahaan di luar negeri akan dihandel tim profesional, aku kurang tenang kak meskipun Jun mungkin akan bolak balik ke sana beberapa bulan sekali.”


Yue Fang mulai paham arah pembicaraan Weini, ia pun tersenyum ke arah adiknya yang sejak tadi melihatnya dengan antusias. “Kamu ingin aku menghandel salah satu perusahaan di luar negeri kan? Itu maksudmu kan Hwa?” Todong Yue Fang dengan sangat jelas.


Weini terkekeh sambil menganggukkan kepalanya. “Nah tuh kakak mengerti. Akan lebih baik jika bisnis keluarga ini juga dikelola oleh keluarga. Lagipula perusahaan sebanyak itu, aku tidak sanggup mengontrolnya kak, sebaiknya anggota keluarga lain juga membantu mengatur perusahaan. Dan semua hasil dari sana, sepenuhnya Hwa serahkan pada kakak. Bagaimanapun kakak berhak untuk aset yang dimiliki keluarga kita. Apa kakak tertarik?” Ujar Weini yang mulai serius mempertanyakan persetujuan Yue Fang akan tawarannya.


Yue Fang berpikir serius hingga menggigiti bibir bawahnya, tatapannya di arahkan ke lantai, berharap menemukan jawaban yang terinspirasi dari sana. “Hmm... ini sulit untuk aku jawab sekarang Hwa, aku sudah pernah ke Singapura tapi belum pernah ke Indonesia. Aku tidak bisa langsung ambil keputusan sebelum melihat langsung seperti apa tempatnya. Beri aku waktu berpikir, bolehkan Hwa?” Pinta Yue Fang bersungguh-sungguh pada tekadnya.


Weini mengangguk dan tersenyum manis, menunjukkan pengertiannya yang besar kepada kakak keduanya. “Tentu saja kak, pilih yang paling nyaman menurutmu. Minggu depan kami akan berangkat ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan Grace. Ini kesempatan kakak untuk mengenal kota Jakarta dan bisa melihat langsung perusahaan di sana. Kakak harus ikut ya, ibu juga bersedia ikut denganku.”


“Wah, kita sekeluarga akan ke sana? Hmmm... terdengar sangat menarik, aku pasti ikut Hwa. Sekalian aku mau tahu seperti apa tempat pelarianmu, hmm... barangkali aku juga bisa ketemu jodoh di sana.” Ujar Yue Fang yang sengaja bercanda sehingga suasana yang sempat serius itu bisa sedikit longgar dengan tawa renyah darinya dan Weini.


“Kamu pasti suka kak, aku yakin sekali pergi kakak akan jatuh cinta dengan tempat itu. Dan kalau ketemu jodoh, langsung aja ya kak minta dilamar ha ha ha....” celetuk Weini, mereka berdua pun beralih topik membahas tentang perasaan dan hal seputar asmara.


❤️❤️❤️