OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 146 MAKNA CINCIN WASIAT



Cincin? Sebuah cincin berlian kuno yang dipasrahkan Xin Er pada Xiao Jun untuk kekasihnya. Cincin yang saat itu juga Xiao Jun berikan sebagai lambang keseriusannya pada Weini, agar ia bersedia menjadi wanitanya dan mengikatnya sebagai tunangan tak resmi. Selagi saling mencintai, Xiao Jun dan Weini tidak memusingkan


formalitasnya sebuah lamaran, hingga akhirnya ujian cinta mereka sampai pada babak serumit ini. Bisa apalagi mereka untuk bertahan?


“Sudah kuberikan pada dia. Aku melamarnya malam itu juga, ibu.” Ungkap Xiao Jun sembari mengenang masa manis itu.


Senyum merekah di bibir Xin Er, “Baguslah. Kamu sudah melakukan yang tepat.”


Kata ‘tepat’ yang terlontar dari Xin Er terdengar sangat mengusik Xiao Jun, suara pria yang mengaku ayahnya teringat lagi dengan pesan ‘mengambil keputusan tepat namun bukan yang terbaik’, Xiao Jun kian kepikiran apakah ini yang dimaksud? Xin Er berkata ia telah melakukan yang tepat – memberikan cincin ke Weini – dan itu


bukan keputusan terbaik?


Xiao Jun bangun dan menatap Xin Er dengan lekat, banyak tanda tanya tersirat dari tatapan itu. “Maksud ibu bagaimana? Memberinya cincin sudah keputusan tepat? Apa itu bukan keputusan terbaikku?” Xiao Jun ingin mendengar pendapat Xin Er, ia enggan berterus terang dengan pengalaman suara misterius yang memberinya


nasehat itu.


“Kau mantap memilihnya sebagai calon pendamping, lalu memberikannya cincin dariku. Bukankah itu sudah langkah yang tepat? Urusan terbaik atau tidaknya itu tergantung kamu. Bagaimana kamu menjadikannya yang terbaik atau terburuk.” Xin Er berkata dengan penuh kelembutan, sifat keibuannya otomatis muncul. Sekian lama menanti kesempatan berdua seperti ini dengan Xiao Jun, meskipun harus terjadi di penjara namun ia tetap rela.


Xiao Jun menggelengkan kepala dengan lemah, selemah hatinya yang tak mampu menafsirkan kondisi sekarang. Ia disudutkan pilihan yang sulit, walau sudah memilih satu jalan, ia belum yakin akan berhasil. Andai Li San tidak


menyetujui, ia harus mencari cara lain lagi.


“Ibu, aku belum sanggup mencerna kata-kata ibu. Maafkan ketidak-mampuanku ini. Gadisku itu … aku sangat mencintai dan ingin menikahinya, tapi segalanya akan sulit kalau aku masih dalam cengkraman tuan besar. Dia akan menjodohkanku dengan keponakannya, besok wanita itu akan datang. Aku … Aku belum bisa membuat keputusan.” Xiao Jun mengungkapkan segalanya, penat dan beban pikiran yang beberapa hari ini dipendamnya telah dicurahkan pada sang ibu.


Xin Er tersenyum dan mengeluarkan jawaban yang sangat tak terduga, “Ibu tahu. Masalah ini pasti tidak terhindarkan. Cepat atau lambat kau pasti jadi korban perjodohannya, maka dari itu ibu pernah bilang jika suatu hari harus mengekang, lakukanlah. Pria keturunan Wei tidak bisa selamanya terikat, kau punya hak dengan hidupmu.”


“Masalahnya tidak sesederhana itu ibu, dia memaksakan perasaanku. Cinta itu privasiku, tapi aku bahkan tidak punya hak untuk bebas menentukan wanitaku. Tuan besar selalu ingin menang sendiri, aku tidak akan biarkan ia menang semudah itu dalam hal ini.” Xiao Jun membulatkan tekad, sesuai syaratnya harus ada kesepakatan yang


menguntungkan baginya baru ia akan mempertimbangkan perjodohan itu.


Xin Er mengangguk senang, putranya sudah berpikiran matang bukan seorang anak laki-laki yang mengandalkan keegoisan dalam menyelesaikan perkara. “Siapapun wanita yang dijodohkan untukmu, selagi itu bukan pilihanmu maka kau tak perlu cemas. Dia hanya mendapat pengakuan tuan besar tetapi bukan pengakuan kita. Darah


Penjelasan Xin Er terdengar menyenangkan Xiao Jun, namun teori saja tidak cukup, selama Li San belum berubah pikiran maka kapanpun ia terancam menikahi wanita pilihan Li San. “Apa gunanya pengakuan kita kalau tuan besar campur tangan dengan kuasanya, ia bisa saja mencelakakan gadisku sama seperti yang ia lakukan pada


ibu dan paman Lau.”


Xin Er meraih tangan Xiao Jun, digenggam sekuat tenaga berharap energi positif dapat tersalur baginya. “Ibu dan ayahmu pernah muda, pernah mengalami cobaan dalam hubungan kami. Jadi ibu paham betul posisimu sekarang, tiap pasangan punya jalan dan kesulitan tersendiri. Yang perlu kau ingat bahwa klan Wei sangat unik, keunikan yang mungkin tak masuk akal bagi orang biasa. Selagi kau sudah memberikan cincin wasiat itu pada gadismu, kekuatannya akan menunjukkan jalan untuk kalian bersatu.”


Xiao Jun mengernyitkan dahi, “Jadi itu sebabnya ibu menyuruhkan memberikan pada Weini malam itu juga? Apa ibu sudah tahu apa yang akan terjadi setelah hari itu?”


Xin Er menggeleng, tentu ia tak sepeka itu. Semua strategi telah diatur Wei, ia hanya menjalankan perannya. “Tidak. Ibu hanya menjelaskan apa yang ibu tahu dan pahami tentang cincin itu. Sebuah cincin yang turun temurun diberikan pada wanita terpilih untuk melanjutkan keturunan Wei. Aku sudah menjalankan tanggung jawabku sebagai istri terpilih, setelah kau dewasa dan mantap pada pilihan maka semua menjadi hakmu.”


Xiao Jun manggut-manggut mengerti, “Itu hanya perkara cincin, jika cincin itu berpindah tangan bagaimana?”


“Ha… ha… ha… kecuali dia memang tidak pantas untukmu. Sekali cincin itu tersemat di jari, ia tidak akan bisa dilepaskan bahkan jika jarinya terpotong. Ibu baru bisa melepaskannya setelah kau menyatakan keseriusanmu pada seorang gadis, cincin itu melonggar dengan sendirinya untuk ke serahkan pada pemilik selanjutnya. Sekarang kau sudah paham?” tanya Xin Er dengan senyum yang betul-betul membuatnya terlihat cantik.


“Aku sangat mengerti, ibu. Terima kasih atas penjelasanmu, cincin itu tidak akan terlepas dari jari Weini dan dia tidak akan pernah lepas dari hatiku.” Xiao Jun menyatakan keseriusannya dengan mantap, bukan sebuah ucapan bocah namun ia berbicara pada porsi seorang pria dewasa yang sadar dan bertanggung jawab atas apa yang telah ia putuskan.


Penasehat He muncul kembali, tiga puluh menit berlalu secepat hembusan satu napas. Kebersamaan sesaat itu sangat berarti bagi Xiao Jun dan Xin Er, dalam waktu singkat saja Xin Er mampu memberinya semangat untuk kembali berdiri tegap. Andai ia berkesempatan merasakan didikan langsung dari kedua orangtua kandungnya, Xiao


Jun memastikan ia pasti menjadi seorang pria keturunan Wei yang sangat membanggakan.


“Pergilah, temui Lau. Ia sangat merindukanmu.” Xin Er melepas Xiao Jun dengan sebuah pelukan hangat.


“Jaga diri ibu, aku akan segera menolongmu.” Ingin rasanya Xiao Jun menggenggam lebih lama lagi, namun ia sadar harus lebih bersabar dengan kondisi ini dan menantikan kesempatan untuk meraih kemenangan mutlak.


Ia keluar dari sel dengan tatapan teduh dan melangkah ke sel Lau yang sudah terbuka. Xin Er melambaikan tangan mengiringi kepergian putranya.


“Kau selalu menjadi kebanggaan kami, Wei Li Jun.”


***