OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 546 MENGINGAT ASAL USUL



“Aaaarrggghhh! Sakit... udahan saja ya.” Pekikan lagi lagi terdengar dari kamar Grace, nyaringnya suara gadis itu menjerit sampai terdengar ke ruang tamu. Bahkan Kao Jing yang duduk di sofa ruang tamu untuk mengawasinya saja sampai geleng-geleng kepala mendengar teriakan anak gadisnya.


Grace menahan tangis lantaran tak sanggup menahan perih saat seorang wanita tua mencabut bulu halus di wajahnya dengan benang. Beberapa kali juga Grace berteriak, meringis kesakitan dan wanita itu tampaknya sudah kebal hati hingga tidak menghiraukan rasa tidak nyaman Grace. Kalau bukan karena Kao Jing yang meminta mencari sosok makcomblang (orang yang bertugas mengatur pernikahan adat Tionghwa) dan menjalankan serangkaian ritual yang ribet bagi orang modern seperti Grace, tentu Grace tak akan bertahan hingga menit itu.


“Sedikit lagi, tinggal di pipi sebelah kiri. Tahan lagi ya, nona.” Pinta makcomblang itu membujuk dengan senyum lebarnya.


Grace tetap manyun, sebelah pipinya masih terasa cenat cenut tapi ia sudah diminta untuk melanjutkan lagi. “Aku tidak mau lagi, Ama... tolong kerjasamanya ya, nanti kalau ayahku tanya bilang saja sudah selesai. Aku bersedia membayar angpaomu tiga kali lipat....”


“Eheem... ehem....” Suara deheman Kao Jing membuyarkan akal bulus Grace untuk menyogok wanita tua itu.


Jantung Grace serasa nyaris copot saat mendengar suara ayahnya yang sangat dekat. Perlahan ia menoleh dan mendapati Kao Jing berdiri tegap sambil melipat tangan dan menatapnya tajam, seperti memergoki mangsa dan tak akan melepasnya. Grace tersenyum nyengir, gagal sudah niatnya. “He he... ayah, aku hanya bercanda kok.” Ujar Grace takut takut.


Kao Jing menggeleng cepat, tak mungkin pula ia bertindak tegas pada gadisnya yang akan segera melepas masa lajang. Ia harus berlaku lembut untuk meyakinkannya agar menyelesaikan apa yang sudah dimulai. “Sudah selesaikan bercandanya? Ayo sekarang teruskan lagi, ayah temani di sini.” Seru Kao Jing sambil mengambil posisi duduk di sofa kamar Grace.


Raut wajah Grace berubah total, ingin menangis sungguhan karena sekarang ayahnya masuk sebagai satpam di kamar. Ia tidak bisa berkutik lagi, “Ayah... bolehkan disudahi saja? Ini sungguh membuat aku tersiksa.” Rengek Grace yang menunjukkan sikap manja kepada ayahnya.


Kao Jing menghela napas, melirik Grace yang tampak sedih lalu menatap lembut ke arah makcomblang yang pasif berdiri. Kao Jing mengangguk pelan, meminta waktu sebentar pada wanita itu untuk bisa bicara empat mata dengan Grace.


“Saya siapkan yang lain dulu, kalau sudah siap panggil saja. Permisi.” Ujar wanita tua itu mengundurkan diri sejenak. Kao Jing mengantarnya sampai di muka pintu kamar Grace, kemudian menutup pintu rapat.


Pria tua itu berjalan pelan menghampiri Grace yang melihatnya dengan heran. Entah apa yang ingin disampaikan ayahnya sampai harus menutup pintu. Kao Jing duduk kembali tapi di sebelah Grace yang masih duduk mematung di atas ranjang. Senyum pria tua itu mengembang, kemudian meraih tangan Grace untuk digenggam. Grace diam, membiarkan ayahnya memulai apa yang ingin dibicarakan.


“Tidak disangka tangan yang dulu mungil digenggam ini ukurannya sudah hampir menyamai telapak tanganku. Tidak disangka pula besok sudah bukan lagi digenggam ayah, tapi sudah ada pria lain yang bertanggung jawab menggenggam masa depan kamu. Tapi Grace, ada satu hal yang ayah minta dari kamu.” Kao Jing menjeda perkataannya demi melihat sejenak reaksi Grace terhadap apa yang ia katakan barusan.


“Apa ayah? Katakanlah....” pinta Grace yang sejak tadi mulai terharu mendengar ungkapan tulus Kao Jing kepadanya.


“Di mana kamu pijak, di situlah langit kamu junjung. Tapi juga jangan lupakan, dari mana diri kita berasal. Darah yang mengalir di tubuh kita, nama yang melabeli asal usul kita, ayah minta kamu tetap mempertahankannya. Meskipun kita sudah dicoret dari keturunan klan Li, tapi darah dalam tubuh kita tidak bisa dikuras dan diganti darah lain. Artinya dalam hidup ini, walau kita tidak diakui tapi sebagai yang lebih kecil, kita wajib mengakui leluhur kita.” Ujar Kao Jing dengan mantap, pandangannya menatap ke langit langit kamar. Ada rasa sesak yang memenuhi hatinya, serya penyesalan yang tak bisa ia ungkapkan lagi. Andai bukan karena kesalahannya, ia mungkin tidak akan dikeluarkan dari garis keturunan, tidak akan kehilangan seorang putra, tidak akan melihat putrinya menikah bukan di kediaman leluhur, dan tidak akan mengalami masa tua yang penuh penyesalan. Semuanya sudah terlambat bagi Kao Jing, tetapi tidak untuk Grace.


Grace mempererat genggaman tangannya saat ia melihat raut sedih di wajah ayahnya, tanpa perlu penjelasan ia sudah paham bahwa ayahnya sedang teringat sosok Chen Kho. Setiap kali teringat akan dia, Grace pun merasakan kesedihan yang sama. “Ayah, jangan mengingat hal yang menyedihkan di masa lalu.” Pinta Grace dengan tatapn lembut pada Kao Jing. Ia tidak tega melihat ekspresi wajah pria itu yang seperti sangat terpukul.


Kao Jing tersenyum dan menggeleng pelan, “Tidak Grace, ayah tidak mengingat hal yang sedih. Sebentar lagi hari baikmu akan tiba, tidak boleh ada kesedihan ya. Kita memang tidak bisa melupakan orang-orang yang pernah dekat dengan kita, tapi bukan berarti mengenang mereka harus dengan sedih. Grace, ayah hanya minta agar kamu tetap mempertahankan adat kita juga. Kelak beritahukan pada anakmu juga, agar dia tahu darimana ibunya berasal.”


Grace tersenyum, ia terlalu jauh berpikir tentang isi hati ayahnya. Namun ternyata yang dipinta adalah mewarisi adat leluhur mereka di manapun ia berada. Grace mulai paham dan menangkap maksud Kao Jing, ia pun menganggukkan keplanya sebagai tanda bahwa ia mengerti dan menyanggupi. “Baik ayah, Grace mengerti.”


“Baguslah, perlu kamu tahu bahwa tradisi mencukur bulu wajah, alis, membuang anak rambut di sisi telinga termasuk salah satu adat. Semua nona Li yang akan menikah pasti melakukannya. Dan kamu jangan lupa bahwa kamu juga termasuk salah satu nona Li. Kamu adalah Grace Li.” Ujar Kao Jing seraya tersenyum penuh kharismatik.


Kao Jing tertawa kecil melihat semangat putrinya untuk menghidari apa yang ia minta. “Ayah tahu kok itu sakit, tapi kalau sedikit ditahan demi niat, yakin deh tidak sesakit itu. Bahkan dulu menurut cerita ibunya ayah, ia bisa menjalankannya tanpa merasa kesakitan. Semua itu dari dirimu sendiri, kalau kamu merasa itu sakit, alam bawah sadarmu akan membuatnya sungguh kesakitan.”


Grace terdiam, maksud hatinya ingin memahami dan menerima tapi nyatanya sangat sulit. “Hmm... apa bisa dipakaikan sedikit anastesi?” tawar Grace dengan percaya diri.


“Tidak.” Jawab Kao Jing tegas.


Grace manyun kembali, mau tidak mau ia pun harus menuruti kehendak ayahnya. “Baiklah kalau memang tidak ada pilihan lain, aku akan menguatkan diri.”


Kao Jing berdiri, menoleh ke arah Grace sembari tersenyum. “Ikut ayah sebentar ke kamarku.”


Pria tua itu memimpin jalan, Grace menuruti tanpa sepatah katapun. Ketika melewati ruang tamu dan melihat makcomblang itu sedang menyiapkan lilin, manisan serta beragam persiapan lainnya untuk hari H. Wanita tua itu tampak memberi perintah kepada Fang Fang yang membantunya sambil sesekali terdengar tertawa. Saat menyadari Kao Jing dan Grace berjalan melewati ruang tamu, merekapun menghentikan tawa kemudian tersenyum serta sekedar menyapa.


Grace masuk ke dalam kamar saat ayahnya lebih dulu masuk ke kamar paling besar dari apartemen ini. Ia terkesiap saat melihat ruangan tidur itu disekat oleh lemari, dan di balik sekat itu menjadi ruangan lain dalam kamar yang dialih fungsikan menjadi ruang altar. Grace bisa membaca nama-nama dalam papan kecil yang ditulis dengan kaligrafi China. Salah satu yang Grace ketahui betul adalah nama Li San Ji dan Li Chen Kho serta nama ibunya, dua lainnya tidak ia kenali meskipun ia bisa membacanya.


Keterkejutan yang Grace rasakan membuat ia bungkam sejenak, merasa sedih karena hanya dengan cara ini ia dan ayahnya bisa mengenang sosok orang yang pernah dekat dengan mereka semasa hidup. “Ayah....” Lirih Grace dengan mata berkaca-kaca, begitupula dengan Kao Jing.


“Inilah yang diam-diam ayah lakukan, ingin merasa dekat dengan mereka yang sekaligus tidak akan melupakan adat kita. Menghormati leluhur, mengenang mereka yang ada pernah ada. Tanpa mereka, tidak akan ada kita. Ini hanya simbol penghormatan saja, karena lusa kamu harus melakukan penghormatan sebelum dibawa keluar dari rumah ini. Minta ijin dan restu pada kakek nenek, ibu, paman dan kakakmu. Kamu mengerti kan maksud ayah?” Tanya Kao Jing yang berharap bisa menyadarkan Grace sepenuhnya.


Grace mengangguk paham, sangat paham bahwa ayahnya telah sepenuhnya menyesal dan menghukum dirinya dengan selalu mengingat kesalahan yang ia perbuat, hingga membuat keluarga Li tercerai berai. Penyesalan yang ingin ia tebus dengan mendoakan dan menghormati mereka yang telah pergi. Dan Grace pun bisa menyanggupi dirinya agar tidak berkeluh kesah lagi, sekalipun ia dibesarkan dengan cara yang modern, namun ia tak akan melupakan asalnya. Gadis itu menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memejamkan mata dan mendoakan ketenangan mereka yang terpajang namanya di altar.


“Aku mengerti ayah. Permisi ayah.” Ujar Grace membungkuk hormat lalu hendak berlalu dari hadapan ayahnya.


“Kamu mau ke mana Grace?” Tanya Kao Jing heran.


Grace menoleh kepada ayahnya lalu tersenyum optimis. “Menyelesaikan pipi yang sebelah, ayah.” Jawab Grace sambil mengedipkan sebelah matanya.


❤️❤️❤️


Hi guys, sembari menunggu dua hari lagi menjelang tamat, yuk baca novel terbaru author. Genrenya romantis fantasi, ya kurang lebih sama dengan genre cerita ini. Mohon dukungannya ya, love, like dan komentar di cerita itu 🙏 makasih.