
Xin Er berada dalam kamar bersama Haris, obrolan serius mereka tentang banyak hal termasuk bagaimana cara Haris menyelamatkan Weini hingga kembali pun sudah dibahas. Kini yang tersisa hanyalan ganjalan di hatinya, tentang kondisi tuan dan nyonya besar mereka yang tak bisa diabaikan begitu saja meskipun keluarga inti Haris telah berkumpul. Ia sebenarnya bisa bahagia dengan anak-anaknya, terlebih Xin Er sudah dibebaskan dari hukumannya sebagai pelayan, sayangnya mereka tak sampai hati membiarkan orang-orang yang mereka kenal menghadapi kesulitan seperti ini.
Li An meminjamkan ponselnya sebelum meninggalkan kedua orangtuanya di kamar berduaan. Dengan ponsel itu, Haris menghubungi Liang Jia untuk pertama kalinya setelah ia kabur membawa putri nyonya itu. Ia dan Xin Er saling bertatapan, ada rasa tegang yang tak terucapkan kata, suara nada sambung panggilan ini memecah keheningan sepasang suami istri itu. Panggilan video yang sengaja diloud speaker itu menunggu respon dari seberang. Xin Er meremas tangannya, ia tak bisa menutupi rasa cemasnya, apalagi percakapan terakhirnya dengan Liang Jia tak berakhir baik kemarin.
“Apa mungkin terjadi sesuatu di sana?” Tanya Xin Er cemas, panggilan itu gagal tersambung.
Haris menggeleng pelan, ia yakin pikiran negatif istrinya tidak terbukti. “Tidak mungkin, tenanglah aku rasa nyonya sedang sibuk. Aku akan coba hubungi lagi.” Ujar Haris kemudian berusaha menghubungi nomor Liang Jia lagi.
Xin Er percaya saja dengan apapun yang dikatakan suaminya, ia hanya pasrah menunggu jawaban di seberang dan yakin akan usaha Haris yang terus menghubungi ulang. Hingga usaha itu berbuah hasil dan Liang Jia tampak menerima panggilan Video itu.
“Salam hormat untuk nyonya besar.” Kata itulah yang pertama kali Haris lontarkan setelah sekian lama tidak melihat wajah nyonyanya yang sudah menua.
Liang Jia nyaris menjatuhkan ponselnya lantaran terkejut melihat wajah pria yang sangat ia kenali. Wajah dari masa lalu yang begitu berjasa pada keluarganya, dialah sosok pahlawan di mata Liang Jia. “Pengawal Wei, benarkah itu kau?” Lirih Liang Jia, ia bahkan mengedipkan mata berulang kali demi menahan agar desakan air mata tidak keluar dari sana.
Haris menarik napasnya dalam-dalam, ada rasa bangga tersemat dalam dadanya. Ia menjauhkan ponsel yang ada di genggamannya, kemudian Xin Er dengan cekatan mengambil alih ponsel itu. Haris berdiri tegak kemudian memberikan penghormatannya lewat video call, sebuah kepatuhan dan kesetiaan yang tidak bisa tanggal dari pribadinya. Ia tidak akan melupakan jati dirinya sebagai pengawal setia Liang Jia, dan tak akan melewatkan bagian penghormatan formal itu meskipun terhalang jarak.
Liang Jia tersentuh melihat kepatuhan Haris, meskipun jauh tapi bukan penghalang bagi niatnya untuk menunjukkan rasa hormat. “Bangunlah Wei, lewatkan bagian formal itu.” Perintah Liang Jia, kali ini suaranya terdengar serak. Ia benar-benar menitikkan air matanya, antara senang, sedih dan haru.
“Nyonya, saya telah menyelesaikan tugas dari anda. Nona muda telah selamat... nona muda telah selamat.” Lirih Haris, suaranya mengeras dalam pengulangan kata-kata itu. Ia sungguh menekankan pada laporannya, seperti yang dulu sering ia lakukan saat bertugas di kediaman Li.
Xin Er yang memegangi ponsel pun mulai terguncang, ia terbawa suasana haru dan ikut menangis. Kamera yang ada di tangannya bergoyang, ingin rasanya ia memeluk suaminya, memberinya kekuatan dan bersama-sama menghadap nyonya mereka, namun Xin Er tetap menguatkan diri untuk memegangi ponsel itu demi suaminya.
Liang Jia sesenggukan, ia berada dalam kamar rumah sakit bersama Li San yang belum sadarkan diri. Yue Fang sedang keluar untuk menunggu datangnya kakaknya, jika bukan karena panggilan ini mungkin Liang Jia masih larut dalam lamunannya di sisi jendela.
“Aku tahu... Aku selalu percaya kamu sanggup menyelamatkannya, tidak hanya dulu tapi sekarang, Wei.” Lirih Liang Jia dalam tangisannya.
Liang Jia bergegas mendekat ke bangsal Li San, tempat di mana pria berkuasa itu terbaring lemah. Ponsel
itu diarahkan pada Li San hingga Wei terkejut melihat sosok Li San yang tak berdaya sekarang.
“Lihat ini, Wei Ming Fung hidup kembali. Pengawalku menyelamatkan putri kita, lihatlah! Li San, bangunlah!” Gumam Liang Jia penuh harap, ia sampai memanggil nama suaminya.
Li San bergeming, tak ada hasil dari apa yang diteriakkan Liang Jia, sekalipun memberitahunya kabar yang sangat baik tetapi gagal mengembalikan kesadarannya. Liang Jia yang sempat optimis pun kembali bertekuk wajah, ia membisu melihat wajah pasrah suaminya yang tertidur kemudian menangis terisak.
Haris yang melihat dari ponsel pun turut menyeka air matanya. Sewaktu Li San masih kuat dan berkuasa, pria itu memang kejam dan semena-mena padanya tetapi bukan ini juga yang diharapkan Haris. Sungguh bukan ini yang ingin ia lihat dari akhir penguasa klan Li itu.
“Panggil nona Yue Hwa kemari.” Bisik Haris pada Xin Er, ia pun mengambil lagi ponsel dari tangan istrinya. Xin Er mengangguk patuh dan bergegas mendekati pintu kamar.
Kondisi Li San lebih buruk dari yang dibayangkan Haris, melihat aura wajahnya yang suram, Haris tak yakin pria berkuasa itu masih punya kesempatan membuka matanya. “Nyonya, sekarang nona Yue Hwa sudah berhasil melepas topengnya. Dia sangat cantik, nyonya... Sangat cantik. Sampaikan pada tuan besar, bahwa selama ini nona Yue Hwa selalu merindukan kalian dan tidak menaruh dendam atas apa yang terjadi di masa lalu.” Gumam Haris yang mencoba mengalihkan rasa frustasi Liang Jia.
Nama Yue Hwa yang terdengar itu menggugah hati Liang Jia, rindunya terasa mendesak untuk segera bertemu dengan putri yang puluhan tahun ia rindukan. “Hwa... putriku, di mana dia Wei? Berikan ponsel padanya, aku ingin melihat dia.” Pinta Liang Jia mendesak Haris.
Xin Er tidak perlu tergesa-gesa menuju kamar Grace, nyatanya Weini sudah muncul di hadapannya. Setelah
menemui Grace dan membiarkan gadis itu menenangkan diri di kamarnya, Weini berencana menyusul ke kamar Xin Er, ia ingin dihubungkan dengan orangtua aslinya. Dan kini, Xin Er dan Weini pun telah masuk ke dalam kamar, tempat di mana Haris sedang melangsungkan panggilan video bersama Liang Jia.
Weini mendengar suara ibunya yang lirih mencarinya, spontan ia berlari menghampiri Haris yang belum memberikan jawaban apapun pada Liang Jia.
“Ibuuu....” Pekik Weini lirih, membuat Haris menoleh lalu menyodorkan ponsel padanya.
Mata Weini yang sembab paska menangis bersama Grace pun kembali berlinang air mata. Ini bukan kali pertama ia melihat wajah Liang Jia, beberapa kali ketika rindu mendera, ia pun memutar Youtube yang menampilkan keluarganya. Tetapi rasa itu tidak sama dengan saat ini, ketika ia saling bertatapan lewat layar ponsel bersama ibunya. Weini bisa melihat raut wajah ibunya yang berhias keriput, dengan rambut putih yang cukup nampak di kepalanya, terlebih wajah yang tampak lelah dan sedih. Bukan harapan Weini seperti yang selalu ia bayangkan, pertemuan kembali yang mengharukan, saat ia bisa diterima kembali dan disambut dengan senyuman,
kebahagiaan. Tetapi ini? Apa yang terjadi justru kontras, menguburkan harapannya tentang reuni keluarga yang bahagia seperti keluarga Xiao Jun.
“Hwa... Yue Hwa... putriku....” Pekik Liang Jia tak kalah lirih. Teriakan yang menyuarakan beban hati dua wanita itu memendam rindu, yang sayangnya masih terhalang oleh sebuah gadget.
Weini mengangguk pelan, hidungnya bahkan sudah mampet karena terlalu banyak menangis. “Aku Yue Hwa, bu. Ibu... aku rindu....” Lirih Weini dengan susah payah mengatakannya, suara yang serak dan hati yang sesak sangat mengakui betapa rindunya ia.
“Pulang, nak... Pulanglah!” Lirih Liang Jia yang tak mampu lagi harus bertahan jauh dengan putrinya.
Pulang adalah kata yang paling dinantikan Weini, dan pulang adalah sebuah keputusan yang sejak lama ingin Liang Jia suarakan. Dan akhirnya, kali ini tersampaikan sudah meskipun dalam kondisi yang di luar perkiraan mereka.
***