OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 232 APA KAMU SUDAH BERUBAH, WEINI?



“Apa kabar om?” Stevan menyapa Haris yang membukakan pintu menyambut kedatangan mereka. Tangannya menjinjing martabak Bangka yang masih hangat dan mengeluarkan aroma lezat. Weini lah yang membocorkan cemilan kesukaan ayahnya, lantaran Stevan merasa tak nyaman datang dengan tangan kosong.


“Nak Stevan, akhirnya mampir juga. Om kira sudah lupa sama kami.” Canda Haris, seperti biasa ia ingin mengetes hati anak muda itu.


Stevan penuh gelak tawa mendengar candaan garing Haris, “Om bisa saja, mana mungkin bisa lupa. Setiap hari juga kerja bareng Weini, maaf ya Om belakangan ini sibuk jadi susah buat mampir.”


“Kok aku nggak ditanyain om?” celetuk Dina yang berdiri di belakang Stevan, menanti dipersilahkan masuk.


Haris tertawa kecil, ia hanya bermaksud menggoda Stevan, tentu saja ia paham betul kesibukan aktor itu. “Kita lanjut di dalam saja, nggak enak ngobrol berdiri.” Ujar Haris, menggiring mereka masuk ke dalam.


“Aku ke kamar dulu ya, Ayah … kak Stev.” Weini tergesa-gesa menuju kamarnya, ia tak sabar ingin mandi saking gerahnya. Dina membuntuti Weini, sekedar meletakkan peralatan artis itu ke dalam kamar.


Dua gadis yang menempati kamar akhirnya memberi kesempatan pada dua pria beda generasi yang ada di luar itu leluasa bicara. Haris mempersilahkan Stevan duduk di ruang tamu, namun tamunya malah bandel dan memilih nongkrong di halaman belakang rumah. Menikmati semilir angin sejuk yang berbau air, Haris memprediksi satu jam lagi pasti akan turun hujan deras.


“Sambil dicicipi mumpung masih hangat.” Haris keluar dengan nampan berisi satu teko dan dua gelas kosong. Ketika ia hendak menuangkan untuk Stevan, anak muda itu menyerobotnya sembari tersenyum.


“Aku yang tuangkan aja, om.” Sela Stevan. Ia menuang teh yang masih mengebulkan uap dan memberikannya pada Haris dulu.


“Sudah sangat lama aku tidak pernah nongkrong sesantai ini.” Ujar Stevan, suasana menyenangkan dan tenang ditambah duduk bersama Haris yang berpembawaan tenang, memancing uneg-unegnya keluar.


“Kalau begitu, nikmatilah saat ini.” Haris menyeruput tehnya, kebiasaan minum teh sudah pembawaan turun temurun, bahkan Weini dan Xiao Jun pun menyukai itu.


Stevan memandang Haris, kharisma Haris sebagai pria yang bijaksana di mata Stevan, meyakinkannya ingin meluapkan perasaan. “Ya, om terima kasih. Om dan Weini, Dina, membuatku merasa punya keluarga.” Stevan


menengadah, menatap langit malam yang mendung pekat.


“Di mana orangtuamu? Kau sepertinya cukup mandiri, padahal dengan popularitasmu sekarang, kau bisa saja mendapatkan kenikmatan hidup yang lebih.” Tanya Haris pelan. Ia tengah menyentil privasi seseorang.


Stevan masih menatap langit yang seolah punya mata dan membalas tatapannya. Senyum getir tersungging dari bibirnya. “Mereka ada, tapi rasanya tiada.  Terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, di keluarga kami uang itu segalanya.”


Haris terdiam, ia tidak ingin bertanya lebih detail lagi. Seluruh isi pikiran Stevan sudah terbaca jelas, Haris baru tahu anak muda di sampingnya punya sisi kelam hidup yang juga tak mudah. Dalam pikiran yang terbaca itu, Stevan merindukan orangtuanya yang berada di luar negeri.


Haris mendehem, “Kamu sudah enakan badan? Kapan hari kata Weini kamu masuk rumah sakit ya?”


Stevan akhirnya mengalihkan pandangan dari gelapnya langit menuju tenangnya raut wajah Haris. Entah mengapa ada perasaan senang yang sulit dijelaskan, setiap kali menatap Haris. “Iya om, biasalah kecapean saja. Habis pulang syuting trus lanjut ngegame sampai subuh, yang ada malah drop.” Jawab Stevan seraya tertawa kecil.


Haris ikut tersenyum, ia tak menyangka Stevan hanya menjawab seperti itu. “Oh, begitu… atur pola hidup yang sehat dan kurangi aktivitas tak penting. Sayang tubuhmu, kau masih muda loh.” Tutur Haris, pikirannya fokus membaca isi pikiran Stevan. Ada sesuatu yang harus ia pastikan sebelum mengambil tindakan lanjutan.


Stevan tertawa kecil mendapatkan perhatian dari Haris, “Iya om, makasih.”


Stevan mengernyitkan dahi, ia tahu betul kondisi Weini serta kejadian aneh saat itu. Apa aku harus cerita ke om Haris kalau Weini… ah, tidak! Aku sudah berjanji tutup mulut, tidak akan cerita pada siapapun termasuk om Haris.


Haris mendengar suara hati Stevan, ia mengulum senyuman. Tak salah menilai anak muda itu, sejak pertama berjabat tangan dengannya, Haris tahu Stevan adalah pria yang baik. Dari isi pikiran Stevan yang bisa memegang janji, Haris telah mantap mengambil keputusan untuk membiarkan pria itu menyimpan rahasia Weini. Ia tak jadi menghilangkan ingatan Stevan tentang kejadian itu.


***


Sebuah tempat di pinggir jalan, di bawah pohon rindang yang dulu juga menjadi markas Xiao Jun mengintai rumah Weini. Di situlah mobil mewahnya terparkir, Xiao Jun kembali melakukan kebiasaan lamanya yang bisa menghabiskan waktu satu jam hanya untuk menatap halaman rumah Weini. Ia mematikan mesin mobil, duduk gelisah di belakang setir, menatap kotak perhiasan merah yang berada dalam cengkraman.


Ingat ya Jun, harus kasihkan ke dia. Bilangin kalau aku yang pilihkan buat dia!


Kata-kata dari Li An masih terngiang, hadiah kecil yang ia pilihkan untuk Weini menjadi tanggung jawabnya sampai diserahkan pada si pemilik. Tetapi bukan alasan ini saja yang mengantarkan Xiao Jun sampai kemari, dorongan kuat dari hatinya untuk segera melihat tunangannya itulah yang menjadi niat utama.


Dari kejauhan Xiao Jun melihat mobil yang masih ia kenali pemiliknya. Entah kebetulan atau memang selepas ia pergi, Stevan kerap datang berkunjung. Xiao Jun mengepal tangannya, pikiran negatif meracuni akal sehatnya, ia kesal dengan tuduhan yang belum jelas sesuai kenyataan. Setir yang tidak bersalah justru menjadi korban pelampiasan, Xiao Jun menghantamkan beberapa tinju pada benda mati itu. Tatapannya nanar tertuju pada mobil Stevan, api cemburu membakar hati Xiao Jun tanpa ia sadari bahwa ia tengah cemburu.


Xiao Jun baru teringat ponselnya, semenjak perjalanan menuju bandara Hongkong, ia belum mengaktifkan kembali alat komunikasi itu. Kini ia tidak sabaran, ponselnya masih proses pencarian sinyal tetapi ia sudah memencet aplikasi Whatsapp.


“OMG!” Xiao Jun nyaris lupa bernapas saking kagetnya melihat apa yang ia lakukan tanpa sengaja. Sebuah pesan yang typo terkirim pada Weini, status pesan itu bahkan sudah dibaca tetapi tidak ada balasannya sampai


sekarang. Akun Weini terakhir aktif satu jam lalu namun ia tidak memberi balasan. Hanya karena itu ditambah melihat mobil Stevan terparkir di sana, Xiao Jun panas hati.


“Weini, apa kamu sudah berubah?” desis Xiao Jun. Ia tak berpikir jauh bahwa yang ia lakukan selama ini jauh lebih menyakitkan Weini. Ia baru merasakan hanya dibaca pesannya tanpa balasan, dan sudah sesakit ini, apa kabar Weini yang juga mendapatkan perlakuan serupa saat Xiao Jun menolak panggilan masuk dan mengabaikan pesannya?


***


Hujan mulai deras menyapu bumi, rintik bening itu merembes ke dalam tanah. Haris masih duduk ditemani Stevan, sementara para gadis tampaknya tidak berniat bergabung. Mereka belum juga muncul sejak pamit masuk ke dalam kamar. Haris menatap rintik hujan yang menggenang di halaman belakang, yang dari alam akan kembali terseleksi oleh alam, pemikiran simpel yang terinspirasi dari apa yang diamatinya.


Deg! Perasaan aneh dirasakan Haris, semacam koneksi sihir yang sama dengannya terasa sangat dekat. Ia menajamkan indera ke-enamnya, melacak sumber kekuatan yang jelas bukan dari Weini. Stevan tengah melahap kue yang ia bawa dan mengagumi hujan, kesempatan itu digunakan Haris untuk memejamkan mata dan memusatkan pikiran. Hanya perlu dua menit, Haris kembali membuka mata sekaligus menyunggingkan senyum bahagia.


“Nak Stevan, santailah dulu. Aku mau ke belakang sebentar.” Haris beralibi agar tidak dicurigai Stevan.


Ia mempercepat langkah menuju ruang tamu kemudian menyibak tirai putih yang menghalangi pandangan. Senyumnya merekah ketika sepasang matanya mengarah pada jalan, seseorang di sana sudah terpantau olehnya.


Selamat datang kembali, putraku!


***