OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 291 MENGHARAPKAN PERTIMBANGANMU



 “Jadi kamu ke sini demi Xiao Jun?”


Pembicaraan ayah dan anak itu berlanjut dengan obrolan hangat, bertemankan dua cangkir teh dan kue kering yang Haris buat sendiri. Li An begitu bahagia bisa mencicipi makanan dari ayahnya, sudah sangat lama tak menikmati hasil masakan pria itu. Li An menggeleng seraya memakan cemilan, Haris tersenyum melihatnya.


“Kalau kamu suka, kita makan saja nanti. Aku masak sapo tahu dan sedikit gorengan.” Haris menawarkan pada saat yang tepat, meskipun tidak begitu lapar namun Li An tetap mengangguk setuju.


Mereka beralih ke ruang makan, Li An membiarkan Haris melayaninya, menyiapkan alat makan dan ia hanya duduk mengamati sekeliling dapur. Dekorasi ruang makan itu cukup simpel namun terkesan hangat, membuat siapapun yang ada dalam ruangan itu merasa bahagia.


“Ya begitulah rumah ini, tidak ada barang mewah selain kecapi di pojok ruang tamu. Makanlah selagi hangat.” Ujar Haris, menjeda sejenak perhatian Li An yang kepo dengan isi rumahnya.


Li An mengangguk, “Nggak perlu barang berharga, penghuni rumah ini sudah sangat berharga. Aku makan, ayah.” Li An menikmati suapan pertama, ia kegirangan saat tahu rasa masakan ayahnya begitu sempurna menurut versinya.


“Pelan-pelan.” Haris tertawa kecil, ia menyodorkan segelas air putih ke hadapan Li An.


Li An tampak malu-malu, saking senangnya ia tidak menjaga sopan santun di hadapan ayahnya. Ia memperbaiki posisi tubuh, lalu makan dengan cara yang lebih feminim. “Ayah tinggal sama nona Yue Hwa? Di mana dia?”


“Dia kerja, biasanya pulang malam. Oh ya, karena kamu sudah tahu jadi tolong bersikap biasa padanya. Jaga rahasia ini cukup kita berdua yang tahu, kamu bisa kan?” Pinta Haris.


Li An berhenti mengunyah, ia meneguk air beberapa teguk kemudian menatap serius pada ayahnya. “Apa ini bisa jadi rahasia kita bertiga? Aku, ayah dan Li Jun.”


Haris mengangkat alisnya, “Kamu sedang bernegosiasi rupanya.”


“Ya, karena nggak masuk akal kalau ayah terus mengelak dari Jun sedangkan padaku, ayah bisa langsung mengaku. Kenapa ayah tidak percaya pada Jun?” Li An menunggu jawaban dari ayahnya, sebuah jawaban yang


sejujurnya.


Haris menghela napas, cukup berat untuk menyampaikan kritik terhadap putranya. “Aku tahu caraku salah dan menyakiti dia, aku juga terluka. Adikmu itu masih susah mengontrol emosi, begitu dia dapat kebenarannya, dia akan berontak melawan tuan besar. Aku sudah menerawang sampai di situ.”


Li An mengangguk paham, kemampuan meramal ayahnya memang tidak diragukan. “Tapi terus menutupi darinya juga bukan solusi, ayah. Dia semakin sensitif dan sering menyalahkan dirinya. Bahkan dia iri pada nona Yue Hwa karena ayah. Aku kasihan padanya, tolong ayah pikirkan lagi. Pasti ada cara menghadapi tuan besar, ini sudah terlalu lama bagi kita. Nona Yue Hwa juga harus diperjuangkan kembali pada keluarganya.”


Haris menggeleng lemah, “Yang ditakutkan bukan tuan Li San, aku sudah pernah lolos dari dia, bukan hal sulit untuk lolos kesekian kali. Tapi dia hanya boneka, dan dalangnya jauh lebih menakutkan. Ayah tidak bisa meramal sampai di sana, kemampuan mereka tidak bisa kuprediksi.”


Li An terkejut, selama ini ia mengira Li San adalah biang kerok semua kekacauan yang membuat keluarganya hancur. Ternyata masih ada musuh yang tak bisa diprediksi ayahnya. “Jadi tuan besar Li San juga korban? Karena


dia boneka orang?”


Haris mengangguk membenarkan dugaan Li An. Gadis itu mulai merinding, ia melipat kedua tangan lalu meraba lengannya seperti orang kedinginan.


“Lupakan dulu, jangan bahas hal yang belum terjadi. Sekarang kamu jawab dulu, apa tujuanmu jauh-jauh kemari?” Tanya Hari seraya tersenyum.


Li An tersenyum manis, ia beranjak dari duduk sembari meminta ayahnya tetap duduk menunggunya kembali. Gadis itu meronggoh isi tas yang ia letakkan di sofa ruang tamu, lalu mengeluarkan sesuatu dan menyembunyikannya di balik punggung. Ia berjalan mendekati Haris yang menatapnya antusias, begitu sampai di hadapan ayahnya, Li An menyodorkan sebuah kartu undangan berwarna merah dan bertuliskan aksara mandarin 囍 (ShuangXi) yang berarti kebahagiaan ganda. Kedua mata Haris terpukau melihat undangan pernikahan yang disodorkan Li An. Sungguh kebahagiaan yang tak terucap lewat kata.


“Aku kemari untuk meminta restu ayah, karena aku ingin menikah disaksikan oleh kedua orangtuaku.” Ujar Li An


dengan pelan, ia betul betul bahagia.


Haris menyeka air mata bahagianya, ia membuka kartu undangan itu dan membaca nama pria yang akan menjadi


“Terima kasih ayah. Oya, kak Li Mei dan ibu sudah dipastikan hadir. Tinggal ayah yang harus kekejar, ayah harus


pergi. Aku tidak mau mendengar alasan dan penolakan.” Kecam Li An sambil tertawa menggoda ayahnya. Meskipun disampaikan dengan ringan, tetapi Li An serius mengharapkan kehadiran ayahnya. Seperti yang ayahnya katakan bahwa ia memang tidak peka pada sihir, tapi ia punya firasat tajam bahwa Xiao Jun sudah menemukan ayah mereka dan ia harus menyusul kemari secepatnya.


Haris tertawa mendengar kecaman Li An, “ Asal kau berjanji akan segera memberiku cucu. Ayah ingin secepatnya naik pangkat menjadi kakek.”


Li An mengangguk setuju lalu tertawa bersama. “Hmm, apa ayah juga punya peran tentang hubungan Li Jun dan


nona Yue Hwa? Ayah yang comblangin ya?”


Haris membantahnya, “Mereka saling tertarik secara alamiah. Aku tidak melakukan apapun, justru lewat Weini lah aku dipertemukan dengan Jun. Oh ya, jika kamu bertemu dia, jangan keceplosan memanggil nama aslinya. Di sini ia dikenal sebagai Weini, kamu harus ingat itu.”


Li An menyanggupi namun dengan satu syarat, “Tapi ayah harus serius pertimbangkan untuk segera beritahu Jun. Bila perlu besok aku dan dia akan kemari, aku janji dia pasti akan mengerti dan tidak mengacaukan rencana ayah. Bagaimana?”


“Kamu berani juga mengancam barteran pada ayahmu.” Canda Haris sambil tertawa, dan ia sepakat untuk


mempertimbangkannya. Hubungan Weini dan Xiao Jun dipertaruhkan karena masalah ini, dan Haris tidak tega merusak kebahagiaan Weini di hari ulang tahunnya beberapa hari lagi dengan memendam kesedihan dan kesendirian lagi.


***


Weini menyetir sendiri ke lokasi syuting, ia merasa sangat puas telah melampiaskan beban pikirannya dengan fokus


menyetir. Sesampai di sana, ada Dina yang berdiri di pintu parkiran. Ia sudah menanti Weini sejak kedatangannya setengah jam lalu dan tidak bersedia masuk duluan sebelum Weini datang. Ribut antara Xiao Jun dan Weini kali ini rasanya cukup berat, bahkan Dina itu diputuskan komunikasi dengan bos muda itu. Lau hanya pasrah karena Xiao Jun menolak terhubung dengan Dina yang mencemaskan keadaannya. Pengawal tua itu hanya meminta Dina bersabar dan menjaga Weini dengan baik selama masa cekcok mereka.


“Non!” Dina melambaikan tangan pada Weini. Artis itu tersenyum lalu berjalan menghampiri Dina. Dari senyuman Weini padanya, Dina merasa cukup lega. Setidaknya artisnya itu masih sanggup menghadapi kenyataan dengan mood yang lebih terkontrol, tidak seperti kemarin.


“Udah lama nunggunya? Kok nggak masuk dulu kak?”


“Barusan sampe kok makanya nunggu non parkir aja biar barengan.” Bohong Dina, padahal kedua lututnya sudah lemas berdiri.


Mereka masuk bersamaan dengan Grace yang hendak keluar dari pintu utama, gadis itu datang lebih awal dan hendak keluar entah kemana. Begitu berpapasan dengan Weini, ia melirik sekilas lalu menorehkan senyuman tipis. Weini membalas dengan senyuman yang lebih lebar dan manis, membuat Dina terbengong menatap kedua gadis itu secara bergantian. Ia cukup salut pada Weini yang tidak menaruh benci pada Grace, selebihnya Grace justru


yang terlihat aneh. Terlebih hari ini penampilan gadis itu tampak tidak asing, seperti meniru gaya seseorang.


Dina menjerit panik ketika ia sadar gaya siapa yang ditiru Grace, “Non sadar nggak si Grace kok gaya busananya


mirip non?”


Weini mengernyit heran, hanya sekilas lewat saja tak membuatnya memperhatikan Grace sepenuhnya, selain


senyuman gadis itu. Jika Dina benar, untuk apa Grace yang sudah fashionable meniru gaya busananya?


***