OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 24 DUA PILIHAN



Ketika hati disudutkan untuk memilih antara yang mencintai dan yang dicintai. Manakah yang kupilih?


__Quote of Yue Hwa aka Weini__


***


Kediaman Li San, Hongkong. Aula utama keluarga Li tengah dihias dekorasi bernuansa warna merah dan emas. Puluhan pekerja diforsir untuk menyelesaikan dalam kurun waktu dua jam lagi. Mood Li San sedang bagus, ia begitu murah hati memberikan bonus kepada pesuruhnya hingga semua mengerjakan dengan senang hati.


“Terima kasih sudah berinisiatif yang luar biasa untuk menyambut keempat putriku.” Liang Jia takjub melihat niat baik Li San. Hampir sepuluh tahun Liang Jia terpisah dari keempat anak perempuannya yang dikirim ke Amerika untuk sekolah. Akhirnya tiba hari di mana Li San sangat murah hati memberi ijin pulang sekaligus merayakan momen ini.


“Tidak perlu sungkan. Mereka juga anak-anakku.” Li San tertawa kecil, rona wajahnya memerah bahagia.


Liang Jia menatap lekat ekspresi suaminya. Belakangan ini ia melihat perubahan positif pada Li San. Pria yang di masa lalu seolah tanpa perasaan, kini mulai berbelas kasih terhadap darah dagingnya. Andai saja ia bisa berlaku sama terhadap Yue Hwa. Mata Liang Jia berkaca-kaca teringat putri bungsunya.


“Istriku? Istriku…” Li San berulang kali memanggil Liang Jia namun wanita di hadapannya sibuk dalam lamunan.


Liang Jia tersadar oleh suara berat suaminya. “Maaf suamiku, aku kurang enak badan.” Ia berpura-pura sakit kepala demi menghindari kemarahan.


“Sebaiknya kau kembali ke kamar dan istirahat. Putri kita akan tiba nanti sore, kau harus sehat untuk menyambut mereka.” Li San terlihat sangat perhatian. Ia menggandeng tangan Liang Jia dan menuntutnya ke kamar.


***


Derap langkah dua pasang kaki berlarian sepanjang koridor. Ini bukan adegan kisah asmara, namun lebih miris lagi mengisahkantentang perjuangan seorang artis pendatang baru yang mati-matian kabur dari kerumunan  penggemar.


Hosh… hosh… hosh… Napas dua gadis itu terengal-engal. Mereka sudah berada di lokasi aman dari serangan, meskipun harus pengap-pengapan. Toilet adalah tempat teraman untuk bersembunyi, namun pengorbanan berada di ruang sempit itu cukup menyiksa pernapasan.


“Segitu amat sih ini nasib. Emangnya aku sudah seterkenal itukah?” Weini menggerutu. Ia akan telat ke lokasi shooting jika masih terkurung di toilet.


“Lu nggak tahu ya? Tiap hari infotainment ngorek kegiatan lu. Muka lu mulu yang nongol di tv, bikin gue sebel.” Sisi ngos-ngosan menata napas namun masih berceloteh panjang lebar.


“Hah? Sebel kenapa?”


“Ya, gue temen artis tapi kagak pernah diajak masuk tipi.” Mulut Sisi mengerucut, protesnya kepada Weini justru terdengar lucu.


Weini menepuk jidat, di saat genting begini Sisi masih bisa mengada-ada. “Si, plis deh kita keluar dari wc dulu baru mikirin masuk tivi.”


“Serius nih? Minimal gue pengen ketemu idola lah, Stevan sayang.” Sisi melakukan negosiasi hingga Weini curiga mungkin ini strategi Sisi untuk mendapatkan impiannya.


Tiba-tiba ponsel Weini bergetar dari saku rok abu-abunya. Ia segera mengeluarkan dan melihat siapa yang menelpon. Nomor tidak dikenal menghubunginya. Weini langsung teringat nomor asing yang menghubunginya


tujuh kali kemarin, ia bahkan lupa menelpon balik. Bergegas ia terima panggilan itu, siapa tahu ini orang yang kemarin menghubunginya.


“Gile, lu bawa hape ke sekolah. Ketahuan sih mampus lu.” Weini masih bawel tanpa mengindahkan isyarat Weini agar ia diam.


“Halo”


“Weini, lu dah pulang sekolah?”


Weini shock mendengar suara pria di seberang. “Kak Stevan. Kok tumben telpon. Udah kelar sih..” saking terkejut ia sampai gelagapan bicara.


“Apa??? Stevan nelpon? Stevaannn…. I love you, wo ai ni, aku cinta kamu.” Sisi berteriak di dekat ponsel Weini. Saking berisik, Weini terpaksa membungkam mulut Sisi.


“Gue lagi otw sekolahmu. Kita ke lokasi bareng ya! Ini request yang nggak boleh ditolak loh.” Ujar Steven dengan nada santai, ia bahkan sempat tertawa kecil mendengar jeritan backsound dari Sisi.


“Eng… enggak usah repot kak. Aku pergi sendiri aja, ya…” Weini serba salah. Ia sendiri sedang terjebak di toilet, jika ditambah seorang artis ngetop lagi, bagaimana ia bisa keluar dari situasi ini?


“OTW. Ditunggu ya!”


Telpon diputus dari seberang. Weini pucat seketika. What the hell now…


***


Meeting produksi berjalan sempurna sesuai yang diharapkan Xiao Jun. Rancangan strategi pemasaran terstruktur dengan apik dan melibatkan kerjasama dengan ahli professional. Xiao Jun berpuas diri sejenak, bisnis barunya ia yakini akan berkembang pesat dalam waktu singkat. Direbahkan tubuhnya pada kursi direkturnya yang besar dan nyaman, kedua tangan ia silangkan ke belakang kepala.


“Si galak tidak menghubungi balik.” Ia melirik ponselnya yang sepi notifikasi. Hebat juga gadis itu tidak merasa penasaran dengan telpon bertubi dari nomor tak dikenal. Xiao Jun semakin terpicu rasa penasaran.


Lau yang baru setor muka di hadapan bos kecilnya langsung merasa senang mendapat pertanyaan pribadi seperti itu. “Di SMA dekat sini, Tuan. Kurang lebih dua puluh menit atau mungkin nggak selama itu.”


“Oh, baguslah.” Senyum Xiao Jun cukup misterius.


“Tuan ingin menjemputnya?” Lau berbinar dengan pertanyaan spontan itu.


“Tidak. Tapi mengutusmu menjemputnya. Antar dia pulang atau kerja.” Xiao Jun mematahkan harapan Lau dengan sangat cepat, tanpa membiarkan Lau menata hati untuk menerima kenyataan.


“Hmm… Jika itu keinginan anda , Tuan. Lau undur diri dulu.” Lau membungkuk hormat kemudian berlalu dari hadapan Xiao Jun.


***


“Cepat! Kita nggak bisa lari bareng nih. Gue bakal hadang mereka kalau masih ada, lu terus aja ke gerbang. Tapi imbalannya, lu harus temuin gue ke Stevan ya.”


“Ya ela, perhitungan banget Si.” Ujar Weini nggak habis pikir mengapa temannya segila itu terhadap Stevan.


“Buruaaaaan kabur!” Sisi gemes lalu mendorong Weini pergi dari hadapannya.


Tanpa buang waktu lagi Weini bergegas berlari menuju gerbang utama sekolah. Gawat kalau Stevan ketahuan datang lalu bikin keramaian. Sekolah terlihat sepi, Weini memperlambat derap kakinya. Ia tidak perlu berlebihan lagi karena tidak seorangpun yang membuntutinya. Sesampai di gerbang, pandangannya berkeliaran mencari mobil Stevan. Ponselnya bergetar, itu pasti dari Stevan.


“Ah, sial. Low bat di saat gini.” Drama yang mainstream banget ketika ia harus memastikan keberadaan rekannya, justru alat komunikasi satu-satunya tidak bisa diandalkan. Ponselnya kini mati total kehabisan baterai.


“Weini… sebelah sini.” Stevan keluar dari mobil dan berteriak kencang hingga memancing perhatian khalayak. Meskipun memakai kacamata hitam, tetapi figurnya tetap dikenali orang sekitar. Spontan pria tampan itu dikerumuni.


Weini menatap iba pada Stevan, mendadak ia dilemma. Jika ia datangi, maka mereka berdua akan terjebak kerumuman massa. Tapi jika ia tinggalkan Stevan, apa pria itu akan marah?


Baiklah kita hadapi bersama. Ujar Weini dalam hati. Ia melangkah mendekati Stevan yang kewalahan diajak selfie. Namun langkah Weini tertahan ketika melihat serombongan pria membawa kamera dan microphone dan tengah menyoroti Stevan.


“Arrrgghh kenapa ada wartawan di sini.” Weini panik. Ia enggan mendekati Stevan lagi atau mereka berdua akan jadi sasaran gossip.


Bunyi klakson mengejutkan Weini. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti sejarak tiga meter di belakangnya. Seorang pria menongolkan kepala keluar dari jendela mobil dan melambai ke arahnya.


“Nona Weini cepat naik!” Lau meminta Weini segera menyelamatkan diri ke dalam mobilnya.


Weini mengingat Lau dan tanpa ragu segera berlari masuk ke dalam mobil.


“Paman, kenapa kemari?” Weini duduk di samping Lau yang mengemudikan mobil sendiri.


“Saya baru pulang dari mengantarkan dokumen penting tuan yang ketinggalan. Tidak sengaja melihat kemacetan dan nona berada di depan saya.” Bicara soal bohong, Lau mungkin salah satu pakarnya. Weini yang jago seni peran saja tertipu mentah.


“Paman menyelamatkanku. Terima kasih banyak.” Weini kegirangan setelah lolos dari incaran media.


“Karena sudah ketemu, saya antarkan nona saja. Anda ingin pulang atau kerja?”


“Eh tidak perlu repot paman. Nanti turunkan saya di tepi


jalan saja, saya bisa naik taksi.” Weini sungkan merepotkan penyelamatnya lagi.


Mobil belum beranjak dari parkiran. Lau tidak akan bergerak sebelum Weini berhasil dibujuk untuk diantarkan kemana ia pergi. Sebagai pengawal yang setia, Lau enggan mengecewakan tuannya.


“Saya tidak repot, justru merasa terhormat bila anda berkenan saya antar kali ini. Lebih aman anda bersama saya sekarang daripada di jalan diincar massa lagi.”


Weini berpikir sejenak, ada benarnya ucapan Lau. Biasanya kesialan akan datang beruntun. Hari ini ia sudah dua kali dikerubuni orang, ia enggan terjadi ketiga kali dalam sehari. Jumlah itu bisa menyaingi jadwal minum obat jika kejadian lagi.


“Kalau begitu, tolong antar saya ke daerah Mampang ya, Paman.” Pinta Weini dengan sopan.


“Dengan senang hati Nona.” Lau tersenyum penuh kemenangan. Misi terlaksana, ia bisa memberi kabar baik pada Xiao Jun.


Mobil melaju meninggalkan Stevan yang terpaksa melayani wawancara dari beberapa wartawan. Weini terus memandangnya meski jaraknya makin jauh terpisah oleh laju kendaraan roda empat. Ia merasa bersalah pada lawan mainnya itu, gara-gara menjemputnya malah mendapat masalah.


Maafkan aku kak Stevan.


***