OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 304 PERSAINGAN CINTA VERSUS PERTARUHAN NYAWA



Li An menoleh pada Haris dan Xiao Jun sekali lagi sebelum ia masuk ke ruang tunggu. Ia tak bisa menunda lebih lama kepulangannya, masih ada persiapan pernikahan di depan mata yang menunggunya. Haris dan Xiao Jun melambaikan tangan dan tersenyum saat Li An menatap mereka, gadis itu berlari menghampiri ayahnya kemudian menghambur dalam pelukan pria itu.


“Ayah, aku mau dengar janjimu dulu sebelum aku pergi. Janji kalau ini bukan pertemuan kita yang terakhir, janji ayah pasti datang ke pernikahanku.” Rengek Li An. Ia tak peduli mendapat sorotan dari orang sekitar yang lalu lalang di bandara.


Haris tersenyum lalu mengangguk, “Kamu sudah jadi istri orang tapi masih bermanja pada ayahmu. Baiklah aku berjanji pasti datang, kamu jaga diri dan jadi istri yang baik bagi suamimu.” Ungkap Haris, ia melonggarkan pelukan putrinya.


“Kak, sudah waktunya boarding, kamu harus segera masuk.” Xiao Jun mengingatkan kembali, jika terus bergelayut dan melanjutkan acara mewek ini bisa dipastikan Li An akan ditinggalkan pesawat.


Li An manyun, wajahnya berubah sedih. “Berat tahu, ninggalin kalian. Aku ingin kumpul lebih lama lagi.”


Xiao Jun melototi Li An setelah itu tersenyum. Li An ikut tersenyum dan mengangguk pada ayahnya. “Oke, kali ini aku serius pamit. Sampai jumpa di Beijing ayah, Jun.”


Li An berjalan mundur menjauhi kedua pria yang ia sayangi, biarlah langkahnya yang terus maju meskipun pandangannya tetap terpaku pada mereka. Haris melihat sedikit lagi putrinya akan menabrak tiang, dengan


kekuatan sihir ia membuat tubuh Li An berbalik. Gadis itu tersentak karena tubuhnya terasa sensasi seperti gasing yang diputar, namun saat sadar nyaris menabrak tiang, ia sadar ayahnya baru saja menolongnya.


Xiao Jun takjub melihat kebolehan ayahnya, di tengah keramaian tidak ada yang sadar apalagi peka dengan sihir yang barusan terjadi. Namun Xiao Jun tahu, ia bangga bisa menyaksikan ayahnya mempraktekkan sihir di depannya. “Ayah, aku belum sampai di level itu.” Ungkap Xiao Jun polos.


“Dalam buku sihir kuno tertulis jurus ini, kamu belum belajar sampai di tahap ini? Kalau begitu, kamu harus privat padaku.” Canda Haris. Ia tentu senang dapat mengajarkan pada putranya, yang memang semestinya ditunjuk sebagai pewaris.


Xiao Jun berbinar mendengarnya, “Sungguh? Kapan bisa kita mulai ayah?”


Setelah Li An sepenuhnya masuk ke dalam ruang tunggu, kedua pria itu berjalan meninggalkan bandara. Haris tertegun sejenak melihat antusias Xiao Jun belajar sihir darinya, hanya saja kemampuan Xiao Jun masih sangat dangkal dan jauh tertinggal dari Weini. Ia perlu mengetes putranya sebelum memberikan pelajaran serius itu.


“Kapanpun kamu siap, ayah tidak masalah. Asal tidak mengganggu waktu kerjamu.” Ungkap Haris.


***


Grace kebagian peran bersama Stevan dalam tiga scene yang syuting hari ini. Weini akhirnya punya kesempatan duduk manis menyaksikan kerja pemeran lain sambil menunggu bagiannya. Ia tersenyum begitu melihat foto yang


dikirimkan Xiao Jun padanya di bandara bersama Li An. Weini jelas menyayangkan kesibukannya yang setiap hari tersita oleh syuting membuatnya tidak punya waktu luang untuk melakukan hal lain, jika waktunya bentrok dengan kerja. Tidak seperti Xiao Jun yang fleksibel mengatur waktu dan bisa mendapatkan momen bagus seperti sekarang.


“Ciyee, wallpaper hapenya ganti nih.” Dina tiba-tiba mencondongkan kepala mengintip ponsel Weini yang memamerkan foto selfie bersama Xiao Jun. Foto pertama mereka sebagai pasangan yang baru diambil kemarin malam, saking senangnya Weini langsung memasangnya sebagai tampilan di layar ponselnya.


Weini membalikkan ponselnya, malu digoda Dina yang masih bersiul genit. Dina makin tertawa melihat reaksi Weini yang menahan malu dan berusaha menyingkirkan Dina dari hadapannya.


“Iya deh iya, yang lagi malu malu kucing. Ha ha ha … Oya non, kakak Xiao Jun pulang hari ini ya? Sayang banget aku baru ketemu sekali, cantik banget ya. Kulitnya bisa putih mulus gitu ya kayak artis Korea. Gemesin deh.” Ujar Dina, ia kini menjadi penggemar Li An. Mereka baru bertemu sekali namun langsung klop terutama saat menggoda Xiao Jun dan Weini.


“Cut! Sempurna!” Pekik sutradara menyudahi bagian Grace dan Stevan. Kedua pemeran itu tersenyum dan berterima kasih mendapatkan tepuk tangan dari kru. Weini dan Dina otomatis melupakan obrolan sebelumnya,


mereka ikut menatap pada dua bintang itu.


Weini menebar senyum seraya bertepuk tangan untuk mereka, di saat itu Grace memandang ke arahnya lalu dengan cepat memalingkan wajah. Dina menyadari perubahan ekspresi Grace dan tak kuasa jika tidak


mengomentarinya. “Dibaikin masih aja nggak tahu diri. Heran deh tuh wanita maunya apa.” Sewot Dina.


Weini tak berkomentar, sejak insiden di toilet kemarin mungkin Grace masih perlu waktu berpikir. Yang jelas Weini serius menawarkan persahabatan dan akan menunggu Grace siap membuka diri. “Pindah ke ruangan yuk, kak.” Weini berdiri lebih dulu lalu berjalan meninggalkan studio.


Grace menatap kepergian Weini, bola matanya membesar demi mengekori bayang gadis itu. Grace menghela napas berat, ia secara tak langsung terjebak dalam dilema yang sangat menyudutkan. Grace menghampiri Fang


Fang yang menunggunya di sudut studio, “Istirahat ke ruangan aja, mana ponselku?”


“Tas nona ada dalam ruangan.” Jawab Fang Fang pelan.


Grace mengangguk tak mempersoalkan lagi, mereka berjalan menuju ruang istirahat para pemeran utama. Saat Fang Fang mempersilahkan Grace masuk lebih dulu, mereka mendapati Weini juga berada dalam ruangan itu. Grace tak menyangka, biasanya Weini suka menghabiskan waktu di studio namun sekarang justru berada satu ruang dengannya. Kehadiran Grace sudah terlihat Weini, ia tak bisa secara frontal pergi begitu saja. Setidaknya ia


harus menahan diri sejenak hingga ponselnya berada di tangan.


Weini menatap lembut pada Grace saat gadis itu melangkah masuk dan menempati sofa di bagian ujung. Grace menciptakan jarak di antara mereka, tapi Weini masih bersyukur karena Grace tetap bertahan, biasanya gadis itu langsung balik badan begitu melihat Weini di ruangan ini.


Fang Fang menyodorkan tas pada majikannya, Grace dengan sigap meronggoh isi tas itu hingga mendapatkan ponselnya. Ia tahu Weini menghadiahinya senyuman manis, meskipun hanya meliriknya lewat ekor mata. Biarlah,


Grace belum siap menerima tawaran persahabatan dari Weini. Tidak semudah membalikkan telapak tangan, harus berteman dengan gadis yang memperoleh begitu banyak cinta dari pria yang dicintainya.


Bola mata Grace membesar, ia tak mampu menutupi rasa terkejutnya. Ketika ponselnya dinyalakan, sebuah pesan masuk dari Chen Kho membuatnya merinding. Grace merasa sesak membaca pesan itu, terasa menusuk seakan terselip belati tajam.


Kesempatan sudah di depan mata, sekarang atau tidak sama sekali! Kamu harus menyelesaikan sisanya.


Tangan Grace bergetar, ia tak mampu lagi bertahan duduk di sana. Melihat Weini di dekatnya hanya membuatnya merasa sakit. Grace tak habis pikir, ini hanya masalah persaingan cinta antara ia dan Weini, tapi kenapa yang tampak lebih terobsesi menyingkirkan Weini justru kakaknya? Mengapa nyawa Weini lebih menarik bagi Chen Kho?


***