
Siapa gerangan itu? Yang membuat hatiku risau tak menentu
Menghujamkan sinis tepat di depanku, tanpa ampun.
Jika ini maumu, jika cinta itu telah membutakannalarmu
Aku hanya bisa mengikuti permainanmu
Quote of Weini aka Yue Hwa
***
Hampir semua orang yang berada dalam ruangan itu berdiri menyambut kedatangan Stevan dan Weini, kecuali seorang gadis yang duduk dengan wajah angkuh dan senyuman tipis. Stevan melihat jelas raut wajah tidak
senang gadis itu yang tertuju pada Weini. Aktor itupun menatap reaksi Weini yang ternyata cukup membuatnya lega, Weini tampak tenang dan memberi senyuman pada gadis sinis itu. Meskipun keramahannya malah berbalas tak setimpal, gadis angkuh itu membuang muka seolah tak melihat Weini di sana.
Stevan menarik lengan Weini dan menggiring gadis itu duduk di kursi kosong yang bertuliskan nama mereka. Para cast akan duduk sesuai jatah kursi dan saling berjejeran sesuai porsi peran mereka. Stevan sedikit terkejut saat mendapati kursinya persis di sebelah gadis angkuh itu, yang sekaligus menandakan bahwa perannya cukup berpengaruh dalam film tersebut.
“Santai aja.” Weini malah berbisik dengan raut yang tetap tenang, seolah tidak sedang berbicara dengan Stevan. Namun Stevan tahu dari bahasa tubuh Weini yang menarik lengan kemejanya, ia tahu bahwa kata-kata itu ditujukan padanya. Dalam hati Stevan tak habis pikir, bagaimana bisa Weini setenang itu padahal Stevan saja begitu mengkhawatirkannya.
Sutradara mulai mengenalkan para pemerannya dan mengarahkan seluruh cast untuk membaca naskah yang sudah dipersiapkan. Dari situlah Stevan tahu nama gadis angkuh itu, gadis yang sesekali mencuri tatapan
kepada mereka.
“Perkenalkan pula bintang baru kita yang akan menjadi peran pendukung wanita, Grace Li.” Ujar sutradara itu yang kemudian disambut ucapan terima kasih dari Grace.
Weini agak tersentak, bukan karena takjub pada nama latin yang bagus itu, namun karena merasa tak asing dengan nama itu, terutama nama belakangnya. Li? Dia bermarga Li juga? Gumam Weini dalam benak. Entah kenapa beberapa orang yang berurusan dengannya berasal dari Hongkong dan harus bermarga sama dengannya. Apa sedemikian banyaknya populasi orang bermarga Li di dunia, sehingga secara bersamaan ia hanya mengenal orang yang semarga dengannya.
***
Ada yang lain dengan sikap Dina, ia yang biasanya ceria dan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, kini seakan kehilangan taringnya. Setelah seorang wanita yang ia taksir usianya kurang lebih sebaya dengannya masuk ke dalam ruang tunggu bersamanya. Dina tak habis pikir ada orang lain yang juga diijinkan masuk dalam ruangan khusus untuk pemeran utama itu selain yang berkepentingan seperti dirinya. “Hai, kamu nggak salah ruangan
kah?” Tanya Dina dengan nada yang sedikit lembut demi menjaga perasaan lawan bicaranya.
Wanita yang sedari tadi duduk diam tanpa memerhatikan sekeliling – bahkan keberadaan Dina – itu menoleh pada orang yang mengajaknya bicara. Wajah ramah Fang Fang mengumbarkan senyuman yang sekaligus
menggugurkan image buruknya di mata Dina. “Tadi ada staf yang menyuruhku menunggu di sini, katanya ini juga ruangan nonaku.”
Dina terheran-heran, seingatnya tempelan tulisan di depan pintu jelas hanya menuliskan nama dua orang yakni Weini dan Stevan. “Masa sih? Perasaan tadi aku datang ini ruang khusus untuk pemeran utama.
Fang Fang tersenyum, “Kalau tidak percaya, coba dicek aja kak.”
Jawaban yang penuh percaya diri itu terdengar menyebalkan oleh Dina, terlebih wanita itu memanggilnya dengan sebutan ‘kak’ padahal mereka terlihat sebaya. Dina tak menjawabnya, ia berdiri kemudian melangkah keluar untuk membuktikan bahwa ia tidak salah membaca. Ketika pintu tertutup sempurna dari luar, Dina dengan mata terbelalak membaca kertas yang tertempel di sana sudah berubah.
Dina membaca dalam hati lalu menggerutu, “What the … Kapan berubahnya?”
Manager itu menyenderkan tubuhnya di dinding, setelah tahu ruang itu sudah dimonopoli orang lain, ia kehilangan minat untuk berdiam di sana, seruangan dengan orang yang tiba-tiba bisa menyerobot yang bukan haknya.
“Grace Li … Grace Li ….” Dina menggaruk alisnya, otaknya dikuras untuk mengingat kapan dan di mana ia pernah mendengar nama itu.
***
Selama dua jam Weini berkutat dengan proses baca naskah, segalanya berjalan lancar dan harus ia akui bahwa Grace memang cocok dengan peran yang didapuknya. Casting yang menyita waktu panjang hanya demi mencari pemeran itu ternyata malah jatuh ke tangannya. Andai saja Grace tak pernah datang ke Jakarta, entah sampai kapan sutradara dan para petinggi di managemen ini akan mencari pemeran yang cocok. Semakin Weini pikirkan,
segalanya terasa bukanlah karena kebetulan.
“Balik ke ruangan yuk.” Stevan menepuk pundak Weini dari belakang yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh Weini.
Grace yang tampak sendirian itu tidak berusaha mengakrabkan diri di sela istirahat, ia melenggang dengan anggun yang setengah dibuat-buat dan nyaris menyenggol Weini ketika melewatinya. Stevan agak geram dengan tingkah arogan Grace, gadis itu sangat angkuh untuk kalangan pendatang baru di kancah hiburan. Ia nyaris melontarkan kata kasar padanya jika bukan karena Weini terus menahannya.
“Kenapa lu bisa setenang itu? Biarkan gue kasih dia pelajaran, biar tahu sopan santun sama senior.” Cecar Stevan saat memastikan hanya Weini dan dirinya yang berjalan di koridor itu.
“Wah, udah pake sistem seniorita nih? Nggak usah digubrislah, dia hanya cari perhatian.” Ujar Weini kalem. Namun Stevan tampak tidak sependapat dengannya, pria itu cemas kehadiran Grace dalam lingkungan kerja Weini ini akan berdampak buruk.
“Lebih baik kita mencegah dia berbuat lebih jauh, kalian sudah cukup pusing bersaing dalam cinta, jangan merambat sampai dunia kerja juga.” Ungkap Stevan sembari membagi perhatiannya pada tatapan di depan dan
menatap Weini.
Weini menoleh pada Stevan, ia perlu menyampaikan lewat sorot mata yang serius juga. “Tapi aku tidak pernah menganggap dia sebagai saingan. Cinta itu bukan kompetisi, yang penting aku dan Xiao Jun tahu gimana harus menghadapinya.”
Stevan nyengir, jawaban yang sangat optimis itu nyaris tak dapat ia percaya terlontar begitu mudah dari seorang Weini yang kapan hari sudah pesimis memperjuangkan cintanya. “Lu diapain sama si bos itu? Dalam satu malam
pikiran lu bisa berubah total, habis dicuci otak ya sama dia? Baguslah, kalau lu seyakin itu gue juga nggak punya alasan buat khawatir.”
Weini tertawa kecil, “Kalau boleh jujur, aku kasian sama dia. Masih sangat muda, waktunya hanya terbuang sia-sia di sini.”
Stevan menghela napas, “Ya, moga aja yang lu pikirin itu benar. Feeling gue cuman nggak tenang, gue nggak yakin dia selemah itu dan nggak berniat melakukan sesuatu ke lu. Lu jangan terlalu menyepelekan musuh, mengasihi
sih boleh aja tapi nggak nyodorin seluruh hati lu ke dia. Yang ada dia manfaatin buat nikam lu!”
Dan pembicaraan mereka otomatis berakhir saat mendapati Dina yang mondar mandir di depan pintu ruangan mereka. Manager cantik itu menyadari tengah ditatap oleh orang yang ia nantikan, ia segera melambaikan tangan walaupun dengan tampang yang sangat kusut.
***