OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 35 YANG LALU BIARLAH BERLALU



Aku tak mampu menahan lajunya waktu, pun tak sanggup mencegah yang ingin pergi dari sisiku.


Mereka yang datang lalu pergi, biarlah berlalu…


Ku hanya berharap dapat menghabiskan sisa hidup bersamamu


Ya… Kamu yang selalu bertahan hingga ujung penantian.


__ Quote of Yue Hwa aka Weini__


***


Hujan deras menghalangi kehangatan sinar mentari di tengah siang. Chen Kho terpaksa menunda rencananya untuk pelesiran ke luar kota. Saking bosan berada di dalam kamar, ia nekad mengitari seluruh sudut kediaman Li San. Pengawalnya terpaksa memayungi agar pakaiannya tidak basah, atau pria itu tak segan menghukumnya.


Selama berada di rumah bak istana milik pamannya, ia sudah banyak mempelajari kelemahan serta kekuatan tersembunyi sang tuan rumah. Ia tak habis pikir, Li San yang memiliki kekayaan dan kekuasaan terkuat di Negara


ini bisa semudah itu percaya ada anak pungut. Ia tak akan membiarkan seluruh harta yang tidak habis sepuluh keturunan itu diwariskan pada orang luar.


“Ke paviliun nona Yue Xin!” Chen Kho mengambil langkah ke kanan. Pengawalnya kewalahan menyeimbangkan kecepatan langkah dan rela basah kuyup demi memayungi sang tuan.


Para nona muda itu dipindahkan ke paviliun masing-masing agar menghindari percekcokan. Semenjak kembali ke kediaman ini mereka tak lagi akur bahkan terlihat jelas membentuk dua kubu. Chen Kho justru yang paling diuntungkan dari perselisihan saudara di antara mereka, setidaknya ia tahu siapa yang bisa didekati untuk melancarkan misi.


Chen Kho menghentikan langkah, pendengaran tajamnya menangkap suara orang yang ia cari berada dekat. Ia menyusuri lorong mengikuti sumber suara.


“Kau ingin membunuhku? Sudah tahu aku alergi bawang putih, kenapa masih kau tambahkan ke dalam supku?”  lengkingan suara Yue Xin menggelegar di dapur yang luasnya setara sebuah rumah tipe 45. Ia menghakimi Li An yang dituduh ingin mencelakakannya.


“Saya sungguh tidak memasukkannya dalam makanan anda. Sup itu hanya berisi sayuran, jamur, daging, dan beberapa rempah obat.” Li An dipaksa bersujud dan mengakui kesalahan yang tidak diperbuat. Sejak kakaknya


menikah dan pindah keluar kota, ia sering menjadi sasaran keisengan dua nona muda.


“Kalau begitu, habiskan semua masakanmu!” Yue Xin menyuruh pengawalnya menyorongkan kepala Li An ke dalam panci berisi sup.


“Paksa dia makan!” Yue Xiao tak mau ketinggalan jatah penyiksaan. Duo bersaudara itu memang cocok menjadi diktator.


Mulut Li An dibuka paksa dan tangannya terikat seutas tali tambang. Ia meronta sekuat tenaga dan menangis ketakutan. Xin Er terbelalak melihat penyiksaan sadis kepada putrinya di depan mata. Mangkuk kosong yang ia ambil dari kamar Liang Jia terjatuh dan pecah. Ia segera berlutut memohon pengampunan untuk buah hatinya.


“Nona, saya mohon lepaskan Li An. Ia bisa mati jika anda terus menyiksanya.” Xin Er menangis sejadi-jadinya. Hatinya hancur, remuk tak terkira. Ia tak punya kekuatan untuk melindungi Li An, gadis malang itu sudah banyak mengalami kesusahan karena dua putri manja itu. Entah apa yang membuat mereka sangat membenci Li An.


“Kepala pelayan yang tak tahu diri, beraninya kau ikut campur urusan kami. Walaupun dia anakmu, tapi kau tidak bisa menutupi kesalahannya.” Yue Xiao membentak Xin Er. Baginya ibu dan anak itu tak lebih dari duri dalam daging yang harus dilenyapkan.


“Cepat cegoki dia!” Yue Xin memberi perintah ulang setelah sempat terhenti karena Xin Er.


Li An meronta, air matanya tumpah ruah. Berharap datangnya seorang penyelamat yang diutus Tuhan untuknya. Ia semakin menjerit saat melihat ibunya bersujud sampai membenturkan kepala dengan keras untuk menggugah hati kedua putri.


“Hentikan! Ini sudah keterlaluan!” Chen Kho menggebrak pintu hingga engselnya terlepas. Kehadirannya membuat Yue Xin dan Yue Xiao tercengang. Bergegas mereka mengisyaratkan pengawalnya untuk melepaskan Li An.


“Ko Chen Kho, dia sengaja mencelakakanku!” Yue Xin menunjuk Li An yang tersungkur lemas.


Chen Kho menatap gadis malang itu, kulit putih merona dan wajah yang tercipta cantik itu memesona hatinya. Ia tahu gadis itu adalah putri Wei, tetapi ia tak mengira kecantikannya melebihi keempat putri bahkan ia belum pernah melihat gadis secantik ini. Chen Kho mulai paham mengapa kedua sepupunya tidak menyukai Li An.


“Hanya kematian seorang pelayan. Ayah tidak akan semurka itu. Nyawa mereka tidak ada artinya.” Ujar Yue Xiao dengan sombong. Ucapannya setajam belati yang merobet hati Xin Er dan Li An.


“Jangan sesumbar. Langit punya jaring loh, terlalu semena-mena bisa membuat langit murka. Lepaskan dia dan jangan mengganggunya lagi, atau aku akan katakan yang sebenarnya pada paman.” Chen Kho mengancam Yue


Xin dan Yue Xiao. Ia jelas tahu semua rencana sepupunya untuk memfitnah Li An.


Mereka berdua terpaksa menuruti kehendak Chen Kho, bukan karena takut ancamannya tapi mereka tahu betul Li An adalah kakak kesayangan Xiao Jun. Jika Xiao Jun memohon keadilan pada ayahnya, mungkin nasib mereka akan menyusul Yue Hwa. Di mata sang ayah, Xiao Jun layaknya putra mahkota yang tak boleh diganggu, bahkan oleh anak kandungnya sekalipun.


***


Weini berdiri di depan jendela kelas, matanya memonitori pergerakan siswa di lapangan. Ia mulai cemas pada Sisi yang sudah tiga hari tidak masuk sekolah, bahkan ponselnya tidak aktif. Ia sendiri tidak bisa ke rumah sahabatnya itu lantaran jadwal shooting yang padat sepulang sekolah.


Pucuk di cinta ulampun tiba. Weini tidak perlu mengunjungi Sisi, gadis bawel itu sudah terlihat batang hidungnya sedang berjalan di lapangan. Weini segera beranjak dan berniat menyambut Sisi di depan pintu kelas. Diraihnya catatan pelajaran kemarin untuk disodorkan pada sahabatnya.


“Sisiiiiii… Kau muncul juga. Nih catatan selama kamu nggak masuk.” Weini sumingrah. Buku bercorak sampul batik itu masih terjulur untuk Sisi.


Seolah tak melihat dan mendengar, Sisi berlalu begitu saja meninggalkan Weini. Tingkah tak lazimnya membuat Weini sadar ada yang tidak beres dengan gadis yang selalu bersemangat itu.


“Si?” Weini menepuk pundak Sisi.


Spontas Sisi menepis tangan Weini. “Minggir!” bentak Sisi kasar.


“Kamu kenapa Si?” Weini makin heran perubahan sikap Sisi terhadapnya begitu frontal. Ia merasa tidak melakukan kesalahan.


Sisi menoleh ke belakang. Kini mereka berdua saling berhadapan. “Mulai sekarang, gue bukan temen lo lagi!”


“Alasannya?” Weini menahan diri, meski sangat terkejut tapi ia berusaha terlihat tenang.


“Lu gak layak disebut temen.” Ujar Sisi sinis. Ia muak melihat kelembutan dan kebaikan Weini.


“Owh… Okay, kalau itu maumu.” Balas Weini lempeng. Tapi jawaban yang dingin itu semakin memancing emosi Sisi.


“Gue nggak sudi punya temen yang dinaksirin sama cowok yang gue cintai!”


Deg! Weini tersontak kaget. Ritme jantungnya berdetak lebih kencang. Buta cinta ternyata bisa membuatnya kehilangan sahabat. Sekarang ia sadar mengapa Stevan juga bersikap pasif kepadanya, pasti terjadi sesuatu ketika Stevan dan Sisi pulang bersama waktu itu.


“Kamu diapain kak Stevan?” Weini mencoba bersikap lembut. Siapa tahu Sisi masih bisa berubah pikiran.


“Nggak usah muna deh. Gue muak. Jangan pernah usik hidup gue lagi!” Ujar Sisi tanpa menjaga suara, ia tak peduli pertengkarannya menarik perhatian murid lain.


“Oke, kalau itu maumu. Sama halnya dengan persahabatan, cinta juga nggak bisa dipaksakan!”


Weini meletakkan buku ke atas meja lalu menghindari bertabrakan dengan Sisi. Lebih baik ia menghirup udara segar di luar, melepaskan yang memang ingin pergi. Yang lalu, biarlah berlalu…


***