OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 528 MUSUH DALAM KEGELAPAN



“Mereka datang! Cepat ambil posisi!” Pekik Dina dan berlari tidak sabaran menuju tempat persembunyiannya di dalam lemari. Ia menggeser pintu kemudian bersembunyi dalam lemari besar dan kosong, sementara yang lain ada yang menempati belakang sofa bahkan di kamar mandi.


Weini datang bersama Xiao Jun dengan langkah pelan. Gadis itu masih tak mengerti mengapa Xiao Jun membawanya datang ke hotel. Meskipun privasi mereka aman, namun tetap saja terasa aneh dibawa pulang ke tempat ini. Sesampainya di depan pintu, Xiao Jun menyodorkan kartu kepada Weini. Dari tatapannya menandakan bahwa ia mau Weinilah yang membuka pintu itu.


“Bukalah.” Pinta Xiao Jun singkat dan lembut.


Weini menyorotinya dengan tatapan heran, ingin tersenyum namun belum cukup kuat untuk itu. “Jun, jangan aneh aneh deh.” Pinta Weini yang berfirasat kurang enak sejak tadi.


Xiao Jun tertawa kecil melihat kecurigaan Weini, untung saj gadis itu tidak bisa membaca pikirannya, andai bisa tentu saja sulit untuk merahasiakan apapun darinya. “Tenanglah, nggak aneh kok. Ini masih taraf normal.” Gumam Xiao Jun kemudian mengangguk pelan, meminta kesanggupan Weini untuk membuka pintunya.


Kartu kunci itu ditempelkan di gagang pintu, tak lama kemudian terdengar suara pertanda pintu sudah bisa dibuka. Weini masih sempat menoleh ke samping, melihat wajah Xiao Jun agar bisa sedikit meyakinkan.


“Buka saja, Hwa.” Pinta Xiao Jun lagi, sementara ia hanya berdiri dengan santainya di sana. Tak berniat membantu Weini membukakan pintu.


Ceklek. Weini pun meraih gagang pintu dan membukanya, sekeliling terlihat sangat gelap. Hanya berbekal sedikit pencahayaan dari luar dalam kondisi pintu yang sedang terbuka. Xiao Jun merangkul pinggang Weini dari samping, menuntunnya masuk bersama sama. Weini menancapkan kartu kunci di saklar, namun tercengang karena tidak ada reaksi apapun yang terjadi. Kondisi kamar masih gelap gulita, ia menariknya keluar lalu memasukkan lagi. Mengira bahwa ia salah menancapkan benda itu.


“Jun, kartunya rusak ya? Kok nggak nyala?” celetuk Weini yang sudah menyerah pada kartu itu. Pintu sudah ditutup kembali oleh Xiao Jun hingga membuat mereka berdua seperti terperangkap dalam kegelapan.


Tiba-tiba Weini merasa tubuhnya ringan, kakinya seperti mengambang dan pendengarannya seperti menangkap suara dengungan. Perasaan yang tidak asing, pernah ia rasakan sebelumnya dan ia merasa ketakutan. Jantungnya berdegup kencang, ia seperti berada dalam dimensi yang lain dan bukan berasal dari kehidupan ini. “Junn....” Pekik Weini kencang, namun yang dipanggilnya tidak ada di dekatnya. Suara Weini mental seketika, menggema dalam kegelapan tanpa sekat.


Weini limbung, bingung tak tahu harus berbuat apa dalam jebakan dimensi gaib. Ia tidak paham situasinya, siapa yang menariknya masuk ke sana serta apa yang diinginkan darinya. “Jun... kamu di mana?” Lirih Weini, masih berusaha mencari kekasihnya. Hingga kepekaan sihirnya menangkap gelombang energi yang sama seperti miliknya, sangat kuat dirasakan bahkan sampai membuat Weini terkesiap.


“Siapa? Aku yakin ada yang di sini kan! Keluarlah!” pekik Weini lantang, meskipun hatinya terselip rasa takut namun pantang baginya untuk mundur. Ada seseorang yang punya kepentingan khusus dengannya, dan akan ia hadapi jika memang tak terhindarkan. Weini memutar tubuhnya ke beberapa arah, tapi pekatnya gelap sangat tidak bersahabat, ia tidak bisa melihat apapun.


Gelap... aku tidak mungkin seperti ini terus. Andai ada sinar untuk penerangan, andai ada sihir pendatang cahaya. Lirih Weini, ia terus memikirkan cara dalam hatinya. Bak harapan yang terkabulkan dalam waktu singkat, Weini menyadari ada seberkas sinar yang menyoroti sekeliling, senyumnya menyungging, hatinya semakin mantap meyakini bahwa kekuatan pikirannya bukanlah main main. Ia telah menciptakan sebuah sihir baru lagi, sihir yang benar benar murni dari dirinya. Bukan dari klan Wei ataupun dari Klan Li.


Tubuh Weini mengeluarkan sinar dari pori pori kulitnya, membuat ia leluasa memandangi sekitar. Ia membuka lebar kedua matanya, mengedarkan pandangan ke sekeliling dan tidak menemukan sekat apapun. Ia seolah terkurung dalam ruangan tanpa batas. Namun Weini kembali terkesiap karena merasakan gelombang sihir yang kuat itu kini berada sangat dekat dengannya. Ia tahu di mana arah datangnya sihir itu kemudian dengan sigap menoleh ke sana, berharap bisa melihat si pemiliknya.


Seorang wanita muda berparas cantik dengan dandanan serta penampilan yang kuno, mengenakan hanfu yang Weini yakini berasal dari era dinasti Tang. Tatapan wanita itu menyorotkan kebencian yang mendalam pada Weini, seolah sangat mengenalinya bahkan punya dendam pribadi padanya. Pertanyaan yang tercetus dari Weini pun tidak digubris, sosok wanita yang melayang di hadapan Weini itu hanya ingin menghakiminya lewat pancaran mata penuh kebenciannya.


“Kamu bukan tuanku, tapi kenapa kamu memiliki kekuatan tuanku? Di mana sekarang tuanku?” Wanita itu berteriak murka, mengibaskan selendang panjangnya yang ternyata memiliki kekuatan besar. Kibasan itu mendatangnya angin kencang yang menyerang ke arah Weini. Weini tak siap dengan serangan itu sehingga langkahnya terseret mundur beberapa langkah. Tangannya reflek melindungi wajahnya, dalam keadaan ini ia tak mampu berpikir langkah apa yang harus ia lakukan? Jurus sihir apa yang harus ia keluarkan. Pikirannya tersendat, Weini kacau oleh situasi yang mencekatnya. Kekuatan yang sangat besar, bukan dari manusia bahkan Weini belum pernah menghadapi lawan sekuat ini. Tiupan angin itu sirna seiring selendang wanita itu yang kembali ia tarik balik.


Wanita itu kembali melayang mendekati Weini, menatap dengan sorotan nanar yang sangat menakutkan. Weini memperbaiki posisi berdirinya, sihir barunya masih bekerja, mengeluarkan berkas cahaya dari sekujur tubuhnya. Wanita itu menanti jawaban Weini, sikap diamnya itu pertanda ia memberi kesempatan pada Weini untuk menjawab pertanyaannya. Tapi sepertinya Weini tidak memahami maksud hati wanita itu.


“Aku tanya sekali lagi, di mana tuanku!? Kenapa kau memiliki kekuatannya? Kau membunuh tuanku?” Pekikan wanita itu sangat dasyat, menggetarkan tempat di mana Weini berpijak.


“Aku tidak mengerti apa yang kau tanyakan, siapa tuanmu? Siapa namanya? Aku tidak mengambil kekuatan siapapun, guruku hanya satu. Wei Ming Fung!” jawab Weini dengan lantang, namun sorot matanya teduh menatap lawannya yang terlihat garang. Berharap bisa meredakan luapan emosi yang besar dari wanita itu, kemarahan yang membabi buta dan belum jelas motifnya yang ditujukan pada Weini.


Wanita itu mengeram, suara napasnya yang kasar terdengar. Jelas menandakan bahwa ia bukanlah manusia, melainkan makhluk gaib yang belum Weini ketahui dari mana asalnya. Pakaiannya yang kuno, meskipun kecantikannya melenakan dan tak termakan jaman tapi tetap saja kehadirannya menandakan bahwa lawan Weini berasal dari mahkluk yang tak kasat mata.


“Kau berani berbohong! Aku memberimu kesempatan bicara tapi kau terus berbohong! Di mana tuanku!? Di mana dia!?” pekikan wanita itu bukan hanya menggetarkan pijakan Weini, namun dari mulutnya memercikkan api yang menyambar ke arah Weini.


Sontak Weini menghindar, tubuhnya dengan reflek menggerakkan sihir terbang hingga ia bisa menghindari kobaran api itu. Pikiran Weini goyah, memikirkan kata kata yang barusan wanita itu teriakkan. Dia? Apakah ‘dia’ yang dimaksud sama dengan ‘dia’ yang waktu itu Chen Kho ceritakan? Weini terus berpikir hingga tak menyadari bahwa wanita itu mengibaskan lagi selendangnya.


“Aaarrrgghhh!” Weini lengah dan selendang itu mengenai kakinya, menyeret satu kaki Weini yang sedang melayang kemudian melemparkan tubuhnya ke bawah.


Weini meringis kesakitan, rasa sakit yang nyata ia rasakan. Walaupun ini di dimensi lain, tapi tetap saja bisa melukai dirinya. Selendang itu terlepas, tak lagi menjerat kaki Weini kemudian terbang kembali pada pemiliknya yang masih melayang di atas. Sorot mata tajamnya menghujam ke arah Weini, mungkin kali ini tanpa pengampunan lagi.


Weini sadar dirinya masih terancam, jika tidak segera bertindak, bukan tidak mungkin ia akan mati dalam dimensi ini. Sendirian, dan tak terselamatkan oleh siapapun karena hanya ada dirinya dan wanita penguasa kegelapan itulah yang ada di sini. “Aku... sama sekali ti... dak tahu siapa dia. Siapa dia?” Lirih Weini terbata bata, tubuhnya terasa lelah dan kesadarannya semakin tak terkontrol lagi. Sekuat tenaga ia menahan dirinya agar tidak memejamkan mata, sekalipun berat sekali kelopak matanya untuk terus terbuka. Weini merasa jika ia terpejam mata, mungkin untuk selamanya ia akan terus menutup indera penglihatannya itu.


Bersambung....


❤️❤️❤️