OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 437 JANGAN LAGI ADA KORBAN



Rasa sesak begitu kentara dirasakan oleh Kao Jing, perasaan yang sulit dijelaskan tetapi terasa perih di dalam hatinya. Kao Jing memegangi dadanya, ada yang begitu memukul perasaannya dan ia merasa sangat kehilangan.


"Aaaarrghhh!" Pekikan Kao Jing memecah kesunyian selnya. Pasca misi kabur yang gagal karena dihalangi pengawal kiriman Wen Ting itu membuatnya harus mendekam lebih ketat lagi dalam bilik gelap dan lembab itu.


Dua pengawal yang berjaga di depan selnya pun tak menggubris teriakan itu. Setelah menodongkan pistol dan mengeluarkan ancaman pada Kao Jing saat mereka berhasil membunuh suruhan Chen Kho, pengawal itu hanya cukup mengawasi dalam diam dan membiarkan pria tua itu berbuat sesukanya asalkan tetap dalam tahanan.


Kao Jing berfirasat buruk terhadap putranya, perasaan sedih yang seperti terkoneksi dengan Chen Kho itu terasa nyata.


"Apa yang terjadi padamu? Apa kamu benar-benar tidak berhasil? Bahkan untuk menyelamatkan nyawamu saja kamu tidak bisa?" Gerutu Kao Jing, ia seolah sedang memarahi Chen Kho seperti yang biasa ia lakukan.


Air mata pria tua itu menetes deras, ia tahu bahwa ia telah kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Sesuatu yang ia korbankan demi ambisinya dan ternyata berakhir seperti ini.


"Li Chen Kho...." Dan pekik itu pecah, pekikan bercampur tangisan yang menyayat hati.


🌹🌹🌹


Xiao Jun berhasil mencapai dataran tempat ia mendarat, tubuh Weini pun ia geletakkan di bawahnya. Xiao Jun memperhatikan sekeliling, Haris dan Su Rong belum juga terlihat. Tatapan Xiao Jun beralih lagi pada Weini yang masih kaku karena totokan. Raut wajah Weini yang tampak sedih itu membuat Xiao Jun tak tega, ia mencondongkan badannya menghadap Weini lalu membebaskan totokannya.


Weini terbatuk-batuk setelah bebas menghirup udara dan begas bergerak. Xiao Jun dengan sigap mengelus punggung gadis itu, namun Weini justru menggeser posisi duduknya hingga saling berhadapan dengan Xiao Jun.


"Jun, ayah dan yang lainnya di mana? Mereka belum nampak juga." Tanya Weini cemas.


Xiao Jun menatap lekat pada Weini, tanpa menjawab pertanyaan itu, ia lang menarik Weini ke dalam pelukannya.


"Mereka pasti baik-baik saja. Weini... Aku sangat mencemaskanmu, apa kau tahu itu?" Desis Xiao Jun lirih sambil memeluk Weini.


Perlahan Weini mulai merasakan tenang dan menikmati pelukan itu. Harus ia akui bahwa ia pun sangat merindukan Xiao Jun, tangannya gemetaran dan membalas pelukan Xiao Jun.


"Aku... Aku pikir tidak bisa melihatmu lagi. Aku pikir Dina gagal menyampaikan padamu dan kau tidak bisa menemukan aku."


Xiao Jun mengelus rambut Weini, senyumannya tersungging manis. Ia lega melihat Weini yang perhatiannya kembali tertuju padanya. "Aku pasti akan menemukanmu, di manapun kau bersembunyi. Bahkan di dalam lautan pun kau masih bisa kutemukan. Apa kau baik-baik saja? Yang mana yang terluka?" Tanya Xioa Jun perhatian.


Weini menggeleng lemah, "Setelah aku meledakkan chip itu, aku tidak ingat apa-apa lagi. Saat aku bangun, yang kulihat adalah tempat aneh itu dan orang yang menyekapku itu." Lirih Weini. Ketenangan serta kehangatan sepasang kekasih itu tidak bertahan lama, Weini kembali teringat Chen Kho hingga wajahnya menampilkan raut tegang lagi.


"Jun, sepupuku itu.. Siapa namanya?"


Air muka Xiao Jun berubah tak senang mendengar pertanyaan Weini, tapi ia tetap menjawabnya.


"Li Chen Kho."


Xiao Jun menghela napas kasar, ia tak berdaya ditodong permintaan seperti itu dari Weini. Ia pun mengangguk demi menyenangkannya, "Baiklah, semoga saja ayah menyelamatkan dia." Gumam Xiao Jun pelan.


Suara jet mendominasi sekitarnya, pesawat pribadi milik Wen Ting itu terbang tepat di atas Xiao Jun dan Weini. Xiao Jun melambaikan tangan pada mereka hingga di respon dengan jet yang perlahan turun ke arah mereka.


"Kami sudah mempersiapkan segalanya, ini jet pribadi kakak iparku. Masuklah dulu ke dalam." Pinta Xiao Jun pada Weini, saat Jet sudah mendarat di dekat mereka.


Weini menatap cemas pada Xiao Jun, "Tapi ayah dan yang lainnya belum datang. Kita harus menunggu mereka, Jun."


Xiao Jun terdiam, ia menoleh ke belakang berharap bisa melihat ayahnya muncul dari sana. Ia pun cemas apa yang terjadi pada Haris dan Su Rong saat ia dan Weini naik duluan.


Belum juga hilang rasa cemas mereka, tiba-tiba suara retakan terdengar jelas. Xiao Jun dan Weini menoleh ke sumber suara dan terbelalak saat melihat lantai dataran itu retak.


"Kau naiklah dulu!" Pekik Xiao Jun yang mencemaskan Weini, ia mengangkat tubuh Weini lalu berlari menghampiri jet. Weini sedikit meronta, tapi tidak bisa berbuat banyak. Xiao Jun memasukkan tubuh Weini ke dalam jet, kemudian menatapnya serius.


"Aku tahu kau cemas pada mereka, tapi kumohon jangan buat pengorbanan kami padamu menjadi sia-sia, sekalipun aku harus mati, aku rela asal kau selamat." Ucap Xiao Jun serius.


Weini tak bisa menahan kesedihannya, perkataan Xiao Jun membuat ia merasa sangat terpukul.


"Bisakah tidak ada yang jadi korban? Aku tidak mau ada kematian gara-gara aku!" Ujar Weini tegar namun air matanya tetap luruh dan segera diusapnya.


Xiao Jun tidak bisa menjawabnya, ia hanya mengelus rambut Weini sebentar lalu membalikkan badan dan berlari keluar jet.


"Kalau kau sayang padaku dan peduli pada kami, tetaplah di situ! Jangan lakukan apapun dan tunggu saja kami di sini." Seru Xiao Jun saat hendak menuruni tangga jet.


Selepas mengatakan itu, sosok Xiao Jun tak terlihat lagi. Weini merasa dirinya sangat tidak berguna, begitu lemah dan mengandalkan orang lain untuk berbuat sesuatu untuknya. Ia hanya bisa menatap Xiao Jun dari jendela. Pria itu berlari kencang dan berusaha menghindar dari retakan yang seperti efek gempa.


"Juuunnn!" Teriakan Weini pecah saat ia mencemaskan Xiao Jun yang tersungkur jatuh karena guncangan yang terasa hebat, bahkan Weini bisa merasakan guncangan itu sekalipun ia berada di atas udara.


"Andai waktu bisa ku hentikan. Andai aku bisa melakukan sesuatu untuk mereka." Lirih Weini yang merasa tak becus dengan tenaganya yang belum pulih. Ia menatapi tangannya yang tak terasa energi apapun. Haruskah ia membiarkan orang-orang yang ia cintai satu persatu mati karenanya?


Xiao Jun bergegas bangun saat tersungkur jatuh,. ia harus segera kembali ke dalam lorong untuk mencari ayahnya.Namun di saat bersamaan, lorong yang ditempati Haris pecah seutuhnya. Tubuh Haris dan Su Rong terpental karena ledakan di lorong hingga mereka membaur bersama air laut.


Su Rong gelagapan, bukan karena ia tidak bisa berenang tetapi kedalaman air laut membuatnya kehabisan napas. Haris berusaha meraih tubuh Su Rong, dan dengan sisa kekuatannya, ia pun menggunakan bantuan sihir sekali lagi.


🌹🌹🌹