
“Aku tak habis pikir kak, ayah memanggil kita ke sana mendadak hanya untuk menunjukkan pria si Li An? Apa untungnya coba pamer pria gadis lain pada kita? Okelah dia ganteng, kaya, sukses, lalu apa gunanya kita tahu kalau nggak bisa dimiliki?” protes Yue Xiao. Sepanjang perjalanan pulang, ia terus berkicau kesal pada ayahnya. Saking marahnya merasa dipermalukan, mereka meminta supir pribadi Li San untuk mengantar mereka kembali ke paviliun. Rasanya terlalu berat kaki melangkah pulang dengan perasaan kesal dan hancur.
“Ya, seperti patah hati sebelum jatuh cinta. Beruntungnya Li An dipilih seorang pria yang seperti pangeran.” Gumam Yue Xin lemah.
“Kesenjangan sosial banget kak, dia kayak cinderella versi nyata. Kita lebih cantik, lebih segalanya dari dia dan kita tetap kalah. Kenapa ayah tidak jodohkan dengan kita? Malah biarkan Li An yang jadi pemenang!” cecar Yue Xiao hingga penuh memori otak Yue Xin mendengar ocehannya.
“Xiao, tolong berhenti. Kenapa tidak protes di depan ayah? Kau lebih banyak diam tadi, setelah pulang malah lampiaskan kemarahan padaku.” Pekik Yue Xin penat, ia ingin tenangkan diri. Hanya perlu tidur sejenak untuk mengembalikan suasana hati, pria itu hanya sekilas dipandang, semestinya ketika bangun tidur maka perasaan yang layu sebelum berkembang itu akan hilang.
Protes Yue Xin cukup efektif membungkan adiknya, mereka kini terdiam dalam kesibukan masing-masing. Yue
Xin sudah berada di kamarnya, bersiap memejamkan mata meskipun Yue Xiao belum bersedia kembali ke kamarnya. Ketenangan semu itu bertahan sejenak, seketika Yue Xiao menjerit dan mengguncang tubuh kakaknya.
“Astaga, kak coba liha. Aku cari profil Lo Wen Ting di internet dan hasilnya ....” belum selesai bicara, Yue Xin dengan gesit merebut ponsel yang tengah dipegang adiknya. Ia membaca sendiri informasi yang tertera di portal berita online.
“Lo Wen Ting, anak tunggal dan pewaris tunggal perusahaan raksasa Shi Han di Beijing. Kekayaannya masuk
dalam urutan lima besar terkaya di dunia, dia sukses di usia belia dan hidup mandiri selepas kematian kedua orangtuanya. Perusahaannya melejit pesat dengan cepat, ia adalah satu di antara sekian orang yang berpengaruh di dunia.”
Yue Xin Shock, kehebatan pria itu di luar perkiraannya. Patah hati sebelum jatuh cinta itu kian terasa menyakitkan setelah tahu pria sehebat itu bisa luluh pada gadis sederhana seperti Li An.
“Xiao, kita nggak kalah cantik kan? Harusnya kita bisa dapat pria yang lebih hebat dari dia.” Gumam Yue Xin mencoba menghibur diri sendiri.
“Jelas kak, kita lebih hebat segalanya dari dia. Kebencian kita sama gadis Wei itu bukan tanpa alasan, dia memang tipikal perayu pria kaya. Lihat saja sepupu kita yang bodoh itu babak belur gara-gara trik murahannya. Pasti ia sengaja terlihat lemah supaya pria itu datang menolong dan jatuh cinta.” Timpal Yue Xiao ketus, penuh nada
kedengkian.
“Dan dia berhasil.” Timpal Yue Xin lemah. “Xiao, kalau gitu kita perlu mencontoh caranya, kita terlalu menganggap
diri kita hebat, terhormat dan membatasi pertemanan. Hasilnya, kita belum juga punya pacar.”
Yue Xiao tampak pesimis, “Apa bisa begitu? Jodoh kita di tangan ayah kak. Kita nggak punya hak memilih. Lebih baik berdoa semoga ayah menemukan pria yang lebih hebat dari Wen Ting sialan itu untuk jadi suami kita. Kelak kita bisa berbangga pada Li An, dia panjat sosial karena suami sedangkan kita sejak dalam kandungan saja sudah
bergelar nona.”
Dan keduanya menghabiskan waktu dengan khayalan demi menghibur diri dari kenyataan, kalah telak oleh orang yang pernah mereka celakai.
***
Chen Kho merasa mulai gila, baru satu jam ia berstatus tahanan kamar namun lamanya seolah setahun. Kesialan
“Aaaarrghhh ...” ia mengacak rambutnya, meremas kencang helai tak bersalah itu sebagai pelampiasan. Apalagi yang bisa ia lakukan dalam keadaan serba terbatas, bahkan seekor lalatpun tak sudi menjenguknya.
Pintu kamarnya mendecit, ia terpana melihat pengunjung pertama yang peduli padanya. Senyumnya menghilang
mendapati ayahnya masuk dengan wajah garang, ia sempat berharap Grace lah yang menyusul kemari. Sayangnya, sang ayah jauh lebih tanggap jika sudah berurusan dengan masalah yang tak sejalan dengan kehendaknya.
Plak! Dan terulang lagi tamparan keras yang mendarat di kedua pipi Chen Kho. Kali ini lebih kencang dari yang tadi pagi, Kao Jing bahkan meraih kerah kemejanya dan mencengkram dengan kuat. “Anak tidak berguna! Bisa apa kau selain menyusahkanku?”
Kerah baju yang dicengkram kencang itu langsung ditepiskan hingga tubuh Chen Kho menabrak dinding. Pria muda itu meringis kesakitan, sekujur tubuhnya penuh luka luar dan dalam bekas hajaran Xiao Jun dan kini ayahnya menambah lagi daftar penderitaan fisiknya.
“Kau masih berani mengerang sakit? Aku bahkan berani mengulitimu hidup-hidup biar kau ingat harga kepatuhan yang kau sepelekan ini.” Ancam Kao Jing dengan tatapan bengis.
Chen Kho berdiri tegak dengan sisa tenaganya, ia enggan bersender pada tembok yang menunjukkan
kelemahannya. “Lakukan saja! Bunuh saja aku biar ayah puas. Aku hanya alatmu, sebaik apapun hasil kerjaku, kau tetap menganggap aku sebuah alat. Aku muak dengan ini semua, lebih baik mati saja.” Teriak Chen Kho frustasi. Uneg-unegnya tercurahkan semua dan ia siap menerima konsekuensinya. Jika hanya untuk mati, ia sudah tak punya rasa takut lagi.
Bentakan Chen Kho itu membuat hati Kao Jing melunak, ia baru sadar bahwa putranya salah menafsirkan
ambisinya. “Duduk nak, sini. Mana yang sakit? Maaf ayah terlalu marah ....”
Chen Kho masih ragu menuruti kehendak ayahnya, ia tetap berdiri di tempat hingga Kao Jing datang menuntunnya duduk di tepi ranjang. Ayahnya memeriksa bagian tubuh yang penuh luka dan darah yang mengering di sekitar punggung serta begam di wajah.
“Kau salah menilai ayah, aku sudah tua buat apa punya ambisi besar merebut kekuasaan? Kelak semua akan jadi milikmu, kamu yang lebih layak menjadi penerus. Li San terlalu serakah menguasai tahta padahal ia sadar tidak mempunyai putra penerus. Melihatmu hancur seperti ini, lebih menghancurkanku.” Ujar Kao Jing penuh penyesalan
telah ikut melukai hati dan fisik Chen Kho.
“Aku tidak bisa apa-apa lagi, tidak berguna lagi untuk ayah. Harapan ayah sudah kuhancurkan, maaf ....” Chen Kho menunduk penuh penyesalan.
Kao Jing menegakkan dagu Chen Kho agar menatapnya dengan lurus, ia perlu menyuntikkan semangat baru pada anaknya. “Tidak, ini bukan akhir. Msih ada harapan baru untuk memperbaiki, kita hanya perlu menyusun strategi lain. Besok ayah akan bicarakan dengan pamanmu untuk membawamu pulang ke Amerika. Lebih baik kembali ke rumah kita daripada jadi tahanan di istana orang.”
Chen Kho merasa punya harapan hidup baru saat mendengar usul ayahnya, ia sangat merindukan kampung
halaman, merindukan teman-teman dan kehidupannya dulu. Sejenak lupakan persaingan hidup yang keras di sini, dia hanya ingin menjadi pria bebas seperti dulu. “Tolong bawa aku pulang ayah.”
“Pasti, dan kau punya kesempatan berlatih lebih banyak. Kekalahan sekarang hanya akan jadi kenangan, kelak kaulah satu-satunya pemenang.” Jawaban Kao Jing meluluh lantakkan impian Chen Kho untuk hidup tenang, ia dipulangkan untuk menyiapkan amunisi yang lebih muktahir. Nasib yang belum sepenuhnya berpihak, sekali alat ia tetaplah menjadi alat.
***