OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 380 AKU MENEMUKANMU, SEPUPUKU!



Kejadian di malam berdarah dan menegangkan di kantor managemen Weini.


Tepat pukul delapan malam, suasana kantor masih ramai orang-orang yang terlibat produksi drama baru di studio. Terlihat pula beberapa talent yang selesai bekerja dan hendak pulang, belum juga sampai di depan pintu keluar, suara tembakan mengejutkan seisi ruangan. Jerit ketakutan serta kepanikan mereka yang berlari mencari tempat persembunyian ketika melihat segerombolan pria bertubuh tinggi tegap, berpakaian serba hitam, melangkah mantap menerobos sistem keamanan di sana.


“Berhenti di sana! Letakkan senjata kalian!” Teriak seorang security yang menghadang kawanan peneror. Meskipun nyalinya ciut namun karena kewajiban tugasnya, terpaksa security itu beserta satu rekannya memberanikan diri untuk menggertak mereka.


Senyum seringai beberapa bodyguard bertubuh besar tegap itu tampak mengejek dua security tadi. Mereka memang meletakkan senjata, namun hanya berpindah ke saku celana. Dan dengan tangan kosong, salah satu bodyguard itu menumbangkan dua security malang itu hingga tak sadarkan diri.


“Kalian urus sisanya, pastikan tidak ada CCTV yang luput. Dan cepat siapkan jet, aku yakin betul dia ada di sini!” Perintah Chen Kho sembari menyeringai dan  berjalan dengan langkah mantap menjemput Weini. Pria bengis itu berjalan menuju lift, ia mengikuti sinyal sihir yang semakin kuat terdeteksi. Dua orang pengawal mengekor di belakang Chen Kho, sisanya membereskan kekacauan di bawah.


Bams yang sibuk di studio pun mendapatkan laporan keributan yang terjadi. Ia cukup shock, lalu berteriak dengan toa yang ada di dekatnya. “Cut! Perhatian semuanya, demi alasan keamanan, jangan ada yang keluar dari ruangan ini. Di luar sedang ada kekacauan, tetap tenang sampai pihak berwajib datang.” Pekik Bams.


“Cepat hubungi polisi!” Perintah Bams pada asistennya. Ia tak mengerti duduk perkaranya hingga kantor yang baru diresmikan beberapa hari lalu harus mengalami kekacauan.


“Ah, celaka... Weini?” Bams mendadak pucat ketika teringat Weini masih di ruangannya di lantai atas. Spontan Bams melempar toanya kemudian berlari keluar dan mendapat sorotan bingung dari semua yang ada di dalam. Pria itu yang menyuruh tidak boleh meninggalkan tempat ini, tetapi justru dia yang duluan angkat kaki.


***


Dina duduk lemas menyandar dinding toilet, jiwanya terguncang melihat orang yang sudah asing di hadapannya. Kepalanya terasa sakit hingga ia harus memegang bahkan menjambak rambutnya agar rasa sakit itu sedikit teralihkan. Sekelebat ingatannya tentang Weini, Haris di masa lalu samar-samar mulai diingatnya. Kata-kata Haris


terngiang, senyum pria itu, serta kejadian saat Haris menyuguhkan teh untuknya. Dina langsung mendekap kepala dengan kedua tangannya. Tidak hanya itu, ia teringat tentang kecurigaannya pada Weini yang aneh dan menduga bahwa Weini serta ayahnya bukan orang biasa. Ingatan menyakitkan itu membuat Dina menjerit seperti orang kesakitan. “Aarrgghh!”


Weini merasa tubuhnya kehilangan banyak tenaga, ia masih sulit bergerak dari posisinya sekarang. Namun suara hati Dina terbaca jelas, Weini hanya bisa pasrah jika Dina mengingat kembali ingatan yang dihapus Haris. Mungkin karena Haris telah tiada maka pengaruh sihirnya pun ikut sirna.


“Kak... Mendekatlah kak....” Pinta Weini terdengar lirih.


Dina menatap Weini dengan takut-takut, tetapi perlahan ia merangkak mendekati Weini. Untung saja sorot mata teduh Weini masih bisa menenangkan ketakutan Dina, ia pun memberanikan diri menatap wajah tirus Weini yang cantik itu.


Weini berusaha bangun dari posisi terlentang kemudian duduk berhadapan dengan Dina. “Kak, dengarkan aku... Aku tahu kamu masih shock tapi kumohon tolong aku sekali lagi. Ini wajah asliku kak, tolong jangan ceritakan  apapun pada siapapun kecuali pada Xiao Jun. Di luar sana ada yang datang mencariku, dan aku tidak bisa lolos darinya. Jadi kumohon... Berikan ini pada Xiao Jun. Aku sungguh mengandalkanmu kak....” Weini menatap melas pada Dina yang terguncang berat itu. Permintaan yang sungguh-sungguh dilontarkan Weini, air matanya mulai mengalir lagi. Weini tahu kondisinya sudah mepet, lebih baik ia diam di sini.


Tangan Weini menjulurkan sesuatu kepada Dina, chip sihir itu dititipkan pada managernya untuk Xiao Jun. Dina menengadahkan telapak tangannya, menerima sebuah benda mungil bercahaya merah terang.


“Aawww....” Pekik Dina meringis kesakitan, benda sihir itu menimbulkan sensasi panas terbakar ketika mengenai kulit telapak tangannya. Reflek Dina menepis benda itu hingga terjatuh kemudian mengibas tangannya yang perih. Begitu ia melihat telapak tangannya, ada luka bakar berbentuk seperti chip itu. Bekasnya bahkan mengeluarkan asap seperti terbakar hangus.


Weini terkejut, ia tak menyangka dampaknya akan seperti itu ketika dipegang Dina. Padahal ketika ia pegang tidak menimbulkan reaksi apapun. Weini memunguti chip itu kemudian beberapa helai rambutnya lalu digulungkan pada chip itu. “Maaf kak, aku tak sengaja melukaimu. Ini... Tolong diterima lagi... Aku mengandalkanmu melindungi


benda ini sampai diberikan pada Xiao Jun.” Weini mulai terisak menangis, ketakutan pun begitu kentara di wajahnya karena merasakan energi sihir musuh yang semakin nyata.


Dina menerima lagi chip itu dan tidak berefek seperti sebelumnya, ia mulai menerima kejadian tidak masuk akal itu dan mengangguk patuh pada Weini tanpa sepatah katapun.


Dina tampak ragu dengan perintah Weini, meninggalkan gadis itu sendiri dalam kondisi sekarat? Bahkan wajah cantik Weini mulai terlihat pucat akibat menahan sakit serta kehilangan darah, mana mungkin Dina tega meninggalkannya. “Tidak non, kita pergi sama-sama.” Tolak Dina yang langsung inisiatif meraih baju kaos putih Weini lalu hendak membantunya berpakaian lagi.


Weini menerima bajunya tapi tidak dengan rangkulan Dina yang mencoba memapahnya. “Cepat pergi kak! Sebelum semuanya terlambat... Kita tidak boleh mati di sini! Pergiiii!” Bentak Weini sembari mendorong kencang tubuh Dina hingga membentur pintu toilet. Weini sesengukan, ia terus menyuarakan perintahnya pada Dina,


menyuruhnya mengeraskan hati untuk mengabaikannya sendiri di sini.


Tangis Dina pecah melihat penderitaan Weini, ia trenyuh oleh keinginan Weini yang begitu kuat menyuruhnya pergi. Dina mengangguk lemah seraya menangis, “Aku pergi non, tapi kamu harus janji... Kita pasti bertemu lagi, kamu dan aku... di antara kita tidak boleh ada yang mati saat ini.” Isak Dina, ia menghambur memeluk Weini dengan satu tangan lantaran tangan yang satunya menggenggam chip titipan Weini. Ia bertekad menjaga amanah itu agar sampai di tangan Xiao Jun.


Weini mengangguk, penglihatannya menjadi buram gara-gara air mata.  Perlahan ia melepaskan pelukan dan mendorong Dina pelan. “Pergiii....” Lirihnya.


Dina menyeka air matanya, sekuat tenaga ia berdiri lalu meraih gagang pintu dan berlari meninggalkan Weini. Hati kecilnya terus bersuara menyemangati dirinya sendiri, ia tak boleh tertangkap siapapun, ia tak boleh mati dan ia harus selamat agar bisa menyerahkan benda ini pada Xiao Jun. Nyawa Weini tergantung pada keberuntungannya sekarang untuk lolos dari incaran.


Weini memakai kembali bajunya dan terus mengawasi derap kaki Dina yang berlari mencari tempat persembunyian lewat mata batinnya. Ia pun mendengar jelas derap langkah sepatu pantofel pria yang turun dari lift tepat di lantai ruangan ini. Weini menarik napas lalu menghembuskannya, ia harus tenang setidaknya untuk melakukan satu


hal penting lagi sebelum ia tertangkap.


Dikeluarkannya chip milik Haris yang disimpan dalam kantong celananya, Weini menatap benda bersinar itu kemudian memejamkan matanya. Jun, di manapun kamu berada sekarang... Aku memanggilmu! Datang dan selamatkan aku mengikuti sinyal sihir ini....


Derap langkah Chen Kho semakin mendekati ruangan Weini, bersamaan dengan Weini yang tengah merapalkan sebuah mantera. Chen Kho menyeringai ketika sinyal sihir yang dideteksinya telah ditemukan bersumber pada ruangan di depannya. Dengan senyum penuh kemenangan, ia meraih gagang pintu lalu membuka ruangan di mana Weini berada di dalam toilet itu.


“Aku datang menjemputmu, sepupuku....” Gumam Chen Kho begitu bahagianya. Ia tersenyum geli mendapati tempat persembunyian Weini justru di sebuah bilik pribadi, begitu mudahnya ditemukan dan tak seperti yang ia bayangkan bahwa Weini akan mengajaknya bermain sejenak agar lebih sulit menemukannya. (Bermain sihir


maksudnya)


“Sepupuku... Aku menemukanmu!” Seringai Chen Kho saat meraih gagang pintu toilet. Bersamaan dengan itu tiba-tiba... Duaaarrrrr!


***


Makin bingung kan? Kejutan apalagi yang terjadi di episode selanjutnya?


Nah sebelum author lanjut nih, mohon kiranya bagi teman-teman untuk bantu follow akun author ya. Caranya


klik foto profil author lalu klik ikuti ^^


Sekiranya kita bisa berteman dengan baik ya. Makasih atas dukungan teman-teman. Sukses selalu ya buat kita semua.


***