OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 512 NASIB YANG TAK BISA DIBANTAH



Liang Jia mengundang Haris untuk minum teh bersama, namun bukan sekedar acara minum yang hanya bersantai ala orang tua yang sudah pensiun kerja. Liang Jia punya niat yang sudah dimengerti oleh Haris, dan tidak sulit bagi Haris untuk menanganinya.


“Bagaimana menurutmu pengawal Wei? Di antara dua pria ini, mana yang paling cocok dengan Yue Xiao?” Tanya Liang Jia yang tak sabar menanti jawaban dari pria penyihir itu. Di tangan Haris sudah ada dua lembar foto pria yang muda dan tampan, Liang Jia hanya ingin memastikan yang terbaik untuk putrinya, karena ini pertama kalinya ia yang turun tangan dalam perjodohan putrinya.


Haris manggut-manggut, ia sudah menemukan pilihannya. Sebuah foto pria pilihannya diletakkan di meja untuk ditunjukkan pada sang nyonya besar. “Menurut saya, pria dari keluarga Wang ini yang bagus nyonya.”


Liang Jia terkesima, feelingnya ternyata benar karena sebelum memastikan pada Haris, ia sudah punya pilihan pribadi yang ia simpan sendiri. “Wah syukurlah, aku juga cukup menyukai dia. Nah, sekalian saja tolong carikan hari baik untuk pertemuan dua keluarga sekaligus lamaran dan hari pernikahannya.” Pinta Liang Jia tidak sabaran.


Haris mengulum senyuman, Xin Er yang duduk di sampingnya pun hanya tersenyum kecil. “Anda tidak sabaran ternyata nyonya. Baiklah sesuai yang anda pinta, saya akan segera mencarikan hari terbaik sesuai tanggal lahir kedua calon mempelai.” Gumam Haris.


Liang Jia tertawa kecil, ia malu sebenarnya niatnya yang tak sabaran itu terbaca jelas. Namun memang itulah kenyataannya. “Ya, mau bagaimana lagi, Yue Xiao tidak mau dilangkahi oleh Weini. Sebenarnya kalau bisa memang lebih bagus tidak ada yang dilangkahi, mereka bisa menikah sesuai urutan usianya. Tapi sepertinya tidak mungkin juga kalau dipaksakan, terutama Yue Fang yang sampai sekarang belum kepikiran untuk menikah.”


Haris tersenyum tipis, cukup mudah baginya membaca karakter orang-orang, apalagi hanya manusia biasa yang sering memakai topeng dalam kehidupannya. Topeng yang dalam artiannya adalah kemunafikan dan sifat yang dibuat-buat demi mencapai tujuan. “Ya, anda memang ibu yang bijak, nyonya. Sesuai sifat nona Yue Fang yang lebih mencintai dirinya dan kebebasan. Dia akan menikah paling terakhir, tapi anda jangan khawatir, begitu dia menemukan jodohnya, dia pasti akan segera terpikir untuk menikah.” Ujar Haris meyakinkan.


Liang Jia senang bukan main mendengarnya, senyumnya mengembang penuh serasa tak sabar menantikan waktu itu tiba. “Syukurlah, aku lega mendengarnya. Semoga aku masih diberi hidup untuk menyaksikan semua anakku berkeluarga.” Gumam Liang Jia polos.


“Anda pasti bisa menikmati masa tua ini dengan semua harapan yang anda inginkan nyonya.” Seru Haris yang tentunya tidak sembarangan bicara. Ia sudah melihat semuanya, termasuk bagaimana cara kematiannya kelak.


Xin Er menatap kagum pada suaminya, pria serba bisa yang selalu rendah hati. Rasanya sangat bangga bisa berjodoh dengan pria sehebat itu, untuk ukuran wanita biasa sepertinya. Bukan harta yang bergelimang yang menjadikan hidup mereka berarti, namun karena cinta dan ketulusan itulah yang membuat Xin Er merasa menjadi wanita terbahagia di dunia.


“Oya, pengawal Wei, ada yang ingin aku pastikan denganmu.” Tanya Liang Jia meminta pendapat Haris dulu.


“Silahkan nyonya.” Seru Haris.


Senyum sumingrah Liang Jia meredup, berganti raut serius yang menandakan ia ingin membahas topik yang berat. “Aku heran saja, setahuku klan Li tidak mempunyai keturunan yang ahli sihir. Tapi kenapa Chen Kho dan Yue Hwa menguasai sihir? Ya, kalau Hwa aku masih masuk akal karena kamu yang mengajarinya, tapi Chen Kho? Dari mana ia belajar kekuatan yang menakutkan itu?”


Haris terlihat menerawang pada langit langit pendopo yang terbuat dari bambu. Sulit memang untuk dipercaya, bahkan ia sendiri baru menyadari keistimewaan klan tuannya. Saking telatnya menyadari hingga ia tidak bisa mengetahui bahwa musuh yang selama ini meneror mimpinya adalah Chen Kho.


“Hamba sendiri tidak menyangka bahwa salah satu keturunan Li mempunyai bakat sihir. Hamba memang mengajarkan nona Yue Hwa sihir dari klan Wei, namun kami pun bingung saat nona mengeluarkan kemampuan yang di luar naral hamba, yang ternyata adalah kemampuan yang sama seperti tuan muda Chen Kho. Ini bukanlah sihir yang dipelajari dari luar, melainkan sihir turunan dari leluhur mereka. Entah siapa, yang pasti sihir ini memilih tuan yang bisa menakhlukkannya. Sayangnya tuan muda Chen Kho tidak sekuat itu, bukan ia yang mengendalikan kekuatan sihir, justru ia yang dikendalikan dan kekuatan itu membunuhnya.” Kenang Haris penuh sesal karena ia gagal menyelamatkan pria malang itu.


Liang Jia terkesiap mendengar pengakuan Haris, ia memang tidak tahu dan tidak berani menanyakan pada Weini tentang apa yang terjadi saat disekap Chen Kho. Setiap kali menyebut nama Chen Kho, bisa terlihat jelas mimik sedih Weini. Itulah sebabnya Liang Jia tidak sampai hati mengorek luka di masa lalu putrinya.


“Lalu dengan Yue Hwa bagaimana? Dia juga menguasai sihir itu kan? Aku takut sihir itu akan melukainya seperti.... ah, pengawal Wei kita harus bagaimana?” Liang Jia mulai merasakan kegelisahan yang dirasakan Haris. Selama ini pria tua itu memikirkannya dan menyimpannya dalam hati, ia merasa Weini terlihat baik dan tidak ada masalah, sampai saat teror mimpi itu menyerangnya, Haris tak bisa meremehkan masalah ini lagi.


Liang Jia mengerutkan dahinya, ia awam soal sihir dan kekuatan super itu. Hidupnya terlanjur biasa dan hanya mengalami masalah layaknya manusia biasa. “Aku ingin yakin seperti kamu, tapi aku terlalu takut pengawal Wei. Bagaimana jika Yue Hwa tidak sanggup? Aku... aku lebih baik melihat dia menjadi wanita biasa, menikah, punya anak, hidup bahagia. Aku tidak mau lihat dia susah apalagi berurusan dengan hal yang tidak aku pahami. Bagaimana cara melindunginya pengawal Wei? Bisakah kau melenyapkan kekuatan magisnya?” wajah Liang Jia terlihat gusar, seperti ingin menangis membayangkan ketakutannya akan kehilangan Weini andai gadis itu gagal mendapatkan pengakuan.


Haris menghela napas berat, permintaan yang sulit yang pernah Liang Jia berikan padanya. “Nyonya, hamba sungguh mohon maaf jika membuat anda kecewa. Namun urusan dunia sihir itu berbeda dengan dunia manusia. Banyak aturan yang mengikat dan tidak mudah untuk lepas begitu saja. Ketika kekuatan itu sudah memilih tuannya, tidak ada cara untuk memisahkannya. Manusia pilihan seperti kami hanya bisa menjalani nasib kami, Nyonya. Tapi tenanglah, selama si pemegang kekuatan mempunyai hati yang bening, sekalipun kuasa kegelapan yang ia miliki, ia tetap akan jadi orang baik dan selamat.”


Penjelasan Haris yang panjang lebar itu tetap tidak bisa mendapatkan keyakinan dari Liang Jia, ia tetap ingin Haris mengupayakan cara apapun agar Weini kembali menjadi orang biasa.


“Sungguh tidak ada cara lain Wei? Atau kau yang tidak rela jika Yue Hwa kembali jadi orang normal?” Tanya Liang Jia mulai egois.


Haris menghela napas kemudian menggeleng dengan lemah. “Maafkan hamba nyonya, tapi hamba bersedia dipenggal sekalipun jika hamba mengatakan kebohongan. Tidak ada yang bisa kami lakukan, kekuatan yang nona Yue Hwa miliki lah yang memilihnya sebagai tuan. Andai saya bisa menghilangkannya pun hanya bisa menghapus ilmu yang saya berikan, dengan resiko saya akan mati karena menyedot kembali apa yang sudah saya salurkan.” Gumam Haris serius.


Xin Er terkesiap, mendengar suaminya hendak berkorban nyawa lagi demi nyonya dan nonanya. Sontak Xin Er menggeleng kencang dan segera berlutut di hadapan Liang Jia.


“Xin Er, apa yang kamu lakukan, tolong bangunlah.” Pinta Liang Jia yang kini menarik tangan Xin Er untuk bangun namun Xin Er tetap bertahan.


“Ampuni hamba nyonya, tapi lebih baik biarkan hamba saja yang mati, hamba tidak sanggup melihat suami hamba terkena efek sihirnya sendiri. Mohon pertimbangkan lagi nyonya, demi kebaikan semuanya. Mohon kebijaksanaan nyonya.” Xin Er memelas, ia tidak menangis namun raut wajahnya menunjukkan kesedihan yang dalam.


Liang Jia menjadi segan, bagaimanapun ia tidak akan membiarkan siapapun menjadi korban. Apalagi Haris dan Xin Er adalah orang yang paling berjasa dalam hidupnya, ia tidak akan membalas budi baik mereka dengan air tuba. “Sudahlah, bangun Xin Er. Aku tidak akan membiarkan siapapun menjadi korban. Jika memang seperti itu adanya, jika memang sudah tidak ada jalan lagi seperti yang Wei katakan, apa boleh buat? Kita hanya bisa menerima nasib dan berharap agar Yue Hwa sanggup bertahan. Bukankah begitu pengawal Wei?” Tanya Liang Jia memastikan ulang apa yang Haris jelaskan padanya.


Haris mengangguk seraya tersenyum tipis, ia bersyukur akhirnya Liang Jia bisa mengerti dan menerima kenyataan. “Benar nyonya, seperti yang anda katakan barusan. Dan saya yakin bahwa nona Yue Hwa sanggup melewati itu semua. Saya tidak akan pernah membiarkan nona Yue Hwa terjebak kesulitan, hidup saya siap dipertarukan untuk menolongnya jika itu terjadi. Percayalah pada hamba, Nyonya.”


Liang Jia tersenyum tipis, ia pun mengangguk tanda sudah mengerti. Hatinya lega, Weini benar benar beruntung dikelilingi orang yang mencintainya. “Ya, aku percaya padamu.”


Xin Er tersenyum lega, begitupun Haris. Barulah Xin Er bersedia bangun dari posisi berlutut dengan dibantu oleh Haris. Liang Jia mengangkat gelasnya, mengajak keduanya bersulang lalu meneguk teh bersama.


“Lalu kapan Jun akan melamar putriku?” Timpal Liang Jia yang kembali fokus membahas masalah pernikahan. Sepertinya ia mulai ketagihan menjadi makcomblang putri-putrinya.


Haris dan Xin Er saling pandang kemudian tersenyum. Haris yang angkat bicara karena ia yang tahu betul tentang rencana putranya. “Segera Nyonya, putraku sengaja mengajak nona Yue Hwa ke Jakarta dalam rangka melamarnya.” Ujar Haris mantap.


❤️❤️❤️