OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 67 TAK SALING MENGENAL?



“Paman, mau dibiarkan sampai kapan? Mereka bisa babak belur loh, lagian ini rumah sakit nggak boleh ada keributan.” Dina tampak pucat ketakutan, nyalinya ciut melihat adegan kekerasan lagi pasca kejadian


yang menimpa Weini. Jangan sampai pertumpahan darah terjadi lagi di depannya.


Haris berjalan mendekati kedua anak muda yang kelebihan energi. “Ehemm…” Ia sengaja berdehem hingga target utamanya menyadari keberadaannya.


Xiao Jun menepis genggaman Stevan yang mulai melemah lantaran beralih fokus.


“Paman, dia yang mulai. Udah dibilangin belum boleh menjenguk pasien, tapi dia ngotot mau masuk!” Stevan melapor pada Haris dengan semangat, berharap mendapat perhatian dari ayah Weini itu.


Haris menatap biang kerok yang ditudingkan Stevan itu, gurat wajah yang tegas namun lembut seperti air laut yang tenang tapi bisa menghanyutkan. Feng shui wajahnya terbaca jelas oleh Haris, seperti ditelanjangi hanya dengan tatapan.


“Paman, maaf baru memperkenalkan diri. Saya Li Xiao Jun, teman pria Weini.” Xiao Jun membungkuk hormat. Sebuah tradisi penghormatan yang sangat akrab dengan Haris dan mengingatkannya dengan jati dirinya yang


sesungguhnya.


“Baiklah, anak muda. Kenapa buat keributan di sini?” Pertanyaan Haris membuat Stevan sedikit berbangga hati. Ia merasa Haris ada di pihaknya dan membungkam Xiao Jun.


“Paman jangan salah paham, saya tidak bermaksud memuat kegaduhan. Ijinkan saya melihat Weini sebentar, saya mohon.” Kesungguhan hati Xiao Jun terdengar dari pernyataannya. Seserius itu sampai raut wajahnya memancarkan ketulusan dan cinta yang bisa Haris rasakan.


Haris tak mengeluarkan sepatah katapun, ia menggantung perasaan tiga anak muda yang menanti reaksinya. Xiao Jun kembali membungkuk hormat pada Haris, demi memohon ia sampai rela merendah seperti itu.


“Hmmm…. Masuklah!” ujar Haris sembari tersenyum.


“Terima kasih paman.” Xiao Jun membalas senyuman itu dan segera berjalan cepat menuju ke ruang ICU.


Stevan terperanjat, “Hei! Sejak kapan lu jadi teman pria Weini? kapan dia setuju jadi pacar lu!?”


Xiao Jun menoleh, ia perlu memberi hentakan dasyat pada Stevan sebelum menghilang di balik pintu. “Sejak hari ini!” ujar Xiao Jun percaya diri lalu bergegas masuk tanpa menghiraukan kekesalan Stevan yang membabi buta.


Dina lebih emosial lagi, ia ikutan kaget melihat betapa manisnya sikap Xiao Jun yang kontras dengan sikap apatisnya pada Weini kemarin. Kalo suka ngapain harus nyiksa diri? Laki kok jaim sih! Cecar Dina dalam benak.


“Paman, ruangan itu tidak boleh keluar masuk sembarangan. Kenapa paman ijinkan dia!” Api cemburu membakar hati Stevan dengan panas membara, andai bukan di rumah sakit mungkin ia sudah melayangkan baku hantam


pada saingan beratnya.


“Karena dia anak muda.” Ujar Haris seenaknya walau terdengar sangat tidak nyambung.


Stevan terbengong memikirkan maksud jawaban aneh itu, apa dirinya terlihat tua? “Lah, aku juga muda, bedanya apa?”


Haris tak tertarik menjawab pertanyaan lagi, ia melirik ke Dina yang memilih menjadi penonton pasif di samping.


“Sudahlah, aku mau melihat gadis itu. siapa namanya?”


“Metta, paman.” Jawab Dina langsung konek dengan tatapan Haris.


“Ah iya itu. Belakangan ini ingatanku sungguh payah, mungkin ini gelaja pikun karena faktor umur.” Haris menggeleng sedih.


“Jangan begitu paman. Aku temani paman ya! Aku masih ingat wajah gadis itu jadi lebih mudah mengenalinya.” Stevan tersentuh perasaannya dan menawarkan bantuan.


“Eh? Secepat itu bakal dipindah ke ruangan?” Dina terbengong, terdengar tak masuk akal pasien kondisi belum stabil bisa keluar dari ICU dengan cepat.


“Iya. Gue lupa nyampein, tadi dokter udah kasih tahu kondisi Weini kayak dapat mukjijat. Tulang retaknya udah kayak nyambung sendiri jadi nggak perlu tindakan operasi. Bentar lagi bakal dipindah ke ruang perawatan.” Sela Stevan yang baru teringat belum menyampaikan berita baik itu. semua gara-gara kemunculan Xiao Jun, ia gagal memberi kabar di waktu yang pas.


Dina menutup mulut dengan kedua tangan. Ia speechless mendengar kabar Stevan, bagaimana bisa cocok dengan prediksi Haris? Pantas saja Haris sangat tenang, ternyata ia tidak sembarang bicara. “Paman, kau benar! Ah…


apa kau peramal? Ah… thanks God, Weini udah keluar dari masa kritis.”


Kali ini giliran Stevan yang bingung, ia tak mengerti arah pembicaraan Dina. Rasanya ia ketinggalan banyak berita saat berjaga sendirian di sini.


“Syukurlah. Ya sudah, jangan buang waktu lagi. Ayo cari gadis bernama eh… siapa?” lagi-lagi Haris pura-pura lupa, lama-lama ia tertarik menjadi drama king demi ngerjain Stevan.


***


Suara monitor pengontrol terdengar nyaring di keheningan ruangan ICU yang hanya terisi Weini seorang. Mata Xiao Jun sembab kala melihat gadis yang selama ini ia kenal periang, penuh semangat dan galak itu kini terbaring tidak berdaya. Kenangan tentang sikap manis Weini yang melekat di ingatannya, sikap jahilnya dan sikap manisnya yang membuat Xiao Jun terpikat mulai menyeruak. Betapa inginnya ia melihat Weini seperti itu lagi sekarang.


Perasaan bersalah semakin menikam Xiao Jun saat ia ingat kejadian semalam ketika Weini mencarinya. Jelas-jelas ia berada di apartemen, namun dengan egoisnya menolak bertemu. Xiao Jun meraih jemari Weini, pertama kalinya ia menggenggam lembut jemari itu. Hal yang hampir mustahil ia lakukan bila Weini masih dalam kondisi baik.


“Weini, hei… aku di sini! Aku tahu, aku salah, egois. Kalau kamu sembuh, pukul aku sepuasnya. Aku nggak bakal ngelak.” Xiao Jun masih memegang jemari Weini sembari menyatakan pengakuan dosa.


“Ada banyak hal yang akan aku ceritakan, tapi kamu bangun dulu. Oh… atau kamu masih capek, sakit? Ya udah, merem aja. Aku tetap akan bicara.”


Kata-kata Xiao Jun terhenti, ia mulai tak mampu menahan air mata namun buru-buru disekanya. Belum pernah ia menitikkan air mata untuk orang lain, selain untuk keluarganya. Ia baru sadar arti penting gadis itu di saat terpuruk, ketika diancam kehilangan.


“Ng…” Xiao Jun tersendat. Ia tak pandai mengungkapkan perasaan secara blak-blakan. Walaupun Weini belum siuman, walaupun gadis itu tidak mendengarnya, tapi raganya tepat saling berhadapan. Xiao Jun tetap merasa sangat nervous.


“Po… pokoknya aku mau kamu segera bangun. Cepat sembuh. Dan… dan…”


Xiao Jun berpikir ulang, memikirkan keputusannya sebelum terucapkan. Ia tidak pernah main-main dengan komitmen, dan tidak mau gegabah mengambil keputusan. Jika hubungan ini dimulai, pasti bertentangan dengan Li San yang mengatur hidupnya bak boneka.


“Li Jun dengarkan ibu. Kau perlu mendengarkan kata hatimu, jangan biarkan siapapun mengekangmu. Ada saatnya kau harus berpijak pada batu pilihanmu. Pria keturunan Wei adalah pria kuat yang punya segala akal. Jika suatu saat dia terlampau batas menjadikanmu pion catur, kau berhak menolak. Jangan hiraukan ibu! Kita siap mati dengan terhormat seperti ayahmu.”


Suara Xin Er terngiang begitu jelas seperti kode alam bawah sadar yang membangkitkan motivasi. Ibu benar, pria keturunan Wei tidak bisa dikekang! Aku Wei Li Jun tidak bersedia seumur hidup menjadi boneka Li San Jing!


“Weini, cepat sadar dan jadi kekasihku!”


***


Kamu bisa saja seorang perencana yang hebat, tetapi kuasa Sang pencipta lebih dasyat.


Kamu bisa menutupi kenyataan, namun tak bisa membohongi perasaan.


_Quote of Xiao Jun_


***