OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 294 REUNI AYAH DAN DUA ANAK



Li An kembali mendatangi rumah Haris keesokan harinya, ia memang meminta ayahnya mempertimbangkan permohonannya kemarin. Tetapi kedatangannya yang dadakan ke Jakarta dan tidak bisa lama berlibur sendirian menjelang persiapan pernikahannya, ia tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk mendengar keputusan Haris. Ia perlu sebuah kepastian, hari ini juga.


Haris membukakannya pintu meskipun dengan raut yang sedikit bingung. “Cepat sekali kamu kembali?” Pria itu tahu maksud kedatangan putrinya, masalahnya adalah ia belum siap memberi jawaban.


Li An masuk dengan wajah ceria, ia memandangi kecapi yang diklaim sebagai satu-satunya barang mewah yang ada di rumah ini. Sayangnya ia tidak bisa memainkan alat musik itu, ia hanya piawai bernyanyi. Li An membalikkan badan agar berhadapan langsung dengan ayahnya yang berdiri di belakang.


“Ayah tidak memberi tenggat waktu, jadi kapan saja aku bebas menodong jawabanmu.” Ujar Li An dengan senyum licik, berusaha mengakali ayahnya.


Haris tertawa kecil, “Gadis ini … Sekarang bermain taktik dengan ayahnya.”


“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, ayah. Aku belajar darimu juga. Jadi bagaimana? Aku hanya mau dengan kata ‘Ya’ loh, ayah.” Seru Li An penuh optimis.


Haris terdiam sejenak, ia tampak berpikir tetapi Li An terus mendesaknya.


“Ayah lakukan demi sumpah setia pada keluarga Li. Klan Wei memang turun temurun melayani klan itu, tapi jika professional ayah sampai mengorbankan perasaan darah dagingmu sendiri. Apa itu pantas? Apa yang bisa


dibanggakan dari kesetiaan itu ayah? Jun juga putramu, dia pewarismu.” Li An berubah serius, penekanan nadanya terdengar tegas. Ditambah sorot matanya yang berbinar, seakan melayangkan kritik pedas pada ayahnya lewat tatapan.


Haris seolah ditampar oleh kata-kata putrinya, pengorbanan serta caranya melindungi keluarganya dianggap seperti itu. Hatinya terasa perih, seolah tersayat puluhan belati. Pria itu mengangguk lemah, menyetujui permintaan Li An. “Baiklah.”


Li An tersenyum bahagia, dengan satu tangan ia menutup mulutnya kemudian berganti menghambur memeluk ayahnya. “Terima kasih, ayah.”


Haris tersenyum, tak perlu ada kata-kata lagi. Ia membalas pelukan Li An, membiarkan sejenak waktu berlalu dalam kehangatan ini. Terakhir ia memeluk putri yang satu ini, ketika masih berusia sepuluh tahun. Sekarang sudah


sebesar dan sedewasa ini, betapa ia melewatkan banyak waktu hanya dengan bersembunyi.


“Tunggu sebentar ayah, aku harus mengundang Jun bergabung.” Li An melonggarkan pelukan lalu minta ijin keluar ke teras. Ia berteriak dari sana untuk memanggil Xiao Jun yang sedari tadi menunggu di mobil.


“Keluarlah. Ayo masuk!” Teriak Li An kencang.


Xiao Jun menampakkan diri dari dalam mobil, ia bergegas menutup jendela mobil lalu keluar dari kendaraannya. Sebelum Li An turun, mereka sudah membuat kesepakatan. Jika Li An memanggilnya keluar, itu artinya Haris telah luluh. Namun jika Li An mengiriminya pesan dan menyuruhnya pergi, itu berarti belum ada harapan untuk mendapatkan pengakuan ayahnya. Xiao Jun berdebar ketika melangkahkan kaki mendekati rumah itu, puluhan kali berkunjung kemari namun baru sekarang ia merasa secanggung dan tegang seperti ini.


Di depan pintu berdiri Li An dan Haris yang menatapnya, Xiao Jun semakin canggung hingga Li An menertawakan gaya kakunya yang mirip robot. Hari ini sungguh berbeda, ada sejarah baru yang terukir dalam hidupnya. Kedatangannya disambut bukan sebagai tamu biasa, Xiao Jun datang sebagai seorang anak yang sesungguhnya kepada sang ayah.


“Ayah.” Ucap Xiao Jun dengan nada yang terdengar bergetar. Betapa berat melontarkan panggilan itu pada pria yang memang sudah ia panggil ayah sebelumnya.


Air mata ini sebenarnya tak perlu basah lagi di wajah Li An, ia sudah sangat bahagia menjadi saksi pengakuan ayah dan putranya. Namun tetes bening itu tidak bisa dikontrol, wajar karena ini memang momen yang sangat mengharukan. Li An ikut memeluk kedua pria yang sangat dicintainya itu dari belakang, kehangatan ini akhirnya kembali dirasakan. Tinggal menyatukan dua orang lagi dalam pelukan, maka keluarga Wei sepenuhnya kembali utuh.


***


“Seperti itulah, Jun. Maafkan ayah yang egois dan belum sepenuhnya percaya padamu.” Haris mengungkapkan rasa sesalnya, setelah cerita panjang lebar menjelaskan alasannya merahasiakan identitasnya pada Xiao Jun.


Semula Xiao Jun agak kesal, namun untungnya ia sudah diyakinkan oleh Li An agar introspeksi diri mengontrol emosi. Jika tidak, mungkin pembicaraan mereka tidak akan setenang dan santai seperti ini. “Aku bisa mengerti ayah, tidak mungkin ayah berbuat yang buruk padaku. Maafkan aku yang lalai menjaga emosi, aku telah mengacaukan semuanya. Termasuk menyakiti Weini, maafkan aku ayah!”


Haris tersenyum, “Nasi sudah terlanjur jadi bubur, jangan disesali. Toh masih bisa dimakan buburnya. Kesalahan dan keadaan yang terlanjur terjadi masih bisa diperbaiki Jun.”


Xiao Jun mengangguk paham. “Ayah, ijinkan aku bertanya. Apa ayah sudah menunjuk Weini sebagai penerus sihir klan Wei.”


Penjelasan Haris tentang alasannya merahasiakan identitasnya demi kebaikan bersama mungkin masih bisa diterima Xiao Jun. Ia pun tidak mengelak ketika Haris menceritakan ramalan masa depan yang terlihat olehnya ketika Xiao Jun tahu siapa Haris, lalu bertindak frontal melawan Li San yang menyebabkan kekacauan dan kematian Liang Jia. Setelah mendengar keburukan berdasarkan hasil penerawangan itu, Xiao Jun berjanji tak akan bertindak


demikian agar ramalan itu tidak terjadi. Tetapi masalahnya Weini menguasai sihir yang seharusnya Xiao Jun miliki, ia perlu mendapatkan kepastian apakah sebagai satu-satunya putra berdarah Wei, Xiao Jun masih punya hak menjadi


penerus sihir klannya?


Hening. Haris terdiam, membiarkan Li An dan Xiao Jun memburunya lewat tatapan penuh harap. Bagi Haris ini sangat rumit dijelaskan, ia tak menampik pernah mempercayakan pada Weini plakat penerus Wei sebagai cadangan andai ia keburu tak berumur panjang sebelum kondisi membaik. Namun sepandai-pandainya ia menerawang, Sang Pencipta lebih berkuasa merancang skenario hidup mereka dengan kejutan demi kejutan.


“Waktu itu aku sempat pesimis dengan hidupku, aku mengajarinya sedikit ilmu sihir hanya untuk antisipasi jika kelak hidupku sudah sampai batasnya. Dia tidak punya siapapun selain aku, kami berdua telah melewati fase hidup yang suram, sama seperti kalian. Dia tidak pernah mengeluh hidup susah, walau ibunya membekali kami uang tetapi sebanyak apapun tabungan akan habis jika aku tidak bekerja. Dia selalu kutinggal sendiri sejak kecil dan dia


sangat mandiri, memasakkanku seadanya walaupun ia tidak punya bakat memasak.” Haris terdiam, ia melihat respon kedua anaknya. Li An tampak mengusap air mata di ujung matanya sementara Xiao Jun menyimak dengan serius.


“Aku cerita seperti itu bukan ingin berlomba kesusahan hidup pasca kita sekeluarga terpisah. Aku tahu kalian juga menghadapi masa-masa yang sulit. Tuan besar Li, walaupun kejam tetapi masih punya hati menikahkan Li Mei pada pria yang baik dan hidup cukup. Pun denganmu Jun, kamu jadi belajar banyak hal yang mungkin tidak bisa ayah berikan padamu seumur hidup ini. Aku minta maaf dengan hidupnya yang susah Li An, tapi akhirnya


kebahagiaanmu telah datang dan kamu pasti bahagia bersama suamimu. Namun nona Yue Hwa, dia … takdirnya begitu rumit.”


“Teruskan, ayah.” Pinta Xiao Jun, ia tahu ayahnya tak sanggup meneruskan karena menjaga perasaannya tapi dia tidak apa-apa. Xiao Jun justru kaget mendengar takdir Weini yang begitu rumit, andai kelak mereka menikah apakah takdir yang rumit itu tidak bisa berubah?


Haris menghela napas, “Dia punya bakat sihir, itu yang tidak aku sangka. Dia belajar sangat cepat bahkan lebih kuat dari perkiraanku. Aku katakan takdirnya rumit karena kecil harapan bagi kami untuk melepas topeng ini. Caranya tidak tertera dalam buku sihir, leluhur kita hanya bisa menciptakan topeng sihir tapi tidak bisa memusnahkannya. Ayah sudah tua, jatah hidupku paling hanya tinggal berapa lama. Tetapi dia, topeng ini punya efek buruknya dalam pemakaian jangka panjang.” Sesal Haris, ia menunduk menyembunyikan kesedihan.


***