
“Siapa kamu sebenarnya?” Suara Xiao Jun melengking saking tinggi nadanya, sungguh sebuah teriakan yang terlalu emosional, dalam jarak sedekat itu Weini pasti mendengar perkataannya dengan jelas. Ia seharusnya tak perlu lagi berteriak, kini amukan tak jelas itu malah mengguncang perasaan Weini. Gadis itu bergeming seraya menutup telinga.
Grace berdiri di muka pintu, menonton perlakuan Xiao Jun yang cukup kasar menurutnya. Kasar terhadap seorang gadis, bukan hanya sekedar pukulan fisik namun juga psikis seperti yang dilakukan Xiao Jun barusan. Grace melipat tangan, walaupun ia tak menyukai Weini tapi tidak berarti dia suka melihat gadis itu ditindas seorang pria, apalagi pria yang katanya sangat mencintainya.
“Ehem, Jun … Kenapa kamu ke sini? Ini kan tempat kerja kami, dan kamu tidak punya kepentingan kan? Sebaiknya jangan bikin keributan, udah cukup ribut di sini, jangan nambahin lagi.” Grace mengusir Xiao Jun secara halus, dengan kata-kata penuh sindiran. Sesaat setelah mengucapkannya, Grace tersadar dan bergetar, ia ternyata punya keberanian untuk melawan Xiao Jun. Bukankah seharusnya ia senang melihat dua orang itu bertengkar sehingga ia
punya kesempatan masuk ke dalam hati Xiao Jun, namun yang terjadi malah ia terlihat melindungi Weini.
Xiao Jun sadar dari sikap tak terkontrolnya, tatapan tajamnya meredup, berubah lebih hangat pada Weini. Sementara Weini masih tegugu kaku tanpa suara hingga Xiao Jun memalingkan wajah lalu berbalik meninggalkan
ruangan itu tanpa sepatah kata. Bahkan ketika melewati Grace yang berdiri di dekat pintu, Xiao Jun tidak menatapnya.
Stevan yang berdiri diam pasca didorong Xiao Jun, buru-buru mendekati Weini yang masih mematung saking shocknya. Aktor itu menarik tangan Weini lalu menuntunnya duduk di sofa yang tadi dijadikan tempat baringnya. Stevan berusaha menenangkan Weini, padahal ia sendiri cukup terkejut dengan sifat tak terduga dari Xiao Jun.
Grace tak kuasa menatap pemandangan di depannya, dua orang pria berlomba memerhatikan Weini, betapa beruntungnya gadis itu. Grace menatap serius pada Stevan, perlakuan pria itu pada Weini sedikit menyesakkan dadanya. Sesak yang berbeda ketika ia memergoki kedekatan Xiao Jun dan Weini. Ia pun sadar tengah memikirkan hal yang tidak-tidak, Grace menepis pikirannya dengan menggelengkan kepala. Namun ketika reaksinya itu tertangkap basah oleh Stevan yang kebetulan menoleh padanya, Grace langsung canggung salah tingkah.
“Aku mau pulang, kalian lanjut saja.” Ujar Grace yang berpamitan tanpa diminta oleh mereka.
Stevan mengulum senyum, sikap Grace yang mengejutkannya itu membuatnya semakin mengenal gadis itu. Grace bukanlah gadis jahat, ia masih punya hati untuk membela Weini. Kini perhatian Stevan beralih pada Weini, gadis itu tampak pucat dan terguncang. Dengan keterbatasan status yang ia miliki, Stevan tetap menjaga sikap pada gadis yang sudah ia anggap adik. Ia hanya berani mengelus rambut Weini untuk menghiburnya.
“Kalau mau nangis, nangis aja. Terlalu maksakan diri buat kuat juga nggak baik, kadang menangis itu jauh lebih melegakan ketimbang dipendam sendiri.” Bisik Stevan lirih, tak perlu suara keras untuk mengatakan semua itu.
Mendengar perkataan Stevan, spontan membuat air mata Weini berjatuhan. Sungguh ia tidak sanggup lagi menahan bendungan bening itu, biarlah luruh sesukanya. Biarlah ia mengingkari janji yang dibuatnya, asalkan
setelah itu terasa lega. Weini sama sekali tak menyangka Xiao Jun mempunyai sikap dan kecurigaan padanya. Pertanyaan itu tercetus dari rasa penasaran pria itu yang begitu besar, Weini tahu betul itu. Hanya saja, kenapa Xiao Jun baru sekarang mempersoalkan statusnya? Ia bertanya seakan meminta Weini membuka kedoknya, membeberkan rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya, Haris dan Tuhan.
“Non, tadi aku lihat tuan Xiao Jun keluar terburu-buru, apa dia ….” Dina yang muncul sambil menenteng kantong belanjaan tidak jadi menyelesaikan ucapannya. Ia terkejut mendapati isakan tangis Weini yang begitu menyayat hati di samping Stevan yang sudah siuman.
“Apa yang terjadi?” Tanya Dina, tanpa ada yang bersedia menjawabnya.
***
Xiao Jun menepikan mobilnya, berkali-kali ia memukul setir hingga klakson berbunyi. Ia merutuki dirinya yang sangat kasar pada Weini. Namun penyesalan selalu hadir di bagian akhir, waktu pun tak akan bergulir kembali untuk bisa memperbaiki keadaan.
“Kalau dia memang anak tuan Li, lalu kenapa? Kenapa aku harus semarah itu padanya?” Cecar Xiao Jun yang marah pada dirinya. Setelah itu ia menjerit, kedua tangannya meremas kepala lalu membenturkannya pada setir. Xiao Jun merasa bisa gila dengan keruwetan pikirannya. Ia mencintai Weini, berjanji tidak akan membuatnya sedih lagi, tetapi yang dilakukannya tadi justru sebaliknya. Menyakiti orang yang dicintai, jauh lebih terasa sakit bagi si
pembuat luka. Kini ia dilema, Weini mungkin sangat membencinya sekarang dan ia harus berusaha mendapatkan kepercayaan gadis itu lagi.
“Kalau kamu memang Yue Hwa, apa pantas aku membencimu? Kamu tidak tahu apa yang terjadi pada keluarga hanya karena kamu. Aku hanya menjadi penggantimu, dan kamu mengambil ayahku. Apa pantas aku membencimu, sedangkan aku saja tidak tahu bagaimana kesulitanmu kabur dari ayahmu yang kejam itu?” Xiao Jun kembali berteriak, tanpa ia sadari air matanya mengalir dari ujung mata. Air mata yang mewakili berbagai perasaan yang
***
“Non, yakin bisa nyetir sendiri?” Dina cemas dengan Weini yang memintanya pulang bersama Stevan karena ingin menyetir sendiri. Gadis itu mengklaim dirinya perlu ketenangan dan waktu untuk sendiri dulu, tetapi keputusannya justru membuat Dina dan Stevan khawatir. Weini belum pernah menyetir sendiri, meskipun ia memiliki surat lengkap dan bisa membawa mobil namun dalam kondisinya yang belum stabil, Dina tak sampai hati mengijinkannya.
Weini mengangguk, “Jangan khawatir kak, sampai ketemu besok.” Weini tak perlu menunggu persetujuan Dina, ia bergegas masuk ke dalam mobil lalu menghidupkan mesin. Dina masih berusaha mencegatnya tetapi digagalkan oleh Stevan yang menarik tutup kepala jaketnya.
“Udah, biarin aja. Dia wanita perkasa kok, hanya nyetir doang mah perkara kecil.” Stevan menggeret manager cantik itu mendekati parkiran, mereka perlu segera membuntuti Weini.
Dina cukup tanggap, ia tahu maksud Stevan dan mendukungnya dengan sikap nurut. “Buruan, ntar kita ketinggalan jejaknya.”
Stevan hanya nyengir, berfokus penuh pada setir yang kini dimainkannya. Ia tak menampik khawatir pada Weini meskipun tak menampakkannya terang-terangan. Setiap orang punya cara menenangkan diri, ia harus menghargai pilihan Weini.
“Gue nggak habis pikir kenapa Xiao Jun berani bentak Weini? Dia itu perhatian banget sama Weini, dari dulu jaman pedekate yang minta gue comblangin. Sampe masalah kemarin aja yang Weini nggak mau ngomong sama dia, gue juga yang disuruh jadi mata-mata sampai mereka baikan.”
Dina tak menyadari pengakuan dosanya yang terjadi karena keceplosan membuat Stevan melirik tajam padanya. Sesaat kemudian saat ia merasa atmosfer yang berbeda, barulah ia menepuk mulutnya yang ember dan tersadar dari kecerobohan.
“Oh, lu mata-matanya si bos. Digaji berapa tuh?” Sindir Stevan.
“Seratus lima puluh juta.” Celetuk Dina yang rem mulutnya blong. Ia mencaci dirinya yang tak becus menjaga harga diri di hadapan seorang pria yang sedang menyindirnya.
“Kaya dong lu, ngapain masih modus jadi manager Weini terus? Lu nggak tulus ya sama dia ternyata.” Stevan berdecak, ia menyayangkan sikap matre Dina, padahal ia saja pernah merobek cek dari Xiao Jun.
“Tulus! Itu dulu kok, sekarang gue tulus bantu mereka tanpa sepeserpun!” Sewot Dina membela diri, ia memang tulus pada Weini dan tak mau diragukan soal itu.
Stevan hanya senyum nyengir, ia senang bisa membuntuti di belakang mobil Weini untuk memastikan gadis itu aman.
Dina memanfaatkan diamnya Stevan untuk mengalihkan pembicaraan. “Ehem, gue perhatiin dua hari ini lu sering kepergok lihatin Grace. Ehem Ehem …. Gue dukung seribu persen, lu deketi dia bikin dia jatuh cinta, biar dia nggak gangguin Xiao Jun lagi.” Dina terkekeh sampai badannya berguncang.
Stevan tak senang digoda seperti itu, perasaannya bukan bahan candaan. Ia melayangkan jitakan ringan yang mendarat di kepala Dina, membuat gadis itu memekik kesal dan semakin berisik.
***
Perasaanku bukan untuk candaan, begitu aku mencintai tak akan ada kata meninggalkan namun ditinggalkan.
Quote Of Stevan
***