
“Nona berpesan agar tuan memiliki benda ini, nona bilang... Benda ini adalah hidup matinya... Tuan harus menemukannya! Kembalikan nona Weiniku!” Sebuah chip yang menjadi tanggungan Dina kini telah diserahkan kepada yang semestinya memiliki. Dina mengusap air matanya saat Xiao Jun mengambil chip itu. Gulungan rambut Weini pada chip itu pun dilepaskan oleh Xiao Jun tepat di depan Dina. Gadis itu tersentak, saat ia hendak melarang Xiao Jun melakukan itu lantaran takut benda itu melukai Xiao Jun seperti yang terjadi padanya, ternyata belum sempat bersuara, Xiao Jun sudah lebih dulu memegangnya. Dina kian takjub dan heran melihat Xiao Jun baik-baik saja, tak seperti yang Dina alami.
“Terima kasih Dina, kamu sudah bekerja keras. Sementara sembunyi di sini dulu, aku akan pikirkan cara untuk melindungimu. Hanya kamu orang yang melihat wajah asli Weini, itu akan menyulitkanmu jika berada di luar.” Ujar Xiao Jun serius.
Dina mengangguk, “Banyak wartawan yang mencariku, harusnya memang aku yang muncul mewakili Weini bicara.
Tapi....” Dina kembali ragu.
“Soal itu jangan dipikirkan, paman Lau akan menghandelnya. Urusan itu jauh lebih rumit dari yang kamu lihat, yang pasti kamu tidak boleh sembarangan ke manapun sendirian. Ada yang lebih mengincarmu ketimbang wartawan di luar sana. Nyawamu dalam bahaya, Dina. Maaf bukan mau menakutimu tapi itulah kenyataannya.” Jelas Xiao Jun tegas.
Dina merasakan bulu kuduknya berdiri, semula ia mengira urusannya akan selesai ketika ia menyerahkan titipan Weini. Tetapi ternyata tak sesimpel yang ia pikirkan, nyawanya ikut dipertaruhkan dalam masalah ini. “Mereka tidak melihatku, nona menyuruhku kabur... Lalu aku berlari cepat dan pergi tepat waktu.” Jelas Dina.
Xiao Jun menggeleng lemah, “Aku kenal siapa musuhku, tapi aku tidak bisa menebak semua strateginya. Akan lebih aman jika kau bersembunyi, sudah kewajibanku melindungimu. Weini pasti tidak menginginkan siapapun jadi korban karenanya.”
Dina bergeming, ia nampak berpikir panjang tentang saran bos muda itu hingga satu asumsi terlintas di benaknya lalu spontan terlontar keluar tanpa sensor. “Ah... Apa jangan-jangan paman Haris meninggal karena mereka?” Seru Dina yang kaget kemudian tersadar dari apa yang dikatakannya barusan, ia membungkam mulutnya rapat-rapat sementara dua matanya membulat menatap Xiao Jun.
Xiao Jun tersentak kaget, kata-kata Dina yang menakutkan itu belum bisa ia percaya. Ia justru mengira salah mendengar atau mungkin ia berusaha untuk tidak percaya. “Kamu bilang... Ayah Haris meninggal?” Tanya Xiao Jun dengan mata menyipit tajam.
Dina terpaku diam namun kepalanya masih sanggup mengangguk. Xiao Jun mulai kehilangan akal, padahal ia sudah berfirasat buruk tentang ayahnya namun saat mendengar langsung kabar duka itu sangat membuatnya terpuruk. “Jawab Dina, ayah Haris beneran meninggal? Siapa yang bilang? Di mana makamnya kalau memang ia sudah meninggal?” Desak Xiao Jun yang sedikit emosi hingga mengguncang lengan Dina dengan dua tangannya.
Dina terantuk-antuk gara-gara guncangan Xiao Jun yang keras, ia bingung saja mengapa Xiao Jun bersikap sangat berlebihan. Meskipun Dina juga terpukul karena merasa kehilangan, tetapi tidak seemosional yang dirasakan Xiao Jun. “Nona Weini yang bilang, aku juga terkejut tuan. Dia... Dia tidak sempat bilang dimakamkan di mana....” Jawab Dina tergagap.
Xiao Jun melepaskan lengan Dina, tangannya meralih mengusap wajahnya. Matanya sudah basah, ia tak kuasa menahan tangis lagi di hadapan Dina. Manager itu terkejut melihat bosnya menangis, meskipun berusaha menutupinya dengan tangan. Xiao Jun merasa hancur seketika, Weini memakamkan ayahnya tanpa berpesan di mana pusaranya. Ia tidak ingin menyalahkan Weini tetapi justru menyalahkan dirinya yang tidak becus. Seharian
ia sulit dihubungi pada saat-saat Weini dan Haris mengalami hal genting.
Dua orang dalam ruang tengah itu saling membisu. Dina ikut senyap dan berkabung, bagaimanapun ia masih merasa kehilangan Haris. Air mata manager itu ikut mengalir, bukan hanya karena tertular isakan Xiao Jun yang terdengar pelan, namun karena ia memang ingin menangis. Tiba-tiba suara Wen Ting yang nyaring memecahkan suasana hening.
“Jun, ayah mertua sudah meninggal!” Pekik Wen Ting menyampaikan kabar yang sudah lebih dulu didengar Xiao Jun. Wen Ting menatap heran suasana di sana, Dina berdiri menatapnya sementara Xiao Jun ternyata sudah menangis. Saat itupula Wen Ting sadar bahwa Xiao Jun pun sudah mengetahuinya. Dina tak mengerti apa yang
diteriakkan Wen Ting, namun melihat sorot wajahnya bisa terbaca bahwa itu bukanlah kabar yang baik.
“Aku keluar dulu, kita bicarakan nanti. Istirahatlah di ruang tamu dan jangan hubungi siapapun dulu kecuali paman Lau.” Pesan Xiao Jun pada Dina yang langsung mendapatkan anggukan setuju.
“Jun, kamu baik-baik saja?” Tanya Liang Jia perhatian, ia tak lagi perlu bertanya tentang putrinya karena berita di sana sudah heboh menjelaskan serta Grace yang sudah menyampaikan bahwa Weini menghilang. Wanita tua itu cukup peduli pada perasaan Xiao Jun juga, itulah sebabnya pertanyaan pertama yang keluar adalah menanyakan
kondisinya.
Xiao Jun terdiam hingga membuat Liang Jia mengernyit, ia kembali memanggil nama Xiao Jun untuk memastikan panggilan itu masih tersambung.
“Ayahku telah meninggal....” Desis Xiao Jun sedih sambil terisak.
Liang Jia terkejut bukan main, tentu tidak ada yang menyangka bahwa Haris yang begitu sakti telah meninggal. Tanpa perlu dijelaskan, Liang Jia pun bisa menduga bahwa kematian Haris karena campur tangan Chen Kho. “Jun... Aku turut bersedih....” Lirih Liang Jia. Diurungkannya niat untuk menyampaikan pada Xiao Jun tentang
kekacauan di sana, tentang hebohnya pemberitaan tentang Weini serta rencana Liang Jia menggelar preskon satu jam lagi. Mereka sama-sama berkabung, mereka sama-sama menghadapi kesusahan hati, dan biarlah mereka mencari cara sendiri agar terlepas dari belenggu ini.
***
Sepasang mata Haris terbelalak lalu mendapati sekeliling yang pengap dan gelap. Ia jelas tahu di mana tubuhnya kini, direbahkan dalam peti mati yang dikelilingi uang kertas. Ia cukup salut pada Weini yang bergerak cepat mengurus pemakamannya, ataukah ia yang sudah lupa berapa lama terbaring di sini? Haris mencoba menggerakkan jemarinya, kemudian menarik napas dalam-dalam di tempat sempit itu. Tubuhnya terbatas
gerak namun pikirannya terus menerawang jauh, mengumpulkan memori sebelum menghembuskan napas terakhir waktu itu. Satu-satunya hal yang harus ia lakukan saat ini adalah keluar dari peti.
Haris mengingat Chen Kho telah menyedot energinya hingga ia tak sanggup menolong dirinya. Apa energiku sungguh terkuras semua? Tapi tidak ada salahnya mencoba.... Gumam Haris dalam hati. Ia memejamkan lagi matanya, meskipun terbuka sekalipun yang ia lihat hanyalah kegelapan dan mencium bau tanah. Jika semesta mengijinkannya hidup kembali, maka semestinya semestapun membantunya menggunakan sihir sekali lagi.
Haris merapalkan satu mantera sihir andalan klan Wei untuk mengeluarkan diri dari jebakan. Konsentrasi penuh ia kerahkan dengan pikiran optimis pula, ia kembali hidup dan ia harus bangkit dari kuburannya untuk sungguh-sungguh kembali hidup. Hawa hangat terasa menjalari sekujur tubuhnya, Haris merasakan tanda-tanda energi sihirnya bekerja, bahkan terasa lebih kuat ketimbang sebelumnya.
Di luar sana angin berhembus kencang hingga menggoyahkan pepohonan, di dalam peti yang ditempati Haris terasa bergetar, dan dalam hitungan detik tubuh Haris menghilang dari peti itu.
Tiga... Dua... Satu... Haris menghitung mundur dalam hatinya sebagai kode agar ia membuka mata perlahan. Ia tidak tahu sihirnya efektif atau tidak yang jelas tubuhnya merasakan udara yang sangat segar. Perlahan tapi pasti mata Haris terbuka, senyumnya mengembang seketika. Ia terbaring di atas tanah kuburannya lalu segera menggerakkan tubuhnya perlahan.
“Tak pernah kusangka, aku membaca namaku di pusara ini. Ah... Tidak, yang mati adalah Haris. Aku hidup lagi untuk kembali menjadi diriku yang dulu, akulah Wei Ming Fung.”
***
Wew... Jadi kalian lebih nyaman memanggil ayah Haris atau Ayah Wei?