OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 361 MENANTANG MUSUH



Liang Jia menerima jatah makan siangnya sekaligus secarik kertas yang terselip di bawah mangkuk sayurnya. Wanita tua itu melirik pelayannya dengan tatapan penuh terima kasih, pelayan wanita itu mengangguk hormat dan berlalu dalam diam. Semenjak Lau memintanya berhati-hati terhadap makanan serta jangan bicarakan hal penting secara lisan, akhirnya Liang Jia menuruti dan mengubah cara komunikasi lewat tulisan. Baru saja ia menerima


informasi yang diselundupkan pelayannya bersama makanan di hadapan Liang Jia. Ia lebih tertarik pada isi kertas ketimbang tergoda aroma masakan itu. Liang Jia mengangkat pelan mangkuk sayur yang masih panas itu, kemudian membuka secarik kertas yang terlipat itu dengan antusias.


Matanya berbinar ketika membaca itu, Liang Jia nyaris menangis saking bahagianya. Ia menutup mulut dengan satu tangannya, dalam hati tak henti berucap syukur karena doanya terkabul.


Kertas rahasia berisikan tulisan tangan pelayan sekaligus intel satu-satunya yang berpihak pada Liang Jia yang masih selamat. Pelayan sisanya sudah dipecat dan digantikan orang-orang rekrutan Kao Jing yang sepenuhnya berpihak padanya.


Kabar baik nyonya, subuh tadi nona Yue Xin telah berangkat ke Makau bersama suaminya. Nona Yue Xin ikut bersama mereka, tapi mereka tidak dibolehkan pamit kepada anda. Dan kabar baik lagi, tuan muda Li Xiao Jun telah kembali bersama tunangannya.


Liang Jia merasa hidupnya akan terselamatkan berkat kepulangan Xiao Jun, ia menaruh harapan besar padanya. “Jun, tolong aku ….” Desis Liang Jia yang tak bisa menahan untuk bicara tanpa suara lagi.


***


Kedatangan Xiao Jun dan Grace bukan kabar yang mengejutkan tapi hal yang dinantikan oleh Kao Jing, terutama Chen Kho. Keduanya berjalan memasuki aula utama, tempat di mana Li San seharusnya berada, namun kini yang duduk di atas singgasana tak lain adalah ayah Grace.


“Hormat pada ayah.” Grace membungkuk hormat pada pria tua itu. Hanya Grace saja yang mengucapkan salam, Xiao Jun bahkan tak sudi menganggukkan kepalanya sebagai bentuk hormat paling rendah dalam aturan keluarga Li. Ia berdiri tegap denga sorot mata dingin menatap lekat pada pria haus kekuasaan itu.


“Baguslah, kamu pulang cepat dan menurut pada ayah. Apa kalian tidak lelah berdiri? Duduklah dan kita bicarakan rencana pernikahan kalian.” Ujar Kao Jing ramah dengan tawa kecil. Raut wajahnya terlihat bersahabat dan amat bahagia, sayangnya raut itu hanya tampak baik dari luar. Kini setelah tahu niat busuk ayahnya, Grace tak terkecoh lagi dengan mulut manis ayahnya. Semuanya hanya sandiwara, ayah dan kakaknya memakai topeng yang


menutupi hati jahatnya.


Grace melirik Xiao Jun yang bergeming di sebelahnya, mengharapkan respon pria itu pada perintah ayahnya. Xiao Jun mengerti kebingungan Grace, ia mengangguk pelan sebagai jawaban. Grace terlihat tegang, tak sekalipun senyum terukir dari bibirnya. Ia terlalu takut menghadapi keluarga yang sudah berseberangan jalan dengannya. Mereka berjalan ke pinggir, mengambil tempat duduk yang disiapkan untuk menyambut mereka.


Chen Kho melirik tajam setiap gerak gerik Xiao Jun, walau tak menatap langsung tetapi Xiao Jun tahu bahwa ia disoroti oleh musuhnya. Grace melirik sekilas pada Chen Kho, lalu segera menunduk takut begitu Chen Kho membalas tatapannya. Terror kemarin serta racun yang diberikan padanya, semua kengerian itu kembali terlintas dalam benak Grace.


“Adikku, apa kau sudah sehat betul? Lain kali jangan nekad lagi, itu permen mematikan.” Chen Kho terkekeh, ia sengaja menggoda Grace yang terlanjur bersikap canggung padanya. Bagaimanapun juga, sepertinya sulit


memperbaiki hubungan mereka yang terlanjur retak meskipun dalam hati kecil masih terselip rasa sayang.


Grace menahan geramnya, ia memilih menunduk ketimbang menatap kakaknya yang keterlaluan bercanda. Xiao Jun melirik gadis di sampingnya, ia turut merasa prihatin pada Grace yang memiliki keluarga bejat seperti itu. Masih beruntung dirinya yang mempunyai keluarga baik meskipun sejak kecil pun tidak berkesempatan merasakan kehangatan keluarga.


“Langsung saja, kedatanganku kemari tentu kalian tahu artinya aku menyepakati permintaan kalian. Berikan penawar itu segera!” Tegas Xiao Jun yang tanpa basa basi dan memanggil dengan sopan kepada lawan bicaranya.


Tawa Kao Jing terdengar mengejek, Xiao Jun mengepalkan tangan saking kesalnya. Sementara Chen Kho hanya menyeringai dan diam membiarkan ayahnya mengambil peran lebih.


“Soal itu mudah saja, tenanglah aku jamin tidak akan terlambat menyelamatkan mereka. Penawar itu baru diberikan ketika kalian menikah, pertukaran itu harus adil bukan?” Ujar Kao Jing dengan santai.


Wajah tenang Kao Jing berubah total ketika mendengar permintaan Xiao Jun, begitupun dengan Chen Kho yang mengernyit namun tetap berusaha tenang.


“Kenapa perlu tergesa? Pernikahan bukan perkara mudah, ada hari yang perlu diperhitungkan agar segalanya berjalan baik. Aku tidak setuju, tanggal pernikahan kalian sudah ditetapkan dua minggu lagi. Tunggu saja saat itu, mereka tidak akan mati secepat itu hanya karena menunggu sebentar.” Ketus Kao Jing.


“Ayah bilang pernikahan itu bukan perkara mudah? Tapi ayah dengan mudah memaksa kami menikah. Apa yang harus diperhitungkan lagi? Pernikahan atas paksaan ini tak akan baik hanya karena diperhitungkan hari baiknya. Aku ingin menikah besok!” Tegas Grace, ia sudah sepakat menuruti Xiao Jun, pun dengan keberanian membantu Xiao Jun menekan ayahnya.


Wajah Kao Jing murka seketika, telunjuknya mengacung pada putrinya. “Kamu! Beraninya lancang pada ayahmu?”


Grace menatap ayahnya dengan nanar, walau hatinya takut tetapi ia tak akan gentar. “Aku belajar darimu ayah. Bagaimana caramu memperlakukanku, seperti itulah aku memperlakukanmu!” Tegas Grace.


“Grace dan aku setuju mempercepat ini, yang akan menikah adalah kami dan kami tidak mempermasalahkan hari. Kenapa anda terkesan menunda hal baik? Apa anda tidak takut kami berubah pikiran dan tak peduli terhadap ancaman kalian? Apa susahnya bagi seorang penguasa mengatur pernikahan dalam waktu satu hari? Tuan Li San jelas sanggup, tapi entahlah dengan anda … Aku meragukan kapasitasmu sebagai pemimpin.” Cibir Xiao Jun, ia tampak berhasil memanaskan hati musuhnya.


“Keterlaluan! Kau anak pungut yang tak diajarkan sopan santun!” Bentak Kao Jing hingga berdiri menunjuk ke arah Xiao Jun dengan mata terbelalak marah.


Chen Kho mulai penat mendengar perdebatan itu, ia menegakkan posisi duduknya. “Sudahlah ayah, apa susahnya menuruti tantangan bocah itu? Dia ingin menguji sehebat apa kita, ha ha ha … Bagus juga, terlalu datar sesuai rencana pun sangat membosankan.” Ujar Chen Kho, ia masih sempat menguap di sela perkataan seriusnya.


“Aku suka tantangan, ini semakin menggiurkan. Kabulkan saja permintaan mereka, ayah. Nikahkan mereka besok dan bocah itu harus menggelar konferensi pers dan menyatakan serah terima kekuasaan dari tangannya kepada kita. Dengan begitu, publik tidak akan mengecam kita telah melakukan perebutan kekuasaan.” Timpal Chen Kho penuh antusias.


Kao Jing terdiam memikirkan perkataan putranya, ia pun melirik sekilas dengan tatapan ragu. Namun Chen Kho mengangguk, meyakinkan bahwa perubahan rencana mendadak ini bukan penghalang besar baginya. Ia hanya


menuruti aturan main Xiao Jun dan percaya diri tetap memenangkan pertikaian ini.


“Baiklah, kalian menikah besok dan umumkan pada pers tentang penyerahan kekuasaan.” Tegas Kao Jing yang ditujukan pada Xiao Jun.


“Menikah lalu berikan penawar, baru aku akan gelar konferensi pers.” Kecam Xiao Jun tak kalah tegas.


“Jangan ketagihan menawar bocah, kau tidak punya hak menuntut.” Pekik Kao Jing.


“Oh, jika maumu seperti itu … Berarti anda juga tak punya hak menuntut lebih. Kami hanya dipaksa menikah dengan penawar sebagai imbalan, sebelumnya tidak disebutkan mengundurkan diri dari hak waris. Aku bisa saja tidak bersedia melakukannya, itu tidak masuk dalam kesepakatan awal.” Seru Xiao Jun dengan arogan, senyum liciknya mengembang.


Kao Jing kehabisan kata-kata, wajahnya memerah menahan amarah. Xiao Jun menyudutkannya dengan telak. Chen Kho tetap berpembawaan diri tenang, seperti dugaannya bahwa Xiao Jun tak akan mudah menyerah tanpa perlawanan. Namun Xiao Jun tentu tak tahu apa yang sudah dipersiapkan Chen Kho untuk melumpuhkan kekuatannya.


***