
*Intro instrumen menegangkan khas film laga*
Wen Ting melemaskan kedua tangannya mengayunkannya ke atas bawah, urat lehernya dibunyikan dan kini ia mengepalkan kedua tangan. Bersiap berlaga di antara Xiao Jun dan pria yang tak ia kenal yang masih saja bergulat. Saat ia mendekat, Xiao Jun dan Chen Kho malah mengeluarkan jurus terbang lalu berpindah ke lokasi yang lebih jauh.
“Boleh juga jurus mereka.” Gumam Wen Ting yang malah jadi penikmat seni bela diri mereka, hingga sesaat kemudian ia teringat tujuan awalnya. Wen Ting mendehem sejenak, persiapan olah vokal agar hasilnya menggelegar.
“Woi, tuan-tuan ... cut! CUT! Ada yang haus? Haus? Yang dingin, yang dingin ... silahkan dicicipi nanti lanjut lagi!” Wen Ting malah berulah konyol, ia berteriak seolah pedagang asongan yang menjajahkan minuman di tengah keseriusan perang.
*Instrumen berakhir ^^*
Li An menepuk keningnya, bisa-bisanya ia mengandalkan pria yang bertingkah konyol barusan? Ekspektasi Li An kejauhan, ia membayangkan pria itu muncul di tengah menghentikan perkelahian dengan penuh kharisma. Yang terjadi rupanya tindakan yang lebih mirip lawakan, lelucon yang tidak ada lucu-lucunya.
Intermezzo yang terkesan norak itu ternyata cukup efektif, usai teriakan nyaring itu baik Xiao Jun maupun Chen Kho dibuatnya berpaling. Kini tatapan heran tertuju pada si pembuat iklan yang justru senyum-senyum lugu dan tidak merasa bersalah.
“Tuan Wen Ting, maaf membuatmu menyusul kemari. Tolong menepi sebentar, di sini berbahaya!” Xiao Jun menghampiri pria itu dengan perasaan bersalah telah mengabaikan tamunya.
Chen Kho tersenyum culas, semula ia bingung siapa yang bisa masuk ke area yang ia blokir namun melihat kedekatan dengan Xiao Jun, ia yakin pria itu pasti orang penting bagi musuhnya. Ini kesempatan bagus, Chen Kho berniat memanfaatkan kehadiran orang lain untuk menyalahkan Xiao Jun. Ia tak peduli luka dalamnya bertambah parah, asalkan ia bisa menjerumuskan Xiao Jun dan membalikkan kebenaran maka harga sakitnya akan setara. Dikerahkannya tenaga sisa untuk menyerang lagi, kali ini harus berhasil membuat musuh masuk jebakan.
Wen Ting tersenyum datar, untuk kali pertama ia bersikap lebay lantaran ia sadar tidak punya basic ilmu bela diri. Jika hendak menolong maka ukur kemampuan diri sendiri dan musuh, jangan pula berniat baik namun mencelakakan diri sendiri. “Ah, tidak masalah tuan Xiao Jun. Berapa lama lagi aku menunggumu selesai?” tanya Wen Ting setengah menyindir, ia yakin Xiao Jun pasti sungkan membuatnya menunggu lebih lama dan segera mengakhiri perkelahian.
“Awaass di belakangmu!” Timpal Wen Ting yang spontak berteriak melihat pria di belakang menyerang lagi.
Xiao Jun mendorong Wen Ting menjauh kemudian berbalik memberikan sebuah kepalan tinju bertenaga besar. Dalam satu pukulan, Chen Kho terhuyung jatuh memegang kepalanya. Ia tak terlihat hendak bangkit menyerang lagi, hingga Xiao Jun meyakini bahwa musuhnya sudah menyerah.
“Tidak perlu lama tuan, aku sudah selesai.” Xiao Jun mengibas kedua tangannya, membuang sisa kesialan yang terpapar dari pria menyebalkan itu.
Wen Ting melihat kondisi Xiao Jun yang tampak baik-baik saja, kontras dengan lawannya yang babak belur. “Oh, okey.” No komen lain, Wen Ting memilih diam setelah perannya selesai.
Xiao Jun celingukan mencari Li An, “Sebentar tuan, aku pastikan sesuatu dulu.” Xiao Jun berlari menghampiri Li An.
“Yah? Lagi-lagi aku ditinggalkan.” Gumam Wen Ting sok sedih. Ia pun menyusul Xiao Jun menghampiri gadis cantik itu. Masih ada urusan yang belum selesai dengannya.
Xiao Jun mendapati Li An berdiri mengenakan jas Wen Ting, ia mengernyit bingung tetapi terlihat dari kondisi Li An yang baik, Xiao Jun lega ada yang membantu melindungi kakaknya.
“Jun, kau terluka? Mana yang sakit?” Li An memeriksa wajah, tangan dan mengamati Xiao Jun barangkali ada luka di sana.
“Jangan kuatir, aku tidak apa-apa kak.”
“Aku juga tidak apa-apa.” Timpal Wen Ting tanpa ditanya. Sontak kepercayaan dirinya yang berlebihan itu mengundang tawa.
“Tuan Wen Ting, terima kasih sudah membantu kakakku. Aku akan menjamumu dengan sangat baik sebagai
balasannya.” Ujar Xiao Jun yang merasa sangat beruntung bertemu Wen Ting pada waktu yang tepat.
“Baik, aku setuju! Lalu bagaimana dengan orang itu? Apa dibiarkan mati di situ?” Wen Ting menunjuk Chen
Kho yang tidak bergeming, terbaring layaknya balok.
Li An terlihat tegang, namun demi Xiao Jun dan keadilan terhadap dirinya maka ia harus kuat.
Wen Ting mengangkat bahu dan dengan cuek berkata, “Okelah, urusan perut masih bisa ditunda. Aku penasaran ingin mengenal tuan Li San juga.”
***
Grace tengah belajar menyulam mana kala seorang pelayannya tergesa-gesa berlari menghampirinya.
“Nona... gawat nona, gawat!” teriak pelayan itu dengan napas tersengal.
Grace masih santai menyulam, tidak terpancing kepanikan pelayannya. “Ada apa? Katakan dengan tenang.”
“Itu, gawat tuan Chen Kho cari masalah dengan tuan Xiao Jun. Dia sekarang diseret ke aula menghadap tuan besar.”
Berita yang sungguh buruk, Grace bahkan tanpa sengaja tertusuk jarum saat mendengar itu. Dilemparnya kain yang baru setengah jadi sulaman, lalu pelayannya segera menghampiri dan berusaha mengobati jarinya yang mengeluarkan darah.
“Sudah, biarin saja. Jangan halangi aku, aku susul kakakku sekarang!” Grace menepis tangan pelayannya kemudian berlari keluar meninggalkan vila tempat ia berlatih menjadi wanita terhormat.
Sekelumit kepahitan seolah tiada habisnya, sejak ia menginjakkan kaki ke istana yang bak penjara ini. Grace berlari kencang, mengusap air mata yang ia biarkan melunturkan bedaknya. Yang ia inginkan hanyalah cinta, hidup tenang bahagia, sesulit itukah untuk terwujud? Apa sebaiknya ia menyerah dan kembali di tempat yang dapat menghargai kekurangannya? Tak perlu susah payah melakukan hal yang tidak ia senangi demi menyenangkan orang lain? Di tempat asalnya lebih banyak kebahagiaan yang tak habis-habis untuknya, untuk apa ia rela menderita seorang
diri tanpa ada yang menghargai pengorbanannya?
Grace menerobos masuk dan lolos paksa dari pengawal yang masih mengejarnya hingga ke dalam aula. Kedatangannya langsung menyita perhatian seisi ruangan. Chen Kho yang sejak tadi berusaha meyakinkan bahwa ia adalah korban, justru terganggu konsentrasinya karena kehadiran Grace.
Li An melihat Grace, meskipun baru pertama kali bertemu tapi ia bisa menebak bahwa gadis itu adalah tunangan yang dipaksakan untuk Xiao Jun. Sifat yang keras kepala, menyalahi aturan dan manja, tiga penilaian pertama dari Li An untuk Grace.
“Kenapa kau menerobos masuk? Bukankah ini masih jam belajarmu?” tanya Li San tidak senang ada pihak lain yang ikut campur.
“Paman, aku mohon ampuni kakakku. Dia .... aahhh dia babak belur.” Tangis Grace menjadi-jadi saat melihat lebam dan darah dari sisi bibir Chen Kho. Grace menatap Xiao Jun yang juga berlutut di samping Chen Kho, tunangannya itu tampak baik saja tidak seperti kakaknya.
“Jun, kenapa kamu tega? Apa salah kakakku?” protes Grace pada Xiao Jun.
Chen Kho menatap sinis pada Grace, ia mengkodenya agar diam dan segera pergi dari hadapannya, namun Grace malah tidak mengerti maksudnya.
“Kakakmu melakukan pelecehan pada gadis itu, wajar Xiao Jun marah.” Ujar Li San sinis.
Pernyataan itu mengguncang Chen Kho, ia mengira drama yang dimainkannya berhasil. Ia menuduh Li An lah
yang merayunya dan apa yang hampir terjadi itu karena suka sama suka. Ternyata pamannya justru lebih mendengarkan pihak lawannya.
Grace menutup mulutnya saking terkejut, ia melihat gadis yang dimaksud Li San. Gadis itu berlutut di sebelah Xiao Jun, siapa dia dan mengapa Xiao Jun sangat melindunginya?
***