
Perjamuan yang dikatakan sederhana oleh Xiao Jun terlihat hanya sebuah kiasan, ia mempersiapkan segalanya dengan maksimal demi menyenangkan hati calon klien. Hanya satu hal yang di luar prediksi, Li An ikut diundang makan bersama bahkan yang inisiatif mengajak kakaknya adalah seorang tamu. Xiao Jun awalnya merencanakan
meninggalkan Li An bersama Grace agar saling mengenal sementara ia fokus menjamu Wen Ting sambil membahas bisnis. Segalanya meleset, obrolan mereka kini hanya seputar hal kecil yang jauh dari kesan penting.
“Jadi kalian tiga bersaudara, pasti seru memiliki kakak yang cantik. Aku iri padamu tuan Xiao Jun.” Ujar Wen Ting sembari menyunggingkan tawa yang memamerkan sepasang ginsulnya.
Xiao Jun tersenyum datar, Li An malah menunduk. Seharusnya memang seru andai mereka dibesarkan bersama, tapi demi menjaga suasana tetap mengalir hangat, Xiao Jun tetap berusaha menjawab dengan netral. “Ya, Kau pantas iri padaku. Anak tunggal seperti tuan tidak akan tahu rasa sakitnya dijitak kakak ketika menyembunyikan
sisirnya. Mereka sangat centil, setiap hari bermain dandan dan aku dijadikan modelnya.” Ungkap Xiao Jun sambil tersenyum menyindir Li An yang terbelalak saat mendengar ceritanya.
“Kau masih ingat itu Jun? Apa mau diulang lagi? Kita main sekali lagi ya!” ujar Li An gemes, ia tahu sedang dibuka aib secara tidak langsung.
“Ha ha ha, nona Li An, melihat reaksimu bisa ditebak kalau adikmu sedang mengeluhkan masa kecil yang indah karena ulahmu. Kalau dia tidak mau diajak, aku bersedia jadi modelmu.” Wen Ting menawarkan diri tanpa diminta, ucapannya barusan dianggap serius oleh dua kakak beradik.
“Aku mana berani tuan.” Jawab Li An malu-malu.
Xiao Jun mengamati mimik dua orang di dekatnya secara bergantian. Ada sesuatu yang tidak beres dengan perasaan mereka. Ia tertegun sejenak, mencoba berkonsentrasi membaca isi hati Wen Ting hingga saking asyiknya tak menyadari panggilan pengusaha muda itu.
“Tuan Xiao Jun?” berulang kali Wen Ting menyapa.
“Jun!” Li An memukul lengan Xiao Jun dengan kencang sampai nyawanya terkumpul lagi.
“Maaf, aku melamun. Ya? Ada apa tuan Wen Ting?” Xiao Jun merasa tidak enak kepergok melamun.
Wen Ting tersenyum dan dengan santai ia berkata, “Terima kasih atas jamuan ini, aku sangat puas. Masakan
di rumahmu tidak kalah enak dengan masakan kelas dunia. Hao zhe (enak).”
“Menurutku masakan koki di sini masih kurang, ada masakan yang jauh lebih enak Tuan. Semoga suatu hari kau beruntung bisa mencicipi masakan kakakku. Dia sangat berbakat loh.” Puji Xiao Jun terhadap Li An, ia mulai melebih-lebihkan sedikit keunggulan kakaknya.
Li An langsung terbelalak mendengar promosi Xiao Jun, ia memang bisa memasak tetapi bukan berarti rasanya enak melebihi masakan koki profesional. “Jun terlalu melebihkan, mohon tuan jangan diambil hati. Sanggah Li An sambil melotot kesal pada Xiao Jun.
Wen Ting hanya mengangguk dan tersenyum, “Enak tidaknya tergantung selera, aku rasa nona Li An memang berbakat. Kelak masakkan yang enak untukku ya.” Permintaan itu seperti kode mengajak hidup bersama di masa depan, Wen Ting menyatakannya secara halus namun sayangnya Li An tidak menangkap maksudnya.
“Tuan Xiao Jun, bisakah kita bicara pribadi sebentar? Kita belum membahas soal bisnis.” Ujar Wen Ting.
Xiao Jun merespon dengan positif, tujuan kedatangan rekannya memang untuk urusan pekerjaan dan ini saatnya serius. Ia meminta waktu kepada Li An agar bersedia menunggu di ruang tamu, sementara Xiao Jun membawa Wen Ting menuju ruang kerjanya. Sebuah ruangan elit yang sering ia jadikan kantor kedua semasa masih mengurus perusahaan di sini.
“Kau punya selera yang bagus, desain interior ruanganmu sangat mendukung untuk relax.” Puji Wen Ting, pria ini sangat hobi berbasa-basi dengan siapapun.
Wen Ting malah tertawa kecil melihat ketidak sabaran Xiao Jun. “Tuan, anda rupanya sangat antusias soal bisnis. Aku tidak masalah dengan tawaranmu, maksudku mengajak anda bicara empat mata adalah untuk membahas kakakmu.”
“Kak Li An? Kenapa dengan dia?” tanya Xiao Jun penasaran.
“Aku lihat dia tidak menyukai pilihanmu menjadikannya pelayan. Ia sangat tertekan, jadi aku sudah membahasnya dengan tuan Li San agar membatalkan keputusan itu.”
Xiao Jun tercengang, pria ini begitu peduli dengan Li An. Ia memang bisa membaca isi hatinya dan menilai bahwa Wen Ting sosok pria yang baik, tetapi bukankah semuanya terlalu cepat? “Tuan, atas dasar apa anda menaruh perhatian pada kakakku?”
Wen Ting mulai serius, tak ada lagi guratan tawa di wajahnya. “Ayahmu juga bertanya seperti itu, apa harus ada alasan untuk menaruh hati pada seseorang? Kalau aku tidak punya jawaban, lalu perasaanku akan diragukan?”
Xiao Jun tidak terkejut, ia sudah tahu dan hanya menunggu pengakuan langsung dari pria itu. “Tuan, apa masih ada perasaan yang terlalu cepat diputuskan? Dalam hitungan jam sudah menaruh rasa pada orang yang baru dikenal? Anda punya cara membuktikan keseriusanmu kepada kakakku?”
“Ya, aku mengerti kalau terdengar aneh bagi orang lain, mungkin Li An juga menganggapku demikian. Tapi bagiku cinta itu tidak perlu alasan, aku tak perlu mengarang alasan ketertarikanku hanya untuk merayunya. Kita bicara sebagai sesama pria, aku menginginkan kakakmu. Aku akan menjaganya, dia tidak boleh jadi pelayan
tunanganmu!” seru Wen Ting tegas. Ia sudah bicara pada inti permasalahan, yang bermasalah adalah hatinya. Ia terlanjur jatuh cinta dan tak perlu menyesalinya.
Xiao Jun menahan senyum bahagianya, rasanya seperti diberi sepaket masalah sekaligus jalan keluarnya. Baru saja Li An memohon agar dicarikan pasangan hidup, ia punya keinginan menikah ketimbang harus berkelana bersama Xiao Jun. Lalu sekarang, pengusaha muda itu menawarkan diri sebagai calon kakak iparnya. Sungguh sebuah skenario hidup yang menyenangkan, dinilai dari segi manapun, Wen Ting seratus kali lebih baik daripada Chen Kho. Namun Xiao Jun belum mau memberi restu begitu saja, ia masih ingin mengukur kedalaman hati pria ini.
“Aku terkesima mendengarnya, namun anda belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana caranya membuktikan anda serius pada kak Li An? Dia bukan berasal dari keturunan asli Li, ayah kandung kami seorang pengawal dan ibu kami seorang pelayan di sini. Kakakku tidak punya keahlian, ia hanya berbasic gadis rumahan. Apa sepadan dengan statusmu? Bukan berarti aku merendahkan kakakku, tapi aku tidak mau di kemudian hari setelah perasaanmu berubah, kau mencampakkannya karena kekurangan itu.” Tegas Xiao Jun.
Wen Ting mengambil ponselnya lalu mengaktifkan aplikasi perekam suara, ia menatap Xiao Jun dengan tatapan setajam mata elang. “Aku Lo Wen Ting, berjanji bahwa mulai saat Li Xiao Jun merestuiku menikahi kakaknya, Wei Li An, aku akan mencintainya seumur hidup, memberikannya kebahagiaan, menjamin hidup yang sangat baik untuknya dan anak-anak kami, menjadikannya satu-satunya wanita di sisiku, menerima segala kekurangannya dan mengganggap kelebihannya sebagai bonus, jika suatu hari aku melanggar janji maka dengan lapang aku bersedia memberikan seluruh aset kekayaanku kepada Wei Li An. Pernyataan ini berlaku secara hukum dan akan
kubuatkan surat perjanjiannya.”
Wen Ting mengakhir rekaman suara itu dan masih terus menatap Xiao Jun yang seolah tidak bereaksi. “Begini
sudah cukup meyakinkanmu?”
Janji yang terlalu berani dilontarkan oleh pria sekelas Wen Ting, cinta yang terlalu membutakan atau mungkin inilah yang disebut cinta menanggalkan segala logika. Sebagai sesama pria, Xiao Jun salut akan keberanian Wen Ting, ia belum punya nyali sebesar itu untuk memperjuangkan cintanya. Sedangkan Wen Ting justru lebih dulu
membungkam Li San kemudian datang meyakinkannya, kesungguhan itu saja sudah sangat membuktikan keseriusannya. Strateginya berbeda dengan pria lain yang merayu gadis terlebih dulu kemudian datang meminta restu, ia justru berlaku sebaliknya.
“Hmm, kau harus pastikan gadis itu mau bersamamu dulu sebelum membuat janji seberat itu. Belum tentu dia menerimamu, tuan.” Goda Xiao Jun yang masih mempertahankan gengsi untuk bersuara ‘ya, aku merestui kalian’ secara transparan.
***