OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 472



"Tidur lah dulu, jangan hiraukan aku. Aku bisa jaga sendiri kok, Fang." Lagi lagi Grace menyuruh pelayannya istirahat. Ia memutuskan untuk menjaga ayahnya di sini, Fang Fang pun ikut mendampingi di dekatnya.


"Baiklah nona, jika perlu bantuan apapun langsung bangunkan saya." Fang Fang pasrah akhirnya menurut saja. Ia memang sudah merasakan kantuk sejak tadi namun terus ia tahan. Untungnya Grace sangat peka dan memaksanya istirahat. Grace tahu betul Fang Fang baru keluar dari rumah sakit dan belum sepenuhnya pulih.


"Ng... tidurlah di sana, aku bisa tidur di sebelahmu kalau aku mau." Gumam Grace menunjuk ranjang di sana, ia tahu pikiran Fang Fang pasti akan tidur di sofa demi memberikan tempat itu pada Grace.


Gadis pelayan itu tak membantah, mungkin malas berdebat dengan majikannya. Tak lama setelah itu, Fang Fang terlelap dan tinggallah Grace yang masih tersadar menjaga Kao Jing.


Grace leluasa menatap wajah tua ayahnya yang masih belum sadarkan diri. Ia belum pernah menatap Kao Jing selekat ini, dan barulah Grace sadar bahwa ayahnya sudah sangat tua.


Tanpa perlu melakukan tindakan menghabisi nyawanya saja, mungkin sisa hidup Kao Jing pun tak akan lama. Siapa yang bisa menebak jatah hidup orang? Bahkan Li San yang lebih muda saja sudah pergi duluan.


"Ayah, ini aku putrimu. Maafkan aku yang keras kepala dan membangkang darimu. Ku mohon jangan tinggalkan aku seperti ini, aku pun sangat kehilangan kak Chen Kho tapi aku yakin dia tidak akan tenang melihat kita hidup menderita seperti ini. Ku mohon, demi kak Chen Kho... ayah tetap semangat menjalani hidup. Grace tidak akan pernah meninggalkan ayah. Kalau ayah bangun, Grace janji akan selalu didekat ayah, menjaga ayah. Apapun akan Grace lakukan asal ayah bahagia."


Grace secara sadar mengucapkan itu, apapun demi ayahnya. Ia yakin setelah kehilangan Chen Kho, ayahnya sudah berubah dan tak punya partner untuk berbuat jahat lagi. Apalagi Li San sudah tiada, kemungkinan untuk kudeta sangat kecil. Grace tak bisa diharapkan dan tentunya Kao Jing tidak akan punya harapan untuk merekrut orang untuk melancarkan ambisinya lagi.


Setelah mengatakan tekadnya, Grace pun tertidur dalam posisi duduk bersandar di tepi ranjang Kao Jing. Di saat itu pula, jemari Kao Jing bergerak pelan, sepelan kesadarannya yang mulai kembali.


❤️❤️❤️


Aula utama penuh oleh petinggi, penasehat, serta tamu kehormatan yang datang memenuhi undangan Liang Jia. Suasana berkabung masih kentara, terlebih Li San pun belum dimakamkan. Hari yang dinantikan Weini dan yang lainnya telah tiba, hari di mana ia akan diangkat secara resmi sebagai penerus klan Li. Di hadapan peti sang ayah, Weini akan mengucapkan sumpahnya sebagai penguasa baru.


Dina dan Stevan berdiri tegang, mereka yang tidak tahu apa-apa pun harus ikut dalam momen sakral ini. Tidak ada yang absen hadir, tak terkecuali Grace yang tetap meninggalkan Kao Jing sebentar demi hadir di acara ini. Posisi Grace sebagai anggota keluarga membuat ia harus terpisah agak jauh dari barisa Stevan yang hanya sebagai tamu.


Stevan terpaksa harus mencuri kesempatan memandangi Grace dari kejauhan, hingga Grace menyadari keberadaannya lalu membalas senyuman Stevan yang terlihat sangat bahagia bisa dilirik oleh Grace.


"Udah deh, ditunda dulu yang yangannya. Ini lagi momen serius, ntar salah lagi kalau ketahuan." Bisik Dina mengingatkan Stevan agar tidak lupa diri.


"Iya bawel." Balas Stevan dengan bisikan, ia pun menunduk patuh pada Dina meskipun dengan berat hati.


Suara genderang yang dimainkan barisan pengawal di halaman aula terdengar riuh. Dina dan Stevan takjub menyaksikan atraksi itu secara langsung, walaupun harus mengintip keluar. Tiba-tiba semua orang di dalam ruangan yang berdiri tegak sejak tadi bergegas menunduk, Dina dan Stevan pun mengikuti gerakan orang-orang di depan mereka meskipun tidak tahu apa maksudnya.


Langkah kaki Weini mulai menapaki aula utama, ia memimpin jalan dan disusul Liang Jia yang ada di belakangnya.


"Hormat kepada nona ke-lima dan nyonya besar, panjang umur... panjang umur." Seruan itu terdengar lantang dan kompak dari semua yang ada di aula, terkecuali Dina dan Stevan yang mematung bingung karena tidak mengerti apa yang mereka katakan.


Barulah Dina dan Stevan sadar untuk apa mereka menunduk ketika melihat Weini berdiri di tengah aula. Sorot mata kedua sahabat Weini itu tampak sangat takjub, kagum dan bangga melihat Weini yang terlihat sangat berwibawa dalam jubah kebesarannya yang berwarna kuning emas dan bersulam corak Phoenix. Rasa bangga itu paling jelas dirasakan oleh Dina, ia seakan tak percaya bahwa tadi malam gadis penguasa yang tengah berdiri di sana ternyata sekamar dengannya.


"Semalam dia tidur di kamar gue loh, keren kan gue. Hanya gue yang pernah berbagi ranjang sama dia." Pamer Dina pada Stevan yang masih belum berhenti menatap Weini.


"Percaya deh...." Jawab Stevan singkat. Lebih baik menyingkat respon itu daripada meladeninya, tidak akan ada habisnya menghadapi kebawelan Dina.


Xiao Jun menatap Weini dengan penuh rasa kagum, akhirnya jabatan itu diberikan pada orang yang tepat. Andai Weini dan Haris belum ditemukan, andai kematian Li San jauh sebelum fakta itu terungkap, mungkin Xiao Jun lah yang berdiri di posisi Weini sekarang dan terpaksa menerima takdirnya dengan perasaan tertekan. Bagaimanapun Xiao Jun tetap memegang jati dirinya sebagai keturunan serta penerus dari klan Wei, sebagus apapun iming-iming yang ditawarkan padanya.


Banyak tamu yang berbisik-bisik menyuarakan pendapat mereka tentang Weini. Seorang gadis yang lama menghilang meninggalkan rumor, dan kini tiba-tiba kembali lalu diangkat menjadi penerus. Weini bisa mendengar bisikan mereka, tetapi tidak ambil pusing dengan pendapat miring tentang dirinya.


Penasehat He menoleh pada Liang Jia, meminta aba-aba bahwa ritual hari ini sudah boleh dimulai. Liang Jia menyetujuinya dengan anggukan pelan, kemudian penasehat He langsung tanggap dan memulai segalanya.


"Surat keputusan dari pengusaha terdahulu, Li San Jing, semua yang ada di sini dimohon berlutut." Teriak penasehat He.


Semua tamu yang hadir ikut menuruti perintah itu, tidak terkecuali siapa dan setinggi apapun jabatan mereka di luar. Dina dan Stevan yang tak tahu apa-apa pun hanya ikut saja.


Weini merasa sedikit canggung, walaupun masih bisa ia samarkan lewat ketenangan. Ini hari yang berat baginya, setelah semua prosesi sakral berjalan, ia akan sepenuhnya menjadi Weini yang baru.


Ayah, lihatlah aku berdiri di sini untukmu. Demi baktiku yang tidak bisa banyak berbuat untukmu, aku akan terus berjuang, berusaha mewujudkan harapanmu. Berkati aku sebagai penerusmu, mulai sekarang semua yang dulu kau kendalikan akan ku lanjutkan.


❤️❤️❤️