
“Grace bersiaplah ya, gue sudah menyiapkan sebuah sinetron buat lu. Hanya lu yang cocok jadi peran utamanya jadi nggak perlu casting lagi.” Ujar Bams bersemangat, mumpung Grace ada di sini jadi ia tidak perlu repot menghubunginya lagi nanti.
Stevan terdengar antusias, ia ikut bahagia mendengar kabar baik untuk calon istrinya itu. “Wah, syukurlah... makasih ya pak sutradara. Trus peran utama prianya pasti aku kan?” tanya Stevan dengan sombong saking over percaya diri.
“Kamu nggak cocok sama peran ini, jadi aku oper ke Randy. Sorry ya Stev, kali ini lu nggak bisa pasangan ama bini lu.” Gumam Bams dengan entengnya, namun efeknya sangat besar dan menggema di hati Stevan.
Stevan mengerutkan dahinya, mulutnya sudah siap meluncurkan sejumlah kata-kata protes. Tapi sepertinya ia kalah cepat dengan kebawelan Dina yang sudah menyuarakan isi hatinya. “Kenapa nggak cocok? Non Weini aja dipasangkan sama Stevan buat beberapa sinetron dan film, masa sama Grace nggak bisa sih? Lagian kan non Weini udah nggak lanjutin kariernya, nggak apa-apa dong imagenya digantiin sama Grace aja biar penonton juga punya idola baru.”
Stevan manggut-manggut, untuk kali ini ia bisa setuju dan bangga pada Dina yang membelanya. “Tuh, dengar apa kata Dina.” Seru Stevan sembari melirik Bams.
Weini dan yang lainnya hanya diam, tapi Bams tetap memberi penolakan dengan menggelengkan kepala. “Gimana sih lu Din, kan lu sendiri yang bilang kalau drama ini kudu nyari pemeran yang mendekati lah sama karakter aslinya. Jelas lu tahu kalau wajah bos Xiao Jun sama Stevan itu bagai langit dan bumi, satunya putih bersih kayak bakpao satunya lagi kuning langsat. Ya mana cocok! Randy tuh udah lumayan mendekati lah menurut gue.” Seru Bams yang malah protes balik ke Dina.
Semua menyoroti Dina sekarang, entah apa yang ia janjikan pada Bams sehingga muncul ide projek sinetron berikutnya yang harus mencari pemeran yang sesuai. Dina yang merasa disoroti itu merasa telinganya panas, ia pasti sedang diomongin dalam hati mereka. “Ng, kenapa kalian pada liatin aku kayak gitu sih?” tanya Dina serba salah.
“Kak Bams dan kak Dina lagi rencanakan drama apa, kok bisa mirip Jun segala?” Tanya Weini heran, yang lainnya ikut manggut-manggut.
Bams langsung bersemangata untuk berceloteh, berharap mendapatkan dukungan dari si pemilik cerita asli. “Jadi gini, Dina sempat cerita kalau di kediaman nona itu sangat keren. Pokoknya sangat berkesanlah bagi Dina, dan gue langsung dapat inspirasi untuk membuat sebuah sinetron yang terinspirasi dari dirimu. Nah si Dina bilang kalau menyangkut nona Weini, lebih baik cari pemeran yang sudah tahu betul tentang sosok nona, biar lebih hidup aja dramanya. Trus dia nyaranin Grace karena memang dekat dan sepupuan kan. Tapi si Dina ini nggak nyaranin pemeran prianya, gue pikir image Stevan udah terlalu melekat dengan nona Weini di masa lalu, takutnya pas kemunculan perdana dipasangkan dengan Grace malah menuai kontra, gue jadi beban pikiran juga. Ini kan bukan projek main-main, ini menyangkut biografi nona, jangan sampailah di tanggapi negatif hanya gara-gara image pemeran.” Jelas Bams panjang lebar.
Xiao Jun mengernyitkan dahi, merasa dirinya ikut dikaitkan dalam sinetron ini meskipun memang ia ada kaitannya dengan Weini, tapi jika bisa jangan menyentil kisah percintaannya. “Hmm... kenapa harus ada aku? Kenapa nggak lebih nyorotin tentang Yue Hwa aja?”
Bams menggelengkan kepalanya, rasanya hanya dia yang tahu betul dan berselera tinggi soal dunia pertelevisian. “Mana seru bos, drama tanpa bumbu romancenya. Bos tetap harus ditampilkan karena nggak hidup kalau nggak ada peran bos. Nggak masalah kan bos? Nggak aneh-aneh kok ceritanya, gue kan juga takut dipecat kalau sembarangan bikin drama atas kisah bos sendiri.” Seru Bams terkekeh.
Xiao Jun menatap Weini, meminta persetujuan dari si pemilik kisah. Weini hanya tersenyum kemudian mengangguk pelan, Xiao Jun membalas senyuman itu dan tahu apa yang Weini inginkan. Ia pun menatap kembali ke Bams dengan serius.
“Hmm baiklah kalau itu maumu, tapi dengan satu syarat! Aku mau Stevan yang mewakili peranku.” Seru Xiao Jun lantang.
Grace tersenyum senang melihat ketegasan Xiao Jun, bagaimana tidak senang kalau nantinya ia akan dipasangkan dengan pasangan yang sungguhan. Chemistrynya sudah pasti akan dapat dan terlihat natural ketimbang harus dengan lawan main baru. Meskipun Grace tentu bisa, namun ia baru akan menikah dan ingin terus lengket dengan Stevan. Akan lebih mudah kalau mereka terlibat proyek bersama ketimbang harus sibuk dengan syuting masing-masing serta jadwal libur yang tidak sama.
❤️❤️❤️
“Biar aku saja yang bawakan.” Seru Su Rong yang melihat Fang Fang membawa kantong belanjaan yang besar. Kedua bos mereka menyuruh mereka untuk keluar membeli cemilan, padahal ada OB di kantor yang bisa dimintai bantuan, namun nyatanya Grace dan Xiao Jun masih hobi merepotkan mereka.
Fang Fang tampak malu malu dan menolaknya dengan halus, ia tidak terbiasa mendapatkan perlakuan manis dari seseorang, apalagi lawan jenis dan lebih spefisik lagi, orang membuat hatinya berdebar-debar. “Nggak perlu kok, aku bisa bawanya.”
Su Rong tak peduli, ia justru merebut kantong itu dari tangan Fang Fang, membuat wajah gadis itu bersemu merah, hendak marah namun rasa malunya lebih besar. Akhirnya Fang Fang hanya bisa diam pasrah. Mereka berjalan dengan diam seribu bahasa, sibuk menata degup jantung mereka yang kencang dan kentara debarannya.
“Hmm....”
“Kamu....” mereka berdua terkejut dan saling bertatapan, canggung lantaran hendak mengucapkan sesuatu secara bersamaan. Mereka malah kembali diam hingga Su Rong mempersilahkan Fang Fang untuk bicara duluan.
“Apa kamu sudah betah tinggal di sini?” Tanya Fang Fang yang memang penasaran, lantaran melihat Su Rong tenang tenang saja meskipun terkendala bahasa.
Su Rong memikirkan jawabannya sejenak kemudian mengangguk mantap. “Hmm sepertinya begitu. Aku merasa betah karena di sini banyak orang baik, aku di kelilingi orang-orang yang siap membantuku.” Ujar Su Rong dengan binar mata yang tampak antusias. Ia tidak berbohong atau tengah mengada-ada, rasa damai di hatinya terasa betul sejak ia menjadi anak buah Xiao Jun. Ia diperlakukan dengan layak bahkan dianggap seperti bagian dari keluarga, itulah yang membuat Su Rong betah karena merasa dihargai.
Fang Fang menarik seulas senyuman manis, lega mendengar jawaban itu. “Syukurlah.” Jawabnya singkat, namun justru meninggalkan rasa pensaran dalam benak Su Rong.
“Kamu sendiri gimana? Betah kan di sini?” Tanya Su Rong yang ingin mendengar respon balik dari gadis itu.
Fang Fang mengangguk mantap, “Sama kayak kamu, aku merasa dihargai di sini. Bedanya kamu tidak bisa bahasanya sedangkan aku bisa. Makanya aku penasaran, apa kamu betah di sini, sedangkan buat komunikasi saja kamu harus mengandalkan orang lain.” Gumam Fang Fang yang mulai nyaman berceloteh dengan menyingkirkan rasa malu dan canggungnya.
Sepanjang perjalanan kembali dari minimarket, mereka berdua tak menyadari sudah masuk dalam perbincangan yang akrab. Tak sia-sia usaha dua tuannya untuk mendekatkan mereka, setelah tadi pagi Weini menyampaikan rencananya untuk mencoblangi dua orang itu dan Xiao Jun pun menyetujuinya. Jika semua berjalan lancar, maka semua akan mendapatkan pasangannya, kecuali Bams yang entah kapan baru siap untuk membuka hatinya pada cinta. Ia belum tahu bagaimana rasanya jatuh cinta, sama halnya dengan Fang Fang dan Su Rong yang baru menyadari bahwa cinta itu indah ketika mereka sama-sama saling tertarik.
❤️❤️❤️