
Bagaikan hidup dalam alam mimpi, sulit dipercaya saking terlalu bahagianya. Dina duduk menyilangkan kaki, bergaya sok cantik sambil sibuk selfie di kursi jet yang ditumpanginya. Pengalaman pertamanya menikmati kemewahan hidup ala orang kaya ini tidak akan ia sia-siakan begitu saja.
Oh... Begini rupanya hidup ala nona Weini yang seorang putri. Ada bodyguard di sampingnya, semua yang diinginkan serba dilayani. Eh tapi... nggak juga ya, dia kan sama om Haris di Jakarta sejak kecil. Hmm....
Setiap kali memikirkan Weini, hati kecil Dina terasa nyesek. Entah bagaimana keadaan Weini saat ini, setelah kejadian semalam yang menakutkan. Untungnya lamunan sedih Dina tak bertahan lama, kehadiran pengawal pemberian Xiao Jun yang menghampirinya dengan sebuah nampan berisi makanan, langsung menyita perhatian Dina.
"Nona, makanlah selagi hangat." Pinta pengawal muda plus tampan itu setelah meletakkan nampan di meja depan Dina.
Pemandangan segar di hadapan Dina, jelas memanjakan sepasang matanya. Ia terus memperhatikan gerak-gerik pengawalnya hingga membuat pria tinggi tegap itu serba salah. Pria itu hanya menundukkan kepala, tak berani menatap balik Dina.
Dina tersenyum jahil, hatinya merasa geli mendapatkan perlakuan terlalu formal seperti itu. Biasanya Dina yang melayani Weini, tapi sekarang ia menikmati rasanya dilayani seseorang, dan yang tak disangka adalah perlakuan manis itu dari lawan jenisnya.
"Hei, bisa nggak kamu santai aja? Aku nggak gigit kok. Ah... Aku bahkan belum tahu namamu. Kamu tidak berniat kenalan gitu?" Ujar Dina sok feminim.
Pengawal ini mengangguk pelan, kebiasaan bersikap formal itu sulit dihilangkan meskipun diperintah untuk melonggarkan attitude. "Maaf nona, nama saya Wang Xue Ming." Jawab pengawal itu dengan suara tegas.
Dina mengerutkan dahi, otaknya yang tumpul itu bekerja keras menerima tiga kata yang ribet itu. "Wang Ming?" Seru Dina mengulang nama yang ia dengar dengan ragu.
Pria itu mengulum senyumnya, "Wang Xue (dibaca sie) Ming, nona." Ujarnya mengulang kembali pelafalan namanya.
Dina manggut-manggut tapi tidak juga mengerti, "Ya... Ya... Jadi nama panggilanmu apa?" Tanya Dina, lebih baik ia bertanya panggilan akrabnya saja daripada harus menghapal nama yang bikin lidahnya keseleo itu.
"Nona bisa memanggilku apapun." Jawab pengawal itu.
Dina mengetuk bibir dengan jari telunjuknya, ia tampak serius berpikir. "Kamu punya nama, akan sangat tidak sopan kalau aku mengganti namamu. Tapi, aku kesulitan menyebutnya. Gimana kalau ku panggil Ming Ming saja?" Usul Dina, senyumnya mengembang penuh seraya menatap antusias pada pria di depannya.
Ming Ming terdiam sesaat, kemudian ia kembali membungkuk. "Baik nona."
Permintaannya terkabul, tapi Dina masih tampak merenggut. Masih ada sesuatu yang membuatnya tak puas. "Hmm... berhenti memanggilku nona. Biar adil, kamu juga harus memanggil namaku. Sebenarnya namaku juga cukup panjang, tapi kamu cukup memanggilku Dina." Seru Dina, ia menjulurkan tangannya untuk berkenalan secara sah.
Ming Ming melirik juluran tangan gadis itu, tetapi ragu hendak meresponnya. Dina merasa jengkel karena hanya bersalaman dengan angin, tangannya yang terjulur sengaja ia gerakkan supaya mencolok. Dina kian kesal lantaran pengawalnya terlalu polos tak mengerti kode yang ia maksud.
"Tanda perkenalan...." Seru Dina sedikit menekankan kata-katanya.
Ming Ming tersenyum tipis namun senyuman itu tak luput dari penglihatan Dina. Tipis tapi manis, itulah kesan yang Dina simpulkan dari senyum pengawal itu. Bersamaan dengan degup jantung Dina yang berirama kencang, uluran tangannya pun terbalaskan.
πππ
Susah payah dan penuh rasa tegang yang dirasakan Xiao Jun saat beraksi membawa kabur seorang pasien dari rumah sakit. Pengawal yang terluka itupun tak berdaya lantaran Haris sudah menotok syarafnya hingga mematung. Perjuangan keras Xiao Jun itu berhasil ketika ia sampai di apartemennya membawa pria itu.
Tubuh seperti patung si pengawal itu digeletakkan begitu saja oleh Xiao Jun di atas sofa. Ia hanya pasrah bak mayat hidup, pun tak bisa berbicara sepatah katapun dalam kondisi ditotok.
Xiao Jun merenggangkan ototnya yang habis kerja keras mengangkat pria berbobot itu, dalam keadaan ditotok berat tubuhnya terasa lebih berat dua kali lipat. Untung saja Xiao Jun bisa mengandalkan sihir meringankan tubuh yang sudah ia kuasai, jika tidak maka perjuangannya pasti akan lebih menyiksa.
Setelah dirasa cukup lega ototnya, Xiao Jun menghampiri pria itu kemudian melepaskan totokannya. Dua titik di belakang leher yang ditekan Xiao Jun seketika membuat pria itu bergerak. Ia menatap tajam ke arah Xiao Jun yang dengan santai berdiri melipat tangan menatapnya.
"Aku membebaskanmu, lalu ini caramu berterima kasih?" Seru Xiao Jun tegas.
Pria itu diam menunduk, sekujur tubuhnya masih kesakitan akibat kecelakaan fatal itu. Ditambah ia sekarang berada di sarang musuh, tak mudah baginya berkutik jika masih ingin hidup.
Xiao Jun mengangkat satu alisnya, "Aku membuka totokmu karena tak suka keheningan. Tapi sepertinya kamu memang suka membisu, kalau begitu aku akan mengembalikanmu dalam kondisi tadi." Geram Xiao Jun yang mencoba mengancam pria itu.
Gertakan itu nyatanya tak mempan bagi pria muda itu, ia tampak pasrah nyawanya diapakan saja oleh Xiao Jun. Tetap dalam posisi duduk bersandar di sofa dan diam. Hal itu membuat Xiao Jun menggenggam tangannya dengan kesal.
"Aku penasaran, apa yang dijanjikan Chen Kho padamu sampai kau berani setia dengan bodohnya. Bodoh karena kesetiaanmu pada hal yang keliru, kau jelas-jelas membantu tindak kejahatan tuanmu. Dan nyawamu juga tidak ada artinya bagi dia. Jika racun yang ditanam dalam mulutmu tidak dibuang ayahku, apa kau masih bernapas sampai sekarang?" Geram Xiao Jun.
Pria itu tertunduk diam, ia seperti datang tanpa membawa lidah untuk bicara. Xiao Jun mendekatkan wajahnya menatap tajam pria itu, ia perlu membaca isi pikirannya. Kemudian tak lama senyum seringai tersungging dari bibir Xiao Jun.
"Jadi begitu... Kau terpaksa setia padanya demi keluargamu? Kau takut dia membunuh keluargamu jika kerjamu tak becus? Haha... Apa kau pikir dia sehebat itu sampai kau begitu ketakutan padanya?" Sindir Xiao Jun.
Pria itu mendongak, menatap heran pada Xiao Jun. "Bagaimana kamu bisa tahu?" Tanyanya heran.
Xiao Jun berdiri tegak menatap tajam padanya, "Tentu saja tahu, kau tak bisa membohongiku sekalipun kau mencobanya. Di dunia ini, yang berkuasa dan hebat tidak hanya dia. Kau bahkan sudah melihat saksinya bahwa tuanmu itu belum ada apa-apanya."
Pria itu menyipitkan matanya, tak mengerti maksud perkataan Xiao Jun.
"Pria yang menotokmu, pria yang menyelamatkanmu dari racun mematikan itu adalah orang yang kemarin dibunuh tuanmu. Bahkan kematian tidak berpihak padanya sekarang, dia bisa bangkit lagi dan siap merebut kemenangan dari tuanmu." Jelas Xiao Jun mantap.
Pria kepercayaan Chen Kho itu tertunduk, ia tahu siapa yang dimaksud Xiao Jun. Pria tua yang terluka parah bahkan mati kemarin, ternyata hidup lagi dengan wajah baru dan kekuatan yang hebat. Sejenak ia berpikir akan ada harapan baginya untuk lepas dari jerat Chen Kho.
"Ya, apa yang kau pikirkan itu benar. Kau bertemu dengan orang yang tepat. Sekarang tinggal pilihanmu saja, masih bersedia setia pada tuan tak berhati itu, atau memberot darinya. Aku bersedia menjadi tuanmu, dan ku pastikan keluargamu aman di tanganku."
Penawaran serius dari Xiao Jun itu tak perlu menunggu waktu lama untuk mendapatkan respon. Pria itu mengangguk mantap sebagai jawabannya, disusul dengan kepala yang menunduk hormat pada Xiao Jun.
"Saya bersedia, tuan."
π¬π¬π¬
Yang mau di-update lagi hari ini, ayo tinggalkan komentarnya πππ