
Lau mengurungkan niat saat hendak masuk ke dalam mobil. Dua orang yang duduk di dalam membuatnya tergelitik. Saling menjaga jarak serta bersikap seakan tidak mengenal satu sama lain. Kondisi ini jika dibiarkan pasti akan membuat suasana canggung sepanjang jalan. Lau menutup kembali pintu mobil yang ia buka kemudian berjalan menuju pintu sebelah kursi supir dan membukanya.
“Nona Weini, silahkan duduk di belakang. Di depan sangat mudah tersorot, saya kuatir bisa membuat anda terjebak gossip.” Lau secara sopan dan halus mengusir Weini dari bangku depan.
“Ng tapi…” Weini agak keberatan namun belum menemukan alasan yang tepat untuk bertahan. Di belakang ada Xiao Jun dan dia merasa canggung harus duduk dengannya.
Pria yang membelenggu pikirannya itu sangat peka, ia menyusul Lau keluar. “Paman, biar aku yang duduk di muka saja. Nona Weini pindah ke belakang saja.” Xiao Jun menawarkan win win solusi. Ia hanya ingin memastikan Weini nyaman di dekatnya.
Weini terkejut melihat Xiao Jun mengalah demi dia. Sikap baik itu semakin membuat Weini tidak enak hati. “Jangan Tuan, anda bosnya. Ya sudahlah saya akan nurut. Kita sebaiknya duduk di belakang Tuan Xiao Jun.” Weini turun
dan berdiri berhadapan dengan Xiao Jun, dari jarak sedekat itu aroma tubuh bos muda itu tercium, anehnya Weini merasa tenang oleh itu.
Lau menyembunyikan senyum kemenangannya. Dalam hati ia bersorak girang setelah kedua anak muda itu duduk bersama. Ia segera menjalankan mesin mobil dan meninggalkan mobil Dina yang masih di belakang.
“Tuan, bagaimana jika kita makan di kawasan SCBD?” Lau mengintip dari kaca kecil di depannya, Weini dan Xiao Jun saling membuang pandangan keluar jendela.
“Ide bagus. Kita ke sana saja.” Xiao Jun memberi keputusan dengan cepat.
“Eh, di resto elit itu? Hmm…” Weini menyela namun karena ragu, ia tidak menyelesaikan kata-katanya.
“Ada apa? Kamu nggak suka?” Xiao Jun akhirnya menatap Weini. Kalimat gantung itu membuatnya penasaran.
“Aku sedang tidak mood di muka publik. Ah… bagaimana kalau makan masakan paman Lau saja. Paman, apa kau keberatan?” Weini seketika bersemangat. Masakan Lau sangat cocok dengan lidahnya, dan sedikit membuatnya
ingat dengan kampung halaman. Ia ingin mencicipi menu lain dari Lau lagi jika memang diperbolehkan.
“Dengan senang hati nona. Jika nona sungguh menyukai masakanku, saya akan membuatkan menu andalanku. Bagaimana Tuan?” Lau melemparkan keputusan terakhir di tangan Xiao Jun. Apa mungkin tuan muda itu
mengijinkan Weini masuk lagi ke apartemennya?
“Tidak masalah. Ayo kita pulang!” Xiao Jun membetulkan posisi duduknya dan pura-pura tidak tertarik dengan kegirangan Weini yang bertepuk tangan di sampingnya.
Kamu bisa bersifat kekanakan juga. Xiao Jun menahan senyumnya dalam batin saja.
***
Atmosfer di paviliun utaman kediaman Li terasa mencekam. Nyaris satu jam Liang Jia menginjakkan kaki di ruangan paling besar di kediamannya itu untuk bernegosiasi dengan suaminya. Hingga detik ini, belum
ada kesepakatan yang diperoleh di antara kedua pihak. Liang Jia tetap bersikukuh akan membawa Xin Er berobat ke Guangzhou dengan atau tanpa ijin dari Li San.
“Sejak kapan kau berani lancang padaku Liang Jia?” Li San murka. Wanita yang menua bersamanya itu akhir-akhir ini sangat tidak patuh padanya.
“Sejak kau semakin tidak punya hati. Semakin tua, kau bukannya lebih berbaik hati. Apa kau tidak mempertimbangkan dari sisi Xiao Jun. Anak itu menitipkan ibunya padaku. Apa selama ini dia pernah
mengecewakanmu? Dia sabar dan patuh menjadi anakmu, tapi pernahkah kau menyenangkan hatinya?” Liang Jia mengumpulkan semua keberaniannya. Ia tidak akan membiarkan kondisi Xin Er semakin memburuk. Pengobatan di sini tidak akan efektif jika Xin Er tidak bisa beristirahat total.
“Kau selalu menggunakan Xiao Jun untuk mengancamku!” Li San menunjuk ke arah Liang Jia. Namun wanitanya itu malah menunduk menghindari tatapan dingin di depan.
“Apa kau ingin menunggu pemberontakan dari Xiao Jun? Jika ia tahu satu-satunya ibu yang melahirkan dia dibiarkan menderita oleh keluarga ini?” Liang Jia terus melontarkan perlawanan.
Li San terdiam. Ia belum tergerak hati untuk membiarkan istri pengkhianat pergi keluar negeri untuk pengobatan. Dalam jeda kebungkaman itu, Chen Kho menyelinap masuk dan berlagak menjadi pahlawan.
“Paman, Bibi maafkan kelancangan saya yang tak sengaja mendengar pembicaraan kalian. Paman, mohon kemurah hatian anda untuk mengijinkan bibi Xin Er berobat. Sebentar lagi akan ada suasana bahagia di
keluarga kita, Xiao Jun juga pasti pulang, akan tidak baik jika ia melihat kondisi kesehatan ibunya yang buruk lalu enggan kembali mengurus bisnis di luar.” Chen Kho berlutut di hadapan Li San, berpura-pura menyesali
kelancangannya.
Li San mangut-mangut, logika Chen Kho ada benarnya juga. “Yue Yan bulan depan akan menikah. Sebagai adik, Xiao Jun harus pulang. Kau ada benarnya juga. Bangunlah, jangan berlutut lagi.”
Chen Kho bergegas bangun sebelum kakinya kesemutan. Tradisi yang sangat menyiksa bagi dirinya yang terbiasa bebas di Negara barat. “Terima kasih paman.”
“Liang Jia, bawa saja dia berobat. Pastikan kondisinya membaik sebelum pesta. Dan kau harus mengabari Xiao Jun agar pulang menghadiri pernikahan Yue Yan.”
Chen Kho mengawasi gerak-gerik Liang Jia dari ekor matanya. Sangat mudah membaca pikiran wanita itu, tidak menyukainya tapi juga bukan sebuah ancaman.
“Paman, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan anda.” Chen Kho kembali pada tujuan utamanya menemui Li San. Ia menanti respon positif dari pamannya.
“Silahkan. Di sini hanya kita berdua.”
“Paman, saya menyukai Wei Li An. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya mohon paman tidak mempersulit kami di kemudian hari.” Chen Kho tanpa basa basi memperingatkan Li San.
Li San tersentak kaget, ia menegakkan posisi duduknya dengan serius. “Kau menyukai anak pengkhianat? Tidak! Ada banyak gadis di sini, paman bisa carikan yang terbaik untukmu. Tapi jangan gadis itu!”
“Jika saya tetap mencintai dia, paman mau bertindak apa?” Chen Kho sama sekali tidak takut. Ia mencoba menantang secara terbuka, apa yang berani Li San perbuat padanya.
“Kau menentangku? Aku bunuh gadis itu! Ayahmu tidak akan sudi menerima gadis dengan status rendah seperti dia.” Li San sangat serius. Meskipun keponakannya, Chen Kho tetap salah satu penerus leluhur Li. Dia
tidak akan membiarkan keturunan Li tercampur dengan gadis klan Wei.
“Maka paman menentang keluargaku. Ayahku sudah menerima gadis itu, saya memberitahu paman untuk menghormati posisi anda sebagai tuan rumah, namun tidak bisa menerima jika paman mengatur hidupku. Dendam
keluarga paman, tidak ada urusannya dengan keluargaku. Aku tetap memilih Li An sebagai wanitaku.”
“Ayahmu menyetujuinya?” masih tidak percaya, Li San mengulang terus kata itu. Ia bahkan tidak memperhatikan gerak-gerik Chen Kho lagi. Ia tak habis pikir mengapa kakaknya bersedia menerima calon menantu dari
keturunan Wei yang tidak sepadan dengan status keluarga mereka.
“Saya permisi, paman.” Chen Kho meninggalkan Li San yang masih dihantui pikiran kusutnya. Pria tua itu bahkan tidak menyahut saat Chen Kho berpamitan. Kini senyum lebar mengembang dari sudut bibir Chen Kho,
satu langkah menuju kemenangan besar.
***
Xiao Jun mengantarkan Weini pulang tanpa Lau. Pria itu sengaja sakit perut demi memberikan kesempatan pada tuannya untuk berduaan. Weini sangat kenyang dan puas dengan jamuan masakan Lau. Ia lupa akan diet jika sudah melahap makanan seenak itu.
“Kau beruntung bisa mencicipi masakan paman Lau setiap hari.”
“Jika kau mau, aku bisa memintanya membuatkan bekal setiap hari untukmu.” Ujar Xiao Jun serius.
“Wait… nggak usah repot-repot. Lain kali saja minta paman masakin lagi. Aku lebih suka makanannya ketimbang restoran mahal.” Gara gara makanan, kecanggungan mereka memudar dan nuansa keakraban mulai mendominasi
mereka.
Jemari Weini hendak meraih tombol pendingin di bawah dasbor, bersamaan dengan itu Xiao Jun hendak menyalakan radio. Jemari mereka tak sengaja bersentuhan, Weini segera menarik tangannya. Mereka berdua kembali canggung.
“Sorry.” Ujar Xiao Jun. Ia kembali memegang setir dengan dua tangan sementara Weini tak berniat mengecilkan pendingin lagi.
“It’s Okay.” Seru Weini. Ia mencoba menenangkan degup jantung yang cepatnya persis laju MRT.
Hanya bersentuhan jari saja bisa membuatnya hampir mati jantungan, Weini merasa dirinya terlalu lebay. Tapi ia bisa merasakan perbedaan saat ia satu mobil dengan Stevan dan saat dengan Xiao Jun. Ia tidak merasakan
kecanggungan seperti ini pada Stevan.
“Kita sudah sampai.” Mesin mobil berhenti total, Xiao Jun tetap duduk tenang menunggu Weini turun.
“Kau tak mau mampir?” Weini akhirnya mengijinkan Xiao Jun mengantarnya sampai ke depan rumah. Namun pria itu masih terdiam, tidak menunjukkan respon positif atas ajakan itu.
Dia mengajakku masuk ke rumahnya? Apa yang merubah pikiran gadis keras kepala ini? Xiao Jun bertanya dalam hati, membayangkan penolakan sebelumnya dari Weini dan membandingkan dengan sikap baiknya sekarang. Tetapi ia akhirnya melepas seatbelt dan membuka pintu mobil.
“Aku antar kau sampai bertemu ayahmu.”
Weini tersenyum. Ia segera menyusul Xiao Jun yang lebih dulu turun dari mobil.