
Manager Stevan sudah lima belas menit menyusul ke ruang ganti namun belum juga kembali bersama Stevan. Syuting yang semula diperkirakan tepat waktu berujung molor gara-gara satu pemeran utamanya yang belum siap. Bams mulai kebakaran jenggot, ia tak bersedia kerja lembur karena kelalaian seseorang.
“Kemana sih dua manusia itu? Eh lu, coba cek mereka ngapain sih lama betul.” Bams menunjuk salah satu cameramen yang duduk santai menunggu aba-aba kerja agar menyusul Stevan ke ruang ganti.
Dina langsung mengangkat tangan dan menawarkan diri, “Aku aja kak, sekalian mau tanya tim wardrobe soal kostum non Weini buat Scene selanjutnya.”
Bams memincingkan mata seolah menilai keseriusan Dina, tidak biasanya Dina inisiatif mengambil pekerjaan yang bukan tanggung-jawabnya. “Oh … yaudah buru!” komen Bams singkat dan cuek.
Dina melambaikan tangan pada Weini sebelum ia melangkah pergi, keputusan yang ia ambil tanpa perundingan dengan nonanya itu pasti akan langsung disetujui. Mereka memang tengah memikirkan solusi untuk membantu Stevan, dan Dina melakukan langkah yang pas.
***
Stevan menyerah mengenakan kaos putih pas body yang mungkin bisa membuat wanita tergiur melihat lekuk tubuhnya yang six pack. Andai punggungnya tidak cidera, ia tak akan keberatan mengenakannya. Sayangnya, setelan yang cocok saat ini hanyalah kemeja longgar yang tidak menempel pada kulit. Ia masih berusaha nego
dengan tim wardrobe agar menukar kostumnya dengan yang ia inginkan. Sayangnya, semua berjalan alot lantaran penata kostum meyakinkan bahwa style itulah yang paling cocok untuk scene kali ini.
“So? Tetap nggak ada solusi nih? Gue skip syuting kali ini aja kali gitu.” Ungkap Stevan mulai kehabisan kesabaran berbincang secara baik-baik. Ia menyodorkan baju dalam tangannya kepada seorang wanita dari tim wardrobe.
Manager Stevan mulai kelabakan dengan tingkah aneh aktornya, ia meraih baju itu kembali. “Bos, baju ini bagus kok, sesuai buat bodymu. Dipakai ajalah, pak sutradara sudah uring-uringan menunggu kita.”
“Persetan ama dia, gue bertahun-tahun kerja totalitas. Baru sekali gue berhalangan, itupun karena tim yang resek, trus dia nggak mau ngertiin gue? Yaudah … sebodolah.” Stevan hendak berlalu dari ruangan itu, lebih baik ia kembali ke studio meminta pendapat Bams dengan penampilannya sekarang barangkali boleh untuk langsung
syuting.
Dina menyimak diskusi yang endingnya menyedihkan itu lalu mengkritiki sang aktor, “Lu sensi banget sih kayak cewek lagi PMS. Cuman masalah baju doang udah nggak mau kerja.” Ujar Dina sok usil.
Stevan geram, andai Dina cowok mungkin sudah ia ajak melemaskan otot sejenak dengan baku hantam. “Lu cewek resek, sok campur aja bukan masalah lu.”
“Ck ck ck …” Dina geleng-geleng kepala sambil merem, wajahnya masih memasang ekspresi meledek Stevan. “Dibilang sok campur pula. Apa sih yang nggak bisa diselesaikan ama Dina. Sini!”
Dina meraih baju yang sudah dioper dari tangan ke tangan itu dari genggaman si manager, saking cepatnya gerakan itu hingga mengejutkan si manager. Dina dengan gesit menyeret Stevan yang tak sempat melawan ke dalam ruang ganti lalu mengunci pintu dari dalam. Alhasil mereka berdua berakhir dalam bilik berukuran
3x3 meter itu.
“Lu mau ngapain? Nggak usah sok nekad.” Ancam Stevan dengan jurus kuda-kuda sebagai bentuk pertahanan.
Dina lempeng saja melihat reaksi Stevan, ia sudah bulatkan tekat untuk menelanjangi dada aktor itu. “Udah nggak usah action, di sini gak ada kamera. Buru gue bantu lepasin bajunya.” Tangan kasar Dina seketika menyenggol luka punggung Stevan hingga ia menjerit kencang kesakitan.
Suara auman Stevani itu tembus keluar ruang hingga mengundang kekepoan manager dan kru wardrobe yang masih berdiri menunggu kepastian. Mereka berdua menempelkan telinga pada daun pintu dengan pikiran yang mengkhayal jauh tentang apa yang dua orang itu lakukan di balik pintu hingga menghasilkan suara seperti itu.
“Itu resikonya kalau nggak nurut. Lu diam aja sini gue bukain.” Timpal Dina yang mulai tertular logat lu gue ala Stevan.
Hasil menguping percakapan dari bilik tertutup itu seketika mengundang imajinasi liar dari pikiran Manager Stevan dan si cewek kru, dalam asumsi mereka yang terjadi di dalam adalah skandal besar jika tercium media. Berita yang berkembang di mana-mana pasti akan menuliskan dengan judul ‘Seorang aktor dimesumi manager wanita di celah syuting’.
Bagaimana tidak, jika isi percakapan yang merak tangkap menjurus ke sana. Untuk apa Dina nekad menarik Stevan masuk dan menguncinya, pasti ada hubungan personal di antara mereka sehingga Stevan yang terkenal pasif pada wanita itu bersedia diperlakukan seperti itu.
“Tolong tutup mulut ya, kalo kesebar nih berita bisa bungkus sinetron mereka.” ujar manager memohon pada cewek di sampingnya. Untungnya si cewek mengangguk dan tak berani buka mulut.
Dina meminta Stevan mengangkat tangan secara bergantian saat ia memakaikan lengan kaos itu. Sayangnya sepelan apapun juga tetap menimbulkan gesekan pada perban hingga Stevan meringis.
“Tahan dikit napa sih, lu kan gentleman masa ama luka dikit udah KO.” Cibir Dina separuh bercanda.
“Lu masih dendam ya soal kemarin? Sekarang nyawa gue di tangan lu deh, terserah mau lu ambil juga gue ikhlas, buka aja tuh perban robek lagi luka gue.” Balas Stevan tak kalah sewot.
Dina nyengir, andai teori itu semudah mempraktekkannya namun ia masih punya akal sehat dan hati nurani untuk mengasihani seseorang yang tengah terluka luar dalam. “Bikin lu mati semudah itu mah nggak seru, yo weslah ngapain bahas hal nggak guna. Udah, yuk syuting. Bams udah mau jantungan gara-gara elu.”
Baju yang disewotkan sekian lama oleh Stevan berakhir juga di badannya, ia memang terlihat menawan dengan kaos putih polos yang menonjolkan bentuk tubuh proposionalnya. Dina mengakui pesona tampan aktor satu itu.
“Aiyoooo … lu kayak oppa Korea, kece, kinclong. Sayang gue nggak demen ama brondong, kalo nggak sih gue sikat lu.” Ujar Dina terbahak-bahak.
Stevan nyengir mendengar kepedean Dina, “Simpan khayalan lu dah, hati gue nggak mudah berpaling. Btw, lu udah tahu kan mulai besok lu yang urusin luka ini sampe sembuh.” Suara Stevan melunak, ia berhati-hati mengeluarkan perkataan barusan.
“Jangankan besok, mulai sekarang aja gue siap. Kalau lu bandel, gue senggol tuh lu … mmmm …mmmm
…” Stevan membekam mulut Dina sebelum ia menghabiskan ucapannya.
“Ssstttt … jaga omongan lu, di luar masih ada yang bisa dengar. Ini rahasia kita bertiga, deal!” Stevan mencoba meraih kesepakatan.
Dina mengangguk, ia menyadari kecerobohannya. Baik kepada Weini dan Stevan, ia nyaris membahayakan dua rekannya akibat volume bocornya. “Tapi lu juga jaga sikap ama Weini. Jangan bikin dia makin stress.”
Masalah itu tidak semudah itu bagi Stevan untuk mengiyakan, ia tepekur diam dan tak lama kemudian mengambil inisiatif keluar lebih dulu. Saat ia membuka pintu, kedua orang yang menempel di pintu ikut terdorong ke dalam dan hampir terjerembab jatuh. Manager dan cewek itu salting dan ketakutan melihat Stevan, untungnya Stevan tak ambil pusing dan mengajak managernya berlalu dari sana.
Kehadiran Stevan dan Dina ke studio disambut senyuman dari Weini, apalagi melihat Stevan yang sudah berganti kostum dan Dina yang berpose kegirangan di belakangnya seakan mengisyaratkan misi komplit. Kala Weini masih memasang senyuman, tatapan Stevan tertuju padanya dan langsung membuang muka. Seketika itulah jarak terasa
tegas memisahkan mereka, Weini tak bisa menarik kembali senyumannya, namun enggan ambil hati atas sikap Stevan. Semuanya perlu waktu, biarlah waktu yang membenahinya.
***