OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 396 KECEPLOSAN



Fang Fang pulang ke apartemennya bersama Stevan, setelah menghabiskan waktu hingga subuh di dalam mobil, di jalanan tepatnya. Semua itu karena mereka berdua terlalu penurut, hingga menuruti permintaan Grace agar Stevan selalu dikawal Fang Fang.


"Jujur saja, aku perlu tidur sekarang. Lebih baik aku pulang ke apartemenku, kamu pasti tidak akan nyaman berada satu atap denganku." Keluh Stevan, tenaganya terkuras dan ia lemas.


Fang Fang melirik sekilas, tampang Stevan memang kelihatan kusut karena terus terjaga sepanjang malam. Namun Fang Fang sudah terlatih, fisiknya masih prima bahkan ia masih sanggup menghajar orang jika diperlukan. Ia tak berniat menjawab keluhan Stevan, bagaimanapun Grace memerintahkannya untuk berada di sisi Stevan, hingga ia pulang. Stevan enggan membawanya ke apartemennya, karena takut terendus media dan jadi gosip, satu-satunya solusi adalah pria itu harus ikut pulang ke apartemen Grace.


Langkah Fang Fang terhenti, ia mempertajam pendengarannya. Tingkahnya yang tiba-tiba itu tak disadari Stevan, pria itu masih berjalan bahkan bicara kepada Fang Fang. Stevan baru sadar ketika tidak ada respon, ia pun menoleh dan mendapati Fang Fang bergeming dalam jarak 6 langkah di belakangnya. Dengan malas, Stevan berjalan mundur mendekati gadis itu.


"Ada apa?" Tanya Stevan penasaran.


Fang Fang meletakkan jari telunjuk di bibirnya, menyuruh Stevan diam dalam isyarat. Stevan mengernyitkan dahi, heran melihat tingkah aneh Fang Fang. Tanpa menggubrisnya, Fang Fang berjalan ke apartemen tetangganya kemudian membunyikan bel. Stevan mengejar Fang Fang begitu tahu gadis itu mendatangi tempat Xiao Jun.


"Hei, apa dia sudah pulang?" Tanya Stevan penasaran.


Fang Fang menjawab singkat tanpa menoleh pada Stevan. Fokusnya masih tertuju pada pintu yang ia harapkan terbuka. "Sepertinya...."


Dan benar saja dugaan Fang Fang, ia memang tak punya indera ke enam, tapi feelingnya cukup tajam. Ia merasakan tanda-tanda ada penghuni dalam apartemen itu, terlebih ada masalah yang menimpa Weini, bisa dipastikan Xiao Jun akan segera pulang.


"Fang Fang? Kamu?"


Kebetulan Xiao Jun yang membukakan pintu lantaran Lau diminta istirahat, ia sama terkejutnya dengan Fang Fang dan Stevan yang menatapnya. Pagi-pagi begini Stevan bersama Fang Fang mendatangi apartemennya, secepat itukah kepulangan Xiao Jun diketahui orang?


"Lu udah pulang bos? Baguslah, Weini... Temukan Weini...." Pinta Stevan serius. Biar bagaimanapun Weini sudah dianggap adik kesayangannya.


Xiao Jun mengangguk pelan kemudian melebarkan daun pintu. "Masuklah, lebih aman bicara di dalam." Perintah Xiao Jun terutama pada Fang Fang. Mereka berdua bergegas masuk setelah dipersilahkan.


Dina baru saja mandi dan hendak sarapan di ruang dapur, gara-gara tidak ada rencana menginap, ia tak punya persiapan apapun. Masih dengan pakaian yang sama dan wajah polos lantaran make up-nya terhapus kala mandi, namun gadis itu cuek saja. Ia tak memusingkan penampilannya yang memang cukup menarik walau dengan wajah polos.


"Eh?" Langkahnya terhenti saat melihat siapa yang datang pagi-pagi. Bak reuni yang tak terduga, mereka malah berkumpul di sini tanpa janjian. Dina sengaja diam di tempatnya berdiri, membiarkan dua tamu yang datang ini melihatnya.


Stevan ternganga lalu reflek menunjuk Dina yang terpaku diam juga. "Lu juga di sini? Gue cariin dari semalam, hape lu ke mana? Gue kira ikut hilang bareng Weini." Tanya Stevan khawatir, ia berjalan mendekati Dina.


Dina menunduk sedih, kata-kata Stevan mengingatkannya kejadian semalam. Kejadian yang tidak terlupakan sekalipun ingin ia lupakan, kejadian yang menyisakan trauma bagi Dina serta mengubah hidupnya dalam satu malam.


"Ceritanya panjang, sorry gue nggak pegang hape dari semalam. Lu ngapain juga pagi-pagi di sini?" Gantian Dina yang bertanya penasaran.


"Itu... Gue nyari Weini sama dia, gue ke kantor tapi nggak dibolehin masuk ama petugas. Dia sih yang mau masuk, gue nunggu di mobil gara-gara banyak wartawan." Jelas Stevan.


Xiao Jun membiarkan reuni dadakan itu berlangsung di tempatnya. Semua orang yang menyayangi Weini berkumpul di sini, bersiap menghadapi hari baru yang masih sulit untuk dihadapi.


"Kalian sudah sarapan? Sekalian bareng Dina saja, sudah siap kok di dapur. Anggap saja rumah sendiri." Xiao Jun dengan ramah mempersilahkan tamunya, sedangkan ia sendiri belum berniat menyentuh makanan apapun. Ia pikir lebih baik menunggu kakak ipar, ayahnya serta Lau untuk bersantap bersama. Dan mereka masih istirahat di kamar masing-masing.


Stevan mengangguk senang, "Pas banget gue laper. Yuk Dina, Fang Fang jangan malu-malu." Seru Stevan girang lalu dengan langkah santai melenggang ke dapur. Xiao Jun dan kedua gadis yang disebut itupun mengikuti dengan diam.


Xiao Jun memesan makanan siap saji dalam porsi yang sengaja dilebihkan. Siapa sangka pula akan pas disantap oleh tamunya. Begitu mereka duduk hendak makan, Stevan melirik Xiao Jun yang tampak duduk sebagai penonton.


"Lu nggak makan bos?" Tanya Stevan.


Xiao Jun menggeleng lalu tersenyum, "Silahkan, aku tidak terbiasa makan jam segini."


Stevan nyengir namun paham, ia tak lagi sungkan lalu melahap ayam paketan merek ternama itu dengan lahap, kebetulan ia memang lapar. "Lu udah tahu belum bos? Sedunia heboh karena Weini, bahkan sampai di negara asalmu. Gue nggak nyangka aja selama ini berteman sama orang hebat seperti Weini. Pantas saja aura dia beda banget, ternyata memang keturunan orang hebat." Kelakar Stevan di sela mengunyah makanannya.


Dina berhenti melahap, walaupun Stevan tidak bercerita padanya tetapi ia ikut mendengarkan dan penasaran, apalagi ini menyangkut Weini. Lebih tepatnya menyangkut gadis dengan paras cantik paripurna yang ia lihat semalam.


"Maksud lu apa Stev? Weini keturunan siapa?" Tanya Dina memicingkan matanya.


Xiao Jun agak terkejut tetapi bisa mengendalikan dirinya, ia yakin Stevan bisa tahu sejauh itu dari Grace dan Fang Fang. Sementara media lokal saja belum mengorek berita sedalam ini, tetapi Stevan justru sudah tahu. Ditambah sikap Fang Fang yang langsung menunduk ketika Stevan angkat bicara, gadis itu reflek menyembunyikan rasa bersalahnya.


Stevan menatap serius pada Dina, "Lu nggak tahu? Seriusan lu nggak tahu? Lu kan managernya, masa dia nggak cerita apapun? Ah atau jangan-jangan bos Xiao Jun yang kekasihnya aja nggak tahu rahasia ini?" Celetuk Stevan mengalihkan pandangannya pada Xiao Jun sekarang.


Xiao Jun menyeringai, ia mengatupkan kedua tangannya kemudian angkat bicara. "Karena kalian sudah tahu, maka tidak ada lagi rahasia di antara kita. Mulai sekarang, sebagai orang-orang yang menyayangi Weini, kita juga harus saling menjaga. Dina, perlu kamu ketahui bahwa sebenarnya Weini adalah nona terhormat dari Hongkong, dia putri bungsu penguasa negara itu. Banyak hal yang terjadi hingga dia bisa besar dan menjadi artis di sini, kamu bisa cari tahu beritanya di internet. Aku yakin sudah banyak berita yang beredar seperti yang Stev baca, tapi tidak semua berita itu benar. Dan karena itulah, aku harus klarifikasi semuanya siang ini." Jelas Xiao Jun serius.


Dina shock bukan main, selama ini ia sudah sangat bahagia menjadi manager seorang artis pendatang baru yang sukses dan rendah hati. Tak pernah ia sangka bahwa sosok Weini ternyata sangat luar biasa, lebih dari yang ia ketahui sekarang. "Jadi selama ini aku jadi asisten seorang nona terhormat dari negara lain?" Tanya Dina dengan suara yang terdengar bergetar, ia menutup mulutnya saking histeris.


Dina pantas merasa bangga, bisa dikatakan ia adalah orang terdekat Weini, yang sering berbagi suka duka, yang menemaninya sukses, bahkan yang dipercaya melihat wajah aslinya untuk pertama kali. Dina langsung berpikir jauh, apakah ia pernah melakukan kesalahan pada Weini? Sungguh ia merasa grogi jika benar pernah melakukannya.


Stevan mengangguk mantap, membenarkan pertanyaan Dina. "Lebih kerennya lagi, ternyata Weini pakai topeng selama ini. Topengnya saja sudah secantik itu, apalagi aslinya ya? Apa lu tahu wajah aslinya gimana bos Xiao Jun? Atau lu juga tahu Dina?"


Dina terlalu bahagia dengan kenyataan ia menjadi orang kepercayaan Weini, hingga lupa mengontrol diri untuk bungkam. Dengan cepat ia mengangguk, membenarkan pertanyaan Stevan. Pria itu langsung terkejut, begitu pula dengan Fang Fang yang sedari tadi sibuk menjadi pendengar setia.


"Hah? Serius lu udah lihat wajah aslinya? Dia kayak apa? Cantik nggak?" Ceplos Stevan, ia sampai berdiri untuk menanyakan hal itu.


Xiao Jun melirik Dina lalu melengos, Dina memang perlu segera diamankan. Sifat latahnya akan berbahaya bila dibiarkan dekat dengan orang yang ia kenal bahkan ia percaya sekalipun. Sementara itu, Dina langsung kikuk lantaran melihat ketidak senangan Xiao Jun kepadanya. Ia keceplosan, dan kini ia bingung harus menjawab apa pada Stevan.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Besok lagi ya, yang belum follow akun author, yuk tolong dibantu follow ya. Makasih... Love You All 😘😘😘