
Akan menyenangkan jika kenyataan selalu sesuai dengan harapan.
Jika itu terjadi, maka kau takkan pernah belajar arti sebuah perjuangan dan kesabaran.
__Quote of Wei aka Haris__
***
Xiao Jun sedang melihat foto Xin Er dari ponsel. Tubuh atletisnya terbaring santai di tempat tidur. Berbagai koleksi foto ibu kandungnya memenuhi memori ponsel yang dikirimkan Liang Jia. Inilah satu-satunya pengobat rindu di kala jauh dari wanita yang dicintai. Ingatan masa kecil tentang wajah ayah dan saudarinya terselamatkan berkat kecanggihan teknologi. Foto lawas mereka ia pindahkan dalam bentuk file. Sebuah panggilan masuk membuyarkan nostalgia Xiao Jun. Ia mengernyit sebelum menerima telpon dari gadis itu di tengah malam.
Nona galak memanggil…
“Halo.” Sapa Xiao Jun singkat.
“Eh…” Suara di seberang terdengar gugup. “Ha halo…”
Xiao Jun menahan senyum kala mendengar jawaban dari lawan bicaranya. Suara yang terbata itu terdengar menggemaskan. “Angin malam apa yang bertiup hingga nona menelpon selarut ini?”
Zzzzz… Tak terdengar balasan dari Weini. Mereka terdiam sejenak membiarkan ponsel menempal di telinga menanti kelanjutan.
“Kau yang duluan menghubungiku kemarin, aku baru teringat dan segera menelpon balik. Mana tahu kalau penting. Rupanya kau, si pria arogan.” Weini berhasil mengkoarkan alibi yang masuk akal.
“Hmm… Kau memberiku julukan? Baiklah kalau begitu jangan salahkan aku membalasmu, nona galak.” Senyum Xiao Jun merekah, skor seimbang kini.
“Hei… Aku punya nama!” seru Weini.
“Aku juga!” Balas Xiao Jun.
“Huft. Kok jadi debat sih? Oke aku yang salah. Sorry.”
Weini merasa perdebatan itu terkesan konyol. Lebih baik ia melunakkan diri menghadapi lawan bicara yang sama-sama keras kepala ini.
“Permintaan maafmu akan kuterima dengan satu syarat.”
Kilah Xiao Jun. Sebuah pertaruhan antara diterima atau tidak syarat itu oleh Weini.
“Hei, otak bisnismu memang encer ya. Bahkan maaf saja perlu syarat. Btw, kenapa kau menelponku sebanyak itu kemarin?” ujar Weini, sepertinya ia kembali menebar bibit percekcokan.
“Oh itu… Aku hanya penasaran kenapa kau selalu menolak niat baikku.”
Weini terengah, kenapa soal lama diungkit lagi. “Soal angpao itu?”
“Termasuk itu dan juga kompensasi keamanan. Apa nominalnya kurang?” Xiao Jun mulai berganti posisi tubuh. Kini ia duduk tegak di atas tempat tidur, menunggu sebuah jawaban.
“Tidak. Itu terlalu besar dan tidak pantas aku terima. Resiko kerja itu ditanggung managemenku, kau tidak perlu mengganti rugi.” Helaan napas Weini yang berat terdengar oleh Xiao Jun.
“Besok kamu ada Shooting?” Xiao Jun mengalihkan pembicaraan.
“Libur.” Jawab Weini singkat.
“Oke, pulang sekolah tunggu di tempat kau bertemu Lau kemarin. Kau berutang maaf padaku dan jangan ingkar janji besok!” Xiao Jun enggan mendengar penolakan lagi hingga ia bergegas mengakhiri pembicaran.
***
“Hei tunggu! Besok aku ada acara lain. Lagian siapa yang utang maaf, siapa yang janji??? Halo? Haloooo?” Weini melihat layar ponsel, telpon ternyata sudah terputus tanpa ia sadari. Pria itu seenaknya membuat keputusan
padahal ia belum menyetujuinya.
“Arrrghhhhh sebel!!!” saking emosinya hampir saja ponsel itu melayang dibanting Weini. Setiap kali berurusan dengan pria itu, ia selalu adu urat.
Gedoran pintu secara pelan terdengar dari dalam kamar Weini. Ia segera berhambur membukakan pintu. Haris berdiri di depan pintu dengan raut wajah khasnya yang terlihat santai.
“Weini belum tidur?” ujar Haris tertawa hingga membuat ekspresi wajah Weini tampak kikuk.
“Boleh aku masuk? Ada yang ingin aku sampaikan.” Haris meminta dengan sopan, bagaimanapun Weini sekarang sudah anak gadis. Walaupun ia walinya, namun masuk ke kamar anak gadis tanpa ijin merupakan hal yang tabu
baginya.
Weini melebarkan daun pintu, mempersilahkan Haris masuk. “Hal penting apa sampai harus ngobrol tengah malam, Pak?”
Haris mengambil tempat duduk di kursi belajar sedangkan Weini duduk di atas kasurnya. Keduanya berhadapan dengan jarak satu setengah meter. Haris terdiam sejenak, kemudian menata hati untuk menyampaikan maksudnya.
“Kita perlu membahas soal masa lalu, masa kini dan masa depan. Weini, gimanapun kita mengubur kenangan buruk, tetap saja kita tidak bisa melupakan sumbernya.” Haris memulai pembicaraan serius. Raut wajahnya yang
santai kini tampak begitu tegas. Melihat mimiknya mengingatkan Weini kepada sosok pengawal Wei yang dulu.
“Maksudmu apa Pak Haris?” Weini menanti kelanjutan pesan yang disampaikan Haris.
“Di masa lalu kau adalah putri dari keluarga terhormat, meski tidak diakui namun darah tetap tidak bisa membohongi statusmu. Di masa ini kamu seperti anakku, kita sepakat menghilangkan status formalitas. Dan
di masa depan, selalu ada kemungkinan terbaik atau terburuk. Dan aku ingin kau menyiapkan diri untuk itu.”
Rasa perih dicampakkan keluarga, hendak dibunuh ayah kandung mulai merasuki hati Weini. Sakit yang tidak berdarah namun perih seakan dihujam belati. “Lalu kamu mau aku seperti apa?”
“Semula aku optimis masih punya harapan memberitahu ibumu bahwa kita masih hidup. Memberitahu istri dan anakku bahwa aku merindukan mereka dan akan mencari jalan pulang. Namun harapan itu pupus. Sihirku tidak
direspon oleh keluargaku, entah seperti apa nasib mereka.” Haris tertunduk menyembunyikan genangan airmata. Tangannya menopak dahi saking beratnya memikirkan keluarga yang ia tinggalkan.
“Ini semua salahku, Pak.” Weini mulai terisak. Sesakit-sakitnya perasaan dicampakkan, ternyata lebih perih menjadi alasan seseorang kehilangan keluarga.
“Tidak bukan salah siapapun. Di dunia ini semua yang terjadi pasti ada alasannya. Aku kemari untuk memberimu wejangan agar kau tidak menyepelekan sesuatu, sesimpel apapun itu. Meskipun kita tidak ingin kemungkinan terburuk yang terjadi, tetapi lebih baik mawas diri.”
“Aku akan mematuhimu, Pak. Semua pasti kau lakukan demi kebaikanku.” Jika itu bisa membalas budi Haris, tentu Weini bersedia melakukan apapun.
“Weini, ada satu mantera dan cara penggunaannya yang harus segera kau pelajari. Aku akan memberikan petunjuk, setelah berhasil kau kuasai maka kertas itu harus dibakar. Jangan tinggalkan bukti hingga tidak akan
menyusahkanmu kelak.” Haris menyodorkan secarik kertas kuning yang berisikan rumusan mantera aksara mandarin berwarna merah.
Ketika kertas itu dibuka Weini, aksara merah itu terlihat bercahaya memantulkan kekuatannya. Weini memahami isi mantera itu, ia sudah terbiasa dengan sihir yang diajarkan Haris dan tak kesulitan mempelajarinya.
“Mantera ini cukup berbahaya jika digunakan. Hasilnya seperti spekulasi antara hidup mati. Umpamakan dengan aku memberimu sebuah golok beracun, jika kau pakai untuk melindungi diri mungkin kau sendiri yang akan kena racunnya, atau musuhmu yang kena.”
“Tapi aku harus menggunakannya. Ini menjadi senjata terakhir untuk bertahan kan?” Weini menangkap maksud Haris.
“Betul. Tidak ada pilihan lain selain mengeluarkan golok itu.” Haris sangat puas dengan bakat Weini yang cepat mempelajari ilmu yang diajarkannya.
“Weini, kau masih ingat pesanku bahwa topengmu tidak boleh dilepas?”
“Ya. Walau aku penasaran seperti apa rupa asliku sekarang.” Weini nyengir membayangkan fakta ia memiliki dua wajah.
“Haha… Aku juga memiliki dua wajah.” Timpal Haris menggoda Weini.
“Sebenarnya, untuk melepas topeng itu butuh banyak pengorbanan. Dan mantera inilah yang bisa melepasnya. Aku memberitahumu untuk berjaga-jaga di masa depan jika aku tidak bisa melindungimu lagi, kau harus mengandalkan dirimu sendiri.” Haris berpesan seakan itu wasiat terakhirnya saja sampai membuat Weini merinding.
“Jangan berkata begitu, kau membuatku takut Pak. Kau akan panjang umur, berkumpul lagi dengan keluargamu.” Weini menghibur Haris, tapi lebih tepatnya menghibur diri sendiri.
Haris tersenyum datar, dalam hatinya pun bertanya apa ia masih bisa berharap seperti itu? Keinginannya untuk mewariskan semua ilmunya kepada Li Jun pun mulai pupus. Akan lebih realistis jika ia mewariskan seluruh kesaktiannya pada Weini, sebelum sesuatu yang buruk benar-benar menghampiri.
***