OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 417 SISI KELAM



Aku mendengar suaramu dalam mimpiku


Aku bertemu denganmu antara nyata atau semu


Saat ingin kujamah, kau malah berbalik pergi


Tunggu aku, jangan tinggalkan aku sendiri


Aku tak mau sendiri....


_Quote of Weini aka Yue Hwa_


πŸ’–πŸ’–


"Weini... Bangun!"


Weini gelisah dalam tidurnya, suara Xiao Jun yang berteriak memanggilnya terdengar mengusik. Kendati tertidur, namun Weini sadar bahwa ia tengah bermimpi, hanya saja ia tidak tahu bagaimana sadar dari alam bawah sadarnya.


"Jun, kamu di mana? Kenapa hanya suaramu saja? Jun, muncullah!" Pekik Weini, ia yakin ini bukan mimpi biasa. Terasa cukup nyata meskipun sulit dipercaya.


"Aku sudah berusaha menemukanmu tapi jejakmu belum terlacak. Weini, bangunlah, bantu kami menemukan tempat persembunyianmu." Suara Xiao Jun bergema dalam ruangan gelap tanpa batas, tempat Weini berdiri sendirian.


"Chip sihirku apa tidak cukup dengan itu? Apa sesulit itu mencariku? Atau Dina tidak memberikan padamu?" Pekik Weini, ia takut Xiao Jun tak lagi mendengarnya.


"Jun... Kau masih mendengar ku kan? Jawab!" Weini berteriak panik.


Tidak ada suara balasan lagi, namun kegelapan tempat Weini berdiri justru mulai tampak seberkas cahaya. Weini membesarkan bola matanya, tak akan ia biarkan ada yang terlewatkan.


"Ah...." Senyum Weini mengembang, ia melihat punggung seseorang yang sangat ia kenali, berjalan membelakanginya.


"Jun... Aku di sini!" Teriak Weini histeris, tetapi Xiao Jun tetap berjalan pergi seolah tak mendengar teriakannya. Weini berlari cepat, tangannya berusaha meraih Xiao Jun, tetapi kegelapan kembali menutup penglihatannya. Secara perlahan penampakan Xiao Jun pun menghilang.


"Jun! Xiao Jun! Wei Li Jun!" Teriakan Weini menggema, ia tak tahu harus memanggil apa lagi pada sosok yang dicarinya. Yang pasti ia harus membuka mata lebih lebar untuk mencari Xiao Jun di tengah kegelapan, tekat Weini begitu besar memaksakan dirinya untuk melihat. Hingga tanpa ia sadari, ia telah melakukan sesuatu yang tepat bagi dirinya. Matanya sungguh terbelalak, ia bisa melihat cahaya terang dan ini sungguh nyata.


"Kamu cantik, tapi apa gunanya kalau hanya tidur. Aku tidak kenal siapa kamu, tapi kumohon jangan menakutiku lagi."


Kata-kata itulah yang pertama kali Weini dengar saat ia sadarkan diri. Ia melirik sosok seorang gadis yang sedang membelakanginya, menatap tajam ke arahnya lantaran sosok itu belum ia kenal.


Suasana dalam ruangan itu berubah hening dan dingin mencekam, si gadis pelayan pun cukup peka merasakan perubahan itu. Bulu kuduknya berdiri, ia merasa tengah disoroti dari belakang. Gadis pelayan itu memegangi lehernya, ia merinding tapi penasaran dengan sesuatu di belakang. Meskipun takut namun ia memberanikan diri untuk menyelidiki, pelan-pelan ia menoleh ke belakang.


Weini tak melepas pandangannya pada sosok gadis asing itu, ia menanti gadis itu berbalik dan membalas tatapannya. Dia orang pertama yang Weini lihat saat sadar, banyak pertanyaan yang harus Weini ajukan padanya.


Gadis pelayan itu menoleh lalu mendapati sosok yang tadi ia gunjingkan itu sedang menatapnya, tajam bahkan seakan bisa menusuknya dengan tatapan itu.


"Aaarrrgghhh...."


"Jangan pergi...." Lirih Weini, tangannya dijulurkan satu demi mencegah gadis itu berlalu, tetapi langkah gadis itu lebih cepat untuk kabur dari kamar itu.


Weini berusaha bangun, sayangnya meskipun sudah sadarkan diri tetapi tubuhnya masih terasa lemah. Jangankan untuk bangun, hanya mengangkat satu tangannya saja tidak bisa lama-lama. Terpaksa Weini mengedarkan pandangan ke sekeliling dalam kondisi berbaring. Ia mulai bingung, tempat yang benar-benar asing.


"Ah, Jun?" Weini teringat sedang mengejar dan berteriak memanggil Xiao Jun hingga terbangun. Setelah ia sadarkan diri, justru ia tak mengenal tempat ia berada.


Sekelebat ingatan tentang malam tragis itu, wajah Dina yang panik menangis, wajah Haris yang terbujur kaku, hingga pemakaman sederhana serta dadakan itu. Weini mengingat lagi kepedihan hatinya, rasa kehilangan yang amat besar memukul hatinya.


"Ayaaah... Semoga kau di tempatkan di surga. Tenanglah di sana." Weini lirih, ia belum kuat terisak, hanya air mata yang mengalir dari ujung matanya.


"Jun, kenapa belum menemukan ku? Aku sudah tertidur berapa lama? Di mana aku sekarang?" Satu persatu pertanyaan itu terlontar, tapi belum ada yang bisa menjawabnya. Yang bisa Weini lakukan hanyalah menunggu, karena ia yakin pasti akan ada orang yang senang mengetahui bahwa ia sudah sadar dan pasti menghampirinya.


πŸ’–πŸ’–


Gadis pelayan itu terbirit-birit mendatangi ruangan Chen Kho. Saking tak sabaran, ia bahkan lupa tata krama dan menggedor pintu sangat kencang. Tidak banyak pengawal di rumah itu, sehingga kamar Chen Kho pun tidak ada penjagaan.


Chen Kho duduk kesepian bertemankan beberapa botol minuman alkohol yang separuhnya sudah ia habiskan. Semenjak terpental karena berusaha menodai Weini dan gagal, ia tak bisa membendung rasa kesal sekaligus kecewanya. Semakin sulit ditaklukkan, semakin ia ingin memilikinya.


Dalam kesepian panjangnya, serta setengah di bawah pengaruh alkohol, Chen Kho mengingat kejadian pahit dalam hidupnya. Betapa ia terbebani hidup terkungkung perintah ayahnya.


Flashback masa remaja Chen Kho....


"Ayah, ku mohon jangan pukul lagi. Aku bisa mati menahan sakitnya." Teriak Chen Kho yang tak lagi mampu menghadapi rotan besar Kao Jing yang tanpa perasaan mencambuki tubuhnya.


Kao Jing seolah tuli, ia justru memperkuat tenaganya untuk mencambuki putranya. Nyaris tak tersisa tempat kosong di punggungnya, semua sudah memerah bekas cambukan.


"Mau ayah berhenti, oke... Tapi kau harus ingat dulu rasa sakit ini agar kau tak menyepelekan ayah!"


Alih-alih berhenti, Kao Jing terus membabi-buta menghajarnya. Sikap beringas Kao Jing yang hanya ditampakkan di hadapan Chen Kho, ia bahkan seperti memiliki dua kepribadian lantaran bisa dengan santainya berubah peringai ketika berhadapan dengan Grace. Kao Jing berubah lembut, penyayang serta sangat memanjakan Grace, hingga sulit bagi Grace untuk percaya saat Chen Kho bercerita tentang kekejaman ayah mereka padanya.


Apalah artinya semua didikan keras itu? Memaksanya mempelajari ilmu yang tak bisa dipercaya, tak nampak, dan berkekuatan sangat mengerikan. Nyatanya, Chen Kho tetap merasa tak bahagia. Hidupnya terasa kurang, segala iming-iming yang dijanjikan ayahnya terasa bualan belaka.


Chen Kho sudah berhasil mendapatkan Weini, selangkah lagi membunuhnya sesuai titah Kao Jing, maka kekuasaan klan Li sepenuhnya ada di tangan Chen Kho. Itulah yang dijanjikan ayahnya, tetapi melihat bahwa Kao Jing saja tidak becus melindungi dirinya hingga tertangkap, ia bahkan selalu bergantung pada kemampuannya, Chen Kho mulai ragu bahwa tindakannya tepat.


"Apanya yang membahagiakan setelah mendapatkan kekuasaan? Apanya yang menyenangkan setelah menguasai kemampuan sihir? Aku tidak bahagia ayah, aku menderita! Aku... Kesepian... Di dunia ini tidak ada yang mencintaiku!" Pekik Chen Kho, ia bahkan melempar gelasnya hingga pecah berhamburan di lantai.


Serpihan kaca yang bertebaran di lantai itu dipandangi Chen Kho. Pikirannya melayang, segala yang retak tak mungkin kembali utuh. Begitu pula dengan kehancuran yang sudah terjadi karena perbuatannya. Napas Chen Kho tersengal saking emosinya, ia sadar tidak ada yang betul-betul bisa ia miliki meskipun sihirnya begitu tinggi. Sampai ia memikirkan sesuatu yang nyaris terlewatkan olehnya, senyumnya menyeringai.


"Aku tidak peduli kehilangan apapun di dunia ini, tapi aku tidak akan pernah melepaskanmu! Hanya kamu yang ingin aku miliki!" Seru Chen Kho disusul tawa kerasnya, ia telah terobsesi, ia punya ambisi untuk menjalankan hidup sepinya.


Suara gedoran pintu mengacaukan kesenangannya, Chen Kho menghentikan tawanya. Ia menoleh ke arah pintu kemudian mendatangi ke sumber suara.


"Siapa yang berani mengusik ketenanganku!"


Dan emosi Chen Kho yang meluap dan sarat hawa membunuh, nyatanya luluh ketika melihat gadis pelayan itu berdiri di hadapannya dengan wajah ketakutan.


Gadis itu gemetaran, lebih pucat lagi begitu melihat tampang Chen Kho yang dingin. Tetapi ia sudah terlanjur menampakkan diri, percuma berlari ketika tercebur di tengah medan perang, ia tetap akan mati jika mundur tanpa penjelasan.


"Dia bangun... Dia bangun...."


πŸ’–πŸ’–πŸ’–