
Pagi yang menyimpan cerita berbeda dari Li An, semuanya masih sulit ia percaya seakan hanya mimpi indah yang belum membangunkannya. Sederet kosmetik yang dihadiahkan oleh adiknya baru ia buka segel dan mencobanya, dengan penuh hati-hati ia mengaplikasikan pelembab pada wajah mulusnya. Li An memiliki basic kulit putih merona yang sehat sehingga terlihat cerah meskipun tanpa polesan. Tetapi ketika ia dirias seperti kemarin, nilai kecantikan wajahnya semakin bertambah.
Bel di kamarnya berbunyi tepat saat ia menyelesaikan riasan coba-coba, hasilnya lumayan walaupun belum sebagus dari tangan professional. Ia merapikan kembali peralatan cantiknya sebelum menyambut seseorang di luar.
“Sudah kuduga pasti kamu.” Li An tersenyum mendapati Xiao Jun yang menjadi tamu pertama. Ia memang menunggu kedatangan adiknya dan enggan kemanapun sebelum pria itu datang.
“Kakak sudah makan?” tanya Xiao Jun, ia datang membawa beberapa kantong plastik besar berisi makanan ringan.
Li An menggelengkan kepala tapi bibirnya mengulas sebuah senyuman. “Aku terbiasa makan tidak teratur, jadi perutku belum menyesuaikan pola makan baru. Kau bawa apaan banyak banget Jun?” Li An inisiatif mengambil sebagian jinjingan Xiao Jun dan mendapatkan jawaban langsung setelah melihat isi kantong plastik itu.
“Kalau begitu kita makan siang di luar sekarang, kakak udah rapi juga sayang hanya di kamar.”
Li An mengiyakan ajakan itu dengan anggukan, ia mengambil tas baru yang dibelikan Xiao Jun kemarin dan memasukkan ponsel ke dalamnya. Hanya sebuah ponsel yang ia miliki sebagai barang berharga. Mereka menuju pusat kota, Xiao Jun membawanya ke sebuah restoran Jepang yang terkenal.
“Kakak sudah bisa mainkan ponselmu? Ada yang perlu diajarkan?” tanya Xiao Jun dengan penuh perhatian seakan ialah yang di posisi seorang kakak yang sedang menjaga adiknya.
“Aku utak atik semalaman, rasanya sudah bisa semua. Nomormu kubikin di panggilan cepat, gimanapun kontak dalam ponselku hanya ada nomormu dan paman Lau.” Ujar Li An terkikih, dunia ini terasa begitu kecil baginya. Hanya segelintir orang yang bisa dihitung dengan jari yang ia kenal dan berinteraksi dengannya.
“Baguslah. Ayo cobain masakan ini, aku rasa kakak suka. Setelah ini, aku ajak kakak ke satu tempat.”
Li An menatap semangkuk ramen dengan toping yang penuh dan terlihat menggiurkan. Ia memang penggemar mie dan Xiao Jun ternyata masih ingat walaupun sudah sekian tahun berlalu. Namun ajakan Xiao Jun kali ini sedikit membuatnya was-was, kemarin adiknya juga berkata seperti itu lalu ia diboyong ke kantor dan memergoki perbuatan mesum Chen Kho di siang bolong. Ia takut ajakan kali ini juga akan melukai hatinya, ia belum siap terluka lagi.
“Kemana? Aku nggak mau diajak ke kantor itu lagi. Kau saja yang ke sana, aku tunggu di hotel saja.” Tolak Li An dengan lemah.
Xiao Jun tersenyum sejenak sebelum membeberkan jawaban, rupanya kejadian kemarin membekas sekian dalam. Ia yakin kakaknya menyimpan cinta yang sangat dalam untuk pria brengsek itu, sayangnya cinta pada orang yang salah tentu menyakitkan dengan berjalan di atas penderitaan dan jalan yang salah.
“Tidak, aku tidak akan membawamu ke sana lagi. Percayalah, kakak pasti senang ke tempat yang ku ajak nanti.”
Li An masih tidak percaya, ia ingin antisipasi dulu sebelum terlanjur tak bisa mengelak. “Jawab dulu mau kemana, biar aku tahu tujuannya sebelum berangkat.”
Xiao Jun menyerah menghadapi kaum bernama wanita, siapapun dia yang pasti ketika berurusan dengan wanita pasti ia harus melapangkan hati untuk menampung kesabaran. Kakaknya pun punya sikap waspada yang tinggi dan harus diyakinkan sebelum membawanya.
“Ke tempat ibu berada. Kakak mau bertemu ibu?” ungkap Xiao Jun, kejutan yang ia siapkan nyatanya batal begitu saja. Ia gagal membuat adegan haru ketika Li An bertemu ibu yang tak diduga.
Kedua bola mata Li An berbinar, ia mematung sekejab mendengar pernyataan Xiao Jun. Tanpa perlu jawaban pun, sudah terbaca jelas apa yang ia pendam. Anak mana yang menolak bertemu ibu yang sekian tahun terpisahkan secara paksa, ia tak sabar lagi dipercepatnya menghabiskan semangkuk ramen besar yang masih panas.
***
Grace berjalan lunglai mengikuti langkah pelayannya, ia yang memaksa pelayan itu untuk menuntunnya pada tempat Xin Er berada. Pelayan itu malah membawanya ke rumah pelayan, di mana seluruh pelayan di rumah besar itu tinggal. Grace masih belum percaya, ada kisah serumit ini dari orang yang ia cinta. Silsilah yang sulit dijelaskan, sekarang ia bisa sedikit memahami sikap dingin Xiao Jun terhadapnya. Ada perbedaan besar antara mereka, Grace dibesarkan serba berkecukupan dengan bahagia bersama orangtua yang melahirkan dan membesarkannya. Bandingkan dengan Xiao Jun yang ternyata berlatar belakang anak seorang abdi tuan besar, ayahnya berkhianat lalu menyebabkan penderitaan bagi ibu dan saudari Xiao Jun. Sejak itu dipaksa berganti marga, dipaksa mengakui
orang lain sebagai orangtua. Membayangkannya saja membuat Grace merinding, ia tidak akan kuat seumpama ia lah yang ada di posisi itu.
“Bukankah bibi Xin Er kerja di paviliun nyonya besar. Kenapa kau antar aku ke mess pelayan?” Grace ragu ketika pelayan itu menyatakan tempat di depan mata itulah Xin Er berada sekarang. Ia mengira mereka tengah menuju tempat lain dari paviliun Liang Jia.
“Nona, pada jam ini biasanya bibi Xin Er istirahat. Dia tidak seharian melayani nyonya besar. Apa kita perlu masuk nona?” pelayan ini percaya diri bahwa analisanya benar, Xin Er pasti berada di dalam.
Grace ragu sejenak, di sisi lain hatinya ia begitu penasaran bagaimana sosok ibu kandung calon suaminya, tapi di satu sisinya terasa berat untuk melangkah masuk. Ia bingung harus berbuat apa ketika bertemu, langsung memperkenalkan diri? Atau sabar menunggu Xiao Jun yang mengenalkannya? Lalu bagaimana jika Xiao Jun tidak bersedia terbuka padanya dan terus menjadikan fakta itu sebagai rahasia?
“Ya sudah, kita masuk. Kau jalan duluan.” Perintah Grace, ia belum punya kepercayaan diri memimpin jalan.
Pelayannya menaati perintah Grace dengan meneruskan langkahnya lebih dalam. Debaran di dada Grace kian bergemuruh, tak jelas mengapa rasa takut itu begitu besar. Grace meraba rambutnya serta memperhatikan pakaian yang ia kenakan. Untungnya ia mengenakan dress yang agak tertutup, tidak seperti kemarin yang seperti wanita
tanpa harga diri.
Seorang wanita tua berjalan keluar dari dalam rumah, sosok itu sangat dikenal oleh pelayan yang bersama Grace. “Nona, itu bibi Xin Er.” Pelayan itu menunjuk pada wanita tua yang tengah membawa ember berisikan pakaian untuk dijemur.
Grace langsung menancapkan penglihatan pada sosok itu, wanita yang terlihat lelah dan tertatih dengan penampilan yang sederhana tanpa riasan serta bermahkota uban. Ia terus menatapnya tanpa berkedip, memperhatikan gerak-gerik Xin Er yang lamban dan tertatih.
“Berhenti! Jangan ganggu dia.” Grace melarang pelayannya melangkah lebih jauh, sebaiknya keberadaan mereka tidak diketahui Xin Er.
Grace lebih nyaman menatap Xin Er dari kejauhan, degupan hatinya mulai kembali normal. Wanita itu dilihat sekilas saja sudah terlihat kebaikan hatinya yang terpancar dari rauh wajah yang tenang. Grace mengamati Xin Er yang menjemur pakaiannya dengan lamban, ia mengernyit cemas sepertinya wanita itu mudah lelah atau tangannya kurang bertenaga.
Xin Er terbatuk ketika berubah posisi dari jongkong mengambil pakaian lalu berdiri. Batuk itu terus menerus hingga membuatnya kepayahan mengatur napas. Grace tampak sangat sedih mendengar suara batuk itu, ia nyaris saja menghampiri andai ia terlambat mengontrol diri untuk tetap diam sebagai penonton. Wanita setua itu dibiarkan menjalani masa senja dengan hukuman yang memisahkan dari anak yang seharusnya merawatnya. Perasaan Grace tersentuh, ia boleh saja liar, manja, namun ia punya hati yang tak tega menyakiti orangtua.
Maaf, Bibi … untuk saat ini aku hanya bisa melihatmu dari jauh. Kau belum mengenalku, aku tidak mau membuatmu takut. Bibi, andai Xiao Jun mengijinkan aku akan membawa dan merawatmu. Aku bersumpah akan memperjuangkan kebebasanmu pada paman setelah aku menikahi Xiao Jun.
***