
Seorang wartawati mengipas wajahnya dengan clue card yang ia pegang saat Weini berjalan melewatinya. Tiba-tiba seakan melihat penampakan, wartawati itu berteriak. “Eh… lihat itu!”
Weini berhenti melangkah, bak maling ketangkap siang bolong ia reflek melindungi kepalanya. Harusnya ia tidak seyakin itu untuk menerobos dengan jimat abal-abal buatannya, sekarang ia harus tertangkap dan putar otak memikirkan alasan. Tetapi ketika ia sadar fokus wartawan bukan tertuju padanya, ia seakan ditinggalkan.
“Kayaknya Weini barusan ngintip dari balik tirai deh.” Wartawati itu menunjuk tirai jendela di ruang tamu Weini hingga seluruh rekannya ikut melirik ke arah telunjuknya.
Weini mematung, jelas-jelas ia ada di sekeliling mereka namun mereka mengira dirinya ada dalam rumah. Itu artinya jimat buatannya berhasil. Ia terkikih dalam hati dan berjingkrak kegirangan di samping seorang wartawan lalu bergegas kabur menuju ujung jalan.
Sesuai instruksi, Dina menunggu di dalam mobil yang terparkir di tepi jalan. Ia melirik jam dari ponsel dan gelisah, “Yang bener aja dia bisa lolos dari wartawan tanpa perlu dibantu?” Dina tak habis pikir, ia siaga menghadapi wartawan namun Weini malah menyuruhnya menunggu.
Seiring nyanyian setengah false dari Dina mengikuti lagu dari radio, ia tidak menyadari Weini sudah duduk di sampingnya dan membanting pintu mobil. “Huaaa…” pekik Dina kaget, ia belum menyiapkan diri untuk menyambut Weini, apa ia segitu terhanyut dalam lagu hingga tak mendengar Weini membuka pintu mobil dan masuk. Ketika pintu ditutup dengan kencang, ia baru sadar kehadiran sang artis.
Kejadian sebenarnya adalah Weini baru membakar jimat itu dengan api sihir saat ia berhasil masuk ke dalam mobil dan ia kembali terlihat dengan kasat mata.
“Non kapan masuknya?” tanya Dina linglung.
“Lah, barusan. Siapa suruh setel musik keras-keras. Yuk jalan kak!” Weini tidak peduli dengan mulut Dina yang masih ternganga bingung. Ia memasang sabuk pengaman dan merapikan rambut curlynya yang sedikit berantakan akibat berlari tadi.
Sementara itu di rumah Haris…
Gerombolan wartawan pantang mundur itu masih bertahan, keriuhan itu dimanfaatkan penjajah makanan dan minuman keliling yang kecipratan rejeki. Dagangan mereka ludes diborong awak media agar tetap kuat standby. Haris menggeleng kepala melihat halamannya berubah jadi pasar dadakan.
Ia mengeluarkan secarik jimat dan membakarnya, “Rumah Weini kosong, Weini sudah pindah ke apartemen.” Seiring terbakarnya jimat, perintah lewat hipnotispun bekerja. Satu persatu wartawan mundur dan menggerutu telah membuang waktu di depan rumah kosong.
Rasa kantuk Haris pun hilang, ia tidak berniat mencoba tidur siang lagi. Hari minggu terasa sangat panjang tanpa berbuat apa-apa, dan Haris malas mencari kesibukan di luar. Ia memilih bertahan di rumah meskipun sepi dan mulai membosankan. Weini pasti pulang malam dan sudah makan, ia harus menikmati makan malam sendirian. Terbersit dalam pikiran Haris untuk memasak sesuatu yang ia sukai dan menikmati me time sepuasnya.
***
Xiao Jun yang kelimpungan menahan rindu, di hari minggu saja ia masih kesulitan bertemu Weini. Semenjak gadis itu lulus sekolah, jadwal syutingnya makin padat. Ia seakan memforsir diri untuk bekerja, Xiao Jun sampai heran betapa Weini menyukai pekerjaan itu. Nyaris semua berita di TV dan media online berseliweran menayangkan dirinya, Xiao Jun tidak ambil pusing tentang itu. Apalagi ia bukan tipikal orang yang mudah ditemukan di ruang
public tanpa persetujuan. Ia lebih khawatir dengan Weini yang pasti kerepotan menghadapi kerumunan pencari berita. Xiao Jun meraih kunci mobil, ia perlu memastikan keadaan orang rumah Weini. Tidak terpikir sebelumnya bahwa wartawan bisa saja menyerbu rumah Weini seperti kasus Lisa waktu itu.
***
Semangkuk besar sup misoa yang baru saja tersaji tercium begitu menggoda selera. Haris yakin bisa menghabiskan sendiri porsi jumbo yang dimasaknya. Ia sengaja menambahkan toping bakso ikan, udang, tahu dan sawi putih serta kocokan telur dalam misoa itu. Ketika hendak melahap hasil masakannya, bel rumah berbunyi
beberapa kali. Haris meletakkan sumpit dan keluar melihat siapa tamu yang datang di saat tidak tepat.
“Ajun, Weini baru saja keluar.” Ujar Haris. Pengalaman yang pernah terjadi saat ia tinggal di apartemen dan Xiao Jun datang mengajaknya sarapan. Sekarang pacar Weini itu mengulang sejarah dengan hadir saat ia hendak makan.
“Aku kemari menemui paman, apa mengganggu waktu paman?” tanya Xiao Jun sopan.
Haris langsung melebarkan pintu, “Tidak, aku juga lagi kesepian. Masuklah. Kau sudah makan?” Mereka berjalan mendekati sofa, Haris hendak masuk mengambil minuman untuk Xiao Jun.
“Jangan repot paman, aku bisa ambil sendiri kalau haus. Baru sempat sarapan pagi, siang ini belum makan.” jawab Xiao Jun polos.
“Ya sudah, ke ruang makan saja. Kita makan sama-sama, mumpung masakanku masih panas.” Haris menuntun Xiao Jun ke dalam ruang makan lalu mengambil dua mangkuk dan sumpit. Rencananya menghabiskan seporsi jumbo misoa terpaksa batal dan harus berbagi dengan tamunya.
Xiao Jun tersenyum girang, kali kedua ia beruntung bisa mencicipi masakan Haris. Seakan mendapat bonus dari langit, ia merasakan kebahagiaan yang tidak terlontarkan dengan kata-kata saat bisa makan bersama ayah Weini. Kedua matanya langsung berbinar ketika melihat sup misoa yang masih mengebul uap dengan aroma yang tercium kelezatannya.
“Paman, ini makanan kesukaanku.” Teriak Xiao Jun seperti anak kecil, ia tanpa sadar menepuk tangannya satu kali.
“Oya, kalo kamu suka makanlah sepuasnya. Ini porsi jumbo, aku tidak mungkin menghabiskannya sendiri.” Haris jelas berbohong, bahkan tidak perlu waktu lama baginya untuk melahap sendiri. Tetapi ada yang lebih menyukai
makanan itu, tentu Haris bersedia memberikan lebih padanya.
“Ng… aku tidak akan sungkan paman.” Seru Xiao Jun senang.
Haris mempersilahkan tamunya makan sedangkan ia menyumpit sedikit demi sedikit dan melihat lahapnya Xiao Jun. Selera makan Haris jadi teredam, ia langsung inisiatif menambahkah sup ke dalam mangkuk Xiao Jun yang
tinggal beberapa sumpitan. Pria muda itu tidak menolak, ia bahkan mendekatkan mangkuknya.
“Paman, setiap kali makan masakanmu, aku selalu teringat masa kecilku. Sangat kebetulan rasanya mirip masakan ibuku.” Ujar Xiao Jun di sela makan. Ia kembali melahap sebelum misoa itu dingin dan mengembang.
“Oya? Baguslah jadi bisa mengobati rasa rindumu.” Haris terlihat tidak tertarik membahas lebih lanjut, ia menyibukkan diri dengan makan bagiannya yang sedari tadi hanya berkurang sedikit.
Xiao Jun ikut bungkam, dalam hati ia lebih merindukan ayahnya yang menghilang ketimbang ibunya. Namun untuk berterus terang soal jati dirinya kepada Haris dan Weini, ia belum punya keberanian saat ini. Mereka menikmati makanan dalam pikiran masing-masing, hingga Xiao Jun kembali fokus dan teringat mempertanyakan sesuatu.
“Oya, paman. Masakan Chinesemu sangat mahir, apa paman belajar dari chef atau dari seseorang?”
Haris berhenti makan sejenak,pertanyaan Xiao Jun terdengar seperti menginterogasi dirinya. Bos muda itu mungkin mulai menaruh curiga padanya, atau ada sesuatu yang ingin dia ketahui.
***