
“Jadi kamu belum kasih ke dia sampai sekarang? Astaga … Jun, kamu masih seorang pria bukan? Kemana nyalimu?”
Xiao Jun menundukkan kepalanya yang berada di belakang setir, ia baru saja keluar dari kantor dan memutuskan untuk berkeliling kota tanpa tujuan untuk melepas penat. Belum sempat melajukan mobil, panggilan masuk dari Li An membuatnya tertahan. Xiao Jun menerima telepon dari kakak yang sudah ia rindukan itu, namun arah pembicaraan mereka ternyata bukan sekedar demi saling bertanya kabar dan melepas rindu, Li An justru tengah
menceramahinya.
“Situasinya belum memungkinkan kak. Tidak semudah teorinya, dia semakin sulit didekati setelah tahu tentang Grace.” Xiao Jun membela diri, bagaimanapun ia tidak terima jika disalahkan sepihak oleh kakaknya.
Tidak ada jawaban dari seberang, Li An tampaknya perlu berpikir sebelum mennyatakan pendapat. “Berarti dia sangat mencintaimu. Wajar kalau seorang gadis marah besar begitu tahu prianya punya tunangan selain dirinya.”
Xiao Jun ikut membisu, jawaban Li An tak banyak membantu mencerahkan pikirannya. Tanpa perlu dipertegaspun, Xiao Jun tahu betapa ia dan Weini saling mencintai. Namun cinta saja tidaklah cukup, hubungan mereka yang baru seumur jagung itu masih perlu banyak pengorbanan dan komunikasi untuk saling merekatkan.
“Jun, apa perlu aku datang bantu kamu?” Li An bertanya dengan pelan dan hati-hati, tawarannya barusan bukan sekedar tercetus spontan, tetapi ia sudah memikirkannya beberapa saat bahwa ia bersedia hadir kapanpun Xiao Jun membutuhkan bantuannya.
Xiao Jun tercengang, kakaknya menawarkan diri untuk jadi penengah masalahnya dengan Weini. Ia tak yakin cara ini akan membantu, namun ada hal lain yang perlu ia ungkapkan pada Li An, tentang kecurigaannya pada ayah mereka. “Kamu mau repot datang hanya untuk ini? Kak, urusan pernikahanmu saja belum beres. Lebih baik kamu fokus untuk pestamu yang tinggal beberapa minggu.”
“Repot apanya? Tidak ada kata repot untuk sesama saudara. Urusan nikah, Wen Ting sudah menyiapkan segalanya. Aku hanya perlu menyiapkan diri untuk jadi yang tercantik di hari H.” Ungkap Li An, sebenarnya dia paling anti ditolak oleh Xiao Jun. Namun mereka berdua memang sama-sama keras kepala dan susah diminta mengalah.
Xiao Jun tak berniat menanggapi lagi, ia ingin beralih topik. “Kak, aku merasakan tanda-tanda ayah di sini.” Lirih Xiao Jun, ia tak tahan lagi membungkam. Ia perlu teman berbagi masalah ini, dan orang yang tepat memang hanya Li An yang sekandung dengannya.
“Apa kamu menemukan dia?” Suara Li An lirih bertanya, tak seperti barusan yang terdengar lebih ceria dan mendominasi. Ia serius dan penasaran dengan apa yang disampaikan Xiao Jun.
“Tidak, perasaanku belum terlalu peka. Hanya sekilas kudeteksi dari mana sumbernya, namun terputus.” Xiao Jun berkata tak kalah lirih.
“Jun, jangan terlalu menyalahkan diri ya. Tidak ada yang akan menyalahkanmu, kamu mewarisi bakat ayah tetapi tidak ada yang mengajarimu. Kamu perlu waktu dan usaha keras untuk belajar sendiri, jadi jangan menyalahkan dirimu.” Li An berusaha menyemangati adiknya, impian mereka memang ingin menemukan kembali sang ayah tetapi jika belum berhasil, maka tidak ada yang perlu disalahkan.
Xiao Jun terdiam, ia tak lagi bisa melanjutkan curhatnya meskipun masih sangat terasa mengganjal di hati. Ini tentang Weini, kecurigaan yang tertuju pada gadis itu tak mungkin ia ungkapkan pula pada Li An. “Ng, terima kasih kakak. Baik-baiklah dengan Wen Ting, kalau dia menyakitimu langsung kabari aku.” Ujar Xiao Jun, ia
berupaya mencari topik penutup pembicaraan.
Li An terkekeh, “Tenang saja, yang ada malah aku yang menindasnya. Ha ha ha, aku hanya bercanda, tapi dia sangat baik padaku. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, jaga dirimu!”
“Oke. Eh, jangan lupa cepat berikan padanya atau aku yang khusus datang menemuinya” Ujar Li An di penghujung pembicaraan, ia tak perlu menunggu jawaban dan langsung mengakhiri panggilan.
Xiao Jun menatap layar ponselnya dengan senyum mengembang, betapa usilnya Li An yang tahu celah menggodanya. Xiao Jun baru saja hendak menghidupkan mesin mobil, ia masih berada di parkiran sekitar
setengah jam hanya demi menerima telepon. Dan sepertinya kondisi belum mengijinkannya beranjak dari sana, ponselnya baru saja ditaruh di atas dasbor namun benda itu kembali berbunyi. Xiao Jun mengangkat satu alis, ia perlu menghela napas sejenak sebelum mengambil alat komunikasinya. Dibiarkannya mesin mobil menyala sembari ia menerima panggilan masuk yang belum diketahui dari siapa, sampai ia membaca nama penelpon yang tertera di layar, ia langsung memutar kunci mobil agar kembali dalam kondisi diam.
“Ya, Dina? Ada kabar apa hari ini?” Xiao Jun langsung to the point, ia sudah menunggu cukup lama untuk mendengar kabar tentang Weini. Satu persatu kata yang tercuat dari Dina didengarkan dengan seksama, Xiao Jun
memasang wajah bingung dan penasaran. Informasi yang Dina sampaikan terdengar tak beres, dan ia yakin bahwa Dina tidak menyadarinya.
Anak dari keluarga broken home? Hidup miskin saat masih kecil tapi punya uang untuk kursus kecapi? Weini … Jangan bercanda begitulah. Xiao Jun tersenyum nyinyir, ia sungguh tak habis pikir karena semakin ia mencari tahu tentang Weini, kecurigaan dan keanehannya semakin jelas. Ia hanya perlu mengumpulkan lebih banyak lagi bukti, sekarang rasa cinta dan rasa penasarannya terhadap gadis itu mulai berimbang. Gadis itu dan kehidupannya terlalu misterius, ia terlalu sempurna untuk seorang gadis belia seusianya.
***
Liang Jia terkesiap, ia terjebak dalam permainan yang ia mulai. Li San masih menghujaninya dengan tatapan yang menyiratkan menagih jawaban. Betapa wanita itu sangat bernyali besar, berani menggantung seorang penguasa dalam pertanyaan tanpa kepastian jawaban. Liang Jia sedikit ternganga, sampai akhirnya ia menemukan cara untuk menjelaskan maksudnya.
“Ah, suamiku maafkan aku. Bicaraku ngelantur, aku tak bermaksud meragukan keputusanmu memilih Grace. Hanya saja, kadang aku berpikir di usia kita yang semakin tak muda, tubuh yang mulai renta, aku sering berpikir tentang apa yang kita cari di sisa kehidupan ini?”
Liang Jia menatap suaminya dengan tatapan yang penuh perhatian, dan itu tulus adanya. Semakin tua, ia makin menghargai cinta dan kebersamaan yang entah sampai kapan namun sayangnya Li San tidaklah peka. Sang penguasa itu manggut-manggut mendengar penjelasan Liang Jia, dari sorot mata dan air mukanya yang masih tampak tenang, sepertinya ia tidak naik darah gara-gara ucapan itu. Li San malah mendekati Liang Jia lalu merangkulnya dengan mesra.
“Kamu sepertinya lelah, apa akhir-akhir ini tidurmu kurang? Kau benar, aku juga kadang merenungkan arti hidup ini. Sudah banyak yang kulakukan di masa lalu, kini tangan dan kakiku bahkan kadang tak becus lagi, sering gemetaran hanya karena kelamaan berdiri.” Li San menertawakan dirinya, Liang Jia pun turut tersenyum kecil. Inilah kebahagiaan yang ingin ia rasakan di masa tuanya, tertawa lebih banyak bersama pasangan hidupnya.
“Banyak yang kupikirkan, tentangmu, tentang anak-anak kita. Apa di sisa hidup kita ini, masih harus mengendalikan hidup mereka yang masih panjang? Suamiku, pernahkah kau berpikir tentang kebahagiaan mereka? Di masa jaya kita, kekuasaan, tahta, segalanya sudah kau tundukkan, apa akan kau wariskan semua itu beserta ketidak-bahagiaan untuk mereka?”
Li San menyorotkan kesinisan pada Liang Jia, kata-kata frontal itu terasa sangat menusuknya. Sementara Liang Jia tanpa takut menatap suaminya dengan sepasang mata yang mulai berkaca-kaca, mereka saling menyakiti dalam diam.
***
Hi, Readers. Apa kalian setuju kalau author undang Li An ke Jakarta? Bakal seru nggak ya kalau dia kenal Weini? Yuk sumbang pendapat kalian di kolom komentar ya, ditunggu! ^^