OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 65 CINTA YANG TERLAMBAT DIPUTUSKAN



Xiao Jun masih fokus menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum pulang ke Hongkong. Ia sangat bersemangat, sesaat lagi ia akan bertemu ibu kandungnya. Hampir setahun merantau, kerinduan pada Xin Er membuncah. Terlebih banyak hal yang ingin ia ceritakan, meskipun harus mencari celah berkomunikasi tanpa sepengetahuan tuan besar.


Ia menutup laptop lalu meregangkan otot sejenak. Setidaknya tidak ada beban pekerjaan yang ditinggalkan selama pulang. Kebiasaan memutar kursi saat melemaskan otot kaku ternyata menggiring Xiao Jun pada pemandangan


yang mencolok mata. Papan iklan berukuran jumbo yang memajang wajah Weini langsung menciutkan semangatnya. Xiao Jun lupa bahwa ia yang memasang iklan itu dan sengaja meletakkan posisi yang pas agar bisa memandangi Weini setiap saat. Dulu terasa sangat menyenangkan, tapi kini entah mengapa malah sangat menyakitkan.


“Tuan, anda harus melihat berita ini.” Lau masuk tergesa-gesa sembari membawa Ipad yang memutar sebuah cuplikan berita.


Xiao Jun berdiri meraih Ipad itu, wajahnya langsung tegang melihat berita Weini yang dikabarkan kritis dan tak sadarkan diri. Ia terhuyung duduk kembali di kursinya. Kecemasan dan kebimbangan terlihat jelas dari rautnya, Lau yang sangat mengenali Xiao Jun langsung memberi nasehat.


“Jika tuan berpikir dengan mengabaikan dia maka bisa melenyapkan perasaan kalian, sayangnya menurut saya itu sangat terlambat. Terlambat untuk mengakhiri apa yang terlanjur anda mulai. Sebaiknya anda terus jalani,


jangan sampai penyesalan menghantui seumur hidup tuan.”


Hening. Xiao Jun masih Nampak ragu. Tiba-tiba ia mencari ponselnya yang sudah ia singkirkan ke dalam koper. Berita-berita itu mungkin hanya simpang siur, ia perlu mendengar dari sumber terpercaya.


“Dina berulang kali gagal menghubungi anda, dia sudah mengabariku dan semua berita itu benar. Nona Weini belum sadarkan diri, kecelakaan itu membuatnya gegar otak ringan dan patah tulang lengan.” Lau tahu


Xiao Jun hendak mencari Dina, ia mencegatnya dengan menceritakan semuanya sekarang.


Xiao Jun menutup kembali resleting koper, ia tak jadi mengeluarkan ponsel. Diraihnya jas hitam yang digantung rapi di stand hanger lalu mengenakannya.


“Ayo berangkat paman.”


“Kemana?”


Xiao Jun memilih bungkam, ia mempercepat langkah menuju lift. Jet pribadinya sudah menunggu di atas loteng. Ia sudah mengambil keputusan dan tak akan pernah menyesalinya. Dua pramugari standby di depan pintu masuk langsung membungkuk hormat saat Xiao Jun dan Lau menaiki tangga pesawat.


 “Turunkan aku di loteng rumah sakit X lalu antarkan tuan Lau ke Hongkong!” perintah Xiao Jun saat pilot dan co pilot menghampiri mereka demi memberi hormat.


Lau tersenyum bangga atas keputusan tepat yang diambil Xiao Jun. Kamu semakin dewasa, tuan.


***


Dokter yang sedari tadi memeriksa Weini dan beberapa rekan perawat serta dokter spesialis yang keluar masuk dari ruang ICU membuat Stevan tak henti berdebar-debar. Separah itukah Weini hinga harus melibatkan banyak tenaga medis spesialis yang keluar dengan raut aneh. Saking sibuknya mereka, Stevan tidak berani bertanya tentang perkembangan kondisi Weini.


“Mereka lama banget sih!” Stevan bicara sendiri saking gugupnya harus menghadapi kondisi ini sendirian.


Rombongan dokter dan suster di dalam ruangan ICU akhirnya keluar. Stevan berdiri dan melirik kepada dokter yang dari awal menangani Weini. Sepatah kata hendak terlontar dari Stevan namun dokter itu lebih tanggap merespon.


“Ini sangat aneh, atau keajaiban itu sungguh ada? Kami memastikan ulang kondisi pasien saat datang sudah mengalami keretakan tulang dan patah. Hasil X Ray pun membuktikan, tapi barusan kami periksa tulang yang


patah dan retak itu telah merekat walau belum sepenuhnya. Apa yang terjadi hingga tulangnya bisa disambung secepat itu tanpa operasi?” Dokter itu malah balik bertanya, mungkin ia bisa gila memikirkan jawaban yang tidak masuk nalar.


Stevan lebih tidak mengerti apa yang dimaksud dokter, “Sebenarnya ini kabar baik atau buruk dokter?”


Dokter itu lebih pusing lagi dengan pertanyaan polos Stevan. Antara polos atau awam tentang dunia medis, sungguh tidak bisa dibedakan lagi. “Kabar baik tapi membingungkan. Ya sudahlah, temanmu sudah keluar dari masa kritis tapi jangan dibesuk dulu sampai petugas kami memindahkannya ke ruang rawat inap. Saya permisi dulu.”


***


Suara gemuruh angin dari pesawat yang sesaat lagi mendarat terdengar riuh di loteng rumah sakit X. Hanya perlu waktu kurang dari lima menit untuk sampai ke lokasi ini via udara, Xiao Jun mengambil ponsel yang diberikan Lau sebelum berpisah.


“Sampaikan maafku pada ibuku. Aku akan menebus kesalahan ini di waktu mendatang.” Ujar Xiao Jun pada Lau yang ia percayakan menghadapi masalah besar di sana tanpa dirinya.


“Sampaikan salamku pada nona Weini ketika ia sadar. Saya pasti menjenguknya setelah kembali. Tuan tolong jaga diri anda!” Lau tak mau kalah meninggalkan pesan.


Xiao Jun hanya mengangguk, jawabannya sudah tersirat lewat tatapan mata yang hangat. Ia mengambil langkah seribu, dalam pikirannya hanya terfokus untuk segera memastikan langsung keadaan Weini. Gadisnya harus


terselamatkan apapun caranya!


***


Suara langkah kaki yang berlari di keheningan terdengar cukup jelas sehingga membuat Stevan langsung berdiri. Ia tak sabar lagi menyampaikan kabar baik dari dokter kepada Haris. Sebelumnya ia sangat menyayangkan sikap Haris yang menolak tindakan operasi, tapi setelah mendengar diagnosa terakhir dokter malah membuatnya berdecak kagum pada ayah Weini itu.


Hosh hosh hosh... napas yang masih belum teratur itu kian mendekati ruang ICU. Stevan langsung kaku melihat sosok yang muncul. Bukan Haris, bukan Dina, tapi justru orang itu!


“Di mana Weini?” ujar Xiao Jun sembari mengatur napasnya. Berlari turun dari loteng menuju pusat informasi di lantai bawah, lalu berlari lagi mengejar lift dan berlari sepanjang koridor demi mencari ruangan ini.


Stevan menunjuk ruangan tempat Weini berbaring. Ketika Xiao Jun nyaris menyosor ke dalam, Stevan menarik lengannya agar menjauh dari sana. Xiao Jun memberontak dari cengkraman Stevan, saking kesalnya ia balik


mencengkram erat kedua lengan Stevan dan memelintirnya ke belakang.


“Aarrghhh… lu gila? Lepasin! Sakit!” cecar Stevan.


“Jangan halangi aku!” Xiao Jun melepaskan cengkraman itu dengan menepisnya kasar.


Stevan mengibas tangannya yang memerah kesakitan, pria itu memakai tenaga berlebihan untuk menghadapinya.


“Dokter bilang gak boleh ada yang masuk sebelum dia dipindah ke ruang perawatan.” Seru Stevan masih berusaha mencegat Xiao Jun.


Xiao Jun berhenti dan menoleh ke belakang, tatapannya tajam dan dingin seakan bisa melumpuhkan lawannya dengan sekali menatap.


“Siapa yang menghalangi akan aku bereskan!” ancam Xiao Jun, ia tidak main-main dengan ucapannya.


“Lu mau tahu kondisinya, gue bisa jelasin. Dia udah melewati masa kritis, nggak perlu operasi, tinggal pemulihan aja dan bentar lagi tim medis bakal pindahin ke ruang rawat inap. Jadi sabar bentar lagi, gue tahu lu cemas. Gue jugaaa! Gue udah berdiri di sini hampir tiga jam gak diijinin masuk. Kalo lu care ama dia, plis pengertian dikit!” Stevan masih belum putus asa, ia akan melindungi Weini dari gangguan siapapun hingga keluar dari ruangan itu.


Xiao Jun menghampiri Stevan, semakin dekat hingga Stevan ketakutan namun tak mampu mengelak. Xiao Jun berbisik pada pria yang nyaris kencing di celana itu.


“Aku bukan kamu! Tidak seorangpun bisa mengaturku!” desis Xiao Jun persis di telinga Stevan.


Di saat bersamaan, Dina dan Haris berjalan di koridor menuju ruang ICU…


***